
"Sandal siapa, ini?" batin ku.
Aku menghirup nafas dalam-dalam, sambil terus memperhatikan sepasang sandal wanita yang tergeletak di depan pintu rumah bang Darma.
Dengan perasaan ragu, aku pun mulai melangkah dan mengendap-endap untuk masuk ke dalam tanpa mengucap kan salam.
Sampai di dalam, aku langsung bersembunyi di belakang tembok pembatas antara ruang tamu dan kios ku. Kemudian aku pun mulai menempelkan telinga ku di tembok.
Sayup-sayup aku mendengar suara seorang wanita yang tidak asing di telinga ku. Wanita itu sedang berbicara dengan bang Darma di ruang tamu.
"Bismillahirrahmanirrahim," gumam ku.
Aku mulai menampakkan diri di depan mereka berdua. Mata ku langsung terbelalak saat melihat pemandangan yang sungguh di luar dugaan ku. Dina memeluk bang Darma dengan sangat erat di atas sofa panjang ruang tamu.
Prok prok prok...
"Sungguh pemandangan yang sangat indah sekali, nostalgia yang sangat mengharukan!" sindir ku dengan santai.
Mendengar ucapan dan tepuk tangan ku, bang Darma langsung terkejut dan reflek mendorong kuat tubuh Dina. Hingga membuat Dina terjengkang dengan kuat ke belakang.
Aku berdiri tepat di hadapan mereka berdua, dengan melipat kedua tangan ku di atas perut, dan memberikan senyuman yang sangat menyeramkan kepada bang Darma.
Suami ku itu tampak gelisah di tempat duduk nya, karena sudah tertangkap basah oleh mata kepala ku sendiri.
Sedangkan Dina, perempuan tidak tahu malu itu malah tersenyum miring melihat reaksi ku yang tampak santai dan tenang.
Setelah beberapa saat suasana hening dan mencekam, akhirnya bang Darma pun memberanikan diri untuk membuka suara nya.
Karena saking gugup nya, bang Darma menjelaskan kejadian yang sebenarnya dengan suara yang terbata-bata.
"Ja-jangan salah pa-paham dulu, dek! A-abang gak ada ngapa-ngapain kok sa-sama dia." jelas bang Darma.
"Oh ya? Emang nya kau pikir aku perduli? Mau kalian itu pelukan kek, ciuman kek, atau berhubungan intim kek. Aku gak perduli dan gak akan pernah mau perduli. Ingat kata-kata ku itu ya suami ku!" ucap ku dengan tegas.
Setelah mengucapkan semua itu, aku langsung masuk ke dalam kamar dan meletakkan tas selempang ku di atas meja.
__ADS_1
Kemudian aku pun mulai merebahkan tubuh ku di atas ranjang. Mata ku menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang sulit di artikan.
Entah kenapa tidak ada rasa sakit sedikit pun di hati ku, setelah melihat suami ku sedang berpelukan mesra dengan mantan istri nya di depan mata kepala ku sendiri.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan hati ku ini? Kenapa aku sama sekali tidak merasa sedih atau pun terluka melihat mereka berdua?"
Aku membatin dalam hati sambil mendudukkan diri di tepi ranjang. Aku mengambil tas yang tergeletak di atas meja lalu merogoh nya untuk mengambil rokok.
Setelah mendapatkan nya, aku langsung menyalakan rokok itu dan menghisap nya perlahan.
Tak lama berselang, bang Darma pun masuk ke dalam kamar dan duduk di samping ku. Dia menatap wajah ku dengan serius tanpa berkedip.
"Kenapa kau tengok aku kayak gitu, hah?"
Aku bertanya tanpa menoleh sedikit pun kepada bang Darma. Aku tetap fokus menatap lurus ke depan sambil terus menghisap rokok yang ada di tangan ku.
"Jangan marah lah, dek! Abang gak ada berbuat apa-apa kok sama dia." jelas nya.
Bang Darma mengulang kembali ucapan nya. Sama persis seperti yang di kata kan tadi sewaktu di depan Dina. Aku sama sekali tidak menjawab atau pun menghiraukan ucapan bang Darma.
"Dia kesini mau pinjam uang, dek. Kata nya uang itu untuk membeli motor bekas. Mereka berdua (Yuni dan Dina) kesusahan karena gak ada kendaraan di rumah nya." jelas bang Darma.
