
Setelah beberapa saat merenungi kesalahan yang sudah ku perbuat, aku pun mulai beranjak dari ranjang, dan melangkah keluar menuju warung yang hanya berjarak tiga rumah dari rumah kami.
Sampai di warung, aku membeli bahan-bahan makanan yang akan aku olah untuk makan malam. Selesai belanja, aku pun kembali melangkah menuju rumah, dan mulai berkutat dengan alat-alat dapur.
Saat sedang asyik memasak, tiba-tiba bang Darma mengagetkan ku dari belakang. Dia muncul secara tiba-tiba dengan wajah bantal, dan handuk yang melilit di pinggang nya.
"Masak apa, dek? Wangi banget aroma nya." tanya bang Darma.
"Masak sayur sama goreng ikan asin." jawab ku.
"Ooohhh, sayur apaan tuh?" tanya bang Darma lagi, sambil melihat ke arah wajan yang berada di atas kompor.
"Tingkringan bancet." jawab ku tanpa menoleh pada nya.
"Hah, sayur apaan tuh? Aneh bener nama nya." tanya bang Darma dengan mata terbelalak.
"Sayur genjer, loooh. Masa gitu aja gak tau sih, ndeso banget." jawab ku kesal.
"Ooohhh, genjer toh. Kirain apaan, hahaha." gelak bang Darma sembari menggaruk-garuk kepala nya.
Aku hanya geleng-geleng kepala menanggapi ucapan bang Darma, sambil terus mengaduk-aduk sayur yang sedang aku masak tersebut.
Sedangkan bang Darma, dia melanjutkan langkah nya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian, tumis genjer dan ikan asin goreng ala Ayu pun siap di hidangkan.
Setelah menyimpan semua makanan itu ke dalam lemari makan, aku pun segera mencuci alat-alat perang yang sudah aku gunakan tadi, dan merapikan nya di atas rak piring.
Setelah semua nya bersih seperti semula, aku berjalan ke ruang tamu dan duduk selonjoran di sofa panjang. Baru saja mendudukkan diri, tiba-tiba bang Darma pun kembali muncul dengan wajah segar, dan rambut yang basah.
"Mau makan di sini, atau makan di rumah benalu mu, bang?" tanya ku.
"Di sini aja lah, abang lagi malas ke sana. Lagian mereka juga jarang masak."
Jawab bang Darma lalu melangkah masuk ke dalam kamar, dan memakai pakaian nya kembali. Setelah penampilan nya rapi dan wangi, dia pun keluar dari kamar dan duduk di depan ku sambil mengotak-atik ponsel nya.
Baru saja hendak menyalakan rokok, tiba-tiba ponsel yang di pegang nya itu pun berdering nyaring.
Kring kring kring...
Bukan nya langsung menerima panggilan di ponsel nya, bang Darma malah melirik ku dengan wajah yang tampak sedikit gugup.
"Kok gak di angkat? Emang siapa yang ngubungi?" tanya ku dengan kening mengkerut.
"Di-Dina," jawab bang Darma mulai gelisah.
"Ooohhh, si wewe gombel rupanya. Ya angkat lah! Kenapa cuma di lihatin aja? Takut ya?" selidik ku.
"Gak lah, siapa juga yang takut. Abang cuma gak enak aja sama mu, takut kau tersinggung." jawab bang Darma.
Mendengar jawaban yang tidak masuk akal dari bibir bang Darma, tawa ku pun langsung pecah seketika. Aku tertawa terbahak-bahak, lalu kembali membalas ucapan nya.
"Hahahaha, Darma... Darma... Sejak kapan kau memikirkan perasaan ku, hah? Gak usah sok-sokan baik lah di depan ku. Karena sampe kapan pun, aku gak akan percaya lagi dengan mulut berbisa mu itu, paham!" cibir ku.
