
Setelah mengirimkan pesan balasan untuk Naya, aku pun beralih membuka pesan dari Rendi.
"Hai, sayang apa kabar? Abang kangen nih, kita ketemuan yok! Beberapa malam ini, abang susah tidur gara-gara ingat dirimu. Pikiran abang tertuju pada mu terus, sayang. Gimana, bisa gak kita ketemuan?"
Itu lah kata-kata yang di kirimkan Rendi pada ku. Dia ingin mengajak ku untuk bertemu di luar.
"Alhamdulillah kabar ku baik-baik aja. Sama, aku juga kangen dengan mu, bang. Tapi maaf, hari ini kita gak bisa ketemuan. Suami ku lagi ada di rumah soal nya."
Aku mengirimkan balasan pesan kepada Rendi. Aku sengaja berbohong kepada Rendi, karena badan ku masih terasa capek akibat ulah bang Agus.
Dan tak lama kemudian, Rendi pun langsung membalas pesan ku.
"Oh, ya udah gak papa. Lain kali aja kita ketemuan nya. Kalau ada waktu luang, langsung aja kabari abang ya!" balas Rendi.
"Iya, nanti aku kabari." balas ku menutup percakapan.
Selesai berbalas pesan dengan Rendi dan Naya, aku pun merebahkan diri di atas sofa panjang yang sedang aku duduki itu.
"Hoamm, ngantuk nyaaaa. Tidur bentar ah, mumpung gak ada gangguan dari para dedemit." gumam ku sambil menguap lebar.
Baru saja beberapa menit memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara bang Darma yang sedang memanggil nama ku, sambil mengguncang-guncang pelan bahu ku.
"Dek, bangun, dek! Perut abang lapar kali nih. Minta uang mu lah, dek! Abang mau beli nasi di luar." ujar bang Darma.
"Aaagghhh, berisik kali pun! Baru aja mejamkan mata sebentar, udah di gangguin lagi sama dedemit satu ini." omel ku dengan mata yang masih terpejam.
"Siapa yang dedemit, dek?" tanya bang Darma bingung.
"Ya kau lah, siapa lagi kalau bukan kau dedemit nya!" jawab ku asal.
Dengan perasaan kesal dan jengkel, aku pun terpaksa membuka mata dan duduk menyandar di atas sofa. Aku menatap tajam pada bang Darma yang sudah duduk di depan ku, sambil menyalakan rokok nya.
"Ada perlu apa kau bangunin aku, hah?" tanya ku ketus.
"Minta uang mu seratus ribu, abang mau pergi cari makanan di luar!" jawab bang Darma dengan santai nya.
"Wow, enak banget hidup mu ya! Udah capek bergumul ria dengan mantan mu itu, sekali pulang ke rumah malah minta duit sama aku. Kemana otak mu, DARMA?" pekik ku kuat.
__ADS_1
Emosi ku langsung meledak-ledak, saat bang Darma mengutarakan keinginan nya pada ku. Aku sama sekali tidak habis pikir dengan jalan pikiran suami ku itu.
Bisa-bisanya dia meminta uang kepada ku, setelah dia selesai bersenang-senang dengan Dina, musuh bebuyutan ku itu.
"Apa maksud mu ngomong kayak gitu? Siapa yang bergumul ria?" tanya bang Darma dengan kening mengkerut.
"Gak usah pura-pura amnesia kau, hantu! Kau sendiri kan yang ngirim foto-foto ini sama ku." bentak ku.
Aku menunjukkan foto-foto mesra yang di kirimkan nya tadi pada ku. Setelah melihat semua foto itu, bang Darma pun langsung murka. Raut wajah nya tampak sangat geram, saat memandangi foto yang ada di ponsel ku itu.
"Bukan aku yang kirim foto-foto itu." bantah bang Darma.
"Kalau bukan kau yang ngirim, terus siapa lagi hah?" tanya ku lantang.
Aku berdiri di depan bang Darma sambil melipat kedua tangan ku di atas perut.
