SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Berkeringat Lagi


__ADS_3

"Huh, capek juga ternyata lari-larian kayak gini!" gumam ku dengan nafas yang ngos-ngosan.


Aku duduk di tepi ranjang untuk menormalkan nafas. Begitu juga dengan Rendi, dia ikut duduk di samping ku juga dengan nafas yang masih naik turun tidak karuan.


"Bang, aku lapar. Beli makanan sana, bang!" pinta ku pada Rendi.


"Mau makan apa, sayang?" tanya Rendi.


"Tunggu, aku pikir-pikir dulu!" jawab ku.


Aku pun mulai berpikir sejenak sambil meletakkan jari telunjuk ku di kening. Layak nya seperti orang yang sedang berpikir keras.


Sepuluh menit kemudian, aku belum juga memberikan jawaban pada nya. Hingga membuat Rendi gemas melihat tingkah ku itu.


"Mau makan aja kok lama banget sih mikir nya? Itu lagi mikir, atau lagi ketiduran? Abang sampe jamuran nih nungguin nya!" oceh Rendi kesal.


Rendi mengoceh sembari menyenggol lengan ku. Dia mulai beranjak dari tempat duduk nya untuk memakai pakaian dan sepatu nya.


Aku yang sedari tadi sedang bersemedi untuk memikirkan makanan apa yang mau di makan, akhirnya berhasil mendapatkan jawaban nya.


"Halah, nungguin gitu aja kok pake acara ngedumel segala!" balas ku sewot.


Aku memasang wajah masam dan memanyunkan bibir ku ke depan. Aku juga melipat kedua tangan di atas perut sambil membuang muka ke arah lain. Aku berpura-pura merajuk di hadapan Rendi.


Melihat ekspresi wajah ku yang sedang merajuk, Rendi pun mulai mendekati ku. Dia berlutut di depan ku dan meletakkan kedua tangannya memegangi lutut ku.


"Jangan merajuk gitu lah, sayang! Nanti cantik nya hilang, loh." goda Rendi sambil mengerlingkan sebelah mata nya.


Mendengar ucapan Rendi, aku pun tidak sanggup lagi untuk menahan tawa. Dan akhirnya tawa ku pun pecah seketika di hadapan Rendi.


"Hahaha, kena prank dia!" ucap ku sambil tertawa ngakak.


Mata Rendi langsung membulat sempurna karena mendengar ledekan ku. Dia berdiri di depan ku lalu mencubit pelan ujung hidung ku.


"Huuuu, dasar nakal!" balas Rendi gemas.


"Biarin, weeek!" jawab ku sambil menjulurkan lidah pada Rendi.


"Jadi gak beli makanan nya? Dari tadi kerjaan nya bercanda terus nih bocah!" omel Rendi lagi.


Rendi mengacak-acak rambut ku dan mencubit pelan kedua pipi cabi ku. Melihat Rendi yang sudah tidak sabaran, akhirnya aku pun mengalah.


"Iya iya, cerewet kali sih jadi orang. Aku mau ketoprak sama jus wortel aja, bang! Cepat ya, jangan pake lama!" titah ku.


"Siap, nyonya! Hamba akan laksanakan perintah dari nyonya." canda Rendi.


Dia meletakkan satu tangan nya di dada, sambil membungkuk kan sedikit badan nya di hadapan ku.

__ADS_1


Kelakuan aneh nya itu, persis seperti pelayan-pelayan yang ada di kerajaan besar. Aku terkikik geli melihat aksi kocak kekasih gelap ku itu.


"Dasar gendeng, hihihi." balas ku sambil cekikikan.


"Ya udah, abang keluar dulu ya, sayang!" pamit Rendi.


"Iya." jawab ku.


Setelah berpamitan, Rendi pun mulai melangkah kan kaki nya menuju pintu. Aku pun turut mengikuti langkah nya dari belakang.


Setelah kepergian Rendi, aku segera mengunci pintu dan duduk di kursi sambil menyalakan rokok. Aku kembali merenung tentang nasib rumah tangga ku yang sedang acak adut tidak karuan.


"Ya Allah, kapan kah kata-kata akan indah pada waktunya itu, datang pada ku?"


Aku bergumam dengan pandangan kosong menatap langit-langit kamar,sambil sesekali menghisap rokok. Setelah termenung beberapa saat, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.


Tok tok tok...


"Ya bentar, bang!" pekik ku.


Aku beranjak dari kursi dan berjalan beberapa langkah untuk membuka kan pintu. Setelah Rendi masuk, dia meletakkan semua makanan yang di bawa nya itu ke atas meja.


"Banyak banget makanan nya, bang? Kayak mau ngasi makan sepuluh orang aja!" ledek ku.


"Hehehe, buat stok kita selama disini, sayang." jawab Rendi.


Rendi duduk di depan ku sambil membuka satu persatu bungkusan plastik yang di bawa nya tadi. Dia mengeluarkan snack, coklat, roti, minuman kaleng, dan masih banyak lagi cemilan-cemilan lain nya.


