
Pagi menjelang, aku tersentak karena merasa terganggu, dengan suara-suara berisik kendaraan bermotor, yang berada di luar gedung hotel.
Begitu juga dengan Rendi, dia juga membuka mata nya karena gangguan suara dari luar. Aku memandangi wajah Rendi yang terlihat masih sangat mengantuk.
"Mandi yok, bang! Habis tu, antar kan aku pulang ke tempat sepupuku!" ujar ku.
Aku mengguncang pelan bahu Rendi, lalu bergegas turun dari ranjang.
"Iya," jawab Rendi dengan suara serak khas bangun tidur.
Setelah itu, aku berjalan masuk ke dalam kamar mandi, dan di susul oleh Rendi dari belakang. Selesai membersihkan diri, aku dan Rendi memakai pakaian masing-masing.
Kemudian, kami menyimpan barang milik pribadi ke dalam tas, dan membereskan sedikit kamar yang kami tempati itu.
Setelah semua nya beres, aku dan Rendi keluar dari kamar dan menyerahkan kunci kepada resepsionis.
Sampai di parkiran, aku dan Rendi segera masuk ke dalam mobil. Lalu, Rendi pun mulai melajukan mobil nya menuju ke rumah Naya.
"Kita makan dulu yok, Yu! Perut abang udah lapar nih." ajak Rendi.
"Oke," jawab ku.
Aku menoleh pada Rendi yang sedang fokus memandang lurus ke jalanan, dengan stir kemudi di tangan nya. Karena merasa di perhatikan, Rendi pun menoleh sekilas pada ku, lalu kembali menatap ke depan.
"Enak nya makan apa ya, Yu?" tanya Rendi.
"Nasi uduk aja, bang!" jawab ku.
"Oh, oke." balas Rendi sambil tersenyum.
Lima menit kemudian, Rendi menghentikan laju kendaraan nya di sebuah warung kecil, yang berada di pinggir jalan.
Warung itu menyediakan, nasi uduk, lontong sayur, bubur ayam, dan beberapa macam kue dan gorengan.
Setelah mobil terparkir rapi di samping warung, aku dan Rendi segera keluar mobil, dan berjalan masuk ke dalam warung tersebut.
Sampai di dalam, aku dan Rendi langsung duduk di kursi yang sudah tersedia. Tak berselang lama, si pemilik warung pun datang menghampiri kami berdua.
"Mau pesan apa, mas?" tanya lelaki setengah baya si pemilik warung.
"Nasi uduk nya dua porsi ya, pak! Minum nya teh hangat." jawab Rendi.
"Oke siap, mas." balas si pemilik warung, dan berlalu pergi meninggalkan meja kami.
"Nanti abang antar kan ke rumah mu aja ya, Yu." ujar Rendi.
"Gak usah, bang. Antar kan ke rumah Naya aja." balas ku.
"Emang nya kenapa, sih? Kamu takut ketahuan suami mu, ya?" selidik Rendi.
"Bukan gitu, bang. Motor ku kan ada di rumah Naya. Gak mungkin lah, aku tinggal kan motor ku disana." jawab ku.
"Oh, abang pikir karena takut ketahuan suami mu." balas Rendi.
"Ya, termasuk itu juga sih, hehehe." jawab ku salah tingkah.
Aku tersenyum, sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Rendi hanya menggelengkan kepala nya, melihat kelakuan aneh ku tersebut.
"Kenapa mesti takut? Kan malah bagus kalau kita ketahuan. Biar abang bisa cepat-cepat menikahi mu." ujar Rendi dengan santai nya.
"Ssstttt, berisik! Lihat tuh, makanan kita udah datang!" balas ku.
Aku menempelkan jari telunjuk ke bibir Rendi, kemudian aku menunjuk ke arah laki-laki pemilik warung, yang sedang berjalan menuju ke arah meja kami.
__ADS_1
"Helehh, alasan aja. Pandai sekali mengalihkan pembicaraan, kalau sudah membahas mengenai masalah itu." cibir Rendi.
