SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Bang Darma vs Mantan Istri


__ADS_3

Setelah beristirahat kurang lebih dua jam, aku terbangun karena mendengar suara deru motor bang Darma di depan rumah.


"Loh, bang Darma kok udah pulang?


Emang udah jam berapa sih ini?" gumam ku sambil mengucek-ngucek mata dan melihat jam dinding.


"Oalah, pantesan aja dia udah pulang. Udah jam lima lewat sepuluh rupa nya," lanjut ku.


Selesai berceloteh sendiri, aku bergegas bangkit dari ranjang dan menghampiri bang Darma yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum," salam bang Darma, lalu menyerahkan kotak yang di bungkus kantong plastik hitam.


"Wa'laikum salam," jawab ku sambil mencium tangan nya dan menerima bungkusan itu.


"Apa ini, bang?" tanya ku lalu duduk di sofa, dan meletakkan bungkusan itu di atas meja.


"Martabak telor. Makan lah duluan, abang mau mandi dulu," jawab bang Darma.


"Nanti aja lah, nunggu abang siap shalat dulu. Biar kita makan sama-sama," balas ku.


Aku membuka bungkusan itu, dan menyalin martabak telor ke dalam piring besar.


"Oh, ya udah kalo gitu," balas bang Darma lalu berjalan ke kamar mandi.


"Aku kasi tau gak ya sama bang Darma, tentang ibu nya Yuni tadi," gumam ku bingung.


Sambil menunggu bang Darma selesai mandi dan shalat, aku duduk selonjoran di lantai sambil berpikir. Apakah aku harus mengatakan kejadian tadi atau tidak pada nya?


"Gimana ya kira-kira reaksi bang Darma, kalau aku mengatakan masalah tadi pada nya?" batin ku.


Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya aku pun memutuskan untuk mengatakan nya kepada bang Darma.


"Sebaik nya aku kasi tau aja lah. Biar bang Darma tau sifat anak nya, yang sudah mengadu yang tidak-tidak pada ibu gila nya itu," lanjut ku lagi.


"Ayo kita makan martabak nya, dek!" ajak bang Darma yang sudah berdiri di belakang ku.


Aku yang sedang asyik melamun pun langsung tersentak, mendengar suara bang Darma yang secara tiba-tiba.


"Ya Allah, kaget aku!" balas ku terkejut dan reflek mendongak kan kepala, melihat bang Darma sambil mengelus dada.


"Ngagetin aja sih, bang. Untung aja jantung ku gak copot," gerutu ku kesal.


"Masa gitu aja kaget sih? Maka nya jangan melamun aja kerjaan nya," cibir bang Darma lalu duduk di atas sofa tepat di depan ku.


"Ya udah lah, gak usah di bahas lagi," balas ku sambil menyerahkan sendok pada bang Darma.


Aku dan bang Darma pun mulai memakan martabak telor itu sepiring berdua, dengan santai dan tenang hingga tandas tak bersisa.


Selesai memakan martabak, bang Darma masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuh nya lalu mengotak-atik ponsel nya.

__ADS_1


Melihat bang Darma sedang santai, aku pun mulai mendekati nya dan duduk di tepi ranjang sambil mengotak-atik ponsel ku.


"Bang, tadi mamak Yuni datang kesini sambil marah-marah. Dia gak terima kalau anak nya aku tegur, karena sudah menjual emas itu," tutur ku membuka percakapan.


"Ngomong apa aja dia?" tanya bang Darma yang masih fokus memainkan ponsel nya.


"Dia maki-maki aku, trus ngancem aku juga. Kata nya kalau sampai aku marahi si Yuni lagi, dia bakalan hajar aku habis-habisan," jelas ku.


"Dia juga bilang gini, suka hati aku lah, mau aku jual kek, mau aku pakai kek, mau aku buang kek. Gitu kata nya," lanjut ku lagi.


"Adek ada nyimpan nomor ponsel Yuni gak?" tanya bang Darma menoleh pada ku.


"Ada, emang mau ngapain abang nanya nomor ponsel Yuni?" tanya ku penasaran.


"Gak ngapa-ngapain kok. Udah jangan banyak tanya lagi, mana nomor nya sini!" pinta bang Darma sambil menadah kan tangan nya pada ku.


Aku segera mencari nomor kontak Yuni, lalu menyerah kan ponsel ku pada bang Darma. Setelah selesai menyalin nomor itu, bang Darma langsung melakukan panggilan kepada anak nya Yuni.


"Halo, Yun kau lagi dimana?" tanya bang Darma setelah panggilan itu tersambung kepada Yuni.


"Lagi di rumah. Ada apa, pak?" tanya Yuni balik.


Berhubung panggilan itu di loudspeaker (pengeras suara), jadi aku bisa mendengar percakapan anak dan bapak itu dengan jelas.


"Sama siapa kau disitu?" tanya bang Darma.


"Sama mamak, pak. Nih mamak ada di samping ku lagi baring-baring," jawab Yuni.


"Berikan ponsel mu sama dia, bilang kalau bapak mau ngomong sama dia," perintah bang Darma dengan nada tegas.


"Iya bentar, pak!" balas Yuni.


Setelah itu, terdengar suara Yuni sedang berbicara dengan ibu nya.


"Mak, bapak mau ngomong kata nya," ujar Yuni menyerah kan ponsel kepada ibu nya yang bernama Dina.


"Ada apa?" bentak Dina dengan suara lantang.


Bang Darma sama sekali tidak terkejut atau pun heran dengan ucapan mantan istri nya. Karena dia sudah paham dan mengerti, dengan kelakuan dan sifat wanita itu.


