
"Enak aja duo lalat ijo itu mau pinjam motor hasil jerih payah ku sendiri. Oh, tidak lah yau." gumam ku.
"Di kira mereka aku ini bodoh kayak bang Darma apa? Yang bisa di tipu-tipu, yang bisa di bodoh-bodohin. Ular kok di kadalin, ya bakalan aku caplok lah, hahaha," lanjut ku sambil rebahan di atas sofa.
"Kring kring kring, kring kring kring," ponsel ku berdering di atas meja.
"Siapa lagi sih, mau tenang sebentar aja pun gak bisa. Ada aja yang ganggu, huh!" gerutu ku kesal.
Aku berdiri dengan malas, untuk mengambil ponsel yang sedang berdering tersebut.
"Oh, si botak rupa nya! kirain siapa tadi," gumam ku setelah melihat layar ponsel yang sedang menyala di tangan ku.
"Halo, assalamualaikum," sapa ku sambil kembali rebahan di tempat semula.
"Wa'laikum salam, lagi ngapain, say?" tanya bang Agus.
"Barusan siap nelan orang hidup-hidup, bang. Emang kenapa?" jawab ku asal.
"Hahaha, ada-ada aja say ini lah. Masa nelan orang pulak. Kayak ular aja bisa nelan orang hidup-hidup," oceh bang Agus sembari terkekeh mendengar jawaban nyeleneh ku.
"Kalo gak percaya ya sudah. Tadi kan abang sendiri yang nanya, udah di jawab pun gak percaya juga, heran aku," omel ku ketus.
"Iya iya, abang percaya kok," balas bang Agus.
"Tadi si Yuni sama mamak nya datang ya, say? Ada perlu apa mereka datang ke rumah mu?" tanya bang Agus penasaran.
"Ohh, duo lalat ijo itu. Tadi si Yuni mau pinjam motor ku, tapi gak aku kasi. Trus, dia ngadu sama babon nya. Trus, babon nya nyanyi-nyanyi di depan ku," jawab ku asal.
"Hahaha, kok nyanyi sih, say? Kan tadi si Dina datang sambil marah-marah. Kok malah jadi nyanyi-nyanyi pulak," tawa bang Agus kembali pecah mendengar ocehan ku.
"Botak tuyul satu ini kok bisa tau aja sih, kejadian-kejadian yang ada di rumah ini? Padahal kan dia lagi kerja. Apa ada cctv nya di sini ya? Atau ada mata-mata nya di sekitar sini?" batin ku lalu celingukan kesana sini, menatap langit-langit ruang tamu.
"Abang kok bisa tau sih, kalau duo lalat ijo itu tadi datang kesini?" selidik ku.
"Ada deh, itu rahasia dan say gak boleh tau," balas nya cuek.
__ADS_1
"Loh, kok gitu sih. Bikin penasaran aja nih orang. Ya udah lah kalo gitu, aku mau istirahat kan ot*k ku dulu, abang jangan ganggu lagi. Oke bye," ujar ku kesal.
"Hahaha, merajuk pulak dia. Ya udah istirahat lah, nanti pulang kerja abang singgah ke rumah ya, assalamualaikum." Bang Agus menutup panggilan nya.
"Wa'laikum salam," balas ku.
"Huh, akhirnya bisa juga aku beristirahat dengan tenang, tanpa ada nya gangguan-gangguan lagi." Aku kembali meletakkan ponsel di meja dan mulai memejamkan mata.
Tiga puluh menit kemudian, bang Darma pulang makan siang. Setelah mendengar suara motor bang Darma, aku langsung terbangun dan beranjak dari sofa. Aku berjalan ke dapur untuk menghidangkan makanan buat suamiku tersebut.
"Assalamualaikum," salam bang Darma melangkah masuk ke dalam rumah.
"Wa'laikum salam," balas ku lalu mencium punggung tangan nya.
"Mau langsung makan atau enggak, bang?" tanya ku.
"Nanti aja makan nya, abang mau mandi dan shalat dulu," jawab bang Darma. Ia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi dan shalat, bang Darma langsung duduk bersila di depan makanan yang sudah aku hidangkan.
"Iya," jawab ku singkat.
