
"Halah, modus." balas ku ketus.
Aku segera bangkit dari ranjang dan duduk di tepi nya, lalu menyalakan rokok kembali. Bang Darma hanya memperhatikan ku dari belakang.
Dia menyandarkan punggung nya ke dinding, dan duduk selonjoran di atas ranjang, sambil memeluk guling di dada nya.
"Buka kalian saja yang punya rencana, bang. Aku juga punya, dan itu sudah aku pikir kan sebelum masuk lagi ke rumah ini." batin ku sambil tersenyum miring.
"Kau pandai bersandiwara di depan ku, bang. Oke, aku akan ikuti alur cerita mu. Hingga aku mendapat apa yang aku mau, baru aku akan benar-benar pergi dari rumah ini."
Aku membatin, sambil terus menghisap rokok yang ada di tangan ku.
"Ah, dari pada meladeni orang sedeng di belakang ku ini. Mendingan aku buka kios aja lah. Mana tau ada orang yang datang bayar hutang, atau membeli barang dagangan ku." batin ku.
Setelah mematikan api rokok, aku bergegas keluar dari kamar dan berjalan dengan langkah cepat menuju kios.
"Mau kemana, dek?" tanya bang Darma.
"Buka kios." balas ku ketus tanpa menoleh sedikit pun pada bang Darma.
Selesai membuka kios, aku mulai merapikan barang-barang dagangan ku. Kemudian, membersihkan debu-debu yang menempel di sandal, sepatu, dan tas dengan kemoceng.
Sedang asyik berkutat di dalam kios, tiba-tiba mbak Tuti lewat dan datang menghampiri ku.
"Eh, udah buka lagi kios nya ya, mbak Ayu. Kemana aja beberapa hari ini? Kok jarang kelihatan ya?" tanya mbak Tuti si tetangga kepo.
"Biasa lah, mbak Tuti. Aku lagi ada bisnis di luar, jadi jarang ada di rumah. Mbak Tuti sendiri, ada perlu apa datang ke sini?" tanya ku tanpa basa-basi.
"Oh gitu toh, kirain kemana. Hmmmm, gini loh mbak Ayu, aku mau pinjam uang lima ratus ribu. Kira-kira bisa gak, mbak?" tanya mbak Tuti dengan nada ragu.
Aku menghembuskan nafas kasar, sambil terus melanjutkan kegiatan ku membersihkan barang-barang.
"Maaf ya, mbak. Mulai sekarang, aku gak bisa ngasih hutang lagi sama siapa pun, termasuk mbak Tuti." jawab ku tanpa menoleh sedikit pun pada lawan bicara ku itu.
"Loh, emang nya kenapa, mbak? Kok gak boleh ngutang lagi?" tanya mbak Tuti heran.
"Iya, aku mau ngumpulin uang buat pergi jalan-jalan ke luar negeri." jawab ku asal.
__ADS_1
"Waah, mantap tu, mbak. Mau jalan-jalan kemana sih, aku boleh ikut gak?" tanya mbak Tuti lagi.
Aku langsung menghentikan kegiatan ku, dan menoleh kepada mbak Tuti. Dia menatap ku dengan senyum yang sumringah, dan wajah yang berbinar-binar.
"Mau jalan-jalan ke Singapore, mbak. Ini aku lagi ngurus paspor buat berangkat." bohong ku.
Aku tahu kalau mbak Tuti ini masih menjadi mata-mata nya Dina. Maka dari itu, aku sengaja menyebarkan berita hoax kepada nya. Agar dia mengadukan semua ucapan ku ini kepada Dina dan Yuni.
Aku sudah bisa bayangkan, bagaimana reaksi kedua benalu itu, kalau mereka tahu aku akan pergi jalan-jalan ke luar negeri. Mereka berdua pasti akan mencak-mencak seperti cacing kepanasan, karena mendengar kebohongan ku itu.
"Kalau mbak Tuti mau ikut, mbak harus siap kan uang dua puluh juta. Trus, mbak juga harus ngurus paspor. Gimana, bisa gak?" tanya ku dengan wajah serius.
"Hah, kok banyak banget, mbak? Aku dapat kan dari mana uang sebanyak itu?" jawab mbak Tuti.