"Kenapa belum di makan ketoprak nya, Yu?" tanya Rendi dengan kening yang mengkerut.


"Aku lagi nungguin abang, biar kita bisa makan bareng!" jawab ku.


"Uluh-uluh! Co cuit banget sih cayang ku ini." goda Rendi dengan nada manja.


Rendi menoel-noel dagu ku dan kembali mengacak-ngacak rambut panjang ku dengan senyum yang sumringah. Aku pun hanya tersenyum manis menanggapi ulah tangan nakal nya pada ku.


"Ya udah, ayok kita makan sekarang!" ajak Rendi.


"Siap, bos!" jawab ku memberi hormat pada nya.


"Hahaha, ini bocah kok gemblung nya gak ilang-ilang dari dulu." gelak Rendi.


Setelah selesai bercanda ria, kami berdua pun mulai memakan makanan itu dengan santai, sambil sesekali saling melirik satu sama lain. Selesai makan, aku dan Rendi pun mulai menyalakan rokok masing-masing.


"Mau nginap berapa hari disini, Yu?" tanya Rendi.


"Belum tau, bang. Aku mau lihat situasi nya dulu! Kalo memang suasananya masih keruh, aku akan tetap disini sampe keadaan nya normal lagi." jawab ku.

__ADS_1


"Dari pada disini, mendingan ke rumah abang aja, yok!" usul Rendi.


Aku tidak langsung menjawab ucapan Rendi. Sambil menghisap rokok, aku masih terus memikirkan jalan yang terbaik untuk hidup ku ke depan nya. Karena tidak mendengar jawaban ku, Rendi pun kembali bertanya pada ku.


"Gimana, Yu? Mau gak nginap di rumah abang?" tanya Rendi lagi.


"Tengok nanti lah, bang! Aku mau pikir-pikir dulu, kalo udah ada keputusan nya, nanti aku kasih tau sama abang." jawab ku.


"Hah, ya udah gak papa. Apa pun keputusan mu, abang akan menerima nya dengan lapang dada." balas Rendi.


Rendi menghela nafas panjang, dia tampak sediki kecewa dengan ucapan ku tadi. Suasana pun menjadi hening seketika, tidak ada perbincangan lagi di antara kami berdua.


Melihat Rendi tertunduk lesu, aku pun berinisiatif untuk mengajak nya tidur. Aku mulai mendekati nya dan menarik tangan nya untuk naik ke atas ranjang.


"Tidur yok, bang! Mata ku udah mulai berat nih." ajak ku.


Rendi tersenyum mendengar ajakan ku. Tanpa pikir panjang lagi, dia langsung mengangkat tubuh ku ke atas ranjang dan membaringkan tubuh ku secara perlahan.


"Kapan sih kita nikah nya, sayang? Lama banget dirimu jadi janda nya! Keburu abang tua pulak nanti." gerutu Rendi sambil memanyunkan bibirnya.


"Sekarang aja abang udah tua kok. Apa lagi nanti kalo aku udah jadi janda. Mungkin abang udah jadi kakek-kakek, hihihi." ledek ku sambil cekikikan.


"Siapa bilang abang udah tua, hah? Masih muda gini kok di bilang udah tua. Apa perlu abang bukti kam kalo abang masih muda?" jawab Rendi tidak terima.


"Bukti kan lah!" tantang ku.


Mendengar tantangan ku, Rendi pun langsung duduk di atas tubuh ku. Di merentang kedua tangan ku dan tersenyum menyeringai menatap tubuh ku yang hanya berbalut dengan handuk pendek.


"Abang, mau ngapain?" tanya ku pura-pura lugu.


"Mau memberikan kenikmatan yang sangat luar biasa untuk mu, sayang! Gimana, kamu udah siap kan, untuk menerima nya dari abang?" tanya Rendi.


"Oh, kalo soal itu sih gak usah di tanya lagi, bang! Kapan pun abang mau, aku pasti akan selalu siap untuk menerima nya." jawab ku.


"Oke lah kalo gitu, kita mulai sekarang ya, sayang!" balas Rendi.


"Iya, bang. Mulai lah, berikan lah pelayanan terbaik mu itu pada ku sekarang! Aku juga udah gak sabar lagi nih." balas ku.


Aku merengek manja sambil menggeliat kan tubuh ku. Rendi yang melihat tingkah nakal ku itu pun, langsung melaksanakan tugas nya. Dia melayani ku dengan baik dan penuh kasih sayang.


"Gimana, sayang? Apakah kau menyukai nya!" tanya Rendi sambil tersenyum genit pada ku.


"Iya, sayang. Aku sangat menyukai nya." balas ku jujur.


Rendi kembali tersenyum sambil terus melakukan tugas nya. Aku pun mulai memejamkan mata di bawah kungkungan Rendi.


"Kalo udah lelah, istirahat aja dulu, bang! Nanti kita sambung lagi main nya!" tawar ku.

__ADS_1


"Nanggung banget, sayang. Ini udah mau selesai kok, abang siap kan dulu ya!" jawab Rendi.


"Oh, oke lah kalo gitu." balas ku pasrah.


__ADS_2