SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
POV Yuni End


__ADS_3

Aku bingung, dengan keinginan ibu yang satu ini. Beliau meminta ku, untuk meminjam motor milik bapak. Kalau aku tolak, ibu pasti akan mengancam lagi.


Tapi kalau aku turuti, aku kasihan dengan bapak. Ah entahlah, aku pusing memikirkan nya.


"Jadi gimana, Yun?" tanya ibu.


"Gimana apa nya, mak?"


"Ya ampun! Ini anak, kok jadi linglung gini sih."


Ibu menoyor jidat ku, beliau tampak sangat kesal dengan ku, yang sedari tadi tidak menanggapi ocehan nya itu.


Sebenarnya, aku hanya pura-pura tidak mendengar saja. Karena, aku bingung mau menjawab apa pada ibu.


Di satu sisi, aku kasihan pada bapak. Di satu sisi lagi, aku takut pada ibu. Pilihan yang sangat sulit, bila harus memilih seperti ini.


Lagian, aku heran melihat tingkah ibu. Dari dulu sampai sekarang, tidak ada bosan-bosan nya mengganggu kehidupan bapak.


"Kok malah diam, Yun? Apa kau, masih gak ngerti juga maksud mamak tadi, hah?" tanya ibu lagi.


"Tentang, minjam motor milik bapak tadi ya, mak?" tanya ku ragu.


"Ya iya lah, Yun. Emang nya, tentang apa lagi kalau bukan tentang itu!"


"Yuni gak berani, mak. Yuni takut, kena marah sama bapak." jawab ku.


"Bapak mu gak bakalan marah, Yun. Kau itu kan anak kesayangan nya, dia gak mungkin tega memarahi mu." balas ibu.


"Yuni tetap gak berani, mak!"


"Kau mau jadi anak durhaka ya, Yun? Selalu aja membantah omongan orang tua, kau gak takut mamak sumpahi, hah!" bentak ibu.


"Bukan gitu maksud Yuni, mak. Tapi..." Yuni menggantung kata-kata nya.


"Gak ada tapi-tapian lagi, Yun. Pokoknya kau harus mau, titik!"


Aku kembali tertunduk lesu, mendengar keinginan ibu, yang tidak terbantahkan itu. Sifat egois dan keras kepala nya, sudah mendarah daging dari dulu.


Aku beranjak dari hadapan ibu, dan berjalan ke dalam kamar. Kepala ku mendadak sakit, akibat memikirkan hal yang tidak masuk akal itu.


Aku merebahkan diri di atas kasur, sambil memijat-mijat pelan kepala ku.


"Kau mau kemana, Yun? Orang tua belum siap ngomong, malah main nyelonong gitu aja. Dasar, anak gak tau terima kasih!"


Ibu mengumpat, karena melihat aku masuk ke dalam kamar.


"Udah di besar kan, udah di kasih makan. sekarang, malah gak berguna sama sekali." ucap ibu.


"Mamak menyesal, pernah melahirkan mu ke dunia ini, Yun. Memang dasar anak gak tau diri!"

__ADS_1


Ibu terus saja mengumpat, dan memaki-maki ku tanpa henti. Beliau mengucapkan kata-kata kasar, yang tidak sepantasnya di ucap kan oleh seorang ibu, kepada anak nya.


"Ya Allah, sebegitu marah nya kah ibu. Sampai-sampai, beliau berucap seperti itu pada ku?" batin ku.


Tanpa ku sadari, air mata mulai jatuh membasahi pipi ku. Aku sedih, aku terluka, mendengar kata-kata yang di lontarkan ibu pada ku.


Karena sudah tidak tahan, mendengar sumpah serapah ibu, yang semakin lama semakin menjadi-jadi. Akhirnya dengan sangat terpaksa, aku keluar dari kamar.


Aku kembali menemui ibu, yang masih duduk melantai sambil selonjoran itu.


"Oke, Yuni akan turuti semua keinginan mamak, biar mamak puas!" ucap ku kesal.


"Nah gitu dong, Yun. Jadi anak memang harus gitu, harus nurut sama orang tua!" balas itu santai.


Aku tidak lagi menanggapi ucapan ibu, aku lebih memilih masuk ke dalam kamar, dari pada meladeni keegoisan ibu.


Beberapa hari kemudian, aku kembali datang ke rumah bapak, untuk meminjam motor. Tapi, nyali ku langsung ciut, setelah bertemu dengan buk Ayu. Aku takut di marahi lagi, oleh ibu tiri ku itu.


"Bismillahirrahmanirrahim, semoga saja buk Ayu mau meminjamkan motor nya, amin." doa ku dalam hati.


Aku berjalan masuk ke dalam kios buk Ayu, dan mulai mengutarakan niat ku pada nya. Tapi ternyata, yang aku takut kan pun terjadi juga.


Buk Ayu marah, dan tidak mengizinkan ku untuk meminjam motor nya tersebut. Akhirnya, pertengkaran pun terjadi di antara kami berdua.


Aku tidak terima dengan semua kata-kata buk Ayu, yang selalu memojokkan ku.


Setelah lelah bertengkar dengan buk Ayu, aku memutuskan untuk pulang ke rumah ibu. Nanti malam, aku akan datang lagi, di saat bapak ada di rumah.