"Ya memang harus segitu, mbak. Kita kan mau shoping-shoping juga di sana. Kan gak mungkin, kita gak beli apa-apa sepulang dari luar negeri." jelas ku panjang lebar.
Aku tersenyum geli melihat ekspresi wajah mbak Tuti, yang tampak terkejut dan kebingungan mendengar celotehan ku.
"Kalau lima juta aja gak cukup ya, mbak Ayu?" tanya mbak Tuti.
"Emang nya mbak Tuti mau, nginap di kolong jembatan, hihihi?" jawab ku.
Aku terkikik geli, mendengar kebohongan ku sendiri. Sedangkan mbak Tuti, dia tampak sangat serius menanggapi celotehan ku itu.
"Oh gitu ya, mbak. Oke lah, aku ngomong sama suami ku dulu ya, mbak. Kalo nanti suami ku setuju, aku akan kabari mbak Ayu secepatnya." jawab mbak Tuti penuh semangat.
"Oke, mbak." jawab ku.
"Ya udah deh, mbak. Aku pulang dulu ya, bye!" pamit mbak Tuti.
"Iya, mbak. Selamat berjuang ya, semoga berhasil!"
Aku menjawab sambil mengacungkan jempol pada nya. Mbak Tuti mengangguk dan tersenyum menanggapi ucapan ku.
Setelah kepergian mbak Tuti, aku pun kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda, akibat ngerumpi dengan si tetangga kepo ku itu.
Di saat sedang fokus-fokus nya mengerjakan tugas, sayup-sayup ku dengar suara mbak Tuti yang sedang berbisik-bisik di ponsel nya. Dengan langkah pelan dan mengendap-endap seperti maling, aku pun langsung menempel kan telinga di tembok.
__ADS_1
Aku mulai menajamkan pendengaran, untuk menguping pembicaraan mbak Tuti dengan seseorang di ponsel nya.
"Dina, aku ada berita terbaru loh tentang si Ayu, mau dengar gak?" bisik mbak Tuti kepada orang yang bernama Dina.
"Berita apa an, cepat katakan?" balas Dina.
Mbak Tuti mengaktifkan pengeras suara di ponsel nya, sehingga membuat suara Dina samar-samar bisa terdengar di telinga ku.
"Si Ayu kata nya mau jalan-jalan ke Singapore loh, Din. Tadi aku singgah ke kios nya, trus aku pura-pura mau pinjam uang. Tapi dia gak ngasih, kata nya mau ngumpulin uang buat jalan-jalan." jelas mbak Tuti.
"Loh, emang nya dia udah pulang ke rumah itu lagi, ya?" tanya Dina dengan nada terkejut.
"Iya, dia udah balik ke rumah bapak nya Yuni." jawab mbak Tuti.
"Kurang ajar juga rupanya si Darma. Kata nya gak mau lagi balikan sama perempuan gila itu. Tapi nyata nya sekarang, mereka malah tinggal satu atap lagi." omel Dina.
"Emang nya kapan dia pulang ke rumah itu?" tanya Dina.
"Kayak nya sih tadi siang, Din." jawab mbak Tuti.
"Oh ya udah kalo gitu, makasih ya infonya. Aku mau nanya langsung aja sama si Darma. Apa maksud dia sebenarnya? Kenapa dia masih mau nerima istri nya, untuk balik ke rumah itu lagi." balas Dina.
"Oke, Din." jawab mbak Tuti menutup panggilan nya.
"Naah, bener kan dugaan ku, filing ku gak akan pernah meleset. Mbak Tuti pasti akan mengadukan omongan ku tadi, kepada sahabat karib nya itu, hihihi." gumam ku.
Aku terkikik sendiri, mendengar perbincangan mereka berdua. Setelah selesai menguping, aku kembali mengerjakan pekerjaan ku, dan tiba-tiba...
"Kenapa cekikikan sendiri, dek?"
Bang Darma berbisik di telinga ku, sambil memeluk tubuh ku dari belakang.
"Iiihhhh, lepasin! Gerah tau gak."
Aku langsung berontak dan melepaskan diri dari dekapan bang Darma. Setelah itu, aku sedikit menjauh beberapa langkah, untuk menjaga jarak dari suami gila ku itu.
"Kok malah menjauh gitu sih, dek? Sini dong, sayang!" ujar bang Darma dengan senyuman genit nya.
__ADS_1