SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Balas Dendam Berlanjut


__ADS_3

Aku hanya tersenyum miring mendengar ucapan bang Darma. Dia seolah-olah sedang berusaha untuk memancing ku, agar aku marah dan cemburu dengan nya.


"Ya iya dong, bang. Aku juga melakukan hal yang sama dengan para lelaki ku seperti yang kau lakukan itu." balas ku.


Aku menjawab ucapan bang Darma dengan santai dan tenang. Tidak ada rasa cemburu sedikit pun di hati ku saat melihat perbuatan suami gila ku itu.


Sambil duduk santai dan menghisap rokok, aku terus saja melihat layar ponsel yang sedang memperlihatkan sepasang manusia, yang sedang asyik bergumul ria di atas ranjang.


Bang Darma dan Dina tampak sangat menikmati kegiatan panas mereka. Sampai-sampai, suara berisik mereka berdua terdengar sangat jelas dari ponsel yang ada di tangan ku.


"Matiin aja kenapa sih ponsel nya! Ngapain juga kau harus nelpon dia di saat kita sedang main kayak gini." omel Dina.


Aku mendengar suara Dina yang sedang mengoceh kepada mantan suami nya itu. Aku kembali tersenyum miring mendengar ucapan Dina barusan.


"Biarin aja lah Dina ku, sayang. Biar dia bisa melihat kalau kita sedang bersenang-senang disini." jawab bang Darma kepada Dina.


"Iya, tapi gara-gara kau megangin ponsel kayak gitu, kau jadi tidak fokus dengan permainan kita." omel Dina lagi.


"Oke oke, aku akan meletakkan ponsel ini di meja. Tapi jangan di matiin ya, biar dia melihat permainan kita sampai selesai." jawab bang Darma.


"Iya, terserah kau aja mau nya gimana!" balas Dina kesal.


Dina mengerucut kan bibir nya melihat kelakuan bang Darma yang sibuk memegangi ponsel nya.


"Lagi main aja berantem, aneh-aneh aja kelakuan dua hantu ini, hihihi." batin ku.


Aku cekikikan sendiri mendengar perdebatan antara bang Darma dan Dina, yang terlihat sangat kocak dan lucu menurut ku.


"Ternyata asyik juga nonton secara live kayak gini." gumam ku pelan.


Setelah meletakkan ponsel nya di atas meja, bang Darma langsung mengarah kan kamera ponsel nya tepat di depan mereka berdua. Sehingga terlihat sangat jelas semua aksi panas mereka di layar ponsel ku.


Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku suami ku itu. Entah lah, aku juga bingung dengan hati ku sendiri. Entah kenapa aku tidak merasa cemburu sedikit pun, saat melihat adegan mereka berdua. Aneh bukan?


Setelah selesai melakukan kegiatan panas nya, bang Darma memegang ponsel nya kembali. Dia memperlihatkan hasil perbuatan nya yang baru saja di lakukan nya bersama mantan istrinya.


"Kau sudah lihat sendiri tadi kan, aku sangat menikmati dan merasa sangat puas bermain dengan nya." ujar bang Darma mulai memanas-manasi ku lagi.


"Ya ya ya, aku lihat kok."

__ADS_1


Jawab ku santai sambil menghisap rokok yang masih ada di tangan kiri ku. Sedang asyik meladeni ocehan bang Darma, tiba-tiba bang Agus memanggil sambil mengetuk pintu.


Tok tok tok...


"Buka pintu nya, say! Abang udah di luar nih." pekik bang Agus.


"Iya, bang." jawab ku.


Aku beranjak dari kursi dan meletakkan ponsel yang masih menyala itu di atas meja. Aku memang sengaja tidak menutup panggilan dari bang Darma, agar dia bisa mendengar percakapan ku dengan bang Agus.


Setelah pintu terbuka, bang Agus segera masuk dan mengunci pintu kembali. Bang Agus melepaskan helm nya dan menaruh nya di atas meja rias.


"Telponan sama siapa, say?" tanya bang Agus sambil memeluk tubuh ku.


"Sama suami ku, bang. Dia sengaja menghubungi ku untuk memperlihatkan permainan ranjang nya dengan mantan istri nya." jelas ku.


