SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Kelakuan Anak Dan Bapak


__ADS_3

Setelah beristirahat selama beberapa jam, aku pun mulai membuka mata dan menoleh ke samping.


Aku memandangi wajah teduh yang sedang tertidur lelap di sebelah ku dengan tatapan sedih.


"Kau memang lelaki baik, bang. Aku sangat beruntung bisa berhubungan dengan mu. Ya walaupun cuma sebatas selingkuhan, tapi aku cukup bahagia selama bersama mu." batin ku.


Aku mengulurkan jari-jari ku untuk membingkai wajah bang Agus, yang masih tampak setia dengan mimpi indah nya.


Saat sedang asyik memandangi wajah si botak tuyul, aku tersentak kaget karena tangan ku di genggaman erat oleh nya secara tiba-tiba.


"Hayo lagi ngapain? Pasti lagi mikirin abang ya?" tanya bang Agus.


"Dasar, botak aneh! Dia nanya sendiri, jawab nya pun juga sendiri." oceh ku.


"Eh, iya juga ya, hahaha." gelak bang Agus.


Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah konyol lelaki ku itu.


"Bang, aku pulang ke rumah bentar ya. Aku mau ngecek keadaan kios dulu, takut nya barang-barang ku pada hilang pulak di colongin benalu-benalu itu." tutur ku.


"Iya, bener juga tuh. Mau abang antar gak?" tawar bang Agus.


"Gak usah, aku bawa motor sendiri aja. Abang tunggu aja disini, aku gak lama kok ngecek nya." jawab ku.


"Oh, ya udah kalo gitu." balas bang Agus.


Setelah meminta izin pada bang Agus, aku pun segera beranjak dari ranjang dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai mandi aku langsung bergegas memakai pakaian, lalu mengantongi ponsel dan juga kunci rumah di saku celana jeans ku.


Setelah semua nya selesai, aku pun kembali berpamitan kepada bang Agus yang masih anteng duduk bersandar di bahu ranjang.


"Aku pergi dulu ya, bang." pamit ku sambil mengecup kilat bibir nya.


"Oke, say. Hati-hati di jalan ya!" balas bang Agus.


"Iya, bang." jawab ku.


Selesai berpamitan, aku segera melangkah keluar dari kamar dan berjalan menuju parkiran motor.


"Bismillahirrahmanirrahim,"

__ADS_1


Ucap ku dalam hati sembari naik ke atas motor, dan melajukankan nya menuju ke arah rumah bang Darma suami ku.


Tak butuh waktu lama, aku pun sudah tiba di depan rumah bang Darma. Setelah memarkirkan motor di depan kios, aku pun segera membuka pintu utama dengan kunci cadangan.


Saat pintu terbuka, kening ku langsung mengkerut saat melihat sepasang sandal jepit wanita yang tergeletak di samping pintu.


"Sandal siapa lagi ini?" batin ku curiga.


Dengan cara mengendap-endap, aku pun melangkah masuk ke dalam rumah tanpa mengeluarkan suara apa pun.


Saat sampai di ruang tamu, langkah ku pun langsung terhenti. Sayup-sayup ku dengar ada suara-suara aneh yang berasal dari dalam kamar.


"Ya Allah, sama siapa bang Darma di kamar? Lagi ngapain mereka di dalam sana?" batin ku gelisah tidak karuan.


Dengan perasaan ragu dan sedikit was-was, aku pun kembali melangkah pelan mendekati pintu kamar yang sedikit terbuka.


Sebelum memutuskan untuk memergoki mereka, aku memejamkan mata terlebih dahulu sembari membatin...


"Ya Allah, kuat kan lah hati ku untuk melihat kenyataan pahit ini, amin." doa ku dalam hati.


Selesai berdoa, aku pun mulai mengintip dari balik pintu. Dan apa yang aku lihat ternyata sungguh di luar dugaan ku.


Dada ku langsung terasa sesak dan sakit, saat melihat adegan ranjang bang Darma dengan Yuni, anak nya sendiri.


Sesudah merekam adegan ranjang bang Darma dan Yuni selama beberapa menit, aku pun kembali menyimpan ponsel ku ke dalam saku.


Setelah itu, aku langsung memergoki mereka berdua dengan cara menendang kuat pintu kamar.


