SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Kejadian Dikamar Sebelah


__ADS_3

"Tapi apa, bang?" tanya ku mulai penasaran.


Rendi menghembuskan nafas kasar, dia tampak sangat gusar dengan hati dan perasaan nya sendiri. Setelah beberapa saat terdiam, Rendi pun kembali membuka suara nya.


"Tapi abang udah gak sabar lagi untuk segera memiliki mu, Yu." ungkap Rendi.


Melihat raut wajah Rendi yang sudah mulai serius dengan ucapan nya, aku pun memutuskan untuk mengalihkan perhatian nya dan mengajak nya kembali ke hotel.


"Hoam, kita balek yok, bang! Mata ku udah mulai ngantuk nih." ajak ku.


Aku pun berpura-pura menguap di depan Rendi. Agar dia percaya kalau aku benar-benar sudah mengantuk. Mendengar ajakan ku, Rendi langsung mengangguk tanpa berkomentar apa pun lagi.


Aku dan Rendi berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir rapi di pinggir jalan. Sampai di dalam mobil, Rendi pun mulai menjalankan kendaraan nya menuju hotel tempat aku menginap.


Sesampainya di parkiran, Rendi langsung menggandeng tangan ku untuk berjalan bersama nya masuk ke dalam hotel.


Setelah berada di dalam kamar, aku segera melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci kaki, tangan, dan muka. Setelah bersih, aku kembali melangkah keluar dan merangkak naik ke atas ranjang.


Begitu juga dengan Rendi, setelah membersihkan diri nya di kamar mandi, dia pun ikut naik ke atas ranjang dan memeluk tubuh ku dari belakang.


Rendi mulai menjalarkan jari-jari nya nakal nya ke tubuh ku. Dia seolah-olah memberikan kode pada ku untuk melakukan kegiatan panas kembali.


Aku yang merasa kegelian akibat ulah nya itu pun, langsung membalikkan tubuh ku untuk menghadap pada nya. Dengan nafas yang mulai memburu, Rendi pun berbisik manja di telinga ku.


"Sayang, abang udah gak tahan lagi nih. Kita bersenang-senang sampe pagi ya. Mau kan, sayang?" ajak Rendi.


Setelah mendengar tawaran yang menggiurkan dari Rendi, aku pun langsung tersenyum sumringah. Dan tanpa pikir panjang lagi, aku langsung menyetujui nya.


"Iya, bang. Aku mau, aku juga udah gak tahan lagi ingin merasakan jagung ompong mu itu." bisik ku sambil menjulurkan lidah ku ke daun telinga nya.


Aku merengek manja pada Rendi, dan meminta nya agar segera melayani hasrat ku yang sedang menggebu-gebu saat ini. Setelah mendengar kan permintaan ku, Rendi pun mulai melancarkan aksi nya.


Setelah beberapa kali melakukan pergumulan panas, aku dan Rendi pun akhirnya tertidur pulas karena kelelahan.

__ADS_1


Waktu terus berjalan, dan tanpa terasa ternyata hari sudah siang. Suara berisik dari luar kamar pun mulai mengganggu tidur lelap ku.


"Ck, berisik banget sih di luar, ganggu tidur ku aja." gerutu ku kesal.


Aku berdecak kesal, karena terganggu oleh suara-suara para pelayan hotel yang terdengar sangat riuh dan ramai di depan kamar kami.


Setelah capek menggeliat-geliat kan badan, aku segera beranjak dari ranjang dan mulai mengaktifkan ponsel yang sedari kemarin sudah aku matikan.


Ting ting ting ting...


Suara pesan masuk pun terus saja terdengar dari ponsel ku. Ada puluhan pesan teks dan juga puluhan panggilan tak terjawab, dari bang Darma yang sudah memenuhi layar ponsel ku.


Aku sama sekali tidak membaca atau pun menjawab pesan teks dari suami ku itu. Setelah melihat jam di layar ponsel, aku pun kembali menonaktifkan nya dan menyimpan nya di dalam tas selempang ku.


"Udah jam sebelas ternyata, pantesan aja udah pada berisik di luar. Tapi berisik nya kok aneh ya? Seperti sedang ada kejadian besar." gumam ku pelan.


