
Setelah selesai menerima panggilan dari bang Agus, aku mulai melakukan kegiatan sehari-hari. Seperti memasak dan membersihkan rumah, dan yang terakhir membuka kios.
Sedang asyik merapikan barang-barang dagangan, tiba-tiba ada yang mengagetkan ku dari belakang. Aku pun langsung terlonjak kaget sambil melatah.
Doorrr...
"Eh kunti eh kunti." latah ku.
"Hahaha, kok serem banget sih melatah nya, mbak? Aku jadi merinding nih dengar nya." ucap mbak Tuti.
"Hadehh, si tetangga kepo ini ngapain sih datang-datang kesini. Bikin mood ku hancur lebur aja nih orang." gerutu ku dalam hati.
"Ya Allah, mbak. Kaget aku, bikin jantung ku berdebar-debar aja sih kerjaan nya!" gerutu ku kesal.
"Hehehe, maaf ya, mbak Ayu. Aku khilaf aku gak sengaja. Beneran, suerr deh!" balas mbak Tuti.
Mbak Tuti meminta maaf sambil membentuk kedua jari nya menjadi huruf V. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala menanggapi tingkah nya yang mirip seperti bocah di depan ku.
"Ya, sekali ini aku maaf kan. Tapi lain kali jangan gitu lagi ya, mbak!" balas ku.
"Kalau tiba-tiba jantung ku lemah trus pingsan, trus masuk rumah sakit akibat di kejutkan kayak gitu, gimana coba?" oceh ku panjang lebar.
"Iya iya, mbak. Sekali lagi maaf ya! Aku janji gak bakalan ngulangin lagi." balas mbak Tuti penuh penyesalan.
"Oke, aku maafkan. Emang nya mbak Tuti ada perlu apa kesini?" tanya ku mengalihkan pembicaraan.
"Oh itu, mbak. Aku mau pinjam uang satu juta. Kira-kira bisa gak, mbak Ayu?" tanya mbak Tuti.
Mbak Tuti meminjam uang dengan raut wajah yang di buat sesedih mungkin. Aku pun langsung terkejut mendengar nominal yang disebut kan nya barusan.
"HAH, satu juta?" kaget ku.
"Iya, mbak. Cuma satu juta aja kok, gak banyak-banyak. Bisa gak, mbak?" balas mbak Tuti dengan enteng nya.
"Gila nih orang, satu juta kok cuma kata nya. Di kira nya uang segitu gak banyak apa? Bisa untuk beli beras tiga sampai empat bulan tuh uang segitu." gerutu dalam hati.
"Gimana, mbak Ayu? Bisa gak minjamin aku uang segitu?" desak mbak Tuti.
__ADS_1
Aku langsung mengerutkan kening dan terpaku di tempat karena mendengar desakan dari mbak Tuti. Kesal juga rasa nya hati ini dengan ucapan nya itu. Seolah-olah dia seperti sedang menjengkali rejeki ku.
"Apa dia berpikir aku gak punya uang sebanyak itu?" batin ku.
Aku terus saja menduga-duga tentang maksud mbak Tuti berbicara seperti itu pada ku. Aku merasa sedikit tersinggung dengan ucapan nya barusan.
"Maaf ya, mbak. Aku bukan nya..."
Belum juga aku siap meneruskan kata-kata ku, tiba-tiba mbak Tuti langsung memotong dengan cepat. Dia mencibir ku dengan kata-kata yang cukup pedas di dengar oleh telinga ku.
"Oh, gak ada ya, mbak Ayu! Udah ku duga sih sebelum nya, kalau mbak Ayu itu pasti bakalan gak ada uang sebanyak itu." cibir mbak Tuti sinis.
"Siapa bilang aku gak ada uang segitu? Bahkan lebih dari itu juga ada kok, mbak Tuti." balas ku tak mau kalah.
"Ah, aku gak percaya. Buktinya mbak Ayu gak bisa minjamin aku uang segitu. Padahal cuma satu juta aja, loh!" balas mbak Tuti semakin sinis.
"Bukan nya aku gak mau minjamin, mbak. Tapi uang itu mau aku belikan emas besok!" balas ku santai.
"Halah, pasti mbak Ayu bohong kan? Bilang aja lagi gak punya duit! Ngomong jujur gitu aja kok malu sih, mbak?" balas mbak Tuti semakin menjadi-jadi.
Aku menjadi semakin geram dengan ucapan-ucapan yang terlontar dari mulut berbisa nya mbak Tuti, yang sudah berhasil membuat telinga ku semakin panas mendengar nya.
"Kurang ajar juga manusia ular satu itu. Apa muncung nya itu mau minta di tabok ya pakai uang ini?" gerutu ku kesal.
