SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Nenek Sihir


__ADS_3

Dengan hati yang dag-dig-dug tidak karuan, Darma pun mendudukkan diri di pinggir ranjang dengan kepala menunduk ke bawah.


Ia tidak mempunyai keberanian untuk menatap wajah horor Ayu, yang sudah mirip seperti zombie penghisap darah.


"Woy, setan! Mana uang ku? Sini cepat!" bentak Ayu sembari menadahkan tangan nya kembali ke depan wajah Darma.


"Ga-gak ada, dek. A-abang gak ada ngambil uang mu," bantah Darma sedikit gugup.


"Gak usah bohong. Kalau uang ku hilang, siapa lagi yang nyolong kalau bukan kau, hah?" omel Ayu dengan nada tinggi.


Aku berkacak pinggang dan membelalakkan mata nya lebar-lebar. Ia tampak sangat emosi dan murka atas perbuatan suami nya.


Sedangkan Darma, ia tetap menunduk dan memilin-milin ujung baju nya. Ia terlihat gelisah dan kebingungan, untuk menghadapi singa beranak yang sedang mengamuk di depan nya.


"Duuuh, gimana ini? Apa sebaiknya aku kembalikan aja ya uang nya? Biar gak kena semprot terus sama nenek sihir satu ini," gerutu Darma dalam hati.


"Ah, balek kan aja lah. Biar gak bunyi terus radio rusak nya," lanjut Darma.


Ia terus mengumpat Ayu dalam hati, dan mengatakan kalau mulut Ayu seperti radio rusak.


Setelah beberapa saat berpikir keras, Darma pun akhirnya pasrah dan mengeluarkan dompet dari saku celana nya. Dengan wajah cemberut dan bibir mengerucut, Darma pun menarik uang dari dalam dompet nya dan menyerahkan nya ke tangan Ayu.


"Nah, ini uang mu! Baru terpakai seratus ribu saja. Itu pun buat makan kita di luar kemaren sore," jelas Darma, lalu menyimpan dompet kosong nya kembali ke dalam saku celana nya.


"Sama suami sendiri pun pelit nya nauzubillah," gerutu Darma pelan, tapi masih bisa terdengar oleh telinga lancip Ayu.


"Heh heh heh, gak usah pake acara ngedumel segala. Kalau butuh duit itu ya minta, bukan nyolong. Udah kayak tuyul aja lama-lama ku tengok, nyolongin duit terus kerjaan nya," omel Ayu ketus.


Setelah mengata-ngatai Darma, Ayu pun mengambil uang itu dan menyimpan nya kembali ke dalam dompet kulit nya.


Darma tidak menjawab perkataan istri nya, karena dia sadar kalau perbuatan nya memang salah. Ia tetap membisu lalu bangkit dari duduk nya.

__ADS_1


Darma melangkah keluar dengan langkah gontai. Ia melewati Ayu begitu saja tanpa berkata apapun lagi, dan merebahkan tubuh nya di atas sofa panjang.


Melihat tingkah suami nya yang sedang merajuk, Ayu pun hanya cuek dan berjalan keluar menuju warung sembako, yang berjarak hanya empat rumah dari kediaman nya.


Selesai membeli bahan pangan, Ayu kembali ke rumah dan langsung memasak makanan di dapur. Ia sama sekali tidak menghiraukan Darma yang masih tampak anteng dan diam di atas sofa.


Tak butuh waktu lama, Ayu pun sudah menyelesaikan pekerjaan nya. Sambal teri dan kacang tanah, gulai daun ubi tumbuk, dan ikan asin goreng pun sudah siap untuk disajikan.


Selesai mencuci piring dan membersihkan dapur, Ayu pun melangkah ke ruang tamu dan duduk kelesotan di atas lantai. Melihat kedatangan Ayu, Darma pun menoleh lalu bertanya...


"Udah selesai masak nya, dek?" tanya Darma lalu bangkit dari baring nya, dan duduk menyandar di bahu sofa.