Rendi menurunkan jari telunjuk ku yang sedang menempel di bibir nya. Lalu, dia mengerucut kan bibir nya ke depan.
"Gak usah di maju-maju in gitu bibir nya! Ntar jatuh tu bibir, baru tau rasa, hihihi." ledek ku.
Aku cekikikan sendiri, melihat raut wajah Rendi yang berubah masam. Selesai meledak Rendi, si pemilik warung pun tiba di meja kami. Dia menghidangkan makanan dan minuman yang bawa nya itu ke atas meja.
"Silahkan, mas, mbak!" ujar si pemilik warung dengan ramah sambil tersenyum.
"Oke, makasih ya, pak." jawab aku dan Rendi secara bersamaan.
Setelah si pemilik warung itu pergi, aku dan Rendi pun mulai memakan nasi uduk itu dengan lahap dan hening, tanpa ada nya percakapan apa pun lagi.
Beberapa menit kemudian, nasi uduk yang ada di piring kami masing-masing pun sudah ludes tak bersisa. Hanya menyisakan sendok dan piring nya saja di atas meja.
"Ayo kita balek, bang!" ajak ku sambil meminum teh hangat sampai tandas.
"Iya," balas Rendi.
Aku dan Rendi bangkit dari tempat duduk masing-masing. Lalu, kami berjalan menuju meja kasir, yang berada di samping pintu masuk warung tersebut.
Setelah membayar tagihan makanan, aku dan Rendi kembali masuk ke dalam mobil, dan memasang sealbeat ke badan masing-masing.
Sebelum menyalakan mesin mobil nya, Rendi mengeluarkan dompet dari dalam saku celana nya. Kemudian, dia mengeluarkan uang sebesar dua juta lima ratus ribu rupiah, dan memberikan uang itu ke tangan ku.
"Ini untuk pegangan mu, Yu!" ujar Rendi.
"Alhamdulillah, makasih banyak ya, bang." balas ku.
Aku tersenyum sumringah kepada Rendi, dan mengecup kilat pipi nya. Setelah itu, aku langsung menyimpan uang pemberian Rendi itu ke dalam tas kecil ku.
"Iya, sama-sama, sayang. Abang juga ucap kan terima kasih, karena sudah mau menemani abang semalam." balas Rendi.
Rendi memeluk tubuh ku dan mengecup kening, pipi, dan juga bibir ku. Setelah itu, dia menyimpan dompet nya kembali ke dalam saku celana nya.
Sebelum keluar dari mobil, Rendi menggenggam tangan ku dengan sangat erat. Dia seakan-akan enggan untuk melepaskan kepergian ku.
"Jaga diri baik-baik ya, sayang. Kalau butuh apa-apa, hubungi aja abang!" pesan Rendi.
"Iya, bang. Abang juga jaga diri baik-baik, ya! Hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut nyetir mobil nya. Kapan-kapan kita ketemu lagi." balas ku.
"Iya, sayang. Makasih atas perhatian nya." balas Rendi.
Dia kembali memeluk ku dan mengecup kening ku dengan waktu yang cukup lama. Setelah Rendi melepaskan pelukan dan kecupan nya, aku pun langsung pamit keluar dari mobil nya, dan berdiri di samping kendaraan roda empat nya tersebut.
"Hati-hati di jalan ya, bang!" pekik ku sambil melambaikan tangan pada Rendi.
"Ya, sayang. Sampai ketemu lagi, bye," jawab Rendi membalas lambaian tangan ku.
Rendi kembali menjalankan kendaraan nya menuju ke jalan raya, dan bergabung dengan kendaraan bermotor lain nya.
Setelah Rendi pergi, aku langsung mengetuk pintu rumah Naya sambil mengucapkan salam.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum, Nay." Naya, buka pintu nya, Nay! Ini bocah kemana, ya? Masa dari tadi di panggilin gak dengar-dengar sih, pekak kali kuping nya!" gerutu ku.
Aku mengetuk pintu rumah Naya sampai berulang-ulang, sambil terus memekik memanggil nama nya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara Naya menyahut seruan ku, dari dalam rumah nya.
