SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

Aku kembali tertawa puas, melihat tontonan gratis nan kocak yang sedang berlangsung di hadapan ku itu. Dina terus saja lompat-lompat dan berteriak histeris persis seperti orang kesurupan.


"Kau sudah gila ya, dek? Apa yang sudah kau dengan nya, DEK?" bentak bang Darma pada ku.


"Mata mu rabun ya? Apa kau gak bisa lihat dengan jelas, apa yang sudah aku lakukan tadi?" tanya ku balik.


Bang Darma terlihat geram dan marah melihat perbuatan ku kepada Dina. Sedangkan Yuni, dia tampak sedang sibuk mengurusi babon nya.


Yuni mengipas-ngipas badan Dina yang sedang merasakan perih dan panas, akibat air cabe buatan ku tadi.


"Air apa yang ibuk siram kan ke badan mamak ku tadi, HAH?" bentak Yuni dengan suara lantang.


"Air cabe, enak kan rasa nya?" ledek ku.


Aku tersenyum miring melihat kedua manusia langka yang ada di depan ku itu. Mendengar jawaban ku, mereka bertiga langsung terpekik berjamaah saking terkejut nya.


"APA?"


"Kurang ajar sekali kau perempuan gila! Berani-beraninya kau berbuat seperti itu pada ku, HAH?" pekik Dina dengan suara cempreng nya.


"Ya berani lah, kenapa aku harus takut? Cuma ngelakuin hal kecil gini aja kok heboh kali sih!" balas ku santai.


Setelah mendengar jawaban ku, Dina pun tampak semakin murka dengan wajah yang sudah merah padam.


"Kau itu apa-apaan sih, dek? Lama-kelamaan otak dan kelakuan mu itu semakin tidak waras saja!" omel bang Darma pada ku.


Aku langsung menoleh pada bang Darma dan menatap tajam pada nya. Dia memarahi ku dengan mata yang membulat sempurna.


"Apa kau bilang tadi, bang? Coba ulangi sekali lagi!" pinta ku.


"Kelakuan mu itu semakin hari semakin keterlaluan, AYU!" bentak bang Darma.


"Degh,"


Aku sangat terkejut mendengar bentakan bang Darma. Dia tampak sangat emosi dan marah besar pada ku.


Sampai-sampai dia tidak memanggil ku dengan kata "dek" lagi. Tapi dia malah membentak dengan menyebutkan nama ku.


"Mampus kau ibu tiri gila!" cibir Yuni pada ku.

__ADS_1


"Ceraikan aja, pak! Untuk apa di pertahankan lagi istri kejam kayak dia itu." lanjut Yuni.


Aku dan bang Darma langsung menoleh ke arah Yuni. Bang Darma mengerutkan kening nya karena mendengar permintaan nyeleneh anak kesayangan nya itu.


Sedangkan Dina, dia malah tersenyum penuh kemenangan, saat mendengar kata-kata yang keluar dari bibir anak nya . Dia merasa sangat bangga, karena mendapatkan dukungan dan pembelaan dari Yuni.


"Jangan pernah campuri lagi urusan rumah tangga bapak, YUN! Semua ini terjadi akibat ulah bodoh mu itu." pekik bang Darma.


Bang Darma menunjuk dan membentak Yuni dengan suara yang cukup keras. Yuni pun langsung menunduk, dia mulai berakting lagi di depan bang Darma dengan mengeluarkan air mata buaya nya.


"Jangan pernah kau berkata kasar pada anak ku, Darma!" pekik Dina.


Dina kembali mencak-mencak di hadapan bang Darma. Dia tidak terima dengan ucapan bang Darma kepada anak nya Yuni.


Tak lama kemudian, para tetangga pun mulai berdatangan. Mereka menenangkan emosi Dina yang sedang meledak-ledak seperti orang kesetanan.


"Udah dong, Din! Ngapain lagi sih kau mengganggu kehidupan mantan suami mu itu? Kurang kerjaan banget jadi orang!" cibir mbak Tuti.


Mbak Tuti si tetangga kepo ku itu berusaha menenangkan Dina dengan mengelus-elus bahu nya. Mbak Tuti juga mencibir Dina, dengan kata-kata yang super pedas dan menusuk hati.


Dina tampak sangat tersinggung mendengar ucapan mbak Tuti. Dia pun langsung memaki-maki mbak Tuti tanpa ampun sedikit pun.


