
Setelah menenangkan pikiran di atas sofa, beberapa menit kemudian tetangga sebelah datang mengetuk pintu.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum, mbak."
Salam tetangga sebelah yang bernama mbak Tuti di depan pintu.
"Wa'laikum salam, masuk mbak!" balas ku.
Aku mempersilakan mbak Tuti masuk dan duduk bersama ku di ruang tamu. Tetangga ku yang satu ini, sifat kepo nya memang luar biasa. Mau tahu saja urusan orang lain.
Dia pasti mendengar pertengkaran ku dengan ibu nya Yuni tadi, maka nya jiwa kepo nya langsung meronta-ronta ingin tahu berita yang sebenarnya dari ku. Aku sudah hafal dengan sifat jelek nya itu.
"Ada perlu apa, mbak Tuti?" tanya ku tanpa basa-basi.
"Tadi aku dengar si Dina marah-marah ya, mbak Ayu? Emang nya ada masalah apa, mbak?" tanya mbak Tuti penasaran.
Aku langsung tersenyum miring mendengar pertanyaan mbak Tuti, lalu membatin.
"Nah, bener kan dugaan ku. Dia kesini pasti cuma ingin tahu masalah yang terjadi tadi," batin ku.
"Biasa lah, mbak. Nama nya juga mantan, pasti dia kepanasan lihat aku dan bang Darma sudah bahagia dan sudah berkecukupan saat ini," jawab ku santai.
"Oh, gitu ya. Tapi tadi aku dengar, si Dina ada sebut-sebut tentang emas? Emang nya emas siapa, mbak?" tanya mbak Tuti mulai kepo.
Aku menghela nafas panjang, dan memutar bola mata malas. Sebenarnya aku malas meladeni tetangga ku yang satu ini. Tapi ya, apa boleh buat. Mau tidak mau, aku tetap harus menghadapi nya.
"Ini orang apa-apa an sih, mau tau aja urusan orang lain. Kurang kerjaan banget," gerutu ku dalam hati sambil melirik sinis pada nya.
Setelah beberapa saat mengumpat dalam hati, aku pun kembali menjawab pertanyaan nya.
"Oh itu, bukan apa-apa kok, mbak. Cuma masalah kecil aja. Si Dina nya aja yang terlalu heboh sendiri," jawab ku berusaha menutupi.
Sebenarnya aku paling tidak suka bila ada orang yang terlalu nyinyir dengan urusan rumah tangga ku. Kalau sampai ada satu orang saja yang tahu tentang masalah ku itu, bisa-bisa satu RT bakalan tahu semua nanti nya.
"Oh kirain ada masalah apa tadi. Kedengaran nya sih tadi heboh banget soal nya," tambah mbak Tuti masih terus penasaran, dan berusaha memancing-mancing ku.
Aku hanya diam tidak menanggapi ocehan nya lagi. Suasana pun jadi hening sesaat, hingga akhirnya mbak Tuti pun pamit untuk pulang ke rumah nya.
"Oke lah kalau begitu, aku pamit pulang ya, mbak Ayu," ujar mbak Tuti lalu berdiri dari tempat duduk nya, dan berjalan menuju pintu.
"Oke, mbak Tuti. Hati-hati di jalan ya," balas ku basa-basi sambil melambaikan tangan pada nya.
Mendengar ucapan ku, mbak Tuti malah tertawa terbahak-bahak sambil berkata...
"Hahahaha, mbak Ayu ini ada-ada saja. Lah wong rumah ku cuma di sebelah aja kok, pake acara hati-hati di jalan segala. Kayak aku ini mau pergi jauh saja," jawab mbak Tuti sambil terus tertawa.
__ADS_1
"Ya, siapa tau aja nanti kaki nya tersandung atau terpeleset, kan harus hati-hati juga jalan nya," balas ku santai.
"Ya gak mungkin to, mbak. Masa cuma jalan tiga langkah saja bisa terpeleset segala, aneh-aneh saja mbak Ayu ini," jawab mbak Tuti lagi.
Setelah itu, mbak Tuti pun memakai sandal jepit nya, dan mulai melangkah keluar dari pintu. Baru saja berjalan dua langkah tiba-tiba, "gedebuk." Mbak Tuti tersandung kaki nya sendiri, hingga membuat nya terjatuh dan terjengkang di teras rumah ku.
"Auw, sakit banget!" pekik mbak Tuti sambil meringis dan memegangi pinggang nya.
Aku yang masih berdiri di depan pintu pun sontak kaget, saat melihat kejadian itu. Aku langsung bergegas menolong mbak Tuti untuk berdiri, sembari berucap...
"Tu lah, maka nya kalau di bilangin jangan ngeyel, mbak. Biar pun jarak nya cuma tiga langkah, tetap saja harus hati-hati. Bandel sih di bilangin!" oceh ku kesal.
Aku mengoceh sambil memegangi lengan mbak Tuti. Aku memberdirikan badan nya yang lumayan berat itu.
"Iya, mbak. Aku yang salah, terlalu menyepelekan ucapan mbak Ayu tadi," jawab mbak Tuti penuh penyesalan.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala menanggapi penyesalan nya.
"Ya udah, mbak. Aku pulang dulu ya," pamit mbak Tuti lagi.