"Hah, masa sih, say?" pekik bang Agus.


Bang Agus terlihat sangat terkejut mendengar penjelasan ku barusan. Dia reflek menoleh ke arah ponsel ku yang masih tampak menyala di atas meja.


Bang Agus langsung membelalakkan mata nya. Saat melihat bang Darma dan Dina yang sedang berbaring di atas ranjang, tanpa menggunakan busana apa pun yang menutupi tubuh mereka berdua.


Bang Agus menggelengkan kepala nya, dia sama sekali tidak habis pikir dengan kelakuan bodoh bang Darma dan Dina.


Aku tidak berkomentar apa pun pada bang Agus. Aku hanya tersenyum manis menanggapi celotehan selingkuhan lima langkah ku itu.


"Emang nya dirimu gak cemburu ya, say?" tanya bang Agus.


"Gak, buat apa aku cemburu dengan orang gila seperti mereka." jawab ku dengan santai.


Setelah mendengar pengakuan ku, bang Agus terlihat sangat heran melihat reaksi ku yang masih tampak terlihat tenang dan biasa-biasa saja.


"Terbuat dari apa sih hati mu itu, say? Bisa-bisanya diri mu sanggup melihat permainan panas mereka." tanya bang Agus.


"Dirimu juga nampak santai-santai aja, setelah melihat perbuatan suami mu dengan wanita lain." lanjut bang Agus semakin bingung.


"Biarin aja lah, bang! Aku udah gak perduli lagi kok." jawab ku.


"Terserah mereka mau berbuat apa, aku juga udah gak mau ngurusin urusan mereka lagi. Yang terpenting sekarang, keadaan ku masih baik-baik saja disini." lanjut ku.

__ADS_1


Bang Agus kembali memeluk tubuh ku dengan sangat erat. Dia juga membelai rambut ku dengan lembut. Bang Agus tampak sangat khawatir dengan keadaan ku saat ini.


"Jangan sedih ya, say! Masih ada abang di sini yang akan menemani dan menghibur hati mu." ujar bang Agus menyemangati ku.


Aku hanya tersenyum kecut mendengar penuturan bang Agus. Aku pun langsung melingkar kan kedua tangan ku di pinggang nya dan membalas pelukan nya.


"Aku gak sedih kok, bang. Abang gak usah khawatir ya, aku baik-baik aja kok." balas ku.


Bang Agus melepaskan pelukan nya lalu beralih memegangi kedua pipi ku. Bang Agus menatap mata ku dengan tatapan yang penuh tanda tanya.


"Kenapa, bang?"


Aku bertanya karena merasa heran melihat bang Agus yang tampak serius menatap wajah ku.


"Gak ada apa-apa, say. Abang hanya terharu aja melihat ketabahan dan kesabaran mu, dalam menghadapi masalah rumah tangga mu ini." jawab bang Agus.


"Kau memang benar-benar wanita kuat, say. Kau masih sanggup menyembunyikan beban pikiran mu di depan orang lain." lanjut bang Agus lagi.


Aku membuang nafas kasar mengingat kelakuan dan perbuatan suami gila ku itu.


"Udah ah, gak usah bahas mereka lagi!" ujar ku kesal.


Aku melepaskan kedua tangan bang Agus dari pipi ku, dan kembali mendudukkan diri di atas kursi. Aku mengambil martabak sepotong lalu memakan nya.


Bang Agus memperhatikan gerak-gerik ku yang sedang asyik mengunyah martabak keju yang berada di atas meja.


"Lapar atau doyan, say?" ledek bang Agus.


"Kayak nya sih dua-duanya, hehehe." jawab ku sambil terus mengunyah martabak dengan lahap.


"Mau abang carikan makanan di luar gak?" tanya bang Agus lagi.


"Gak usah, nanti aja cari makan nya aku belum lapar kok. Aku cuma pengen ngemil aja." jawab ku.


"Oh, ya udah kalo gitu. Nanti kalau udah lapar bilang sama abang ya, biar abang keluar cari makanan."


Balas bang Agus sambil duduk di kursi yang berada di samping ku.


"Iya, bang. Nanti aku kasih tau kalau perut ku udah lapar." jawab ku.

__ADS_1


__ADS_2