Tanpa sadar, Dina keceplosan mengungkapkan hal yang sama sekali tidak pernah aku duga sebelumnya.


Prok prok prok...


"Wah wah wah! Jadi selama ini musuh dalam selimut ku itu adalah tetangga sebelah ku sendiri. Gak nyangka ya, ternyata oh ternyata!" sindir ku.


Aku menyindir mbak Tuti sambil bertepuk tangan. Aku tersenyum miring pada mbak Tuti dan Dina.


Mereka berdua langsung terkejut, mendengar penuturan ku barusan. Dina reflek menutup mulut dengan kedua tangan nya.


Sedangkan mbak Tuti, dia langsung terlonjak kaget dan menoleh pada ku dengan raut wajah yang tampak ketakutan. Keringat dingin pun mulai bermunculan di kening nya.


Yuni dan bang Darma hanya terbengong di tempat nya masing-masing. Mereka berdua seakan-akan tidak percaya dengan kejujuran Dina tadi.


"Untuk apa kau memata-matai kami, hah? Apa sebenarnya mau mu, DINA?" pekik bang Darma.


Para tetangga yang lain pun mulai berbisik-bisik melihat pertengkaran kami. Mereka juga menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah dan kelakuan Dina.

__ADS_1


Mereka tidak habis pikir, kalau Dina sampai membayar orang demi mengetahui seluk beluk kehidupan kami.


Bang Darma yang sedari tadi hanya terdiam, kini membuka suara nya kembali di depan orang banyak.


"Udah udah, gak usah pada ribut lagi! Lebih baik sekarang kau pulang. Jangan pernah lagi kau pijakkan kaki mu di rumah ku!" ucap bang Darma tegas pada Dina.


Semua mata langsung tertuju kepada bang Darma. Para tetangga juga tampak manggut-manggut dengan mulut yang komat-kamit menanggapi ucapan bang Darma.


Dina terlihat semakin marah dan geram, setelah mendengar kata-kata bang Darma barusan. Dan Yuni, mata nya tampak berembun dan merah sambil memegangi lengan ibu nya.


Aku menatap satu persatu wajah-wajah yang ada di hadapanku, termasuk wajah mbak Tuti si tetangga kepo plus penghianat tersebut.


"Awas kau mbak Tuti, aku bakalan kasih pelajaran yang sangat berharga buat mu nanti. Tunggu aja tanggal main nya!"


Aku membatin dalam hati sambil menatap sinis kepada mbak Tuti. Karena merasa di perhatikan oleh ku, mbak Tuti langsung berlalu pergi dengan langkah cepat menuju rumah nya.


"Pulang sana, Din! Udah di usir pun masih aja nonggok disitu. Kayak gak punya harga diri aja jadi orang." sindir tetangga ku.


"Iya nih, kayak perempuan gak laku aja masih mau mencampuri urusan rumah tangga mantan suami." cibir tetangga yang lain nya.


Mendengar sindiran dan cibiran tajam dari para tetangga, Dina pun terlihat emosi campur malu. Dia mengepalkan tangan nya sambil memandangi satu persatu para tetanggaku itu.


Setelah beberapa saat suasana hening, akhirnya Dina dan Yuni pun angkat kaki dari hadapan kami semua.


Tapi sebelum pergi, Dina kembali mengancam ku. Dia juga bersumpah akan membalas perbuatan ku pada nya.


"Oke, sekali ini aku ngalah. Tapi ingat, aku tidak akan pernah melupakan perbuatan yang sudah kau lakukan dengan ku tadi." ujar Dina.


"Aku bersumpah akan membalas nya dengan cara yang lebih kejam pada mu, ingat itu!" ancam Dina.


Selesai mengucapkan sumpah serapah nya pada ku, Dina dan Yuni pun naik ke atas motor nya. Mereka berdua berlalu pergi meninggalkan kami yang masih terpaku di tempat.


Sesudah kepergian anak beranak itu, para tetangga pun mulai membubarkan diri dan kembali ke rumah mereka masing-masing.


Setelah keadaan mulai sepi, bang Darma segera menutup pintu dan melangkah kan kaki nya masuk ke dalam kamar.


"Sikap mu sudah jauh berubah gara-gara mereka berdua, bang." batin ku sambil menggeleng kan kepala melihat perubahan sikap suami ku.


Setelah merenung sejenak, aku pun turut mengikuti langkah bang Darma untuk masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2