"Udah, emang kenapa? Mau makan sekarang ya?" tanya Ayu balik.


"Iya," jawab Darma.


"Ya udah tunggu bentar! Aku siapin dulu makanan nya," ujar Ayu.


"Wiiihhh, mantap betul masakan mu, dek. Bikin abang pengen nambah terus di buat nya," puji Darma lalu menambah kan lauk dan sayur ke dalam piring nya.


"Halah, lebay. Kayak baru pertama kali aja makan yang beginian," cibir Ayu sembari mengunyah makanan nya.


"Bukan lebay, tapi emang kenyataan nya gitu. Abang paling seneng kalau lauk nya seperti ini, jos tenan lah pokoke," oceh Darma sembari tersenyum lebar, lalu memasukkan makanan itu ke dalam mulut nya.


Melihat reaksi Darma yang tampak senang dengan masakan nya, Ayu pun hanya tersenyum tipis dan melanjutkan makan nya. Beberapa menit kemudian, acara makan bersama pun selesai.


"Eegghh, alhamdulillah." Darma bersendawa dan duduk selonjoran di lantai, dengan perut yang tampak sedikit buncit akibat kekenyangan.


Sedangkan Ayu, ia membereskan sisa makanan dan piring-piring kotor itu ke dapur lalu mencuci nya. Setelah selesai, ia pun kembali ke ruang tamu dan duduk menyandar di bahu sofa.


"Dek, pinjam motor mu bentar! Abang mau nawarin rumah ini ke teman-teman abang. Siapa tau aja di antara mereka ada yang minat membeli rumah ini," ujar Darma.

__ADS_1


Tanpa rasa curiga atau pun berprasangka buruk, Ayu pun langsung mempercayai perkataan Darma, dan mengambil kunci motor nya yang tergantung di dinding kamar.


"Nah, ini kunci nya. Tapi ingat, jangan macam-macam dengan motor ku. Kalau tidak, kau tau sendiri akibat nya," ancam Ayu dengan wajah serius, lalu menyerahkan kunci motor itu ke tangan Darma.


Mendengar peringatan keras dari Ayu, Darma pun langsung mengangguk dan berusaha meyakinkan Ayu, kalau dia tidak akan berbuat yang tidak-tidak dengan motor istri nya tersebut.


"Iya iya, abang juga tau kok. Lagian gak mungkin lah abang macem-macem sama motor mu. Tenang aja ya sayang, abang gak bakalan sekejam itu kok." Darma berucap sembari menyunggingkan senyum termanis nya kepada Ayu.


Melihat senyuman aneh suaminya, Ayu pun memutar bola mata malas dan kembali duduk di tempat semula.


"Oke, aku akan pegang omongan mu itu," ujar Ayu.


"Oke, sayang. Ya udah, abang berangkat dulu ya, assalamualaikum," pamit Darma.


Lalu ia pun mengecup pipi Ayu, dan melangkah ke arah pintu utama. Setelah itu, Darma pun bergegas naik ke atas motor, dan mengendarai nya menuju rumah teman-teman nya.


Setelah kepergian Darma, Ayu pun masuk ke dalam kamar dan mengotak-atik ponsel nya, sambil rebahan di atas ranjang.


Sedang asyik-asyiknya bermedia sosial, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu beberapa kali.


Tok tok tok...Tok tok tok...


"Ck, siapa sih? Ganggu kesenangan orang aja," gerutu Ayu, lalu keluar dari kamar dengan langkah cepat.


Saat pintu terbuka lebar, mata Ayu langsung mendelik ketika melihat Yuni yang sedang berdiri tegak di hadapan nya.



"Mau ngapain lagi kau kesini bocah gatal?" tanya Ayu ketus.


"Heh, perempuan gila! Jangan asal njeplak aja muncung mu itu kalo ngomong ya. Yang gatal itu sebenarnya aku atau kau?" oceh Yuni lantang.

__ADS_1


__ADS_2