"Mana motor nya, Yun?" tanya ibu.


"Gak di bolehin buk Ayu, mak. Buk Ayu juga marah-marah, waktu Yuni bilang mau pinjam motor nya."


Aku menjelaskan pada ibu, apa yang terjadi di antara aku dan buk Ayu tadi. Setelah mendengar penjelasan ku, ibu langsung emosi.


Beliau meminta ku untuk menemani nya kembali, ke rumah bapak.


"Hufff, bakalan perang dunia lagi nih." batin ku.


"Kok malah bengong sih, Yun. Ayo buruan, kita kesana sekarang!" ajak ibu.


"Mau ngapain lagi sih, mak? Apa mamak gak capek, berantem terus dengan buk Ayu?" tanya ku kesal.


"Mamak mau kasi pelajaran, buat ibu tiri mu yang gak tau diri itu. Ayo cepetan, kita kesana! Mumpung, bapak mu gak ada di rumah." jawab ibu.


"Iya, mak." balas ku lemas.


Ibu memberikan kunci motor baru nya, pada ku. Dan akhirnya, kami berdua pun kembali mendatangi rumah bapak. Di sepanjang jalan, aku sempat khawatir.


Aku takut, akan terjadi hal-hal yang tidak di inginkan nanti nya.

__ADS_1


"Mudah-mudahan saja tidak terjadi apa-apa ya Allah, amin!" doa ku dalam hati.


Sesampainya di depan rumah bapak, ibu langsung turun dari motor. Beliau kembali berteriak, dan memaki-maki buk Ayu.


Mendengar teriakkan ibu yang melengking itu, buk Ayu langsung keluar dari rumah, dan berdiri di depan pintu.


Buk Ayu kembali meladeni emosi ibu, yang meledak-ledak itu, dengan sangat santai dan tenang. Sedang kan aku, tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kecuali berdiam diri di belakang ibu.


Aku memperhatikan tingkah beliau, yang seperti anak-anak itu. Sebenarnya, aku malu melihat sifat ibu seperti itu. Tapi ya, mau bagaimana lagi?


Aku hanya bisa berharap, semoga ibu cepat sadar dan berubah, dari sifat buruk nya itu.


Setelah selesai melabrak buk Ayu, dengan kata-kata yang super duper kasar tersebut. Ibu mengajak ku, untuk kembali pulang ke rumah.


Sampai di rumah, ibu kembali mengoceh pada ku. Beliau menyuruh ku, untuk datang kembali ke rumah bapak nanti malam.


"Pokoknya mamak gak mau tau, Yun. Nanti malam, kau harus datang lagi kesana!"perintah ibu.


"Kau harus bisa dapat kan motor bapak mu itu, bagaimana pun cara nya!"


"Iya, mak. Nanti malam, Yuni akan kesana lagi. Yuni akan ngomong langsung, sama bapak." balas ku.


"Bagus! Ternyata, udah mulai pintar anak mamak sekarang, ya."


Ibu memuji ku sambil mengelus-elus rambut ku dengan lembut. Aku hanya tersenyum kecut, mendengar pujian nya itu.


Waktu terus berlalu, tidak terasa malam pun tiba. Aku mempersiapkan diri dan mental, untuk pergi ke rumah bapak lagi.


Dengan langkah gontai, aku pun mulai berjalan keluar dari rumah ibu. Dan berangkat ke rumah bapak, menggunakan ojek online.


Sesampainya di rumah bapak, aku langsung mengatakan maksud kedatangan ku itu, kepada beliau. Dan alhamdulillah, bapak mengizinkan ku meminjam motor nya.


Setelah mendapat kan motor itu, aku bergegas pulang ke rumah ibu. Sampai di rumah, aku langsung menyerahkan motor beserta surat-surat nya tersebut, kepada ibu.


Ibu pun menerima pemberian ku itu, dengan senyum yang sumringah. Beliau terlihat sangat bahagia, mendapatkan motor milik bapak tersebut.


Setelah menyerahkan motor itu, aku pun melangkah masuk ke dalam kamar. Aku membaringkan diri di atas kasur, sambil merenung dengan tatapan kosong.


"Maaf kan Yuni, pak!"


Hanya itu lah kata-kata yang terucap, dari bibir ku. Aku sudah tidak mampu, berkata apa pun lagi saat ini. Aku sangat lelah, dan aku juga merasa sangat berdosa, kepada bapak.


Keesokan harinya, bapak menghubungi ku. Beliau menanyakan tentang motor nya itu, kepada ku. Dengan ragu dan hati yang was-was, aku pun menjawab yang sejujurnya kepada bapak.


Setelah mendengar jawaban ku, bapak langsung memarahiku habis-habisan. Bapak sangat kecewa, dengan perbuatan ku itu.


Aku menangis sampai sesenggukan, mendengar kemarahan bapak. Aku sangat menyesal, telah mengecewakan bapak.


Hanya karena menuruti keinginan ibu, aku sampai tega mengorbankan perasaan bapak.

__ADS_1


"Tolong ampuni dosa hamba mu ini, ya Allah! Amin amin ya rabbal a'lamin." gumam ku pelan.


__ADS_2