Aku dan bang Darma pun makan siang bersama dalam keheningan. Tidak ada percakapan apa pun di antara kami berdua.
Selesai makan, aku segera membereskan semua nya, dan kembali menyimpan makanan itu ke dalam lemari makan. Sedangkan bang Darma, ia duduk di atas sofa sambil merokok.
"Bang, tadi Yuni dan ibu nya datang kesini," ujar ku membuka percakapan.
"Mau ngapain lagi mereka kesini?" tanya bang Darma.
"Si Yuni mau pinjam motor, kata nya satu hari aja. Habis tu, besok nya di balekkan lagi kata nya," jelas ku.
"Trus, adek bilang apa sama Yuni?" tanya bang Darma.
"Aku bilang, kalau mau pinjam ya sama bapak mu aja nanti, kalo dia udah pulang kerja. Kalo motor yang ini, gak bisa di pinjam kan karena motor ini punya ibuk, bukan motor bapak mu. Gitu aku bilang nya sama dia tadi," jelas ku lagi.
__ADS_1
"Trus, ngapain si Dina ikut-ikutan kesini juga?" selidik bang Darma semakin penasaran dengan ucapan ku.
"Awal nya tadi Yuni sendiri yang datang kesini, mau minjam motor tu. Karena aku gak kasi, akhirnya si Yuni ngadu sama mamak nya. Trus mereka berdua datang lagi kesini sambil marah-marah," jawab ku jujur.
Aku menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada bang Darma. Setelah mendengar penuturan ku, ia pun hanya terdiam dan kembali menghisap rokok yang ada di tangan nya sambil melamun.
"Kalau abang mau meminjamkan motor itu pada mereka, ya itu terserah abang. Aku gak akan melarang nya. Tapi ingat ya, kalau abang mau pergi bekerja, jangan pernah abang berani memakai motor ku. Abang jalan kaki aja pergi kerja nya," ucap ku tegas.
"Loh, kok gitu sih, dek. Kenapa abang gak boleh memakai motor mu?" tanya bang Darma
Ia seakan tidak percaya kalau aku melarang nya untuk memakai motor ku itu. Aku menghela nafas panjang, lalu menjelaskan kejadian yang sudah terjadi beberapa tahun yang lalu.
"Apa kau gak ingat kejadian 5 tahun yang lalu? Apa kau udah hilang ingatan sekarang? Kalau kau mau motor mu itu di jual lagi sama mereka, ya terserah! Tapi kau harus ingat kata-kata ku tadi," ujar ku mengingat kan.
"Jangan sampai kau menyesal nanti nya. Kalau mereka menjual motor mu lagi." lanjut ku.
Aku memberikan peringatan keras kepada suami ku yang polos dan lugu itu.
"Iya, abang masih ingat, dek. Tapi kan kasian si Yuni. Siapa tau dia memang lagi butuh motor buat keperluan nya?" tutur bang Darma.
"Ya, itu terserah abang aja. Kan tadi udah aku bilang, keputusan ada di tangan abang. Tapi ingat, kalau terjadi sesuatu dengan motor abang, jangan menyesal dan jangan pernah memakai motor ku untuk pergi kemana pun, PAHAM!" ucap ku dengan penuh penekanan.
Bang Darma sedikit terkejutdan membelalakkan mata nya, saat mendengar suara lantang ku.
"Kalau abang ingin kejadian yang dulu terulang lagi. Ya, silahkan aja abang pinjam kan motor itu kepada mereka," ujar ku lagi.
Setelah beberapa saat bungkam, bang Darma pun kembali bersuara.
"Ya, udah lah kalo gitu. Abang akan pikir-pikir dulu permintaan Yuni tadi," tutur bang Darma.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, ia pun mulai berdiri dari tempat duduk nya. Begitu juga dengan ku, aku ikut berdiri dan mencium kedua pipi nya. Setelah itu, bang Darma pun langsung pergi kembali bekerja.
"Bang Darma... bang Darma... Semoga aja kau tidak salah mengambil keputusan. Semoga saja kau tidak akan menyesal nanti nya, jika motor mu di jual lagi oleh kedua lalat ijo itu."
Gumam ku sambil terus memandang kepergian bang Darma, dengan mengendarai motor nya.
__ADS_1