
"Hehehe, iya maaf, sayang. Abang khilaf, abang gak sengaja, abang..."
"Sssttt, ini muncung bisa diem gak sih, berisik terus dari tadi. Udah kayak orang kebakaran jenggot aja." gerutu ku kesal.
Rendi hanya nyengir kuda, mendengarkan ocehan yang keluar dari bibir ku. Dia tidak berani lagi, untuk membuka suara nya di depan ku.
Setelah beberapa menit saling berdiam diri. Akhirnya, aku pun kembali mengajak Rendi untuk pulang.
"Ayok kita pulang, bang! Aku gak berani lagi nginap di hotel ini, serem banget soal nya." rengek ku sambil menarik-narik lengan Rendi.
"Emang nya kenapa sih, sayang? Kan ada abang, ngapain harus takut?" tanya Rendi.
"Nanti aja aku ceritain kejadian nya, sama abang. Yang penting sekarang, kita harus cepat-cepat keluar dari hotel ini!" jawab ku.
Bukan nya menjawab, atau pun beranjak dari ranjang, Rendi malah tampak sedang berpikir keras. Dia melamun dengan pandangan kosong, dan menatap ke arah langit-langit kamar.
Melihat reaksi Rendi seperti itu, aku pun kembali menarik-narik lengan, dengan sekuat tenaga ku.
"Kok malah bengong sih, bang? Entar kesurupan, baru tau rasa loh!" gerutu ku semakin kesal.
"Iya iya, kita pulang sekarang. Tapi kita mandi dulu, ya!" jawab Rendi.
"Ya," balas ku.
Setelah perdebatan sengit dengan Rendi berakhir, kami berdua pun melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai, aku dan Rendi bergegas membereskan barang masing-masing, dan sedikit merapikan ranjang.
"Gak ada barang yang ketinggalan lagi kan, bang?" tanya ku sambil memakai sandal, dan menyampirkan tas selempang di bahu ku.
"Gak ada, Yu. Semua nya udah abang masukkan ke sini, kok."
Rendi menjawab, sambil menunjuk ke arah kantong plastik, yang sedang di tenteng nya. Aku pun langsung menoleh, dan mengikuti arah yang di tunjukkan Rendi. Kemudian, aku kembali mengamati sekeliling kamar hotel, yang kami tempati itu dengan teliti.
"Nyariin apa lagi sih, Yu? Dari tadi kok serius banget, lihatin nya!" tanya Rendi
Dia heran melihat gelagat ku, yang agak aneh menurut nya. Aku sama sekali tidak menghiraukan, pertanyaan dari Rendi. Aku tetap terus menatap sekeliling kamar, dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Rendi pun semakin penasaran, dengan tingkah aneh ku itu. Dia juga mengikuti arah pandangan mata ku, yang sedang menatap serius, ke arah samping kiri ranjang.
"Jangan yang bertingkah yang aneh-aneh lah, Yu! Abang jadi merinding nih. Udah ah, ayok kita keluar!" ajak Rendi.
Rendi mengajak ku, untuk segera keluar dari kamar. Dia berusaha menarik tangan ku, sambil membawa bungkusan plastik, yang berisikan makanan ringan yang di beli nya kemarin.
"Jangan kau ganggu kami! Karena kami juga tidak akan menggangu, wilayah mu lagi."
Aku berucap, sambil terus menatap tajam ke arah samping ranjang. Rendi langsung terlonjak kaget tidak karuan, setelah mendengar ucapan ku barusan.
Dia langsung membuka pintu, dan menarik paksa lengan ku, untuk keluar dari kamar hotel tersebut. Sampai di luar kamar, Rendi menggandeng tangan ku untuk menuruni anak tangga.
Dia terus saja membawa ku, sampai ke meja resepsionis. Setelah menyerahkan kunci, Rendi kembali menggandeng tangan ku, sampai di depan parkiran mobil nya.
"Tadi ngomong sama siapa sih, Yu? Bikin abang hampir jantungan aja, kerjaan nya!"
