SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Uang Dari Pak Kades


__ADS_3

Setelah mendengar jawaban ku, bang Agus segera bangkit dari ranjang dan memakai pakaian nya kembali. Sedangkan aku, masih saja berbaring telentang di atas ranjang.


Malas sekali rasa nya untuk menggerakkan tubuh ini. Gara-gara ulah bang Darma dan bang Agus, badan ku terasa sangat pegal dan remuk semua.


Bang Agus tersenyum melihat keadaan ku yang masih belum bergerak dari ranjang. Dia mencondongkan wajah nya pada ku sembari berkata...


"Kok belum bergerak juga, say? Apa mau nambah lagi ya?" goda bang Agus dengan senyum menyeringai.


Mata ku langsung terbelalak lebar mendengar godaan maut dari bang Agus. Tatapan mata nya yang genit mampu membuat dada ku berdebar-debar tidak karuan.


"Ngawur aja kalo ngomong. Ini aja rasa nya udah lemes banget, apa lagi mau di lanjutin lagi. Bisa-bisa lempoh semua badan ku!" sungut ku.


"Hahaha, di kasi enak kok malah lempoh sih, say!" gelak bang Agus.


"Udah ah, balek sana! Aku mau istirahat bentar." ujar ku.


"Tapi, say..."


"Gak usah pake tapi-tapian lagi, balek sana!" usir ku.


"Iya iya, abang balek sekarang. Makasih ya, sayang." balas bang Agus.


Bang Agus mencium kening ku dan berlalu pergi meninggalkan ku yang masih terkapar lemas di atas ranjang.


"Enak sih enak, tapi kalo udah selesai baru terasa capek nya." gerutu ku kesal.


Setelah kepergian bang Agus, aku menutupi sebagian tubuh ku dengan kain sarung yang terletak tidak jauh dari tempat ku berbaring. Setelah itu, aku mulai memejamkan mata dan tertidur pulas.


Satu jam kemudian, aku merasakan ada tangan yang menjalar dan mengelus tubuh ku. Dalam keadaan setengah sadar, aku mulai membuka mata perlahan. Aku langsung memekik tertahan sambil menutup mulut dengan kedua tangan ku.


Mata ku membulat lebar, saat melihat seseorang yang sedang menyentuh tubuh ku dengan tangan-tangan nakal nya. Dia mencampakkan kain sarung yang aku gunakan ke sembarang tempat.


Dan akhirnya, terpampang lah tubuh ku di depan lelaki itu. Setelah melihat pemandangan yang sangat menggiurkan di depan mata nya, lelaki itu pun mulai mendekati ku dengan senyum menyeringai.


"Ba-bapak mau nga-ngapain?" tanya ku.


Aku terbata-bata sambil menggeser tubuh ke tengah ranjang untuk menjauh dari lelaki itu. Bukan nya menjawab lelaki itu malah semakin mendekati ku.

__ADS_1


"Saya ingin mencicipi tubuh mu yang mulus dan indah ini, mbak Ayu. Saya sangat tergiur melihat tubuh montok mu ini." jawab pak kades.


Ya ternyata orang yang mengganggu tidur lelap ku itu adalah pak kades, orang yang pernah aku tolak mentah-mentah ajakan kencan nya.


Pak kades bisa masuk sampai ke dalam kamar ku, karena aku lupa menutup pintu utama dan juga pintu kamar sebelum tidur tadi.


Maka nya pak kades yang genit itu bisa dengan leluasa masuk ke dalam kamar ku, dalam keadaan sepi seperti siang ini.


Melihat gelagat pak kades yang tampak sudah tidak bisa menahan keinginan nya lagi, aku pun langsung memikirkan cara untuk bisa memanfaatkan pak kades.


"Apakah bapak benar-benar ingin bercinta dengan ku?" tanya ku sambil tersenyum genit pada nya.


Pak kades langsung tersenyum sumringah, mendengar kata-kata yang keluar dari bibir ku. Dia mengangguk kan kepala nya berulang-ulang sembari berucap...


"Iya, mbak Ayu. Saya ingin sekali merasakan tubuh molek mbak Ayu." jawab pak kades.


"Apa aku terima aja ya ajakan pak kades ini?" batin ku ragu.