__ADS_1
Bang Darma menghela nafas panjang, setelah mendengar penuturan ku. Dia menyandarkan punggung nya di bahu sofa, lalu meletakkan ponsel yang sedang berdering itu di atas meja.
Bang Darma tampak tidak berminat, untuk menerima panggilan dari mantan istri nya tersebut. Dia mendongak ke atas, lalu mulai memejamkan mata nya.
"Kenapa sih, kau gak lagi pernah percaya sama abang? Padahal abang memang bener-bener ingin menjaga perasaan mu, agar kau tidak tersinggung karena mendengar percakapan kami." tutur bang Darma, lalu membuka mata nya dan menatap wajah ku.
Hati ku langsung terenyuh, saat mendengar kata demi kata yang di ucapkan oleh suami ku itu. Raut wajah nya tampak sendu, seakan-akan sedang menyesali perbuatan yang sudah di lakukan nya selama ini.
Setelah membuang nafas kasar, aku pun membalas tatapan mata nya, lalu berkata...
"Gimana aku mau percaya, setelah apa yang sudah kau perbuat selama ini dengan mereka?" tanya ku.
"Bahkan aku juga sudah beberapa kali, memergoki perbuatan gila mu itu dengan Yuni. Asal kau tau ya suamiku sayang, siapa pun orang nya, pasti tidak akan bisa memaafkan semua perbuatan mu itu, ngerti!" lanjut ku dengan penuh penekanan.
Bang Darma kembali menghela nafas, lalu mulai menyalakan rokok nya. Pandangan nya pun kembali menerawang menatap langit-langit ruang tamu, sambil terus menghisap rokok yang ada di tangan nya.
"Seandainya kau yang melihat ku di atas ranjang dengan lelaki lain, apakah kau bisa memaafkan kesalahan ku itu?" tanya ku.
Mendengar pertanyaan ku yang cukup aneh, bang Darma pun langsung menoleh dan menatap tajam pada ku. Wajah nya tampak sangat geram, dengan rahang yang mengeras dan genggaman tangan yang tampak erat, seolah-olah ingin meninju seseorang.
"Coba aja kalau kau berani. Tapi jangan salah aku ya, kalau sampai kepergok oleh mata ku, maka aku tidak akan segan-segan untuk mematahkan batang leher kalian berdua, ingat itu baik-baik!" ancam bang Darma tegas.
Aku langsung bergidik ngeri mendengar ancaman suamiku itu. Dia seperti nya tampak serius dengan ucapan nya barusan.
"Dasar, laki-laki egois! Kau sendiri aja gak terima, kalau aku berbuat seperti yang kau lakukan." ujar ku.
"Coba deh kau bayangkan, gimana perasaan mu kalau kau yang ada di posisi ku waktu itu? Apa kau sanggup menyaksikan tubuh ku ini, di jamah oleh laki-laki lain?" lanjut ku panjang lebar.
"Naaah, tu tau. Trus, gimana pula dengan ku? Apa waktu itu kau ada memikirkan perasaan ku, enggak kan?" tanya ku sembari tersenyum miring.
Bang Darma langsung bungkam seketika. Dia terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan ku itu. Karena tidak ingin memperpanjang perdebatan, akhirnya bang Darma pun mengalihkan pembicaraan.
"Makan yok, dek! Perut abang udah nyanyi-nyanyi nih, minta di isi kata nya." ujar bang Darma sambil memegangi perut nya.
"Halah, alasan. Bilang aja mau ngelak, ya kan?" sindir ku.
"Hehehehe, tau aja." balas bang Darma cengar-cengir salah tingkah.
Aku hanya tersenyum miring, lalu kembali menggeleng-gelengkan kepala menanggapi gelagat aneh nya tersebut.
"Cepat lah, bawa sini makanan nya! Abang udah lapar banget nih." titah bang Darma.
"Iya iya, cerewet kali sih. Dasar, lambe bosok!" umpat ku sembari beranjak dari sofa, lalu berjalan menuju dapur.
