SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Minta Izin


__ADS_3

"Lah trus, mau ngomong apa, say?" tanya bang Agus penasaran.


"Hmmm, aku...aku..."


"Aku aku apa sih, sayang kuu?" tanya nya lagi.


"Aku kangen, bang." balas ku.


Aku mengetik kata-kata itu sambil menggigit pelan bibir ku sendiri. Sebenarnya aku malu mengungkap kan nya.


Tapi ya mau bagaimana lagi, tidak mendapatkan kasih sayang dari suami, ya terpaksa cari kasih sayang dengan lelaki lain.


"Kangen orang nya atau kangen pengen ehem-ehem nya, say?" selidik bang Agus.


Aku tersenyum-senyum sendiri membaca balasan dari bang Agus. Dia seolah-olah tahu kalau aku sedang ingin di manja oleh nya.


"Ah, botak ku ini tau aja isi hati ku." batin ku.


"Dua-duanya, bang." balas ku jujur.


"Serius, say?"


"Iya aku serius, serius banget malah." balas ku.


"Aduh, Ayu ku sayang. Kata-kata mu itu bikin jantung abang dag-dig-dug tidak karuan aja. Hati abang langsung berbunga-bunga mendengar nya." balas bang Agus.


Aku kembali tersenyum membaca balasan dari kekasih botak ku itu.


"Ya udah kalo gitu, besok kita ke hotel lagi ya. Mau gak, say?" tanya bang Agus.


Tanpa pikir panjang lagi, aku pun langsung mengiyakan ajakan bang Agus. Di buat sedih oleh suami dan di hibur oleh selingkuhan.


"Oke, bang. Tapi kita nginap ya bisa gak?" balas ku.


"Wow, tawaran yang sangat membahagiakan banget buat abang, say. Pasti bisa dong, sayang. Apa sih yang nggak bisa buat dirimu!" balas bang Agus girang.


"Oke lah kalo gitu, besok siang aku kabari lagi ya." balas ku.


"Oke, say. I love you bidadari surga ku." balas bang Agus sebagai penutup percakapan.


"Botak...botak...Kau memang selalu bisa membuat ku selalu tersenyum dengan semua tingkah laku mu." batin ku senang.


Setelah selesai berkirim pesan dengan bang Agus, aku kembali meletakkan ponsel di atas meja.


Setelah itu, aku pun mulai memejamkan mata. Dan tak lama berselang, aku pun langsung tertidur pulas dengan posisi yang masih saling memunggungi dengan bang Darma.


Pagi menyapa, aku dan bang Darma kembali melakukan kegiatan sehari-hari. Setelah bang Darma pergi bekerja, aku mulai menyibukkan diri di dapur. Setelah selesai, aku membersihkan rumah dan membuka kios.


"Bismillahirrahmanirrahim, semoga rezeki hari ini lancar ya Allah, amin!" doa ku sambil membuka pintu kios.


Sedang asyik bergelut dengan barang-barang dagangan ku, mbak Tuti si tetangga kepo plus mata-mata Dina itu pun datang.

__ADS_1


Aku berpura-pura tidak mengetahui kedatangan nya, dan tetap fokus merapikan barang-barang dagangan ku.


"Mbak Ayu, aku maaf ya!" ucap mbak Tuti.


Aku berpura-pura tidak mendengar ucapan nya aku tetap acuh dan cuek. Aku terus saja fokus membersihkan sandal dan sepatu dengan menggunakan kemoceng.


"Hello, mbak Ayu. Masih marah ya, mbak?" tanya mbak Tuti.


Setelah membuang nafas panjang, aku pun menoleh pada nya dengan kening sambil mengernyitkan dahi ku.


"Oh, ada orang ternyata. Kirain yang ngomong tadi makhluk halus ternyata mahkluk kasar." balas ku ketus.


"Ah, mbak Ayu ini ada-ada aja, hehehe." balas mbak Tuti.


Mbak Tuti cengar-cengir salah tingkah. Dia tampak tidak enak hati dengan ku karena kejadian semalam. Aku hanya tersenyum miring melihat tingkah nya aneh nya di depan ku.


"Ada perlu apa lagi, mbak? Mau pinjam uang atau mau cari informasi tentang kehidupan ku?" sindir ku.


"Oh, itu anu gak kok, mbak. A-aku kesini cu-cuma mau minta maaf aja kok, mbak Ayu. Gak ada niat lain lagi sumpah!" balas mbak Tuti gugup dan terbata-bata.


Mbak Tuti terlihat sangat gugup, keringat dingin pun mulai bermunculan di kening nya. Tangan nya memilin-milin ujung baju kaos nya sambil tertunduk malu.


"Oh, gitu toh. Kirain mau jadi detektif Conan lagi kayak kemaren-kemaren!" sindir ku.


"Enggak lagi kok, mbak. Tadi kan aku udah sumpah sama mbak Ayu!" balas mbak Tuti.