"Udah terlanjur basah gini, lebih baik mandi sekalian. Kan lumayan dapat duit dari pak kades." lanjut ku.


Aku terus saja membatin dalam hati, sambil menatap mata pak kades yang sudah seperti singa kelaparan, yang ingin memangsa makanan lezat yang ada di hadapan nya.


"Apa syarat nya, mbak?" tanya pak kades dengan wajah berbinar.


"Bapak berani bayar berapa?" tanya ku serius.


"Saya berani bayar enam juta. Gimana mau gak, mbak?" tanya pak kades balik.


"Wah, mantap nih. Lumayan juga dapat uang enam juta untuk sekali main. Aku terima aja lah, rejeki udah di depan mata gak boleh di tolak, hihihi." batin ku.


"Oke aku mau, pak. Tapi sini dulu uang nya, takut nya nanti bapak bohong pulak." jawab ku.


Aku menadahkan tangan di hadapan pak kades sambil kembali tersenyum genit pada nya.


Melihat senyuman maut ku, pak kades pun langsung merogoh tas kecil yang tergantung di bahu nya. Lalu dia mengeluarkan uang itu dan menyerahkan nya ke tangan ku.


"Ini uang nya, mbak Ayu." ucap pak kades.

__ADS_1


"Oke, pak." jawab ku.


Aku menerima uang enam juta itu dan beranjak dari kasur untuk menyimpan nya di dalam laci meja. Kemudian aku kembali naik ke atas ranjang, dan duduk di depan pak kades dengan posisi yang sedikit menantang.


Pak kades langsung menelan ludah nya dengan kasar setelah melihat posisi duduk ku. Dia segera mengunci pintu dan bergegas naik ke atas ranjang empuk ku.


"Kita mulai sekarang ya, mbak Ayu yang cantik!" ujar pak kades.


"Iya, lakukan lah, pak! Hari ini aku serahkan diri ku pada bapak." balas ku.


Tanpa pikir panjang lagi, pak kades langsung melancarkan aksinya. Pak kades yang sudah berusia sekitar enam puluh tahunan itu pun langsung melakukan kegiatan panas nya.


Walaupun usia nya sudah tua, tapi tenaga nya masih tetap ganas dan menggebu-gebu. Dan itu mampu membuat ku kembali mengeluarkan suara-suara indah, yang membuat pak kades semakin bersemangat setelah mendengar kan nya.


"Ternyata hebat juga permainan aki-aki satu ini. Nikmat banget pelayanan nya." batin ku dengan mata terpejam dan nafas yang tidak karuan.


Tidak sampai satu jam pak kades pun menyudahi kegiatan nya. Dia memakai pakaian nya kembali dengan senyum yang tidak pernah luntur dari bibir nya.


Setelah selesai berpakaian, pak kades mendekati ku dan mengecup kening dan pipi ku sambil berkata...


"Terima kasih ya, mbak Ayu. Kapan-kapan kita ke hotel aja ya, biar kita bisa lebih leluasa main nya tidak terburu-buru dan ketakutan kayak gini. Gimana mau gak, mbak Ayu?" tanya pak kades.


"Oke, pak. Tapi kita harus hati-hati juga ya, pak! Takut nya nanti kita kepergok pulak sama orang lain." jawab ku.


"Oh, kalo soal itu sih gampang, mbak Ayu. Sampean gak usah khawatir, saya akan menjaga rahasia kita ini dengan sebaik-baiknya." balas pak kades meyakinkan ku.


"Oke, pak. Aku percaya sama bapak." balas ku.


"Berhubung hari sudah sore, saya pamit dulu ya, mbak! Takut nya suami mbak Ayu keburu pulang." pamit pak kades.


"Oh iya, silahkan pak!" jawab ku.


Selesai berpamitan, pak kades melangkah keluar dari kamar dan terus melangkah keluar dari rumah ku.


Setelah melihat pak kades pergi, aku segera membuka laci dan mengambil uang yang di berikan oleh pak kades tadi.


"Lumayan, udah dapat enak dapat duit lagi. Hihihi," gumam ku girang.

__ADS_1


Aku cekikikan sendiri melihat setumpuk uang merah yang ada di tangan ku.


__ADS_2