"Iya, sebentar! Berisik kali pun, bocah gendeng satu ini." sungut Naya sambil membukakan pintu untuk ku.
__ADS_1
Setelah pintu terbuka lebar, Naya menyandarkan tubuh nya di daun pintu. Lalu, dia memperhatikan ku dari atas sampai bawah, sambil melipat kedua tangan nya di atas perut.
Aku menautkan kedua alis, melihat Naya yang sedang memandangi ku dengan penuh rasa curiga.
"Kau itu sedang lihatin apa an sih, Nay? Pandangan nya aneh banget." tanya ku.
Bukan nya menjawab, Naya malah tersenyum miring dan berjalan mengitari ku, sambil berkata...
"Wah wah wah, yang baru pulang dari bulan madu. Wajah nya nampak cerah banget ya, pagi ini." sindir Naya.
"Bulan madu, kepala mu itu!" sungut ku sambil menoyor jidat Naya.
"Lah, trus apa an nama nya, kalau bukan bulan madu?" tanya Naya sinis.
"Ya ya ya, terserah kau aja lah mau ngomong apa!" jawab ku pasrah.
"Naaah, gitu dong! Jangan ngeyel kalau di bilangin, hahaha!" gelak Naya.
"Sukak mu lah situ, mau ngata-ngatain aku apa? Yang penting hati mu senang." balas ku.
Aku menerobos masuk ke dalam rumah Naya, dan langsung duduk di kursi ruang tamu. Naya mengikuti langkah ku dan mendudukkan dirinya di sebelah ku.
"By the way, mantan pacar mu ganteng juga ya, Yu." ujar Naya kembali membuka percakapan.
"Ya, begitu lah. Rendi memang lumayan ganteng Dia juga baik, dan tidak pelit tentu nya." jawab ku santai.
Mendengar jawaban ku, Naya langsung tersenyum-senyum sendiri. Dia tampak seperti sedang membayangkan sesuatu.
"Heh, ngapain kau senyum-senyum gak jelas kayak gitu? Pasti lagi mikirin hal-hal jorok ya, hayo ngaku!" desak ku.
"Hehehehe, tau aja." jawab Naya sambil nyengir kuda.
"Dasar, bocah gila!" sungut ku.
"Eh, Yu. Aku boleh ngomong sesuatu gak?" tanya Naya.
"Boleh, mau ngomong apa an?" tanya ku balik.
"Hmmmm, kalau aku mendekati mantan pacar mu itu. Kira-kira boleh gak, Yu?" tanya Naya ragu.
"APA?" pekik ku kuat dengan mata yang membulat sempurna.
Naya langsung terlonjak kaget mendengar suara pekikan ku barusan. Dia sampai mengelus-elus dada nya, karena saking terkejut nya.
"Apa aku gak salah dengar, Nay?" tanya ku lagi.
"Eng-enggak, Yu. Kau gak salah dengar." jawab Naya lirih.
"Kayak nya aku...aku..."
Naya menjeda ucapan nya. Dia tampak sangat ragu dan bingung, untuk mengungkapkan isi hatinya pada ku.
"Aku aku kenapa, Nay?" selidik ku.
"Aku menyukai mantan pacar mu, sejak pandangan pertama kemarin." ungkap Naya sambil menunduk kan kepala nya.
Degh...
Dada ku langsung bergemuruh tidak karuan, akibat mendengar kejujuran Naya, tentang perasaan nya kepada Rendi, mantan pacar ku.
"Tolong lepaskan Rendi untuk ku, Yu! Pliiiiss." rengek Naya dengan wajah memelas.
"Gila kau, ya? Kayak gak ada laki-laki lain aja, selain Rendi." gerutu ku kesal.
__ADS_1
Aku tidak habis pikir, dengan jalan pikiran Naya. Dia terang-terangan meminta ku untuk melepaskan Rendi. Dan tanpa rasa malu ataupun sungkan, dia juga mengatakan kalau dia menyukai mantan kekasih ku itu.
"Ya Allah, kenapa sifat Naya jadi begini dengan ku?" batin ku.