SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Dugaan


__ADS_3

"Awas kau, ya! Tunggu pembalasan ku nanti!" ancam Naya.


"Gak takut, week." balas ku sambil menjulurkan lidah kepada Naya.


Setelah habis-habisan meledek Naya, aku merogoh tas untuk mengambil ponsel. Setelah mendapatkan nya, aku pun segera menghubungi Rendi.


Tut tut tut...


"Halo, lagi dimana, bang?" tanya ku pada Rendi.


"Lagi di rumah, Yu. Emang nya ada apa?" tanya Rendi balik.


"Jemput aku di rumah sepupu ku sekarang, ya! Nanti aku share lokasi nya, bisa gak?" tanya ku lagi.


"Bisa, Yu. Bentar ya, abang siap-siap dulu!" jawab Rendi.


"Oke, bang." balas ku menutup panggilan.


Setelah panggilan berakhir, aku menyimpan ponsel kembali ke dalam tas. Sedangkan Naya, jangan di tanya lagi. Dia terus saja menatap ku dengan penuh rasa curiga.


"Siapa yang kau telpon tadi, Yu?" tanya Naya.


"Mantan pacar ku." jawab ku santai.


"Mantan pacar yang mana? Siapa nama nya?" selidik Naya semakin penasaran.


"Nama nya Rendi. Dia mantan pacar ku, sewaktu masih bekerja di karaoke dulu." jawab ku lagi.


"Oh, gitu. Trus, kau mau kemana rupanya sama dia?" tanya Naya.


"Aku mau bersenang-senang sama dia, Nay." jawab ku.


"Bersenang-senang maksud nya?" tanya Naya dengan kening yang mengkerut.


"Ya bersenang-senang lah, gitu aja kok gak paham sih. Masa harus ku jelaskan lagi, bagimana cara kami bersenang-senang?" jawab ku sewot.


"Ya, harus lah! Aku kan juga pengen tau." desak Naya.


"Hadeehh, ini bocah kok oon banget sih. Bikin tensi ku naik aja." gerutu ku.


Aku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Aku bingung, harus bagaimana cara menjelaskan nya pada Naya.


"Kami mau ke hotel, Nay. Udah paham kan maksud ku?" tanya ku kesal.


"Oooohhh, ke hotel toh. Aku pikir bersenang-senang nya itu, seperti jalan-jalan, atau makan-makan gitu, Yu. Ternyata, mau bersenang-senang di atas ranjang." jelas Naya.


Naya tersenyum-senyum sendiri, sambil terus memandangi ku dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Ngapain kau nengok-nengok aku kayak gitu? Emang nya ada yang aneh ya, di badan ku?" tanya ku heran.


"Gak ada yang aneh sih, Yu. Aku cuma heran aja, ternyata hasrat mu gede juga ya. Kau sanggup melakukan yang begituan, dengan para selingkuhan mu itu. Ck ck ck, salut aku." jelas Naya.


"Biasa aja, kalee. Lebay banget jadi orang." balas ku.


Sedang asyik berbincang-bincang dengan Naya, tiba-tiba Rendi muncul. Dia membunyikan klakson mobil nya di depan rumah Naya.


Tin tin tin...


Mendengar suara klakson itu, aku dan Naya pun saling pandang-pandangan.


"Eh, itu dia udah datang." ujar ku dengan wajah berbinar.


"Mantan pacar mu naik mobil ya, Yu?" tanya Naya.


"Iya, emang nya kenapa, Nay?" selidik ku.


"Wiiih, mantap lah, tu. Dia orang kaya ya, Yu?" tanya Naya dengan penuh semangat.


"Ck, kau ini kepo kali pun! Bosan aku jawab nya."


Aku berdecak kesal sambil beranjak dari kursi. Dengan langkah yang sedikit terburu-buru, aku menghampiri Rendi yang masih anteng duduk di dalam mobil nya.


Naya mengekori langkah ku dari belakang. Dia tampak sangat penasaran dengan Rendi, mantan pacar ku itu.


Setelah melihat kedatangan ku dan Naya, Rendi pun langsung keluar dari kendaraan nya.


