SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Kayu atau Besi


__ADS_3

"Apa mau minta lagi ya, say?" tanya bang Agus, dengan senyum yang menyeringai mendekati ku.


"Iiihhh, apa an sih, bang!" ucap ku manja.


Aku mendorong pelan tubuh bang Agus, yang sudah hampir menempel dengan tubuh ku. Aku jadi tersipu malu dengan sikap nya, yang selalu menggoda seperti itu.


"Kalau masih mau lagi, bilang aja sama abang, say! Biar abang layani lagi, sampai dirimu lempoh." canda bang Agus.


"Hahaha, ada-ada aja. Sampai aku lempoh, saking enak nya ya, bang?" tanya ku.


"Nah, tu tau. Biar abang buat dirimu, sampai terbayang-bayang dan ingat terus, dengan permainan abang itu!" jawab bang Agus.


"Tunggu lah satu jam lagi, bang! Baru kita mulai lagi permainan nya, sampe malam. Bahkan, sampe besok pun gak papa." pinta ku.


"Seriusan, say?"


"Serius abang ku, sayaang!" jawab ku.


"Aduh, say! Baru ngomong gini aja, dedek nya udah bangun gini. Gimana ini, say?"


Bang Agus bertanya, sambil menunjuk ke arah bawah perut nya, yang sudah menonjol sempurna di balik handuk.


Aku yang melihat itu pun, langsung membelalakkan mata, dan menelan ludah dengan kasar.


"Ya ampun, bang! Masa ngomong gitu aja, kok udah bangun lagi sih itu?" tanya ku pura-pura polos.


"Itu tanda nya masih normal, say. Kalau dia gak bisa bangun-bangun lagi, itu baru nama nya bahaya, sayang ku. Paham kan, maksud abang!" jelas bang Agus.


"Iya, bang. Aku paham kok, tadi tu cuma pura-pura lugu aja, hahaha!" balas ku.


Mendengar ledekan ku, bang Agus langsung menyerang ku. Hingga aku terjelembab, dan jatuh telentang di atas ranjang.


Sedangkan bang Agus, dia menindih tubuh ku, dan menyibakkan rambut yang sebagian menutupi wajah ku. Aku memejamkan mata, aku malu menatap wajah bang Agus, yang begitu dekat dengan wajah ku.


"Abang sangat mencintaimu, say. Abang udah gak sabar lagi, ingin menikahi mu, Ayu lestari!" ucap bang Agus.


Aku langsung membuka mata, dan menatap mata bang Agus dengan serius. Aku melihat ada nya ketulusan dan kejujuran, dari bola mata nya tersebut.


"Kalau kita memang berjodoh, kita pasti akan bersatu, bang. Kalau kita tidak berjodoh, mau bagaimana pun usaha kita untuk bersatu. Tetap gak akan bisa, bang!" balas ku.


Aku berucap, sambil mengelus lembut pipi bang Agus, yang ada di hadapanku itu. Bang Agus langsung bangun dari atas tubuh ku, dan membaringkan diri nya di samping ku. Dia menatap langit-langit kamar hotel itu, dengan pandangan kosong.


Aku tahu, dia pasti sangat kecewa dengan jawaban ku tadi. Tapi ya, mau bagaimana lagi. Aku juga tidak bisa menjanjikan apa pun, pada nya.

__ADS_1


Karena aku takut, akan mematahkan hati nya, Kalau suatu saat nanti, aku tidak bisa menepati janji ku itu.


Untuk mengalihkan perhatian bang Agus, aku pun berpura-pura lapar, dan meminta nya untuk mencari makanan di luar.


"Bang, perut ku udah nyanyi-nyanyi nih di dalam!" ucap ku.


Bang Agus yang tadi nya sedang melamun, langsung mendudukkan dirinya di samping ku. Dia menatap wajah ku sambil bertanya...


"Mau makan apa, say? Makan nasi, cemilan, atau yang lain nya?" tanya bang Agus.


"Makan nasi nya nanti aja, bang! Kalau sekarang, kita makan cemilan aja dulu." jawab ku.


"Emang nya mau cemilan apa, sayang? Daging mentah mau gak, say?"


Bang Agus bertanya, sambil kembali menunjuk ke arah bawah perut nya. Yang masih terlihat tegak lurus, bak tiang bendera.


"Itu kayu atau besi, bang? Dari tadi kok gitu terus, hihihi?" tanya ku iseng.


Aku terkikik geli, melihat pemandangan yang sangat menggiurkan, di hadapan ku itu. Bang Agus langsung terkekeh, mendengar ocehan ku tersebut.