Brrraaakk...


Suara pintu yang yang aku tendang cukup kuat, sehingga membuat Yuni dan bang Darma langsung terlonjak kaget dan menghentikan permainan gila mereka.


Wajah mereka berdua langsung berubah pucat pasi seperti mayat hidup melihat kedatangan ku.


"DASAR MANUSIA LUKNUT KALIAN BERDUA!" pekik ku dengan suara menggelegar.


Aku memekik kuat dan kembali menendang pintu kamar sekuat tenaga, hingga membuat dinding kamar bergetar akibat perbuatan ku.


Yuni tampak sangat ketakutan melihat kemarahan ku. Dia langsung menangis sesenggukan sambil memeluk tubuh bang Darma, yang juga dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuh mereka berdua.


"Ka-kapan kau datang, dek?" tanya bang Darma gugup.

__ADS_1


"Dari lima belas menit yang lalu." jawab ku ketus.


"Be-berarti dari tadi kau melihat permainan kami ya?" tanya bang Darma lagi.


Bang Darma tampak semakin gugup dan gelisah tidak karuan, sambil terus mengelus-elus bahu Yuni yang sedang menangis di dalam pelukan nya.


"Ya, kenapa rupanya?" tanya ku balik.


"Apa kalian mau aku panggil kan warga untuk mengarak kalian berdua, hah?" lanjut ku.


"Ja-jangan lah, dek! Masa kau tega sih lihat kami di arak sama warga." ujar bang Darma dengan wajah memelas.


"Kenapa mesti gak tega? Kalau kau main sama Dina, aku masih maklum. Tapi ini..."


Aku sungguh tidak sanggup untuk meneruskan ucapan ku lagi. Lidah ku rasa nya tercekat saat mengingat perbuatan mereka tadi.


"Ya Allah, bang. Kau itu sebenarnya manusia atau binata*g sih? Bisa-bisa nya kau menjamah tubuh anak mu sendiri, Astaghfirullahal'azim. Istighfar, bang, istighfar!" oceh ku.


Aku mengusap kasar wajah ku dengan kedua telapak tangan ku. Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran kedua manusia yang ada di hadapanku itu.


Bang Darma langsung terdiam seketika setelah mendengar penuturan ku barusan. Dia menunduk kan kepala nya karena merasa malu sekaligus cemas akibat perbuatan nya.


Sedangkan Yuni, dia masih tetap setia dengan air mata buaya nya di dalam pelukan bang Darma.


"Dan kau, Yun. Apa sebenarnya yang ada di otak mu itu, sampai-sampai kau mau melakukan hal gila ini dengan bapak mu sendiri, HAH?" bentak ku dengan suara lantang.


Mendengar nama nya di sebut, Yuni pun langsung melepaskan pelukan nya di badan bang Darma. Setelah itu, dia menatap tajam pada ku dengan mata elang nya.


"Emang kenapa rupa nya, hah? Suka-suka aku lah mau ngapain, kenapa mesti kau yang sibuk? Bapak ku aja mau kok melayani aku, kenapa malah kau pulak yang marah?" tanya Yuni sinis.


"Wah wah wah, emang bener-bener udah gila nih anak.


Aku tersenyum miring sambil menggeleng-gelengkan kepala, setelah mendengar penuturan anak tiri ku tersebut.


Bang Darma langsung mendongak kan kepala nya, dan menoleh kepada Yuni dengan kening yang mengkerut. Dia terlihat sedikit syok, saat mendengar ucapan anak nya yang cukup berani menurut ku.


"Kalau kau udah gak ada keperluan lagi, mendingan kau pergi aja dari sini! Ganggu kesenangan orang aja kerjaan nya." usir Yuni.


Mata ku langsung terbelalak mendengar ucapan sinis Yuni. Aku sama sekali tidak menyangka, kalau anak usia tujuh belas tahun bisa berkata demikian kepada orang yang lebih tua dari nya.


Melihat aku yang masih berdiam diri di tempat, Yuni pun kembali mengusir ku dengan kata-kata gila nya.

__ADS_1


"Ngapain masih nonggok di situ, hah? Cepat pergi sana! Kami mau lanjutin lagi main nya." usir Yuni lagi.


__ADS_2