
"Apa maksud mu ngomong seperti itu, dek?" tanya bang Darma.
"Pikir aja sendiri!" balas ku menutup percakapan.
Selesai berucap, aku langsung berjalan ke dalam kamar lalu membaringkan tubuh ku di atas ranjang sambil bermain ponsel.
Bang Darma mengikuti langkah ku dari belakang. Dia tampak masih sangat penasaran dengan ucapan ku tadi. Dia duduk di sisi ranjang dan kembali bertanya arti dari kata-kata ku barusan.
"Maksud mu apa ngomong seperti itu ke abang, dek?" tanya bang Darma lagi.
"Apa an, sih? Udah ah, mandi sana! Lihat udah jam berapa tuh." sungut ku kesal.
Aku menunjuk ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah enam sore.
"Tapi, dek..."
Dengan cepat aku langsung memotong ucapan bang Darma.
"Gak ada tapi-tapian lagi, udah cepetan mandi sana!" balas ku ketus.
Dengan memasang wajah masam, bang Darma pun terpaksa menurut dan berjalan ke kamar mandi dengan langkah gontai.
Setelah selesai membersihkan diri dan berwhudu, dia kembali masuk ke dalam kamar dan segera menunaikan shalat ashar.
Setelah itu, bang Darma naik ke atas ranjang dan merebahkan diri nya samping ku sambil memainkan ponsel nya.
Aku melirik sedikit pada bang Darma yang sedang fokus menatap layar ponsel nya. Sesekali dia cekikikan sendiri melihat video-video kocak yang ada di dalam ponsel nya.
Tak lama berselang, suara adzan magrib pun berkumandang. Aku segera beranjak dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi untuk berwhudu.
Setelah itu, aku pun segera bergegas menunaikan shalat magrib. Setelah selesai, giliran bang Darma yang juga menunaikan kewajiban umat muslim itu.
Selesai menunaikan shalat, kami berdua kembali naik ke atas ranjang sambil memainkan ponsel masing-masing. Sedang fokus bermain ponsel, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang cukup keras dari luar.
TOK...TOK...TOK...
Mendengar suara ketukan itu, aku dan bang Darma pun saling pandang-pandangan. Tatapan mata nya seolah-olah bertanya pada ku, siapa yang mengetuk pintu dengan kuat seperti itu.
Aku pun membalas tatapan mata nya itu, dengan mengendik kan bahu tanda tidak tahu.
"Buka pintu nya itu, dek!" perintah bang Darma.
__ADS_1
"Ck, siapa sih itu? Gak sopan banget jadi orang. Malas ah, abang aja lah yang buka pintu nya!" tolak ku.
Aku menggerutu dan menolak perintah bang Darma. Karena mendengar penolakan ku, bang Darma pun langsung meletakkan ponsel nya di atas meja. Dia turun dari ranjang dan berjalan keluar dari kamar untuk membukakan pintu.
Setelah pintu terbuka lebar, bang Darma langsung terpaku di tempat dengan mulut yang menganga.
"Apa yang sudah kau lakukan dengan anak ku, hah?"
Aku yang mendengar suara lantang itu pun, segera beranjak dari ranjang dan berlari kecil keluar dari kamar. Sampai di depan pintu, aku langsung berdiri tepat di samping bang Darma.
"Duo lalat ijo ini memang gak ada kapok-kapok nya mengganggu ketenangan kami berdua." batin ku geram.
Aku menatap sinis pada Dina yang sedang berkacak pinggang di hadapan bang Darma. Ya, ternyata yang datang itu adalah Dina dan Yuni, anak dan mantan istri bang Darma.
"Ngapain kau kesini?" tanya bang Darma pada Dina.
"Jawab dulu pertanyaan ku tadi, Darma! Apa yang sudah kau lakukan dengan anak ku?" tanya Dina lagi mengulang pertanyaan nya.
Dina tampak sangat emosi, terlihat dari raut wajah nya yang sudah memerah seperti hendak menerkam mangsanya hidup-hidup. Aku sampai bergidik ngeri melihat wajah horor nya itu.
Sedangkan Yuni, dia hanya berdiam diri di belakang ibu nya sambil menundukkan kepalanya. Dia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya untuk menatap kami semua.
"Dia bilang istri mu ini sudah menuduh nya pernah tidur dengan laki-laki. Apa maksud kalian menuduh anak ku seperti itu, HAH?" bentak Dina.
