SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Menemui Rendi


__ADS_3

*Kembali ke author Ayu*


Setelah beberapa saat memikirkan alasan yang tepat untuk keluar dari rumah, akhirnya aku pun menemukan satu alasan yang pas dan cukup logika.


"Kalau alasan nya pergi ke rumah Naya, kira-kira bang Darma percaya gak ya?" batin ku sedikit ragu.


"Ah, coba aja lah. Siapa tau dia percaya." lanjut ku.


Tanpa pikir panjang lagi, aku pun langsung membangun kan bang Darma dengan mengguncang-guncang pelan bahu nya. Setelah beberapa kali guncangan, akhirnya bang Darma pun mulai membuka mata nya.


"Bang, bangun bang. Bang, bangun!" seru ku sambil terus mengguncang bahu kekar nya.


"Hmmmm, apa sih? Ganggu aja kerjaan nya."


Gerutu bang Darma, sambil mengucek-ngucek mata dan menggeliatkan badan nya.


"Aku mau ke rumah Naya. Kau mau ikut gak?" tanya ku basa-basi.


"Gak lah, ngapain juga aku ikut kesana. Ya udah sana kalau mau pergi, dari pada bikin semak aja di sini."


Usir bang Darma, lalu kembali memejamkan mata nya dan melanjutkan mimpi indah nya. Mendengar jawaban bang Darma, aku pun langsung tersenyum dan bersorak dalam hati.


"Yes, akhirnya bisa juga aku ketemu Rendi." batin ku girang.


Setelah itu, aku kembali mengotak-atik ponsel untuk mengirimkan pesan balasan kepada Rendi, mantan pacar ku tersebut.


"Oke, abang tunggu aja di hotel biasa, aku meluncur sekarang!" balas ku.


"Oke, sayang." balas Rendi.


Selesai mengirim pesan, aku segera bersiap-siap untuk berangkat ke hotel. Aku mengambil tas ransel yang tersimpan rapi di laci meja, lalu mengambil kunci motor yang tergantung di samping lemari pakaian.


Setelah itu, aku segera bergegas keluar dari kamar, lalu berjalan menuju kios. Sesudah merapikan barang-barang dagangan, aku pun segera menutup dan mengunci pintu kios itu rapat-rapat.


Selanjutnya, aku menutup pintu utama dan langsung naik ke atas motor kesayangan ku. Dengan senyum yang mengembang di bibir, aku pun langsung melajukan kendaraan roda dua ku itu menuju hotel, tempat biasa aku dan Rendi memadu kasih.


Tak butuh waktu lama, aku pun tiba di depan gedung hotel berlantai empat tersebut. Setelah memarkirkan motor, aku merogoh tas untuk mengambil ponsel. Setelah itu, aku pun kembali mengirim pesan kepada Rendi.


"Aku udah di bawah nih, kamar nya nomor berapa?" tanya ku.


Tak lama kemudian, balasan dari Rendi pun muncul di layar ponsel ku.


Ting...


"Nomor 111 lantai 2." balas Rendi.


"Oh, oke." balas ku lagi.

__ADS_1


Setelah mengetahui nomor kamar nya, aku segera melangkah masuk ke dalam dan menapaki beberapa anak tangga, untuk menuju ke lantai dua gedung tersebut.


Setibanya di depan kamar nomor 111, aku pun langsung mengetuk pintu tanpa mengeluarkan suara.


Tok tok tok...


Setelah beberapa kali ketukan, akhirnya pintu pun terbuka lebar.


Ceklek...


Aku langsung mematung di tempat, saat melihat tubuh kekar Rendi yang sedang basah, dan hanya memakai handuk di pinggang nya. Aku memandangi tubuh yang sangat menggiurkan itu dari atas sampai bawah, sambil menggigit bibir bawah ku.


Melihat gelagat ku yang sedang terpesona dengan penampilan seksi nya, Rendi pun langsung menarik tangan ku, lalu mengunci pintu kembali. Setelah itu, Rendi langsung memeluk ku dan menciumi bibir ku sembari berkata...


"Abang kangen banget dengan mu, sayang." ujar Rendi dengan mata sayu dan nafas yang mulai memburu.


"Sama, bang. Aku juga kangen dengan mu." balas ku.


Aku membalas ciuman Rendi dengan tak kalah ganas. Lidah kami saling mengabsen dan melilit satu sama lain.


Rendi mencampakkan tas ransel ku ke atas ranjang, lalu mempereteli pakaian ku satu persatu sampai polos, tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuh ku.


Setelah selesai, Rendi membaringkan ku secara perlahan ke atas ranjang, dan kembali menciumi bibir ku dengan rakus. Tangan nya pun tak tinggal diam, dia menempelkan telapak tangan nya itu di atas permukaan benda kenyal ku.


Setelah puas mencumbui wajah dan leher ku, Rendi pun mengalihkan bibir nya ke bagian dada dan perut ku. Lalu dia pun melanjutkan penjelajahan, sampai ke pangkal paha ku.


Rendi menatap takjub, saat melihat gundukan bukit yang di tumbuhi rumput halus di sekeliling nya. Dia tampak sangat tergiur dengan area pribadi ku, yang sedang terpampang jelas di depan wajah nya.