"Ngapain kau datang kesini sambil memaki-maki istri ku, hah? Seharusnya yang berhak marah itu kami, bukan kau. Karena kau udah lancang menjual emas pemberian istri ku untuk Yuni tanpa izin!" bentak bang Darma balik dengan suara menggelegar.


"Ohh, jadi istri mu itu ngadu dengan mu. Minta perlindungan dari mu, iya? Cemen kali sih istri mu itu, masalah sepele aja pake acara ngadu segala," cibir Dina dengan santai nya.


Wajah bang Darma tampak memerah, ketika mendengar mantan istri nya merendahkan ku.


"Ya, aku memang menjual semua emas Yuni, untuk uang muka buat ngambil motor baru," tambah Dina tanpa merasa bersalah atau pun malu sedikit pun.


Aku dan bang Darma saling pandang-pandangan dengan kening mengkerut, sambil terus mendengarkan ocehan Dina.

__ADS_1


"Yuni itu anak ku, apa pun barang milik Yuni, berarti barang itu juga milik ku. Walau pun barang itu pemberian istri mu, aku gak mau tau dan aku gak akan perduli, PAHAM!" bentak Dina dengan suara yang semakin lantang.


"Dasar perempuan gak tau diri!" gerutu ku dalam hati.


Setelah mendengar semua ucapan Dina, bang Darma pun melirik pada ku yang masih fokus mendengar kan suara dari ponsel nya.


"Kau itu memang perempuan gak punya otak ya? Udah lah salah, malah ngotot pulak. Gak pernah bersyukur sama sekali jadi orang. Di baikin kok malah ngelunjak pulak," balas bang Darma semakin geram.


"Udah syukur istri ku mau ngasi ini itu untuk si Yuni. Seharusnya kau itu bersyukur, Yuni punya ibu tiri yang baik. Bukan nya malah cari gara-gara terus sama istri ku," tambah bang Darma ketus.


"Cih, gak sudi aku bersyukur sama istri mu itu. Dia itu cuma pura-pura baik saja, padahal hati nya busuk. Bilang sama istri mu, gak usah sok-sokan baik sama si Yuni," balas Dina.


Dina terus saja mengata-ngatai ku dengan kata-kata yang cukup pedas di dengar. Ia tidak henti-hentinya memaki serta merendahkan ku di depan bang Darma.


"Percuma saja dia seperti itu, karena si Yuni gak akan pernah menyukai nya sampe kapan pun juga. Yuni gak akan mau mengakui nya sebagai ibu tiri nya. Dan Yuni juga gak akan pernah bisa menerima istri mu itu," lanjut Dina semakin menjadi-jadi dengan perkataan nya.


Bang Darma tampak semakin geram dan emosi mendengar ocehan-ocehan mantan istri nya. Dia mengeratkan rahang nya, dan menatap tajam ke arah ponsel nya.


"Asal kau tau ya, Darma. Yuni itu sebenarnya sangat membenci istri mu. Yuni hanya berpura-pura baik dan menurut saja sama istri mu. Padahal sebenar nya, dalam hati si Yuni itu benci nya setengah mati sama istri kesayangan mu itu," tambah Dina lagi.


"Yuni itu hanya menginginkan uang nya saja dari istri mu, bukan orang nya. Jadi gak usah sok baik lah sama anak ku. Percuma, sia-sia aja soal nya, hahaha!" tutur Dina sambil tertawa bahagia.


Aku memberikan kode dengan gerakan bibir pada bang Darma, untuk memutus kan panggilan nya.


Bang Darma pun menurut dan langsung mengerti dengan kode ku itu, lalu dia segera mematikan ponsel nya.


"Udah dengar sendiri kan, bang? Anak mu itu hanya pura-pura baik saja selama ini dengan ku," ujar ku dengan penuh penekanan.


"Dia itu bukan benar-benar baik, seperti yang kita lihat selama ini. Tapi hanya pura-pura baik, ingat itu!" tutur ku.


Bang Darma hanya diam, dia tidak menanggapi sepatah kata pun semua ucapan ku. Dia meletakkan ponsel nya di samping bantal yang di gunakan nya, lalu memiringkan tubuhnya memunggungi ku dan mulai memejamkan mata nya.


Tak butuh waktu lama, terdengar suara dengkuran halus dari hembusan nafas nya.


Aku menatap nanar punggung bang Darma yang sudah terlelap di samping ku.


Aku sebenarnya kasihan pada bang Darma. Anak satu-satunya yang selama ini sangat di sayangi nya, ternyata mempunyai sifat yang kurang baik seperti itu pada ku.


Aku tahu bang Darma sangat kecewa dengan sifat anak nya, dan itu terlihat dari raut wajah nya yang sangat kesal, marah, dan malu di hadapan ku tadi.


Tapi dia tidak ingin menampakkan semua itu, maka nya dia lebih memilih tidur dari pada membahas masalah itu dengan ku.


"Huh, semoga saja sifat anak mu bisa berubah bang," batin ku penuh harap.


Aku ikut membaringkan diri di samping bang Darma, dan menyusul nya ke alam mimpi.


Hubungan orang tua dan anak tidak akan pernah putus, sedang kan hubungan suami istri bisa putus. Ya, itu memang benar ada nya.


Tapi ada satu hal yang sering di lupakan kebanyakan orang. Anak tidak akan selama nya hidup bersama kita atau orang tua nya. Sedang suami atau istri, dia lah orang yang akan hidup bersama kita selama nya.

__ADS_1


__ADS_2