SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Bang Agus atau Rendi?


__ADS_3

"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga!" gumam ku.


Aku mulai melangkah masuk kembali ke dalam kios, untuk menyimpan kayu balok di belakang pintu. Setelah itu, aku masuk ke dalam rumah dan rebahan kembali di atas sofa.


Aku sama sekali tidak menghiraukan suamiku yang masih nonggok di depan pintu. Dia masih saja memandang anak dan mantan istri nya pergi dengan menggunakan ojek.


Beberapa menit kemudian, bang Darma pun masuk ke dalam rumah dan duduk di depan ku. Aku tetap acuh dan berpura-pura tidak mengetahui kehadiran nya di depan ku.


Setelah beberapa saat suasana hening, bang Darma pun mulai bersuara lagi. Dia mempertanyakan kejadian yang sebenarnya pada ku.


"Apa sebenarnya yang terjadi, dek? Apa benar kau sudah memukul anak ku tadi siang?" tanya bang Darma penasaran.


Aku memutar bola mata malas, mendengar pertanyaan dari bang Darma yang tidak masuk akal menurut ku. Aku sampai tidak habis pikir tentang jalan pikiran suami ku.


"Ngapain di bahas lagi sih? Tadi kan udah jelas semua nya, anak mu juga udah ngakui kalo dia itu bohong." balas ku ketus.


"Ya siapa tau aja si Yuni terpaksa mengakui, karena takut dengan ancaman mu tadi?" selidik bang Darma.


Emosi ku pun mulai naik kembali, setelah mendengar ucapan bang Darma yang seolah-olah sedang menuduh ku. Aku yang tadi nya sedang rebahan, kini mendudukkan diri di depan bang Darma.


"Kau itu sedang bertanya atau sedang menuduh?" tanya ku sambil menatap tajam pada nya.


"Siapa yang nuduh sih, dek? Abang kan tadi nanya nya baik-baik, kenapa jawab nya nyolot gitu?" jawab bang Darma.


Raut wajah bang Darma mulai tampak kesal karena mendengar kata-kata ku barusan. Dia seakan-akan tidak terima dengan jawaban ku.


"Apa kau ingin bukti atas perbuatan anak mu tadi dengan ku?" tanya ku.


"Ya," jawab bang Darma singkat.


Aku menghela nafas panjang dan segera beranjak dari tempat duduk. Aku melangkah masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.


Setelah mendapatkan nya, aku kembali melangkah keluar dan duduk di tempat semula. Aku mulai mengotak-atik ponsel dan menyerahkan nya kepada bang Darma.

__ADS_1


"Ini bukti nya, kau harus dengar kan sampe selesai percakapan kami tadi siang! Agar kau bisa tau, sifat anak mu yang sebenarnya selama ini dengan ku." ujar ku.


Setelah menerima ponsel, bang Darma pun mulai mendengar kan percakapan ku dengan Yuni.


Aku hanya tersenyum miring, saat memperhatikan ekspresi wajah bang Darma yang tampak berubah-ubah, saat mendengar kan rekaman dari ponsel ku.


"Gimana? Apa kau masih tidak percaya juga dengan rekaman itu?" selidik ku.


Bang Darma tidak menjawab, dia hanya menyerahkan ponsel itu kembali pada ku tanpa mengeluarkan suara apa pun lagi.


Setelah itu, bang Darma pun beranjak dari tempat duduk nya dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, dia pun langsung menunaikan shalat di dalam kamar.


"Kenapa gak di kasih aja uang itu untuk Yuni, dek?" tanya bang Darma memulai perbincangan.


Bang Darma merangkak ke atas ranjang dan membaringkan tubuh nya di samping ku. Aku yang sedang duduk di tepi ranjang pun langsung menoleh pada nya.


"Maksud mu apa ngomong kayak gitu, hah?" tanya ku bingung.


Aku menatap wajah suamiku itu dengan kening yang mengkerut. Aku semakin heran dengan sifat bang Darma yang terus-menerus membela anak dan mantan istri nya.


"Langkahi dulu mayat ku, kalau kau memang menginginkan uang itu untuk di berikan ke anak mu!" jawab ku tegas.


Bang Darma tampak terkejut, mendengar jawaban ku. Dia juga menggeleng-gelengkan kepala nya sambil menatap sinis pada ku.


"Masa gara-gara uang segitu aja, harus nungguin kau jadi mayat dulu sih? Kalo ngomong itu harus nya di pikir dulu, jangan asal keluar aja." balas bang Darma kesal.


"Udah lah, aku capek. Capek badan, capek pikiran, capek otak juga gara-gara anak mu yang gak tau diri itu." jawab ku ketus.


Mata bang Darma langsung membulat saat mendengar kata gak tau diri yang keluar dari bibir ku. Dia tampak sangat murka dan emosi karena tidak terima kalau aku mengata-ngatai anak nya.


"Lama-kelamaan omongan mu itu kok semakin kurang ajar gitu sih, dek!" balas bang Darma mulai mengeratkan rahang nya.


"Yang kurang ajar itu anak mu bukan aku!" jawab ku.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang lagi, bang Darma pun langsung melayang kan telapak tangan nya di pipi kiri ku, sambil berkata...


PLAK...


"Dasar, perempuan kurang ajar! Ternyata memang benar apa yang di katakan mereka berdua, kau itu memang sudah gila!" bentak bang Darma dengan suara menggelegar.


Aku terpaku sesaat sambil mengelus-elus pipi ku yang sudah memerah, akibat perbuatan suami ku itu. Aku juga menatap mata nya dengan tatapan yang penuh kebencian.


Saking benci nya, sampai-sampai tidak ada setetes air mata pun yang jatuh di pipi ku. Aku tidak merasa sedih atau pun terluka dengan kelakuan suami ku tersebut.


"Jangan nangis, Yu! Anak rantau gak boleh cengeng, anak rantau harus kuat!" batin ku menyemangati diri sendiri.


Melihat tatapan mata ku yang tajam, bang Darma pun mulai tersadar akan kesalahan yang baru saja di lakukan nya pada ku. Dia langsung mendekati ku dan meminta maaf pada ku.


"Maafin abang, dek! Abang khilaf, abang bener-bener gak sengaja melakukan nya." ucap bang Darma sambil memeluk tubuh ku.


"Jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu itu, Darma!" pekik ku kuat.


Aku langsung melepaskan diri dari pelukan nya dan berjalan ke arah lemari pakaian. Aku mengambil semua uang simpanan ku lalu keluar dari kamar.


Setelah itu, aku mengambil kunci motor yang terletak di atas kulkas, dan bergegas pergi meninggalkan bang Darma dengan mengendarai motor matic ku.


Mendengar ada suara motor, bang Darma pun langsung berlari keluar dari kamar menuju pintu utama. Dia memanggil-manggil ku sambil melambaikan tangan nya ke arah ku.


Aku hanya menoleh sekilas ke belakang, dan terus melajukan motor ku menuju hotel. Sepuluh menit kemudian, aku pun sudah tiba di depan gedung hotel.


Selesai memarkirkan motor, aku bergegas masuk ke dalam dan langsung memesan kamar. Setelah mendapatkan kunci, aku pun mulai menapaki anak tangga untuk menuju ke lantai dua.


Sesampainya di dalam kamar, aku langsung mengambil rokok yang ada di dalam tas selempang ku.


"Siapa yang akan aku panggil untuk menemaniku disini ya? Bang Agus atau Rendi?"


Aku membatin sambil terus menghisap rokok yang ada di tangan ku.

__ADS_1


__ADS_2