"Ya ya ya, trus kesini mau ngapain lagi?" selidik ku.


"Kalo gak ada keperluan lain, lebih baik mbak Tuti pulang aja! Aku lagi sibuk soal nya, kerjaan ku juga masih banyak." usir ku.


"Hmmm, oke lah. Aku balek dulu ya, mbak Ayu!" pamit mbak Tuti.


"Ya," balas ku singkat.


Setelah berpamitan, mbak Tuti pun melangkah keluar menuju rumah nya. Aku berdiri di depan pintu kios sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala, saat menatap kepergian mbak Tuti.


"Dasar, manusia ular kepala dua! Di depan ku bersikap manis di belakang ku malah menusuk." gumam ku.


Setelah bayangan mbak Tuti hilang dari pandangan ku, aku pun kembali merapikan barang-barang di dalam kios. Satu jam kemudian, bang Darma pun pulang untuk makan siang.


"Assalamualaikum," salam bang Darma.


"Wa'laikum salam," balas ku.


Aku menyambut nya seperti biasa. Mencium punggung tangan nya dan segera menyiapkan makanan untuk nya.


Setelah semua makanan tertata rapi di atas meja, bang Darma pun langsung memakan makanan itu tanpa bersuara sepatah kata pun pada ku. Selesai makan, dia duduk di sofa sambil menghisap rokok nya.


"Nanti sore aku mau main ke tempat sepupuku, bang!"


Aku membuka percakapan untuk meminta izin pada bang Darma. Mendengar ucapan ku, bang Darma pun langsung menoleh pada ku. Dia menatap ku dengan pandangan yang sedikit aneh menurut ku.

__ADS_1


"Mau ngapain di sana? Apa kau mau mengadu yang tidak-tidak dengan mereka?" selidik bang Darma.


"Gak lah, ngapain aku ngadu-ngadu untuk hal yang gak penting dengan mereka." jawab ku ketus.


"Trus, di sana mau ngapain kalau bukan mau mengadu?" tanya bang Darma lagi.


Aku membuang nafas kasar dan menatap wajah suamiku itu dengan tatapan tajam.


"Emang nya kau pikir aku ini seperti anak mu, yang suka mengadu domba orang tua nya sendiri. Biar jadi bentrok dan berantem terus-terusan, hah!" jawab ku lantang.


"Kok jadi malah nyalahin Yuni sih. Dia itu masih anak-anak belum tau apa-apa." balas bang Darma.


Bang Darma tidak terima kalau anak nya di salah kan atas perbuatan nya. Aku langsung tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan bang Darma barusan.


"Hahaha, anak-anak kau bilang? Gak salah tuh? waktu itu kan udah kita bahas masalah itu, kenapa kau masih gak percaya juga dengan ucapan ku?" tanya ku.


"Anak udah bangkotan gitu kok masih di bilang anak-anak!" lanjut ku.


"Udah bangkotan gimana sih maksudnya?" tanya bang Darma masih tidak mengerti dengan ucapan ku tadi.


"Apa perlu aku jelas kan sedetail-detailnya?" tanya ku balik.


"Ya, jelas kan lah! Biar abang paham maksud mu itu." jawab bang Darma.


"Ini orang memang benar-benar bego, atau hanya pura-pura bego sih?" gerutu ku dalam hati.


Aku menarik nafas dalam-dalam mengahadapi kebodohan suami ku itu. Kepala ku langsung nyut-nyutan karena mendapatkan pertanyaan yang tidak masuk akal dari nya.


"Gini ya suamiku, anak mu itu udah dewasa udah gadis. Dia juga udah layak untuk menikah bukan anak-anak lagi, paham!" jelas ku.


Bang Darma hanya diam sambil terus mendengar kan celotehan ku. Raut wajah nya terlihat seperti sedang berpikir dan mencerna kata-kata ku.


"Udah ah, gak usah di pikirkan lagi. Lihat, udah jam berapa tuh!" lanjut ku.


Aku menunjuk ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul satu kurang sepuluh menit.


"Nanti mau naik apa ke tempat sepupu mu itu?" tanya bang Darma sambil beranjak dari tempat duduk nya.


"Kalo itu sih gampang, aku bisa bawa motor sendiri." balas ku santai.


"Oh ya udah kalo gitu, abang pergi dulu ya." pamit bang Darma.


Aku pun kembali mencium punggung tangan bang Darma dan juga mencium kedua pipi nya.


"Iya," balas ku.


Setelah bang Darma pergi, aku kembali duduk selonjoran di atas sofa panjang.


"Yes, akhirnya aku bisa juga bersenang-senang dengan selingkuhan lima langkah ku itu." gumam ku girang.


"Bang Agus, kita akan menikmati malam yang panjang tanpa gangguan apa pun. Dan bermandikan keringat tentunya." lanjut ku dengan senyum yang mengembang.

__ADS_1


__ADS_2