
"Ayo kita pulang, Yun!" seru Dina sembari mencengkeram erat tangan Yuni.
"Dan kau Darma, ini yang terakhir kau sentuh anak ku. Kalau sampai kau berani menyentuh nya lagi, maka aku gak akan segan-segan untuk melaporkan mu ke polisi, ingat itu!" ancam Dina kepada bang Darma.
Bang Darma langsung terlonjak kaget, saat mendengar ancaman yang di lontarkan Dina pada nya. Dia tampak gelisah dan panik, karena takut perbuatan nya ketahuan oleh orang lain.
"Ta-tapi, Din..."
Dina sama sekali tidak menghiraukan ucapan bang Darma. Dia terus saja melangkah sambil menarik tangan Yuni secara kasar.
Bahkan Dina sampai menyeret Yuni sampai keluar pintu utama, dan berlalu pergi dengan menggunakan ojek pangkalan.
Sedangkan bang Darma, dia hanya mematung menatap kepergian dua wanita yang di cintai nya.
Setelah bayangan Dina dan Yuni hilang dari pandangan nya, bang Darma pun beralih menatap ku. Dia memandangi ku dengan tatapan sinis dan penuh kebencian.
Bang Darma mengeraskan rahangnya dan mengeratkan genggaman tangan nya sendiri. Dia seperti nya tampak geram dan murka melihat ku, yang sedari tadi menyunggingkan senyum kemenangan di depan mereka.
"PUAS KAU SEKARANG KAN?"
Bentak bang Darma dengan suara yang cukup memekakkan telinga. Bukan nya takut atau pun menciut, aku malah semakin meledek bang Darma, dengan kata-kata yang cukup pedas kepada nya.
"Ya, aku memang sangat puas." jawab ku sembari tersenyum miring.
"Bahkan aku berniat akan merayakan kemenangan ku ini, dengan mengundang para anak yatim-piatu ke rumah ini, hahaha!" gelak ku.
Mendengar penuturan ku, wajah bang Darma pun semakin memerah, akibat menahan emosi nya yang sudah naik sampai ke ubun-ubun.
"Dasar, perempuan licik! Kau pasti sudah merencanakan semua ini kan?" pekik bang Darma.
"Kau pasti sengaja menyuruh Dina untuk memergoki ku dan Yuni, biar Dina semakin membenci ku dan membatalkan pernikahan kami." lanjut bang Darma masih dengan suara lantang nya.
"Yupz, betul sekali. Tumben abang pintar, biasa oon terus tiap hari, hahaha." ledek ku sembari tertawa terbahak-bahak.
"Tertawa lah sepuas mu! Karena sebentar lagi, kau tidak akan bisa tertawa seperti ini lagi." oceh bang Darma sambil menatap tajam pada ku.
"Kenapa pulak gak bisa? Aku bisa tertawa kapan saja dan dimana saja yang aku mau, dan kau sama sekali gak ada hak untuk melarang ku, paham!" jawab ku santai.
"Ya ya ya, terserah kau aja. Tapi yang pasti nya, mulai saat ini aku akan membuat mu seperti hidup di dalam neraka, ingat itu!" ancam bang Darma.
__ADS_1
"Coba aja kalau bisa! Aku gak akan pernah takut dengan ancaman receh mu itu." balas ku tak mau kalah.
"Oke, jika itu mau mu. Tunggu aja tanggal main nya, aku tidak akan pernah membiarkan mu hidup senang di atas penderitaan ku. Camkan itu baik-baik, istri tak berguna!" ancam bang Darma penuh penekanan.
"Emang main nya tanggal berapa, biar aku bisa mempersiapkan diri, hihihu" tanya ku sembari cekikikan.
Mendengar ledekan ku, bang Darma semakin tersulut emosi. Dia menendang kursi sofa yang ada di samping nya dengan sekuat tenaga, hingga membuat kursi itu bergeser dari tempat nya.
"Kau pikir aku lagi main-main, HAH?" bentak bang Darma.
Bukan nya menjawab, aku malah balik memarahinya karena sudah menendang kursi dari hasil pembelian ku.
"Heh heh heh, itu kursi aku yang beli ya. Kalau sampai kursi itu rusak, apa kau bisa ganti, hah?" omel ku geram.
Bang Darma semakin bertambah kesal, setelah mendengar kata-kata ku barusan. Dia malah semakin menjadi-jadi dengan tingkah nya.
