
Dengan hanya bermodalkan nekat, Darma pun memutuskan untuk tetap pergi ke rumah Dina dengan menggunakan ojek pangkalan.
"Ah, naik ojek aja lah. Biar nanti Yuni yang bayarin ongkos nya." gumam Darma lalu beranjak dari duduk nya.
Dia berjalan keluar dari rumah, dan terus berjalan sampai ke pangkalan ojek yang berada tidak jauh dari kediaman nya. Setelah menempuh perjalanan sekitar kurang lebih sepuluh menit, ojek yang di tumpangi Darma pun tiba di depan rumah Dina.
"Tunggu bentar ya, aku mau ambil uang dulu ke dalam!" ujar Darma kepada si tukang ojek.
"Oke, bang." balas nya.
Setelah menyerahkan helm kepada si tukang ojek, Darma pun langsung bergegas mengetuk pintu rumah mantan istri nya tersebut.
Tok tok tok...
Assalamualaikum, Yuni buka pintu nya, Yun!" salam Darma sambil memanggil-manggil nama Yuni.
Mendengar suara ketukan pintu, Yuni yang sedang rebahan di kamar nya pun langsung bangkit dan berlari kecil menuju pintu utama. Setelah pintu terbuka, Darma pun langsung menyuruh Yuni untuk membayarkan ongkos ojek nya.
Ceklek...
"Yun, minta uang mu sepuluh ribu, buat bayar ojek." ujar Darma sambil menunjuk ke arah ojek, yang sedang menunggu di atas motor nya.
"Loh, kok Yuni yang bayar sih? Emang nya abang gak ada megang uang sama sekali ya?" tanya Yuni heran.
"Gak ada, udah gak usah banyak tanya. Cepat bayarkan ongkos nya! Kasihan tukang ojek nya tuh, udah nungguin dari tadi." oceh Darma lalu nyelonong masuk ke dalam.
Dengan terpaksa, akhirnya Yuni pun menurut dan mengambil uang dari saku celana nya. Setelah itu, dia pun menghampiri si tukang ojek sambil berkata...
"Ini ongkos nya, bang. Maaf ya, udah nunggu lama." ujar Yuni sambil tersenyum.
"Oh iya gak papa, dek. Makasih ya, saya permisi dulu." pamit si tukang ojek lalu menyalakan mesin motor nya, dan berlalu pergi dari hadapan Yuni.
"Iya sama-sama, bang." balas Yuni lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Setelah mengunci pintu, Yuni pun menghampiri Darma yang sedang duduk di kursi ruang tamu sambil menghisap rokok nya. Yuni mendudukkan diri di sebelah Darma, lalu bergelayut manja di bahu kekar nya.
"Kata nya tadi mau interview? Kenapa malah ada di rumah, polos pulak tuh? Apa jangan-jangan, kalian habis main ya?" selidik Yuni.
Yuni memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi kepada Darma. Dia tampak sangat penasaran, dengan kegiatan yang dilakukan Darma selama berada di rumah nya.
__ADS_1
"Iya, tadi abang memang habis main sama Ayu. Abang terpaksa melayaninya, karena dia maksa-maksa abang terus. Dari pada nanti ujung-ujung nya jadi berantem, jadi ya mau gak mau abang harus menuruti keinginan nya." bohong Darma.
Darma membelai rambut Yuni dengan lembut, sambil sesekali mengecup kening nya. Darma sengaja melakukan hal itu, agar Yuni percaya dengan semua ucapan nya.
Dan ternyata, usaha Darma pun membuahkan hasil. Yuni langsung luluh dan percaya begitu saja dengan kebohongan Darma. Dia sama sekali tidak menaruh curiga sedikit pun, kepada lelaki pujaan nya tersebut.
Dengan memasang wajah geram dan mengepalkan tangan nya, Yuni pun mulai mengolok-olok Ayu di depan Darma.
"Cih, dasar perempuan gak tau malu! Masa sampe segitu nya minta di layani? Pake ngemis-ngemis segala lagi, bikin malu aja." umpat Yuni kesal.
Darma hanya diam, sambil terus menghisap rokok nya. Dia sama sekali tidak berniat untuk membalas umpatan Yuni.
Karena tidak ada respon dari Darma, Yuni pun semakin menjadi-jadi dengan ucapan nya. Dia sengaja menjelek-jelekkan Ayu, agar Darma semakin membenci istri nya tersebut.
"Perempuan tukang selingkuh kayak dia itu, cocok nya di buang ke laut aja, biar di makan hiu sekalian." ujar Yuni.
"Lagian Yuni heran lihat abang, kenapa sih abang masih mau melayani dia? Apa abang gak jijik ya, make barang yang udah di pake banyak orang?" lanjut Yuni semakin menyudutkan Ayu.
Darma tetap bungkam, dia tidak ingin meladeni ocehan Yuni yang semakin lama semakin ngelantur menurut nya.
"Udah ah, gak usah bahas-bahas dia lagi. Bikin pusing kepala abang aja. Dari pada ngomongin hal yang gak penting, mendingan kita ehem-ehem aja yok!" ujar Darma sambil mengerlingkan mata nya.
"Yok," balas Yuni dengan wajah berbinar cerah, dan senyum yang mengembang lebar.