"Abang kangen banget dengan mu, sayang." bisik Rendi, tapi masih bisa terdengar oleh telinga Naya.


"Ehem-ehem! Hello, disini masih ada orang, ya!" cibir Naya.


Naya berdehem, melihat Rendi yang sedang memeluk erat tubuh ku. Mendengar sindiran Naya, Rendi pun reflek melepaskan pelukan nya, sambil cengar-cengir salah tingkah.


"Berisik kali kau, Nay!" sungut ku menyenggol lengan Naya.


"Hehehe, habis nya kalian bikin iri aku aja sih. Kalau mau mesra-mesraan, jangan disini dong! Merusak pemandangan ku aja." balas Naya sewot.


Rendi kembali tersenyum mendengar celotehan receh Naya.


"Ssstttt, muncung mu itu minta di sumpal pake sandal ya, Nay? Ngoceh terus dari tadi." ujar ku menatap tajam pada Naya.


"Oh iya, bang. Kenalin, ini sepupuku nama nya Naya!" ujar ku pada Rendi.


"Halo, salam kenal ya. Aku Rendi pacar nya Ayu."


Rendi menyebutkan nama nya, dan mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Naya. Begitu juga dengan Naya, dia menyambut tangan Rendi sambil tersenyum dan menyebutkan nama nya.

__ADS_1


"Salam kenal kembali, aku Naya sepupu nya Ayu." balas Naya.


Setelah selesai berkenalan dengan Naya, Rendi langsung mengajak ku untuk pergi secepatnya.


"Ayo, sayang! Kita berangkat sekarang." ajak Rendi sambil menggenggam tangan ku.


"Buru-buru banget sih, gak mau ngopi-ngopi dulu ke dalam?" tawar Naya kepada Rendi.


"Gak usah repot-repot, Nay! Kami memang lagi buru-buru soal nya." tolak Rendi secara halus.


"Oh, ya udah kalo gitu." balas Naya dengan nada sedikit kecewa, atas penolakan Rendi.


Naya langsung terdiam, dan menunduk kan kepala nya di depan Rendi. Raut wajah Naya tiba-tiba terlihat sedih dan murung.


Melihat reaksi kecewa Naya, akhirnya aku pun kembali bersuara dan berpamitan kepada sepupuku itu.


"Oke lah, Nay. Aku pergi dulu ya, bye!" pamit ku pada Naya.


"Oke, hati-hati ya, Yu!" jawab Naya lirih.


"Ya," balas ku.


Setelah itu, aku dan Rendi masuk ke dalam mobil.


"Udah siap, sayang?" tanya Rendi.


"Udah, bang." balas ku sambil memasang sealbeat.


Rendi mulai menjalankan kendaraan nya secara perlahan, meninggalkan Naya yang masih terpaku di tempat nya semula. Naya menatap nanar kepergian ku dan Rendi.


"Ada apa dengan Naya? Kenapa dia jadi sedih gitu, saat Rendi menolak ajakan nya tadi? Apakah dia menyukai Rendi?" batin ku menduga-duga.


Rendi menoleh sekilas pada ku, lalu kembali fokus menatap ke depan dengan stir kemudi di tangan nya. Rendi bingung melihat gelagat ku, yang sedari tadi hanya diam membisu di samping nya.


"Ada apa, sayang? Abang perhatiin, dari tadi dirimu melamun terus? Ada masalah apa sebenarnya? Coba ceritain sama abang!" tanya Rendi.


"Gak ada apa-apa kok, bang. Lagi pengen diam aja." bohong ku.


"Ohhh, kirain ada apa." balas Rendi.


"Kita mau kemana dulu nih? Mau jalan-jalan dulu, atau mau langsung ke hotel?" tanya Rendi lagi.


"Terserah abang aja! Kemana pun abang bawa, aku ngikut aja." jawab ku pasrah.


"Oke," jawab Rendi sambil tersenyum dan menggenggam tangan ku.


Tak lama kemudian, Rendi pun memarkirkan mobil nya di depan gedung hotel yang biasa kami tempati.

__ADS_1


"Ayo, kita masuk!" ajak Rendi sambil membuka sealbeat di badan nya.


"Iya," jawab ku.


__ADS_2