"Hahaha, jangan ngomong gitu lah, say! Ini kan mainan kesayangan mu, masa di ledekin gitu, sih." jawab bang Agus.


"Iya iya, itu memang mainan yang paling aku sayang. Bukan itu nya aja, tapi termasuk orang nya juga." balas ku.


Aku mengusap-usap perut rata ku itu, sambil tersenyum pada bang Agus. Setelah melihat tingkah ku itu, bang Agus pun mulai memakai pakaian nya kembali.


"Mau cemilan apa, say?" tanya bang Agus sambil memakai sepatu dan helm nya.


"Hmmm, enak nya apa ya, bang?" tanya ku balik.


"Lah, kok malah balik nanya." jawab bang Agus bingung.


"Beli gorengan aja, bang! Enak kayak nya, tuh." balas ku.


"Trus, apa lagi?" tanya bang Agus lagi.


"Rokok putih sebungkus, sama jus wortel juga ya, bang!" pinta ku.


"Rokok?" tanya bang Agus semakin bingung.


Bang Agus langsung terkejut, dengan kening yang mengkerut, setelah mendengar kata rokok dari bibir ku.


"Iya, bang. Udah, jangan banyak tanya lagi! Nanti aja aku jelasin nya, sekarang abang cari aja dulu, apa yang ku minta tadi!" perintah ku.

__ADS_1


"Oke, say."


Bang Agus pun mulai melangkah kan kaki nya keluar dari kamar, dan menutup pintu itu kembali dari luar.


Setelah kepergian bang Agus, aku kembali merebahkan diri di atas ranjang. Aku menerawang dan merenung, sambil menatap langit-langit kamar tersebut.


Ya, aku memang perokok berat dulu nya, sewaktu masih bekerja di tempat karaoke. Bahkan, aku bisa menghabiskan dua sampai tiga bungkus rokok, setiap hari nya.


Tapi, setelah menikah dengan bang Darma, kebiasaan buruk itu lama-kelamaan mulai memudar. Aku hanya akan merokok, di waktu-waktu tertentu saja. Seperti sedang stres berat, atau pun sedang banyak masalah.


Beberapa saat kemudian, bang Agus pun tiba. Dia melangkah masuk sambil menenteng beberapa bungkusan di tangan nya. Setelah mengunci pintu, bang Agus meletakkan semua bungkusan itu di atas meja.


"Ini gorengan, jus, dan rokok nya, say. Makan gorengan nya yang banyak ya, say! Biar tambah tenaga nya, untuk ehem-ehem nanti." goda bang Agus.


"Emang nya, kalau makan gorengan yang banyak, bisa bikin kuat begituan ya, bang?" tanya ku.


"Ya, gak juga sih, say. Hehehe." jawab bang Agus sambil mengusap-usap leher nya, salah tingkah.


"Hmmm, tuh kan. Ngibul aja kerajaan nya, botak ku ini!" canda ku.


"Hahaha," bang Agus tertawa lepas.


"Duduk sini, say!" panggil bang Agus.


Bang Agus menunjuk ke arah kursi yang ada di hadapannya. Dia menyuruh ku untuk duduk di kursi itu, dan memakan gorengan bersama nya. Aku pun langsung beranjak dari ranjang, dan mendudukkan tubuh ku di hadapan bang Agus.


Setelah memakan beberapa gorengan, aku pun menyeruput jus wortel hingga habis setengah cup.


"Eeggh, alhamdulillah kenyang!" ucap ku.


Aku bersendawa di depan bang Agus. Dia langsung membulat kan mata nya, melihat kelakuan ku itu.


"Ups, maaf. Gak sengaja, bang. Aku khilaf tadi, hehehe." balas ku cengar-cengir.


"Ya, gak papa, say." jawab bang Agus.


Setelah itu, aku mengambil rokok dan menyalakan nya. Aku menghisap rokok itu secara perlahan, dan menghembuskan asap nya secara kasar.


Bang Agus langsung terpaku di tempat duduk nya, melihat tingkah ku tersebut. Dia menatap ku, dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Aku tahu, maksud dari tatapan mata nya itu. Tapi, aku memilih untuk tetap acuh, sampai dia bertanya sendiri pada ku.


"Sejak kapan kenal dengan rokok, say?" tanya bang Agus.


"Udah lama, bang. Sejak bekerja di tempat karaoke, beberapa tahun yang lalu." jawab ku jujur.

__ADS_1


__ADS_2