
Setelah mendapat kabar dari Ayu tentang keberadaan anak nya, Dina langsung bergegas mengganti pakaian nya, dan bersiap-siap untuk berangkat menuju hotel yang di sebutkan Ayu tadi.
"Awas aja kalau dia bohong, aku akan balas perbuatan nya itu." umpat Dina kepada Ayu.
Setelah mengunci pintu utama, Dina memanggil ojek pangkalan yang berada tidak jauh dari lokasi rumah nya.
"Ojek, bang!" pekik Dina kuat.
"Oke, bu."
Jawab si tukang ojek sembari menyalakan mesin motor nya, dan datang menghampiri Dina yang sedang berdiri di depan teras rumah nya.
"Antar kan ke hotel XX ya, bang!" seru Dina sembari memakai helm yang di berikan oleh si tukang ojek.
"Oke siap, bu." si balas tukang ojek.
Setelah Dina naik ke atas motor, si tukang ojek pun langsung menjalankan kendaraan nya menuju hotel, yang sudah di sebutkan oleh Dina barusan.
Tak butuh waktu lama, akhirnya ojek yang di tumpangi Dina pun sampai di tempat tujuan.
"Berhenti disini aja, bang!" seru Dina sembari menepuk pelan pundak tukang ojek yang ada di depan nya.
"Oke, bu." balas si tukang ojek.
Setelah membayar ongkos ojek nya, Dina celingukan kesana kemari untuk mencari tempat yang pas untuk pengintaian nya.
"Wah, di sana bagus kayak nya tuh." gumam Dina dengan senyum miring di bibir nya.
Dina melihat sebuah warung kecil yang sedikit tertutup, yang ada di seberang jalan tepat di depan gedung hotel incaran nya.
Setelah mendapatkan tempat untuk persembunyian nya, Dina pun mulai melangkah kan kaki nya untuk menuju ke warung tersebut.
Sesampainya di warung, Dina memesan es teh lalu duduk menghadap hotel yang berada tidak jauh dari tempat nya.
"Mbak, pesan es teh nya satu ya!" pinta Dina kepada ibu-ibu si empunya warung.
"Oke, bentak ya, bu." jawab nya.
Dina hanya mengangguk sebagai jawaban. Tak lama kemudian, minuman yang di pesan Dina pun datang, dan sudah di letakkan di atas meja yang ada di depan nya.
"Ini minuman nya, bu!" ujar si empunya warung.
"Oke, makasih ya, mbak."
Balas Dina sembari tersenyum, lalu mengeluarkan uang dari dalam tas selempang nya untuk membayar minuman tersebut.
"Sama-sama, Bu." jawab si empunya warung lalu menerima uang pemberian Dina.
Setelah si empunya warung itu kembali ke tempat nya semula, Dina mulai menyeruput es teh nya secara perlahan, sambil terus menatap lurus ke arah pintu utama gedung hotel.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah satu jam lama nya Dina mengintai hotel yang ada di depan nya. Tapi, masih saja belum ada tanda-tanda keberadaan Yuni atau Darma.
__ADS_1
"Ck, kok belum ada tanda apa-apa sih? Bosan juga lama-lama nungguin nya." gerutu Dina.
Dina tampak mulai gelisah, sembari melihat jam kecil yang melingkar di pergelangan tangan nya.
Sedangkan orang yang di tunggu-tunggu kemunculan nya, malah sedang asyik memadu kasih di atas ranjang, dengan keringat yang membasahi tubuh nya.
Ya, ternyata Yuni dan Darma kembali melakukan kegiatan nya setelah mereka selesai berbincang-bincang tentang Ayu dan juga Dina.
Darma terus saja melayani keinginan Yuni dengan semangat yang menggebu-gebu. Sedangkan Yuni, dia terus saja memejamkan mata nya sambil menikmati hasil kegiatan Darma.
"Hadehh, capek nyaaaa." ujar Darma sembari menjatuhkan diri di samping Yuni.
"Sama, Yuni juga capek banget nih." sambung Yuni.
Darma dan Yuni terbaring lemas di atas ranjang, dengan nafas yang masih terlihat sesak. Setelah beberapa menit memulihkan pernapasan, Yuni menyuruh Darma untuk mencari makanan dan minuman di luar.
"Bang, cari makanan sana! Perut Yuni udah mulai lapar nih." titah Yuni sembari memegangi perut nya.
"Oke, bentar ya! Abang mau mandi dulu biar segar." balas Darma.
"Ya," balas Yuni.
Darma bergegas bangkit dari ranjang dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Lima menit kemudian, Darma kembali keluar dengan rambut yang basah, dan handuk yang melilit di pinggang nya.
"Kau gak mandi, Yun?" tanya Darma sembari memakai pakaian nya kembali.
"Ntar lagi, masih males." jawab Yuni masih dengan posisi baring nya.
"Oh, ya udah." balas Darma.