Rendi bertanya, sambil menjalankan kendaraan nya keluar dari parkiran hotel, menuju ke jalan raya. Aku menoleh sekilas pada Rendi, dan kembali fokus menatap jalanan.
"Kok gak di jawab sih, sayaaang?" tanya Rendi lagi.
Aku menghela nafas berat, sambil sesekali melirik ke arah Rendi. Sekitar setengah jam kemudian, Rendi menghentikan kendaraan nya di depan rumah makan, yang berada di pinggir laut.
Setelah memarkirkan mobil nya, Rendi mengajak ku keluar dari kendaraan nya, dan masuk ke dalam rumah makan tersebut. Sampai di dalam, aku dan Rendi pun duduk berdampingan menghadap ke arah laut.
Tak lama kemudian, pelayan rumah makan itu pun datang menghampiri kami berdua. Dia membawa buku menu dan kotak tisu di tangan nya.
"Ini buku menu nya, mas, mbak! Silahkan di lihat-lihat dulu!" ucap si pelayan dengan ramah dan sopan.
"Oke, makasih ya, kak." balas ku sambil tersenyum.
Setelah memegang buku menu dan membolak-balik kan halaman nya, aku pun menoleh pada Rendi, dan bertanya kepada nya.
"Kita mau makan apa, bang?"
"Ikan bakar sama sotong goreng tepung, enak kayak nya, Yu! Gimana, mau gak?" tawar Rendi.
__ADS_1
"Ya udah, aku ikut menu abang aja!" jawab ku.
Setelah mendapatkan jawaban ku, Rendi langsung memesan makanan itu kepada si pelayan. Yang masih setia berdiri, di belakang tempat duduk kami berdua.
"Mbak, kami pesan ikan bakar dua porsi, sotong goreng tepung satu porsi, kentang goreng satu porsi. Minum nya jus jeruk dua ya, mbak!" ucap Rendi.
"Oke siap, mas. Di tunggu ya, mas!" balas si pelayan.
"Oke, mbak." jawab Rendi.
Setelah pelayan itu pergi, untuk menyiapkan makanan pesanan kami. Aku pun kembali menatap hamparan laut yang sangat luas, yang ada di hadapanku.
Aku sangat terpana dan berdecak kagum, melihat pemandangan yang indah, di depan mata ku itu.
"Subhanallah, indah banget pemandangan nya, bang." ucap ku girang.
"Ck ck ck, ternyata pintar juga lelaki ku ini, mencari tempat yang romantis, ya!" lanjut ku memuji Rendi.
"Ya iya lah, sayang. Abang sengaja membawa mu kesini, agar pikiran mu itu bisa rileks dan tenang. Tidak setres lagi, seperti yang di kamar tadi." cibir Rendi.
"Sembarangan kali tu muncung, ngata-ngatain aku setres! Mau minta di tabok ya, muncung nya?" balas ku sambil melihat nya dengan tatapan menusuk.
Mendapat tatapan tajam dari ku, Rendi pun langsung tertawa sambil meledek ku, dengan tingkah konyol nya.
"Hahaha! Ampun, mak ampun. Adek gak bakalan nakal lagi mak, ampun!"
Rendi bercanda, sambil menundukkan kepala nya di hadapan ku, dan menempelkan punggung tangan ku di kening nya. Persis seperti anak-anak yang takut kena hukum, oleh ibu nya.
"Udah ah, malu tau! Lihat tuh, orang-orang lagi pada ngelihatin kita! Aneh-aneh aja tingkah nya, budak sikok ni (anak satu ini)." gerutu ku kesal.
Mendengar ocehan ku barusan, Rendi langsung menoleh ke sekeliling dengan tatapan malu, sambil tersenyum-senyum sendiri. Dia tampak sangat malu, dengan aksi kocak nya tadi.
"Hihihi, sukurin! Siapa suruh bertingkah yang aneh-aneh, dari tadi." ledek ku.
Aku cekikikan sendiri, melihat raut wajah Rendi yang tampak memerah. Akibat menahan malu, karena di perhatikan orang banyak.
__ADS_1
"Hehehe," Rendi hanya cengar-cengir, menanggapi ledekan ku.