Karena penasaran, aku pun bergegas memakai pakaian dan berjalan ke arah pintu untuk melihat suasana di luar kamar.


Setelah membuka pintu, mata ku langsung terbelalak lebar saat melihat beberapa polisi yang sedang membawa bungkusan besar, yang berisikan mayat seorang wanita yang berlumuran darah.


Aku terpekik kaget sambil menutup mulut dengan kedua tangan ku. Dada ku rasa nya bergemuruh tidak karuan, melihat isi dari bungkusan besar yang di gotong oleh polisi tadi.


"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un." gumam ku.


Setelah para polisi pergi membawa mayat perempuan itu, aku pun mulai bertanya kepada salah satu pelayan hotel yang masih berada di samping kamar ku.


"Kapan kejadian nya, mas? Mayat perempuan itu di bunuh atau bunuh diri?" selidik ku.


"Di bunuh, mbak. Kejadian nya semalam, sekitar pukul dua pagi. Emang nya mbak gak ada dengar suara ribut-ribut ya dari kamar ini?" tanya nya balik.


"Ya Allah, kejam nya!" gumam ku.


"Kalo jam dua kami lagi di luar, mas. Lagi cari makan trus jalan-jalan ke pantai. Pulang nya sekitar jam tiga an gitu lah, kalo gak salah. Jadi kami gak dengar apa-apa." jelas ku.

__ADS_1


Setelah mendengar penuturan ku, pelayan hotel itu pun langsung manggut-manggut, dan kembali menjelaskan pada ku tentang kejadian tersebut.


"Oh, pantesan aja si mbak nya gak tau. Semalam wanita itu check in nya jam dua belas, dia bersama teman laki-laki nya." jelas si pelayan.


"Dua jam kemudian, teman lelaki nya itu keluar dan pergi begitu aja, mbak." lanjut nya.


"Oh, gitu cerita nya." balas ku.


"Oke lah, mbak. Saya lanjut kerja lagi ya, mbak. Takut nya nanti saya di tegur sama bos kalo lama-lama disini. Saya permisi dulu ya, mbak." ujar si pelayan hotel.


Pelayan itu pun pamit undur diri, dan kembali membersihkan kamar bekas kejadian pembunuhan semalam.


Setelah kepergian si pelayan hotel, aku pun langsung mengunci pintu dan naik ke atas ranjang untuk membangun kan Rendi, yang masih setia dengan mimpi nya di bawah selimut.


"Bangun, sayang. Ayok kita pulang sekarang!" bisik ku.


Aku menindih tubuh Rendi dan menciumi leher nya dengan lembut. Akibat ulah nakal ku yang sedang menggoda nya, akhirnya Rendi pun mulai membuka mata nya. Dia menggeliat dan mengucek-ngucek kedua mata nya.


"Jangan mancing-mancing gitu, ah! Abang paling gak tahan kalo di ciumi gitu." balas Rendi dengan suara serak.


Aku tersenyum menanggapi keluhan Rendi yang tampak mulai gelisah akibat perbuatan ku itu. Setelah puas mengganggu Rendi, aku pun segera beranjak dari atas tubuh nya dan duduk bersandar di sisi ranjang.


"Kita pulang yok, bang! Aku jadi takut disini gara-gara nengok kejadian tadi." pinta ku.


Rendi langsung menoleh pada ku dengan kening yang mengkerut. Dia sama sekali tidak mengerti maksud dari kata-kata ku barusan. Karena merasa sangat penasaran, Rendi pun mulai bertanya pada ku.


"Kejadian apa?"


"Pembunuh, bang." balas ku.


"APA?" pekik Rendi.


Rendi sangat terkejut mendengar ucapan ku, dia langsung memekik dengan suara yang cukup memekakkan telinga. Aku pun reflek menutup mulut Rendi dengan satu tangan ku.

__ADS_1


"Berisik banget, sih. Nanti di kira orang abang lagi di apa-apain pulak." balas ku sewot sambil melepaskan tangan ku dari mulut Rendi.


__ADS_2