Tanpa pikir panjang lagi, Darma pun langsung mengangkat tubuh Yuni ala bridal style ke dalam kamar, lalu membaringkan nya secara perlahan ke atas kasur.
Setelah mengunci pintu, Darma pun mulai mempereteli seluruh pakaian yang melekat di tubuh nya dan juga tubuh Yuni. Setelah mereka berdua sama-sama polos, Darma pun mulai melancarkan aksinya.
Dia mencium bibir dan leher Yuni dengan rakus dan nafas yang mulai memburu. Setelah merasa puas, Darma pun melanjutkan aksinya ke dua benda kenyal milik Yuni.
Darma memberikan sentuhan-sentuhan nakal nya dengan lembut dan mesra, hingga membuat Yuni semakin gelisah dan menggeliat-geliat tidak karuan.
Sesudah itu, Darma pun mulai mengarahkan ujung tongkat nya ke depan gua milik Yuni. Sebelum memasukkan tongkat sakti nya, Darma pun memandangi wajah Yuni lalu bertanya...
"Udah siap, sayang?" tanya Darma dengan suara serak dan mata sayu akibat terbakar gairah nya sendiri.
"Udah, lakukan lah!" jawab Yuni sambil menggigit bibir bawah nya.
Setelah mendengar jawaban Yuni, Darma pun langsung tersenyum dan mulai memasukkan tongkat keras nya ke dalam gua Yuni, hanya dengan satu kali hentakan saja.
__ADS_1
Selanjutnya, Darma pun mulai melakukan gerakan-gerakan liar nya dengan penuh semangat, dan senyuman yang tidak pernah luntur dari bibir nya.
Sedangkan Yuni, dia memejamkan mata sambil mengeluarkan suara-suara indah, yang mampu membuat orang-orang merinding bila mendengar nya.
Dengan keringat yang mulai membasahi seluruh tubuh nya, Darma terus saja memacu gerakan nya dengan kecepatan tinggi, hingga membuat Yuni semakin merem melek, karena merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa dari Darma.
Setelah hampir satu jam saling memberi dan menerima, akhirnya Darma dan Yuni pun memuncak secara bersamaan. Setelah menyemburkan benih nya ke dalam rahim Yuni, Darma pun langsung menjatuhkan tubuh di samping gadis kecil nya tersebut.
Masih dengan nafas yang naik turun tidak karuan, Darma pun mengecup kening Yuni sembari berkata...
"Makasih ya, sayang. Ini memang yang paling enak, yang pernah abang rasakan selama ini."
Ujar Darma sambil menempelkan telapak tangan nya ke milik Yuni, lalu membelai nya dengan lembut. Mendengar pujian Darma, Yuni pun langsung menoleh dan menyunggingkan senyum termanis nya kepada Darma.
"Ah, yang bener?" tanya Yuni sembari tersipu malu.
"Iya beneran, abang gak bohong." jawab Darma meyakinkan Yuni.
"Helehh, modus. Haritu kata nya sama aja rasa nya kayak punya buk Ayu. Kenapa sekarang jadi beda lagi omongan nya?" cibir Yuni.
Darma pun langsung panik dan gelagapan, karena mendapat pertanyaan seperti itu dari Yuni. Dia tidak menyangka, jika Yuni masih mengingat ucapan nya tempo hari.
Karena tidak ingin menyinggung perasaan Yuni, akhirnya Darma pun kembali berbohong, demi menyenangkan hati gadis kecil nya tersebut.
"Itu dulu, sekarang udah beda lagi. Pokoknya sekarang, cuma ini yang paling enak rasa nya." ujar Darma dengan senyum menyeringai, dan kembali membelai barang kesayangan nya tersebut.
Wajah Yuni pun langsung memerah seperti tomat busuk, karena mendengar penuturan Darma yang sedari tadi terus menerus memuji nya. Dia merasa semakin bangga atas dirinya sendiri, karena sudah di nomor satukan oleh Darma.
Melihat wajah Yuni yang malu-malu kucing, Darma pun semakin mengeluarkan jurus-jurus andalan nya. Dia terus saja menggoda Yuni, dengan kata-kata yang bisa membuat gadis itu melayang-layang dan senyum-senyum sendiri.
"Percaya lah, sayang. Cuma ini yang paling nikmat rasa nya. Kalau di bandingkan dengan punya Ayu, ya udah pasti kalah jauh lah. Abang jadi makin cinta deh sama mu." gombal Darma sambil mencium pipi Yuni.
Yuni yang sudah termakan oleh rayuan maut Darma pun langsung tersenyum sumringah. Dia merasa sangat bahagia, karena gombalan receh Darma.
"Abang istirahat dulu ya, sayang. Badan abang capek banget nih." ujar Darma.
"Ya, istirahat lah! Aku mau mandi dulu." balas Yuni, lalu beranjak dari kasur dan melangkah keluar dari kamar.
Melihat kepergian Yuni, Darma pun mulai membetulkan posisi tidur nya. Dia memiringkan tubuh nya menghadap tembok, lalu memeluk guling lepes milik Yuni.
__ADS_1
Setelah itu, Darma pun mulai memejamkan mata dan tertidur pulas, hanya dengan menggunakan celana pendek saja.