SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Rencana Dina dan Darma (Author)


__ADS_3

Setelah mendapatkan izin dari Ayu untuk menikahi Dina, Darma pun merasa tenang dan lega. Tapi ada satu hal yang masih menjadi beban pikiran di benak Darma, yaitu tentang biaya untuk pernikahan nya dengan Dina.


"Dari mana aku bisa dapat kan uang sebanyak itu ya?" batin Darma bingung.


Dengan langkah gontai, Darma pun keluar dari rumah nya dan pergi dengan menggunakan ojek menuju ke rumah Dina.


Sesampainya di depan rumah kontrakan mantan istri nya itu, Darma pun langsung mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum," salam Darma.


"Wa'laikum salam," balas Dina sembari membuka kan pintu.


Setelah pintu terbuka lebar, Dina langsung mengernyitkan dahi nya, saat melihat mantan suami nya yang sedang berdiri tegak di depan pintu dengan wajah kusut dan muram.


"Muka mu itu kenapa, Dar? Kok kusut gitu, kayak orang gak ada semangat hidup aja?" tanya Dina heran.


"Ada yang mau aku omongin sama mu. Ayo di dalam aja kita ngomong nya!" jawab Darma.


"Oh ya udah, masuk lah!" ujar Dina.


Darma pun melangkah masuk ke dalam rumah Dina, dan duduk melantai bersama Dina di ruang tamu yang sudah di alasi oleh karpet tipis.


"Mau ngomongin masalah apa?" tanya Dina.


"Si Ayu sudah mengizinkan ku untuk menikahi mu, tapi..."


Darma menggantung ucapan nya, dia seperti nya ragu dan tidak enak hati untuk mengatakan nya kepada Dina.


"Tapi apa?" desak Dina.


"Tapi aku masih bingung masalah biaya untuk pernikahan kita nanti." jawab Darma lirih.


"Loh, kenapa mesti bingung? Uang istri gila mu itu kan banyak, kenapa gak kau minta aja uang nya?" tanya Dina.


"Tadi aku udah minta sama dia, tapi dia gak ngasih." jawab Darma.


"Ya di paksa aja lah, masa kalah sama perempuan gila kayak dia sih. Lemah banget jadi laki-laki!" cibir Dina kesal.


"Aku gak tega maksa dia kayak gitu. Tadi aku sempat kasian juga lihat dia nangis, waktu ngomong sama ku di rumah." balas Darma.


"Halah, air mata buaya. Palingan cuma pura-pura aja dia tuh, biar kau luluh dan iba sama dia, biar kau batalin rencana untuk menikahi ku." balas Dina.

__ADS_1


Dina terus saja berusaha mencuci otak Darma untuk membenci Ayu, dan juga agar Darma tidak mudah percaya dengan semua ucapan saingan nya itu.


"Kayak nya sih tadi dia benar-benar sedih, soal nya dia itu tipe perempuan yang gak gampang nangis, kecuali memang dia merasa betul-betul tersakiti." jelas Darma.


"Kau jangan semudah itu percaya sama dia, Dar. Dia itu perempuan ular, dia pandai berakting di depan semua orang." ujar Dina.


Darma langsung terdiam dan tertunduk lesu mendengar celotehan Dina. Dia bingung harus percaya atau tidak dengan ucapan-ucapan mantan istri nya itu.


Di satu sisi dia merasa tidak tega menyakiti hati Ayu, orang yang sudah menemani hidup nya selama hampir tujuh tahun ini.


Tapi di sisi lain dia sangat kecewa dan geram, atas pengkhianatan yang sudah di lakukan oleh Ayu selama ini di belakang nya.


Raut wajah Darma tampak sangat dilema dan gusar, saat mengingat wajah sedih Ayu sewaktu memberikan izin kepada nya untuk menikah lagi.


"Kasian Ayu, dia pasti sangat terluka dengan pernikahan kami." batin Darma gelisah.


Melihat keterdiaman Darma, Dina pun kembali memanas-manasi mantan suami nya itu, agar tidak terpengaruh dengan istri nya dan tetap meneruskan rencana pernikahan mereka berdua.


"Dar, kok malah bengong sih! Kau sedang mikirin apa, hah? Jangan bilang kalau kau sedang mikirin istri gila mu itu!" selidik Dina.


Dina berpura-pura merajuk dan marah, dengan memasang wajah masam dan memanyunkan bibir nya di depan Darma. Dina berusaha mengalihkan perhatian Darma, agar Darma tidak lagi memikirkan Ayu terus-terusan.


"Eh iya, eh enggak kok. Siapa juga yang lagi mikirin dia." bantah Darma gugup.


"Beneran, kau gak lagi mikirin dia?" selidik Dina.


Darma terpaksa berbohong di depan Dina, agar Dina tidak memarahi nya karena sedang memikirkan Ayu istri nya sendiri.