Aku masih tetap kekeuh dengan mode diam ku. Aku sama sekali tidak tertarik untuk merespon atau pun memprotes ucapan bang Darma.
Setelah menghembuskan nafas kasar berulang-ulang, bang Darma pun melanjutkan kembali cerita nya.
"Yuni sekarang sedang demam. Badan nya langsung drop akibat ketakutan karena perbuatan mu kemaren." lanjut bang Darma.
"Tadi Dina nelpon abang, kata nya Yuni lagi sakit. Trus abang di suruh datang untuk menjenguk Yuni di rumah mereka. Sekalian meminta uang juga untuk biaya berobat Yuni." lanjut bang Darma.
Bang Darma menoleh pada ku yang masih setia dengan mode diam dan membisu. Aku menyilang kan satu kaki ku sambil terus menghisap rokok.
Melihat reaksi ku yang masih tetap diam seperti debok pisang, bang Darma pun kembali berceloteh tentang anak dan mantan istri nya sambil menyalakan rokok nya.
"Tadi abang datang ke rumah mereka naik taksi online. Abang kasih uang lima ratus ribu untuk biaya berobat Yuni."
__ADS_1
"Trus, pas Abang mau pulang Dina minta ikut. Kata nya mau sekalian beli obat buat Yuni." jelas bang Darma.
Bang Darma terdiam sejenak, dia menghisap rokok nya berulang-ulang. Setelah itu, dia pun melanjutkan ceritanya kembali.
Sedang kan aku, jangan di tanya lagi. Aku masih tetap sama seperti tadi tidak bergeming sama sekali.
Aku memang sengaja membiarkan nya menjelaskan sendiri tentang kejadian tadi, tanpa harus aku bertanya terlebih dahulu kepada nya.
"Waktu abang turun dari taksi, abang pikir si Dina tetap melanjutkan niat nya untuk pergi ke apotik membeli obat Yuni. Ternyata Dina malah ikut turun dan masuk ke dalam rumah ini." lanjut bang Darma.
"Dina mengutarakan niat nya untuk meminjam uang lima juta pada abang. Trus tiba-tiba Dina meluk abang seperti yang adek lihat tadi."
"Itu lah kejadian yang sebenarnya, dek. Adek jangan salah paham ya! Abang berani sumpah demi apa pun, kalau abang gak ada berbuat apa pun dengan Dina tadi." tambah bang Darma.
Bang Darma terus saja meyakinkan ku bahwa tidak terjadi apa pun antara diri nya dan mantan istri nya itu.
Setelah selesai menjelaskan masalah diri nya dengan Dina, bang Darma pun langsung memeluk tubuh ku dari sisi kiri.
"Maafin abang ya, dek! Jangan pernah tinggalkan abang lagi seperti kemaren ya! Abang sangat kesepian di rumah ini, dek. Abang..."
Bang darma menggantung kata-kata nya, raut wajah nya tampak sangat bersedih dan terluka atas kepergian ku kemarin. Dia terlihat sangat menyesali perbuatan nya karena sudah berbuat kasar kepada ku.
"Abang gak akan pernah mengulangi perbuatan itu lagi padamu. Tolong maafkan kesalahan abang ya, dek!" tutur bang Darma dengan wajah memelas.
Aku menoleh pada bang Darma sambil berusaha melepaskan pelukan erat nya dari tubuh ku. Setelah pelukan itu terlepas, aku pun mulai bersuara dan menyalakan rokok ku kembali.
"Aku akan memaafkan semua kesalahan mu, bang. Tapi ada syarat nya. Gimana, apakah abang sanggup memenuhi syarat ku ini?" tantang ku.
"Insya Allah, dek. Abang akan berusaha semampunya untuk memenuhi apa pun syarat dari mu." jawab bang Darma.
"Oke lah kalo gitu, aku pegang ucapan abang tadi. Kalo sampe abang melanggar nya, aku pastikan akan pergi dari rumah ini untuk selama-lamanya. Ingat itu baik-baik!" ucap ku dengan tegas.
"Iya, dek. Abang janji, abang akan memenuhi apa pun syarat mu itu. Emang syarat nya apa an, dek" tanya bang Darma penasaran.
"Syarat nya adalah..."
__ADS_1