
"Maksud mu apa sih, dek? Masa suami sendiri di bilang bunglon. Aneh-aneh aja." gerutu bang Darma.
"Yang aneh itu abang, bukan aku." jawab ku dingin.
"Aneh apa nya sih? Perasaan, abang biasa-biasa aja kok." balas bang Darma.
"Iya ya ya, terserah abang lah situ." jawab ku malas.
Aku merangkak naik ke atas ranjang, lalu membaringkan diri menghadap tembok.
"Jangan ganggu aku lagi, ya! Badan ku capek, aku mau tidur." ujar ku sambil menyelimuti seluruh tubuh ku sampai ke bahu.
"Kok malah di tinggal tidur sih, dek? Abang kan belum siap ngomong." oceh bang Darma.
"Bodo amat." balas ku cuek.
Aku mulai memejamkan mata sambil memeluk guling. Karena merasa di abaikan, bang Darma pun akhirnya hanya bisa pasrah, dan ikut membaringkan tubuh nya di belakang ku.
Tak butuh waktu lama, kami berdua pun tertidur lelap dan masuk ke alam mimpi masing-masing.
Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Suara berisik dari kendaraan bermotor, yang berlalu-lalang di depan rumah pun, mulai mengganggu tidur lelap ku.
"Hoamm, jam berapa sih ini? Kok udah pada berisik di luar sana." gerutu ku.
Aku menguap sambil melirik ke arah jam dinding, dengan pandangan yang sedikit buram.
Mata ku langsung terbelalak seketika, melihat jarum jam yang sudah menunjuk ke angka setengah delapan.
"Hah, apa mata ku gak salah lihat ya?" gumam ku sambil mengucek-ngucek mata.
Setelah beberapa saat menormalkan pandangan, aku kembali menoleh ke arah jam dinding.
"Wah, ternyata mata ku gak salah lihat. Emang bener rupa nya, sekarang udah jam setengah delapan." gumam ku lagi.
Aku menoleh ke samping, melihat bang Darma yang masih tampak asyik dengan mimpi indah nya.
"Bangun, bang! Udah siang nih. Hari ini abang kerja gak?" tanya ku sambil mengguncang lengan bang Darma.
"Hmmmm, apa sih, dek? Ganggu aja." omel bang Darma.
Bang Darma menggeliat, dia mulai membuka mata nya perlahan.
"Udah jam setengah delapan tuh, emang nya abang gak pergi kerja?" tanya ku lagi.
__ADS_1
"Lagi malas, dek. Besok aja abang masuk kerja. Sekarang abang mau ngerjain dirimu dulu." jawab bang Darma.
Bang Darma menggeser posisi nya untuk mendekati ku, lalu dia langsung mendekap tubuh ku ke dalam pelukan nya.
"Dek, abang pengen." bisik bang Darma.
"Pengen apa?" tanya ku pura-pura bingung.
"Pengen ini, sayang." jawab bang Darma.
Tanpa basa-basi lagi, bang Darma langsung menindih tubuh ku, dan memasukkan benda pusaka nya dengan paksa. Aku sedikit meringis menahan sakit, karena paksaan nya itu.
"Kenapa, muka nya gitu? Sakit ya, dek?" tanya bang Darma heran.
"Ya iya lah, udah tau gitu pun masih nanya." jawab ku ketus.
"Hehehe, maaf ya, sayang. Abang udah gak sabar lagi soalnya. Adek tahan aja dulu bentar, ya! Nanti lama-kelamaan, pasti udah gak sakit lagi kok, malah jadi nikmat nantinya." ujar bang Darma sambil tersenyum genit.
"Iya," jawab ku.
Bang Darma mulai melakukan kegiatan nya di atas tubuh ku. Dia tampak begitu bersemangat, memacu gerakan nya. Raut wajah nya juga terlihat sangat bahagia, saat menikmati keindahan tubuh ku.
Apakah kau menyukai pelayanan yang abang berikan ini, sayang?" tanya bang Darma di sela-sela kegiatan nya.
"Iya, bang. Aku sangat menyukai permainan mu ini." jawab ku manja.
"Iya, bang. Lakukan lah sesuka hati mu." balas ku.
Setelah lelah melakukan aksi nya, bang Darma pun segera menyelesaikan permainan nya. Dia terbaring lemah di samping ku dengan nafas yang sangat ngos-ngosan.