"Paling kerjaan nya Yuni sama Dina tuh." jawab bang Darma.
"Kalian bertiga itu benar-benar gak punya otak ya? Apa maksud nya ngirim foto-foto yang menjijikkan kayak gini sama ku, hah?" tanya ku.
"Oh, gitu ya! Oke lah, jangan salah kan aku kalau semua foto kalian ini akan tersebar luas di seluruh dunia." ujar ku dengan mimik wajah serius.
Aku kembali mendudukkan diri di atas sofa sambil menyalakan rokok.
"Ja-jangan gitu lah, dek! Masa gara-gara foto gitu aja mau di sebar luaskan. Malu lah, mau taruh dimana muka abang nanti?" ujar bang Darma gugup.
"Taruh aja di dalam kloset!" jawab ku asal.
"Gila," umpat bang Darma.
"Yang gila itu kau sama kedua benalu mu itu. Lagian kan udah sering ku bilang, kalau kau ingin rujuk dengan nya, ya silahkan! Aku gak akan pernah melarang atau pun menahan mu." jelas ku.
"Gak, aku gak mau rujuk sama dia." tolak bang Darma dengan tegas.
Aku menautkan kedua alis mendengar penuturan bang Darma. Dia tetap kekeuh tidak ingin bersatu kembali dengan mantan nya itu.
"Kalau kau gak mau, kenapa kau sering melakukan hubungan suami istri dengan nya?" selidik ku.
__ADS_1
"Haritu kan udah ku jawab sih, masa itu itu terus yang di tanyain. Bosan aku dengar nya." jawab bang Darma kesal.
"Emang nya haritu kau jawab apa sama ku?" tanya ku pura-pura lupa.
"Ah, masa gitu aja bisa lupa sih?" tanya bang Darma.
"Kalau aku ingat, ngapain aku tanyakan lagi?" ujar ku.
"Huh, dasar pikun!" umpat bang Darma semakin kesal.
Dia membuang nafas kasar berulang-ulang, karena mendapatkan pertanyaan dari ku. Dia juga tampak semakin gusar setelah mendengar semua kata-kata ku tadi.
"Emang nya kenapa kalau aku pikun, hah? Pikun-pikun gini pun uang ku banyak tau gak! Bukan kayak benalu-benalu mu itu, tau nya cuma ngemis aja minta di kasihani." cibir ku.
"Asal kau tau ya, Darma. Jelek-jelek gini, masih banyak laki-laki di luaran yang mau sama aku." lanjut ku lagi.
"Cih, jadi wanita murahan aja kok bangga." balas bang Darma.
Mendengar ucapan bang Darma, aku pun langsung menatap tajam kepada nya sambil berkata...
"Yang murahan itu mantan mu, bukan aku. Aku di bayar mahal untuk sekali bercinta. Sedangkan mantan mu, barang gratisan alias obralan." balas ku tak mau kalah.
Bang Darma sama sekali tidak marah atau pun membantah ucapan ku barusan. Dia masih saja tampak anteng dan santai, dengan rokok yang ada di tangan nya.
"Udah lah, gak usah di bahas-bahas lagi! Aku bosan dengarkan nya." ujar bang Darma.
Bang Darma mengacak-acak rambut nya dengan kasar. Penampilan nya pun semakin hari semakin kusut dan lusuh. Persis seperti orang yang tidak ada gairah untuk hidup.
"Sini uang mu, dek! Perut ku lapar kali nih." pinta bang Darma sambil menadah kan telapak tangan nya pada ku.
"Gak ada, minta aja sama perempuan-perempuan kesayangan mu itu!" balas ku acuh.
"Cepat lah, dek! Perut abang udah keroncongan terus nih dari tadi. Gak kasian apa, lihat abang kelaparan kayak gini?" rengek bang Darma dengan wajah memelas.
"Bodo amat, emang gue pikirin." balas ku.
"Ck, jahat kali pun jadi orang. Tega kali nyiksa suami sendiri." gerutu bang Darma.
__ADS_1