Bang Darma kembali menendang kursi itu sampai berulang-ulang kali, sembari berkata...
"Halah, kursi jelek gini aja kok bangga. Aku juga bisa beli sepuluh lagi, kalo cuma kursi jelek modelan kayak gini." cibir bang Darma.
"Sepuluh? Hahaha, beli satu aja pun kau gak mampu, gaya pulak pake acara sepuluh segala. Anda sehat, bos?" ledek ku sembari tergelak.
Bang Darma kembali mengumpat ku dengan sumpah serapah nya. Sedangkan aku, aku hanya tersenyum miring menanggapi celotehan nya tersebut.
Karena sudah merasa lelah dengan aksinya yang sedari tadi menendang-nendang kursi, akhirnya bang Darma pun membaringkan tubuh nya di atas kursi sofa panjang yang di tendang nya tadi.
"Huuuuu, tadi kau tendang-tendang, sekarang kau butuh juga kan dengan barang ku itu." sindir ku.
"Ya karena terpaksa aja sih, maka nya aku mau baring di kursi butut mu ini." oceh bang Darma santai.
Aku menggeleng-gelengkan kepala dan kembali tersenyum miring, mendengar ucapan bang Darma yang tidak masuk akal menurut ku.
Setelah merasa capek meladeni omongan ngawur bang Darma, akhirnya aku pun beranjak dari tempat duduk, lalu melangkah masuk ke dalam kamar.
Sesudah menyimpan tas di dalam laci meja, aku langsung menjatuhkan diri di atas ranjang, dan menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang.
"Permainan baru saja di mulai, bang. Bersiap-siaplah untuk menerima permainan selanjutnya dari ku, hahaha." batin ku girang.
Setelah melewati hari yang cukup melelahkan kan, akhirnya rasa kantuk pun mulai menyerang mata ku.
__ADS_1
"Molor bentar, ah. Lelah juga rasanya otak ku hari ini." gumam ku.
Aku merubah posisi baring ku menjadi miring menghadap tembok. Setelah itu, aku mulai memejamkan mata sambil memeluk guling.
Tak butuh waktu lama, akhirnya aku pun terlelap dan masuk ke alam bawah sadar ku.
Baru saja tertidur selama satu jam, tiba-tiba aku merasakan ada satu tangan yang menjalar di dada ku. Aku langsung reflek menoleh ke belakang, dan ternyata itu adalah tangan bang Darma suami gila ku.
Dia menenggelamkan wajah nya di tengkuk leher ku, lalu merapatkan badan nya di punggung ku.
"Ck, mau ngapain lagi sih? Ganggu istirahat orang aja kerjaan nya." gerutu ku kesal.
Bukan nya menghentikan perbuatan nya, bang Darma malah semakin brutal dengan aksi nya.
Dia mencumbui ku dengan cukup kasar, hingga membuat ku sesekali meringis menahan rasa sakit, dari gigitan-gigitan nya di leher dan juga pundak ku.
Karena sudah tidak sanggup menerima perlakuan kasar nya, akhirnya aku pun berontak dan berusaha melepaskan diri dari dekapan erat nya.
"Lepasin, bang! Minggir, aku mau tidur di ruang tamu aja." pekik ku kuat.
Mendengar suara pekikan ku, bang Darma semakin mempererat dekapannya, lalu mengunci tubuh ku dengan kedua kaki dan juga tangan nya.
Dan itu berhasil membuat ku tidak bisa bergerak, atau pun beranjak dari ranjang.
"Enak aja mau tidur di luar, layani aku dulu! Siap tu, kau baru boleh tidur lagi." bisik bang Darma dengan nafas yang mulai tidak beraturan.
"Cuih, gak sudi. Kau cari aja perempuan lain di luar sana, yang mau melayani hasrat mu itu." balas ku lantang.
"Ngapain mesti nyari perempuan lain, kalau di rumah pun ada yang nganggur?" tanya bang Darma.
"Ya, siapa tau aja kau mau merasakan yang beda." jawab ku santai.
"Gak lah, sama aja nya rasa nya. Malah lebih enak yang di rumah pun, dari pada yang lain-lain nya." ujar bang Darma.
"Kalo memang lebih enak yang di rumah, kenapa kau icip sana sini?" selidik ku.
"Ya, karena...karena..."
Bang Darma menjeda kata-kata nya. Dia terlihat ragu untuk mengungkapkan isi hatinya tersebut.
__ADS_1
"Karena apa?" desak ku semakin penasaran.