"Haduuuh, abang capek banget, dek. Pinggang abang rasa nya mau copot, saking pegel nya." ujar bang Darma.
"Hahaha, kapok! Siapa suruh pagi-pagi buta udah pecicilan kayak gini." ledek ku.
"Huuuuu, dasar jahat! Bukan nya kasian sama abang, malah di ledekin pulak." balas bang Darma kesal.
"Maka nya gak usah sok-sokan, pake acara nyari keringat pagi segala. Jadi gini kan akibat nya." lanjut ku.
"Ya mau gimana lagi? Nama nya juga lagi pengen. Kalo gak di salurkan, bisa sakit kepala abang nanti nya." jawab bang Darma.
Bang Darma bangkit dari rebahan nya, kemudian mendudukkan diri nya di atas perut ku.
"Eh eh eh, mau ngapain lagi?" tanya ku mulai curiga dengan gerak-gerik bang Darma.
__ADS_1
"Mau nambah lagi, dek." jawab bang Darma dengan santai nya.
"Dasar gila!" sungut ku sambil memberontak dan menjatuhkan badan bang Darma ke samping.
Kemudian, aku langsung bergegas menyambar handuk, dan berlari kecil menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Hahaha, malah kabur pulak dia. Mau di kasih enak, kok malah melarikan diri." gelak bang Darma.
Setelah capek mentertawai ku, bang Darma pun beranjak dari ranjang, dan ikut menyusul ku ke dalam kamar mandi.
"Kalo gak mau di kamar, kita lanjutin di sini aja yok, dek!" ujar bang Darma sambil memeluk tubuh polos ku dari belakang.
Aku langsung terlonjak kaget, karena mendapatkan pelukan yang secara tiba-tiba dari bang Darma. Karena merasa geram dengan perbuatan bang Darma, akhir nya aku pun menggetok kuat kepala nya dengan gayung.
TOK...
"Aduuuh! Sakit banget, dek. Tega kali sih, mukul kepala abang pake gayung. Sakit tau gak!" gerutu bang Darma.
"Sokor, maka nya jangan genit kali jadi orang. Tadi udah di kasih jatah pun, tetap aja masih gangguin aku lagi." umpat ku kesal.
"Adek kan istri abang, ya wajar lah abang minta nya sama adek. Kalo gak minta sama adek, trus abang minta nya sama siapa?" balas bang Darma tak mau kalah.
"Minta aja sama Dina sana! Dia kan lagi jablay tuh, dia juga butuh kehangatan dari abang." jawab ku asal.
"Enak aja, dari pada sama dia, mendingan abang keluarin sendiri." sungut bang Darma kesal.
"Helehh, di depan ku pura-pura nolak. Tapi di belakang ku, abang nyosor terus sama dia." cibir ku.
"Udah ah, gak usah bahas tentang dia lagi! Bikin mood abang rusak aja denger nama nya." balas bang Darma.
Bang Darma tampak sangat kesal, karena mendengar penuturan ku barusan. Wajah nya juga berubah menjadi masam, akibat ulah ku itu.
Setelah perdebatan sengit berakhir, aku dan bang Darma pun mulai membersihkan diri masing-masing. Setelah selesai, kami berdua kembali ke dalam kamar dan berganti pakaian.
Suasana berubah menjadi hening, tidak ada percakapan apa pun lagi di antara kami berdua. Bang Darma diam membisu, sejak kejadian di kamar mandi tadi.
Setelah selesai memakai pakaian, aku berdiri di depan cermin sambil memoles wajah ku dengan bedak dan lipstik. Sedangkan bang Darma, dia sudah duduk di tepi ranjang sambil menyalakan rokok nya.
Kring kring kring...
Ponsel bang Darma berdering nyaring di atas meja, tepat di depan tempat duduk nya. Bukan nya menerima panggilan itu, bang Darma malah tampak bingung, sambil terus menatap ke arah ponsel, yang ada di depan nya.
"Kenapa gak di angkat, bang? Siapa yang nelpon rupanya?" tanya ku penasaran.
__ADS_1
"Entah, ini nomor baru kayak nya, dek. Soal nya, gak ada nama nya." jelas bang Darma.
"Jangan-jangan, itu nomor Dina atau Yuni." batin ku.