
"Heh heh heh, kok malah pada berantem sih? Malu sama umur, udah pada tua juga," omel Ayu sembari mendudukkan diri di sebelah Darma.
"Suami mu tuh, yang cari gara-gara duluan," oceh Rudi lalu menunjuk ke arah Darma dengan dagu nya.
Mendengar perkataan Rudi yang sedang menyalahkan nya, Darma pun tak tinggal diam. Dia pun mengoceh panjang lebar seperti kereta api.
"Loh, kok malah aku pulak yang di salahkan? Kan kau sendiri tadi yang mulai duluan? Kenapa pulak aku yang kena imbas nya? Bener-bener aneh nih orang," omel Darma tidak terima.
Melihat perseteruan antara Rudi dan Darma, Ayu pun kembali bersuara untuk menengahi perdebatan mereka.
"Udah udah, berisik tau gak? Kau mau minum apa, Rud?" tanya Ayu.
"Emang ada minuman apa aja?" tanya Rudi balik.
"Air putih doang sih, hehehe," jawab Ayu sembari tersenyum lebar, hingga menampilkan deretan gigi putih nya.
"Halah, gaya mu. Cuma ada air putih doang, kok gaya-gayaan pulak nawarin mau minum apa? Basi tau gak?" cibir Rudi ketus.
"Santai lah, bro! Ngegas terus dari tadi. Lagi dapet lu ya?" gerutu Ayu.
"Ya, lagi dapet musibah, karena ketemu jangkrik satu ini," jawab Rudi asal dan kembali menunjuk Darma dengan bibir nya.
Darma yang sedari tadi diam pun kembali mengoceh, dengan mata mendelik seperti jengkol.
"Heh, hantu! Sembarangan bilangin orang jangkrik. Mau minta di kirim ke planet Mars kau ya?" omel Darma.
Visual : Rudi (si tengil)
Usia : 40 tahun
"Coba aja kalau bisa, hahahaha!" jawab Rudi sembari tertawa ngakak.
Darma memanyunkan bibir nya menanggapi ucapan sahabat resek nya. Sedangkan Ayu, ia hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah kocak kedua lelaki yang ada di dekat ku itu.
"Udah, gak usah haha-hihi terus. Kata nya tadi mau lihat-lihat rumah ini. Ayo buruan, biar aku temani!" seru Darma lalu bangkit dari duduk nya, dan berjalan menuju dapur.
"Oke," jawab Rudi lalu mengekori langkah Darma dari belakang.
__ADS_1
Melihat kedua lelaki itu pergi, Ayu pun mengikuti langkah mereka ke dapur untuk membuat kan dua gelas kopi. Selesai membuat minuman untuk Darma dan Rudi, Ayu pun kembali ke ruang tamu dan meletakkan kopi itu di atas meja.
Selesai menemani Rudi berkeliling rumah, Darma pun kembali mengajak Rudi untuk duduk di ruang tamu.
"Gimana menurut mu, cocok gak?" tanya Darma kepada Rudi, lalu mengambil kopi milik nya, dan menyeruput nya pelan-pelan.
"Cocok sih cocok, tapi harga nya di kurangin dikit dong! Masa gak bisa nego dikit pun? Pelit amat sih beruang kutub satu ini," gerutu Rudi.
Rudi juga mengambil kopi nya dan meneguk nya perlahan. Setelah meminum beberapa tegukan, ia pun meletakkan nya kembali ke atas meja.
Ayu hanya plonga-plongo mendengar percakapan antara Darma dan Rudi. Ia tidak ingin mencampuri urusan mereka berdua, dan hanya duduk manis di tempat nya.
"Nggak bisa, itu harga udah paling murah, tau gak? Kalau mau ambil, kalau nggak ya sudah. Aku bisa tawarkan pada yang lain," tutur Darma ketus, lalu mengambil rokok dan menyalakan nya.
"Iiiiissss, sadis bener sih jadi orang! Masa nawar dikit aja gak boleh? Parah banget," gerutu Rudi lagi.
"Terserah kau mau bilangin aku apa? Yang pasti nya, itu sudah harga mati dan tidak bisa di ganggu gugat lagi, titik. Gak pake koma, dan nggak ada tawar-menawar lagi!" tegas Darma.
"Ck, sombong banget sih manusia purba satu ini! Awas kau ya, kapan kau gak eek malam, gak bakalan mau aku nemani nya," ancam Rudi.