"Trus kau lagi mikirin apa, sampe bengong-bengong sendiri kayak gitu?" tanya Dina mulai menaruh curiga pada Darma.


"Aku...aku lagi mikirin tentang biaya pernikahan kita, ya aku lagi mikirin tentang masalah itu." jawab Darma semakin gugup.


"Trus sekarang solusinya gimana, hah? Kau pun bodoh kali jadi laki-laki, masa ngambil uang istri sendiri aja gak bisa?" omel Dina geram.


"Ya habis gimana lagi? Aku udah minta baik-baik sama dia, tapi tetap aja dia gak mau ngasih uang nya sepeser pun untuk ku." jawab Darma.


"Kalo gak bisa di minta baik-baik, ya di rampas paksa aja lah. Masa gitu aja mesti di ajari dulu sih!" omel Dina lagi.


"Ya gak bisa gitu lah, Din. Bisa-bisa nanti Ayu ngelaporin aku ke polisi kalo kayak gitu cerita nya." tolak Darma.


"Gak akan berani dia ngelaporin kau ke polisi. Dia tu cuma nakut-nakutin kau aja, biar kau gak berani macam-macam sama dia. Percaya lah sama aku." ujar Dina.


Darma merenung sejenak, dia sedang memikirkan ucapan Dina yang mungkin memang benar ada nya.

__ADS_1


"Iya juga ya, Ayu gak mungkin seberani itu ngelaporin aku ke polisi, hanya karena aku merampas semua uang nya. Dia juga pasti gak bakalan tega menjebloskan ku ke dalam penjara." batin Darma.


Darma terus saja berperang dengan isi kepala nya sendiri. Darma berpikiran kalau Ayu masih mencintai diri nya.


Maka nya Ayu tetap bertahan, walaupun dia tahu kalau Darma akan menikah dengan Dina. Itu lah pemikiran yang ada di benak Darma saat ini mengenai istri sah nya tersebut.


"Gimana menurut mu, Dar? Bener gak kata-kata ku tadi?" tanya Dina.


"Iya, bener juga sih. Dia gak mungkin berani ngelaporin aku ke polisi, palingan dia hanya ingin menggertak ku saja." jawab Darma.


"Naaah, bener banget tuh. Syukur lah kalau kau sudah menyadari nya." balas Dina lega.


Darma langsung manggut-manggut menyetujui penuturan Dina, dia juga sependapat dengan mantan istri nya.


"Jadi sekarang tunggu apa lagi? Cepat lah datangi istri gila mu itu, rampas semua uang dan perhiasan nya. Kalo udah dapat, kau langsung aja serahkan semua nya sama aku!" usul Dina.


"Iya iya, nanti aku kesana jumpai dia. Tapi sekarang kau layani aku dulu sampe puas!"


"Oke, ayo kita ke kamar! Aku juga lagi pengen nih." balas Dina.


Dina langsung beranjak dari tempat duduk nya dan menarik tangan Darma untuk masuk ke dalam kamar nya. Setelah mengunci pintu, Darma dan Dina pun mulai membuka pakaian masing-masing.


Setelah keadaan mereka sudah polos, Dina mulai naik ke atas ranjang dan berbaring telentang lalu melebarkan kedua kaki nya di hadapan Darma.


"Ayo cepetan masukin, Dar! Aku udah gak tahan lagi nih, sayang." rengek Dina manja sambil melambaikan tangan nya kepada Darma.


Darma yang sedari tadi terperangah melihat pemandangan di depan nya pun, langsung tersenyum menyeringai mendekati makanan lezat yang ada di hadapannya.


Tanpa menjawab rengekan Dina, Darma mulai naik ke atas tubuh Dina dan dia langsung memasukkan tongkat keras nya secara kasar, hingga membuat Dina terpekik kuat.


"Aaauuu, pelan-pelan dong, sayang! Sakit tau gak." rengek Dina sembari tersenyum genit.


"Nanti lama-lama kan jadi nikmat juga, sayang." balas Darma.


"Iya sih, ya udah cepat lah sini puasin aku!" desak Dina.


Dina terus saja menggoda dan merengek manja, meminta Darma untuk segera melayani hasrat nya. Mendengar suara-suara serak Dina, Darma pun semakin terbakar gairah dan langsung melakukan permainan nya dengan ganas.


Setengah jam kemudian, Darma dan Dina pun mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh mereka berdua.


"Makin hari kok makin nikmat gini rasa nya punya mu ini, Din? Bikin aku ketagihan terus di buat nya." puji Darma.


"Ya bagus lah kalau kau ketagihan. Biar kau gak kepengen lagi main dengan istri mu itu. Biar kau main nya sama aku aja seterusnya." balas Dina.

__ADS_1


"Ya gak boleh gitu lah, biar bagaimanapun juga dia itu tetap istri ku. Aku wajib memberikan nafkah batin nya juga." jawab Darma.


"Huh, dasar buaya." umpat Dina kesal.


__ADS_2