Dina membentak dengan suara keras dan mengarahkan jari telunjuk nya pada ku. Aku tetap diam dan melipat kedua tangan ku di atas perut.
Aku ingin lihat, bagaimana sikap suami ku saat berhadapan dengan mantan istri nya itu.
"Kalo memang tuduhan itu gak bener, kenapa mesti marah?" selidik bang Darma.
"Yups, betul sekali. Tumben suami ku pintar. Biasa nya sama oon nya dengan anak nya itu." batin ku.
Aku berucap dalam hati sambil tersenyum miring, mendengar jawaban yang tepat dari bang Darma. Dina pun semakin bertambah marah setelah mendengar kata-kata dari mantan suami nya.
"Memang benar-benar kurang ajar kalian berdua! Orang tua macam apa kalian, hah? Tega-teganya kalian menuduh anak sendiri telah berbuat yang tidak-tidak seperti itu!" pekik Dina.
"Udah lah, gak usah di perpanjang lagi! Masalah sepele aja pun di besar-besarkan. Apa kau gak malu kalo sampe di dengar tetangga?" tanya bang Darma.
"Apa kau bilang tadi? Ini cuma masalah sepele? Ringan kali mulut mu itu ngomong seperti itu ya!" balas Dina kesal.
"Dan kau, aku akan buat perhitungan dengan mu. Aku tidak akan tinggal diam dengan penghinaan mu pada anak ku, camkan itu baik-baik!" ancam Dina pada ku.
__ADS_1
Dina kembali menunjuk pada ku. Dia tetap tidak terima dengan apa yang sudah di alami oleh anak kesayangan nya.
Aku maju satu langkah ke depan dan mencondongkan wajah ku tepat di hadapan wajah Dina.
"Aku gak akan pernah takut dengan ancaman receh dari perempuan gila seperti mu, ingat itu!" balas ku tak mau kalah.
"Dasar kau perempuan luknut, aku akan habisi kau sekarang!" balas Dina.
Dina melayang kan telapak tangan nya ke pipi ku, dan...
"PLAK"
Cap lima jari pun mendarat indah di pipi mulus ku. Bang Darma yang melihat perbuatan Dina itu pun langsung mengangkat tangan. Dia ingin membalas perlakuan kasar Dina dengan ku, tapi aku langsung mencegah nya.
Aku memegangi pergelangan tangan bang Darma, sambil menggelengkan kepala ku pada nya. Aku memberi kode agar bang Darma tidak berbuat gegabah seperti itu.
Aku tidak ingin bang Darma masuk penjara. Hanya karena sudah berbuat kasar dengan manusia satu itu. Maka dari itu, aku melarang keras pada bang Darma agar tidak membalas nya pada Dina.
"Biar aku saja yang membalas nya, bang!" pinta ku pada bang Darma.
Setelah melepaskan tangan bang Darma, aku segera berjalan dengan langkah cepat menuju ke arah belakang.
Setelah sampai di dapur, aku mengambil ember dan mengisi nya dengan air sebanyak tiga gayung. kemudian, aku mengambil cabe rawit giling yang ada di dalam kulkas. Lalu aku pun mencampur cabe itu ke dalam ember yang sudah berisi air tadi.
"Rasa kan pembalasan ku ini perempuan gila, hihihi!" gumam ku.
Aku cekikikan sendiri sambil mengaduk-aduk ember. Setelah selesai, aku kembali ke depan pintu sambil menenteng ember yang berisikan air cabe.
Sesampai nya di hadapan Dina, tanpa pikir panjang lagi aku pun langsung menyiram kan air cabe itu ke seluruh badan nya, Dan itu berhasil membuat nya klepek-klepek kepanasan.
"Aaaaaa! Panas...Panas..." pekik Dina.
Dina langsung lompat-lompat di tempat karena mendapatkan serangan mendadak dari ku. Yuni dan bang Darma, hanya bisa terbengong dengan mulut menganga lebar melihat aksi sadis ku.
Sedangkan aku, malah tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah Dina yang sedang lompat-lompat persis seperti ulat nangka di depan ku itu.
"Hahaha, nikmati lah pembalasan ku itu perempuan gak tau diri! cibir ku lantang.
"Maka nya jangan pernah mengganggu singa yang sedang tidur. Kalau singa itu sudah bangun, maka tamat lah riwayat mu, hahaha!"
Aku kembali tertawa puas melihat tontonan gratis nan kocak, yang sedang berlangsung di hadapan ku saat ini.
__ADS_1