Rudi memasang wajah masam dengan bibir mengerucut. Ia tampak kesal dengan semua perkataan Darma, yang tidak mau menurunkan harga jual rumah nya. Mendengar ancaman receh sahabat nya, Darma pun langsung menjawab nya.
Ayu yang gemas melihat percekcokan mereka pun kembali mengoceh. Ia heran melihat kedua lelaki itu, yang sedari tadi tiada henti-hentinya berdebat.
"Udah ah, jangan berantem mulu! Pusing pala Barbie dengar nya," oceh Ayu sembari berpura-pura puyeng memegangi kepala nya.
Setelah mendengar ucapan Ayu, Darma dan Rudi pun akhirnya terdiam, dan saling pandang-pandangan dengan tatapan sinis. Setelah beberapa menit saling berdiam diri, Darma pun kembali bersuara.
"Jadi gimana? Deal nggak nih?" tanya Darma meminta kepastian kepada Rudi.
"Hmmmm, oke lah. Nanti sore aku transfer uang nya ke rekening mu," jawab Rudi mantap.
"Naaah, gitu kek dari tadi. Jadi kan gak perlu otot-ototan segala ngomong nya," ujar Darma sembari nyengir kuda dan menepuk-nepuk bahu Rudi.
"Ya ya ya, terserah kau aja lah situ!" balas Rudi dengan nada kesal.
Ayu langsung tersenyum bahagia, setelah mendengar ucapan Rudi yang setuju untuk membeli rumah mereka.
"Alhamdulillah, akhirnya laku juga nih rumah," ucap syukur Ayu dalam hati.
__ADS_1
Setelah meminum kopi nya sampai tandas, Rudi pun berdiri dan pamit pulang.
"Oke lah kalo gitu, aku permisi pulang ya. Masih ada urusan lain yang harus aku urus," ujar Rudi.
"Helehh, sok-sokan pulak ada urusan lain, kayak orang penting aja!" cibir Darma.
"Ya iya lah, aku ini orang penting, orang sibuk juga. Bukan kayak dirimu, pengangguran kelas kakap," balas Rudi tak kalah pedas.
Darma hanya memiringkan bibir nya menanggapi celotehan Rudi. Setelah itu ia pun ikut berdiri, dan mengantar Rudi sampai ke depan pintu utama.
"Yu, aku balek dulu ya!" pamit Rudi kepada Ayu sambil melambaikan tangan nya.
"Oke, makasih ya, Rud," jawab Ayu lalu mengacungkan jempol nya kepada Rudi.
"Ya, sama-sama nona cantik," balas Rudi sembari tersenyum genit dan mengerlingkan mata nya.
Melihat Rudi yang sedang menggoda istri nya, Darma pun langsung menepuk pundak Rudi lalu berkata...
"Heh, setan! Jangan coba-coba menggoda istri ku ya! Kalau tidak, aku akan patah kan batang leher mu nanti, ingat itu!" ancam Darma dengan penuh penekanan.
"Widiiiih, serem amat, bro! Gue jadi atut deh, hahahaha!" ledek Rudi sembari tertawa terpingkal-pingkal.
"Udah, gak usah cekikikan terus, pergi sana! Aku udah bosan lihat muka jelek mu itu!" usir Darma sambil menarik-narik lengan Rudi ke arah pintu.
"Iya iya, sabaran dikit napa sih, ngebet amat!" oceh Rudi.
Ia pun menurut dan mengikuti langkah Darma ke depan pintu. Saat hendak melangkah pergi, Rudi menyempatkan diri untuk menoleh ke arah Ayu, lalu kembali menggoda nya.
"Bye, sayang! Abang balek dulu ya, emmuaaahhh," ujar Rudi sembari melayangkan kan kiss bye nya, dan melambaikan tangan nya kepada Ayu.
Lagi-lagi, Darma di buat murka dengan kelakuan sahabat somplak nya. Karena geram melihat perbuatan Rudi, Darma pun mengambil sandal dan melemparkan nya ke arah Rudi sambil mengumpat.
"Dasar, KUTU KUPRET! Awas kau ya, akan ku balas kau nanti!" pekik Darma dengan suara menggelegar.
Mendapat lemparan sandal dari Darma, Rudi pun langsung lari tunggang langgang lalu menjulurkan lidah nya ke arah Darma.
"Eits, gak kena, weeek, hahahaha!" ledek Rudi kembali tergelak, dan berlalu pergi ke arah mobil nya yang terparkir di depan rumah mereka.
"Dasar, manusia gila!" umpat Darma sembari memandangi kepergian sahabat nya.
__ADS_1