Dengan mata yang terus terpejam, aku pun hanya tersenyum menanggapi ucapan nya. Melihat senyuman manis di bibir ku, Rendi pun mulai menjulurkan lidah nya untuk memanjakan milik ku tersebut.


Setelah beberapa menit mengabsen seluruh isi milik ku, Rendi pun mulai merangkak naik ke atas tubuh ku. Dia mengungkung ku dengan kedua tangan nya, dan memandangi ku dengan tatapan lapar.


"Abang mulai sekarang ya, sayang! Abang udah gak tahan lagi nih, pengen cepat-cepat melahap mu." ujar Rendi dengan senyum menyeringai di wajah nya.


"Ya, mulailah. Aku juga udah gak tahan, pengen merasakan kenikmatan dari mu." balas ku sambil menggigit bibir bawah ku.


"Oke, sayang." balas Rendi girang.


Setelah mendengar penuturan ku, Rendi pun mulai memasukkan benda pusaka nya ke dalam milik ku.


Setelah masuk dengan sempurna, Rendi pun mulai melakukan gerakan ganas nya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Hingga membuat ku sedikit kelabakan, untuk menghadapi gairah nya yang sedang naik dan menggebu-gebu tersebut.


Sekitar hampir dua jam berpacu dengan berbagai gaya dan posisi, akhirnya Rendi pun menyudahi permainan nya. Dia menyemburkan lahar hangat nya di dalam rahim ku, dengan hentakan-hentakan yang cukup kuat.


Setelah pergumulan panas berakhir, Rendi pun mengeluarkan benda pusaka nya yang sudah mulai loyo, lalu menjatuhkan tubuh nya di samping ku.


Dengan nafas yang masih ngos-ngosan dan tubuh yang basah oleh keringat, Rendi pun kembali memeluk ku, dan mendarat kan kecupan-kecupan nakal nya di wajah ku, lalu berkata...

__ADS_1


"Makasih banyak ya, sayang ku. Sudah meluangkan waktunya untuk melayani abang." ujar Rendi.


"Iya, sama-sama." balas ku.


Setelah beberapa saat beristirahat, aku dan Rendi pun beranjak dari ranjang, dan melangkah masuk ke kamar mandi. Selesai membersihkan diri, kami berdua duduk di pinggir ranjang, lalu menyalakan rokok masing-masing.


"Tadi kok lama banget balas pesan nya?" tanya Rendi membuka percakapan.


"Iya, soal nya aku bingung nyari alasan buat keluar dari rumah." jawab ku lalu menoleh ke arah Rendi.


"Loh, kok gitu? Biasa nya kan gampang aja kalau dirimu mau keluar, kenapa sekarang harus pake alasan segala?" tanya Rendi penasaran.


Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Rendi, aku menghela nafas dalam-dalam, lalu kembali menghisap rokok yang masih tersisa separuh di jari tangan ku. Dengan pandangan kosong menatap lurus ke depan, aku pun kembali membuka suara.


"Tadi suamiku ada di rumah." jawab ku.


"Oooohhh, pantesan." balas Rendi.


Dia tampak nya langsung mengerti, arah tujuan atas jawaban ku barusan. Setelah mematikan api rokok nya, Rendi pun kembali melontarkan pertanyaan nya pada ku.


"Tumben-tumbenan dia ada di rumah, biasa nya kan ngeluyur terus ke rumah mantan nya. Apa mereka sudah tidak berhubungan lagi sekarang?" selidik Rendi.


"Masih, mereka masih berhubungan kok. Tapi tidak seharmonis dulu lagi." jawab ku lirih.


"Tidak seharmonis dulu? Maksud nya gimana sih? Abang gak ngerti." tanya Rendi semakin penasaran.


Aku membuang nafas kasar, lalu merebahkan tubuh ku di atas ranjang, dengan posisi kaki yang masih menjuntai ke bawah.


"Hubungan mereka seperti nya sudah mulai retak." jawab ku lirih.


"Loh, kok dirimu bisa tau? Emang siapa yang ngomong?" tanya Rendi lagi.


Dia berbaring miring di samping ku, lalu menopang kan kepala nya di atas tangan kanan nya.


Rendi menatap wajah ku dengan serius, hingga membuat ku sedikit gerogi untuk membalas tatapan nya. Hingga akhirnya, aku pun mengalihkan pandangan ku ke arah langit-langit kamar.


"Suamiku sendiri yang ngomong, sewaktu kami di rumah tadi." jawab ku jujur.


"Ooohhh, gitu. Trus, suami mu ngomong apa aja rupanya?" selidik Rendi.


"Dia bilang, dia sudah mulai bosan dan muak dengan sikap para benalu nya itu. Karena semakin hari, sikap mereka semakin menjadi-jadi aja gilak nya." jelas ku.


"Semakin gilak?"


Tanya Rendi dengan kening mengkerut, dia seperti nya tidak mengerti maksud dari kata-kata ku itu. Aku menoleh sekilas kepada Rendi, lalu kembali menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang.


"Ya, gilak duit, gilak nafsu, gilak semua lah pokoknya." jawab ku lagi.

__ADS_1


"Oohhh, gitu." balas Rendi sembari manggut-manggut.


__ADS_2