"Hah, apaa tuh lambe bosok?" tanya bang Darma sembari menautkan kedua alisnya.
Aku langsung menghentikan langkahku, saat mendengar pertanyaan bang Darma, lalu menoleh pada nya sambil menjawab...
"Lambe bosok itu artinya gak sabaran. Masa gitu aja gak ngerti?" bohong ku dengan wajah serius.
Setelah mendengar jawaban ku, bang Darma pun langsung percaya begitu saja.
__ADS_1
"Oooohhh, kirain... Lagian bahasa mu aneh-aneh aja sih. Bikin pusing aja ngartikan nya." gerutu bang Darma sambil menggaruk-garuk kepala nya.
Aku kembali melanjutkan langkah ku, lalu menghidangkan makanan yang sudah ku masak tadi, di atas meja ruang tamu.
Setelah semua nya tertata rapi, aku dan bang Darma pun mulai menyantap makanan itu dengan santai dan tenang, tanpa pembicaraan apa pun lagi.
Selesai makan, aku menyimpan makanan itu kembali ke dalam lemari makan, lalu membereskan piring-piring kotor itu ke dapur.
Setelah selesai, aku kembali duduk di atas sofa lalu menyalakan rokok. Begitu juga dengan bang Darma, dia juga duduk santai sambil menyalakan rokok nya.
Sedang asyik menikmati rokok masing-masing, tiba-tiba ponsel bang Darma pun kembali berdering.
Kring kring kring... Kring kring kring...
Aku langsung reflek menoleh pada bang Darma, dan kembali bertanya pada nya.
"Siapa lagi tuh?" tanya ku penasaran.
"Dia lagi." jawab bang Darma, ketika melihat nama Dina yang tertera di layar ponsel nya tersebut.
"Angkat aja lah, siapa tau dia butuh belaian mu!" ujar ku dengan santai, lalu kembali mengisap rokok.
"Malas ah, biarin aja." balas bang Darma.
Kemudian dia pun menonaktifkan ponsel nya, dan meletakkan nya kembali ke atas meja.
"Helehh, gaya mu. Di depan ku pura-pura cuek, nanti di belakang ku langsung nyosor kayak bebek." ledek ku sembari memiringkan bibir ku ke samping.
"Gak lah, aku memang lagi malas berhubungan sama mereka. Bikin pening otak ku aja." balas bang Darma.
"Yakin? Nanti nyesel loh, gak bisa pake lubang rapat lagi." sindir ku.
"Mana pulak rapat, sama aja kok rasa nya kayak punya mu. Malah lebih enak punya mu, dari pada punya mereka berdua." jelas bang Darma.
Tawa ku kembali meledak, saat mendengar penuturan bang Darma yang sangat di luar nalar menurut ku.
"Gak usah mengada-ngada deh. Mana mungkin anak gadis sama janda tiga kali, bisa sama rasa nya. Aneh-aneh aja, gak logika nama nya tuh." oceh ku.
"Beneran, abang gak bohong. Kalau gak percaya, ya kau coba aja sendiri sana." balas bang Darma.
"Gila kau ya? Kau pikir aku perempuan apaan, hah? Kalo ngomong itu di pikir dulu, jangan asal njeplak aja muncung mu itu." umpat ku dengan nada yang cukup tinggi.
Aku memasang wajah masam, lalu melipat kedua tangan di atas perut. Melihat reaksi ku seperti itu, bang Darma pun hanya tersenyum dan kembali membuka suara nya.
"Ya kan maksud nya biar kau percaya sih. Kalau gak mau, ya gak papa. Gak di paksa juga kok, hihihi." tutur bang Darma sembari cekikikan.
"Dasar, gila! Kau dengan mereka sama aja, sama-sama gila." umpat ku kesal.
Bukan marah dengan umpatan ku, bang Darma malah tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perut nya.
"Hahahaha," gelak bang Darma.
__ADS_1