Mbak Tuti kembali berjalan menuju rumah nya. Dia tertatih-tatih memegangi pinggang nya sendiri.
"Iya, mbak," balas ku sambil terus tersenyum dan mengeleng-gelengkan kepala.
Aku merasa geli sendiri, melihat mbak Tuti yang mulai berjalan ke rumah nya. Setelah kepergian mbak Tuti, aku masuk ke dalam kamar dan berbaring telentang di atas ranjang.
"Kalau aku ketawa, dosa gak ya? Hahahaha, lucu banget sih lihat nya. Tu lah akibat nya, kalau terlalu sibuk ngurusin urusan orang lain. Kena batu nya sendiri kan jadi nya. Hahaha, kapok!" gumam ku girang.
Kenapa tadi nggak aku videoin aja ya, biar viral sekalian. Judul video nya itu cocok nya, 'Karma instan untuk tetangga kepo,'
hihihi," gumam ku kembali cekikikan sendiri, dengan ide konyol ku itu.
Sedang asyik menghayal tentang mbak Tuti, tiba-tiba ponsel ku berdering di atas meja.
"Siapa lagi sih? Ganggu orang lagi menghayal aja. Ini pasti kerjaan nya si botak tuyul nih, si pengganggu yang resek nya nauzubillah," gerutu ku.
Aku mengambil ponsel dan menerima panggilan dari bang Agus, selingkuhan lima langkah ku itu.
"Ya halo, ada apa?" tanya ku ketus.
"Bah, kok gitu sih ngomong nya, say?" balas bang Agus bingung.
"Lah trus, aku harus ngomong apa lagi sih, botaaaak!" pekik ku geram.
"Jangan marah-marah terus lah, say. Ntar muka nya cepat keriput loh!" ledek bang Agus.
"Biarin, udah laku aja kok," balas ku cuek.
__ADS_1
"Loh, kok gitu sih, say? Jadi mentang-mentang udah laku, gak perlu merawat diri lagi gitu?" tanya bang Agus.
"Ya, gak gitu juga lah. Aku tetap akan merawat diri kok, agar terlihat cantik dan seksi di depan suami ku," balas ku.
"Loh, kok cuma untuk suami sih cantik dan seksi nya, untuk abang mana?" protes bang Agus.
"Kalau untuk abang sih jelek nya aja, hahaha!" gelak ku.
Tawa ku pun langsung pecah seketika. Aku membayangkan gimana lucu nya wajah bang Agus, saat mendengar ucapan ku barusan.
"Aku yakin, pasti sekarang muka nya lagi cemberut gak karuan tuh botak tuyul," batin ku.
"Tega banget sih ngomong kayak gitu sama abang, say," balas bang Agus memelas.
"Bercanda, bang. Serius banget sih jadi orang. Jadi nyet aja sana, kalau gak bisa di ajak bercanda," ledek ku mulai kesal.
"Hahaha, enak aja nyuruh abang jadi nyet. Abang pun tau kok, kalau dirimu itu hanya bercanda. Abang cuma pura-pura gak tau aja tadi tu," jelas bang Agus sembari tergelak.
"Ya udah, gak usah di permasalahkan lagi. Abang ada perlu apa nelpon aku?" tanya ku mengalihkan pembicaraan.
"Keluar yok, say. Bisa gak? Kalau memang bisa, biar abang permisi pulang sama bos," tanya bang Agus.
"Lain kali aja lah, hari ini aku gak bisa kemana-mana. Lagian udah sore juga, nanggung banget waktu nya," jawab ku menolak halus ajakan bang Agus.
"Gak papa lah, say. Satu jam pun jadi lah,"
balas bang Agus tetap ngeyel.
"Gak usah bandel kalau di bilangin. Besok aku suruh bang Darma beli nasi untuk makan siang nya, biar dia gak pulang ke rumah lagi untuk makan. Jadi kita bisa seharian keluar nya," jelas ku.
"Serius, say?" tanya bang Agus seakan tidak yakin dengan ucapan ku barusan.
"Ya serius lah, mana pernah aku bohong," jawab ku meyakinkan nya.
"Yes, akhirnya bisa juga abang merasakan seharian memilikimu. Biasa nya cuma bisa curi-curi waktu sebentar aja," balas bang Agus dengan semangat empat lima.
"Nama nya juga selingkuh, ya sudah pasti main kucing-kucingan lah sama yang punya rumah," ujar ku.
"Hmmmm, iya juga sih," jawab bang Agus pasrah.
"Oke lah kalo gitu, besok aku kabari jam berapa kita keluar ya. Assalamualaikum," ujar ku menutup percakapan.
"Oke, say. Wa'laikum salam," balas bang Agus.
Setelah panggilan berakhir, aku pun meletakkan ponsel di atas meja.
"Hah, akhirnya selesai juga otot-ototan nya dengan si botak," gumam ku sambil menghembuskan nafas kasar.
__ADS_1
"Tidur bentar ah, mumpung masih ada waktu dua jam lagi sebelum bang Darma pulang kerja," batin ku sembari melirik ke arah jam dinding.
Setelah melewati tragedi yang sangat melelahkan. Aku pun memejamkan mata dan tertidur pulas di atas ranjang, dengan posisi miring menghadap tembok.