"Mau beli apa?" tanya Darma.
"Sate ayam kuah kacang, martabak keju, sama jus jeruk." jawab Yuni.
"Udah, itu aja?" tanya Darma lagi.
"Iya," jawab Yuni.
"Oh, oke. Tunggu bentar ya, abang keluar dulu!" ujar Darma.
"Iya, jangan lama-lama ya!" ujar Yuni.
Darma hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan ucapan Yuni. Setelah itu, Darma melangkah keluar dari kamar lalu mengunci pintu dari luar.
Darma menuruni tangga untuk menuju ke lantai satu dan terus melangkah sampai ke pintu utama hotel.
Dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa, Darma keluar dari gedung hotel sambil menundukkan kepala nya.
Dina yang sedari tadi masih mengintai pun langsung membelalakkan mata nya, saat melihat sesosok lelaki yang baru saja keluar, dari gedung hotel yang ada di depan nya.
"Loh, itu bukan nya Darma ya?" gumam Dina.
__ADS_1
Dina mengerutkan kening dan menajamkan pandangannya, untuk memastikan lelaki itu Darma atau bukan.
"Iya gak salah lagi, itu memang beneran Darma. Trus, Yuni nya mana? Kok cuma Darma aja yang keluar." batin Dina heran.
Tanpa pikir panjang lagi, Dina langsung beranjak dari tempat duduk nya, lalu berlari kecil untuk menghampiri Darma yang sudah melangkah agak jauh dari hotel.
"DAR...DARMA. TUNGGU, DAR!"pekik Dina dengan suara melengking, sambil melambaikan tangan nya ke arah Darma.
"Mendengar suara yang sangat familiar di telinga nya, Darma pun pun langsung menoleh ke belakang dan...
Degh...
Jantung Darma langsung berdegup kencang, saat melihat mantan istri nya yang sedang berlari kecil mendekati nya.
"Waduhhh, tamat lah riwayat ku ini. Kok dia bisa tau, kalau aku ada disini?" batin Darma panik.
Darma berusaha untuk tetap tenang dan tidak panik, agar Dina tidak curiga dengan nya. Setelah Dina berada di depan nya, Darma langsung berakting dan berpura-pura menanyakan keberadaan Yuni.
"Sedang apa kau disini? Kok sendirian aja, Yuni mana?" tanya Darma dengan mimik wajah serius.
"Gak usah pura-pura bego kau, setan! Mana anak ku? Dimana kau sembunyikan dia, hah?" bentak Dina.
"Loh, kok tanya sama ku pulak. Tadi kan dia pulang sama mu, kenapa jadi nuduh aku gitu?" bantah Darma.
"Halah, gak usah ngeles lah. Aku udah tau semua nya. Kau pasti nginap di hotel itu sama Yuni kan, hayo ngaku!" desak Dina sembari menunjuk ke arah hotel tempat Yuni berada.
"Kalau kau gak mau ngaku, jangan salah kan aku, kalau aku sampai berbuat nekat nanti nya." ancam Dina dengan mata yang menatap tajam kepada Darma.
"Kau ini apa-apaan sih? Ngapain juga aku harus mengakui perbuatan yang tidak aku lakukan?" oceh Darma ketus.
"Kalau kau tidak melakukan nya, trus untuk apa kau nginap di hotel itu, hah?" selidik Dina.
"Siapa yang nginap? Aku tu tadi cuma mampir sebentar, jumpai teman lama ku. Dia baru datang dari kampung, trus dia nginap di hotel itu." bohong Darma.
"Ah, gak mungkin. Kau pasti bohong kan?" balas Dina.
Dina tidak begitu saja percaya dengan ucapan Darma. Dia masih tetap kekeuh menuduh Darma, yang sudah menyembunyikan Yuni di hotel itu.
"Kalau gak percaya ya sudah. Di bilangin bener-bener kok ngeyel." cibir Darma kesal.
Dina terus saja memperhatikan gerak-gerik Darma. Dia mulai curiga dengan gelagat Darma yang tidak tenang dan sedikit panik.
Karena masih penasaran dengan perkataan Ayu tadi siang, akhirnya Dina pun memutuskan untuk berpura-pura percaya, dengan semua kata-kata yang di ucapkan Darma.
"Ya udah lah kalo gitu. Aku mau cari Yuni ke rumah teman-teman nya aja." bohong Dina.
"Iya, bener juga tuh. Tanyain aja teman-teman dekat nya, siapa tau Yuni ada di sana." ujar Darma.
"Ya," balas Dina singkat.
Dina berlalu pergi dari hadapan Darma dengan langkah yang sedikit terburu-buru. Dia mencari tempat yang aman, untuk melanjutkan pengintaian nya kembali.
__ADS_1
"Hufff, syukur lah. Akhirnya dia percaya juga dengan omongan ku."
Batin Darma sembari tersenyum miring, dan menghela nafas lega menatap kepergian Dina.