Aku menggerutu sambil berjalan keluar dari kamar, dengan membawa satu ikat uang biru yang berjumlah lima juta.
Aku kembali masuk ke dalam kios, lalu memperlihatkan uang itu kepada manusia ular yang ada di hadapanku itu.
"Ini uang nya, mbak Tuti! Ini uang yang akan aku belikan emas besok. Apa mbak Tuti masih gak percaya juga, hah?" tanya ku lantang.
Mata mbak Tuti langsung membulat sempurna. Bola mata nya seperti hendak lompat keluar dari tempatnya. Melihat ekspresi wajah mbak Tuti, aku pun langsung tersenyum sinis pada nya.
"Mampus kau manusia kepo! Langsung ijo kan biji mata mu itu melihat uang ku ini, hahaha." batin ku girang tak terhingga.
"Waaah! Ternyata uang mbak Ayu banyak juga ya. Aku pikirmbak Ayu gak ada uang sebanyak itu!" balas mbak Tuti salah tingkah.
"Hehehe, maaf ya, mbak Ayu. Aku sudah salah menduga dengan mbak Ayu." lanjut mbak Tuti lagi.
__ADS_1
Aku langsung bersedekap di hadapan mbak Tuti. Aku juga tersenyum miring melihat gelagat nya yang langsung tampak lunak dan meleleh setelah melihat uang ku itu.
"Maka nya mbak Tuti itu jangan suka menjengkali rezeki orang lain! Rezeki orang itu beda-beda, mbak. Jangan di sama rata kan, seperti yang lain nya, ingat itu!" ucap ku tegas.
"Iya, maaf ya, mbak. Aku memang salah sudah menduga-duga tentang, mbak Ayu. Aku jadi gak enak nih sama mbak Ayu!" balas nya lagi.
"Ya udah gak papa. Tapi lain kali jangan gitu lagi ya, mbak! Gak baik merendahkan orang lain seperti yang mbak Tuti lakukan dengan ku tadi." balas ku.
"Iya, mbak. Aku janji deh, gak bakalan kayak gitu lagi dengan mbak Ayu!" jawab mbak Tuti.
"Bukan dengan aku saja, mbak! Tapi dengan orang lain juga! Bahkan dengan siapapun itu, tanpa terkecuali lah pokoknya, paham!" ucap ku penuh penekanan.
"Oke oke, aku paham kok, mbak. Jadi gimana yang aku bilang di awal tadi, mbak? Bisa gak aku pinjam uang nya? Satu juta aja kok, mbak!" pinta mbak Tuti memelas.
"Maaf, mbak Tuti. Aku gak bisa meminjamkan uang ini kepada siapa pun, termasuk mbak Tuti. Karena besok aku mau beli emas buat simpanan ku!" tolak ku.
Aku menjawab sambil mengipas-ngipas kan uang itu ke wajah ku dengan santai.
"Aku kerjain dikit ah, manusia ular yang ada di depan ku ini." batin ku.
Aku langsung memikirkan bagaimana cara mengerjai tetangga kepo ku itu. Biar dia semakin kepanasan melihat uang yang ada di tangan ku itu.
"Hari nya panas banget ya, mbak. Badan ku keringatan semua nih jadi nya!"
Aku berucap sambil terus mengipasi wajah ku dengan uang lima juta itu, sambil sesekali mengelap leher dan jidat ku dengan uang itu juga.
"Hahaha, kapok kan! Maka nya jangan julid jadi orang. Kena batu nya sekarang jadi nya kan." batin ku girang.
Mbak Tuti menelan saliva nya dengan kasar. Dia terus saja melongo melihat tingkah jahil ku itu. Beberapa menit kemudian, mbak Tuti pun pamit undur diri dari hadapan ku.
"Ya udah lah, mbak. Aku pamit pulang aja lah, mau minjam uang dikit aja pun gak di kasih." balas mbak Tuti ketus.
Mbak Tuti langsung melangkah keluar dari kios ku. Wajah nya tampak mendung dan buram karena tidak aku berikan pinjaman uang kepada nya.
"Hahaha, sukurin! Siapa suruh merendahkan dan menjengkali rezeki orang lain." gumam ku.
Aku kembali tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala melihat kepergian mbak Tuti.
__ADS_1
Setelah mbak Tuti tidak terlihat lagi dari pandanganku, aku bergegas masuk ke dalam kamar, dan menyimpan kembali uang itu ke dalam lemari pakaian.
*Jangan pernah merendahkan orang lain. Karena orang yang kita anggap rendah itu, belum tentu lebih buruk dari pada kita*