SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Ulah Dina


__ADS_3

Dina tampak kecewa mendengar penuturan Darma. Dia tidak menyangka jika Darma begitu menjaga perasaan Yuni, agar Yuni tidak marah dan sakit hati pada nya.


Karena tidak mendapat respon yang baik dari Darma, akhirnya Dina pun memikirkan cara lain untuk bisa menggoda Darma.


Dia sama sekali tidak memperdulikan perasaan anak nya, yang terpenting bagi nya adalah bisa memiliki Darma juga. Ya walaupun hanya sebatas partner ranjang saja, itu tidak masalah bagi nya.


"Apa si Yuni aku kasih obat tidur aja ya? Biar dia tidak mengganggu kesenangan ku dengan Darma." batin Dina.


Dina memperhatikan gerak-gerik Darma yang sedari tadi masih terus memandang ke arah tubuh nya.


"Wah, ide bagus tuh. Aku masuk kan aja obat itu ke dalam teh, pasti Yuni gak bakalan curiga dengan rencana ku itu." lanjut Dina dengan senyum menyeringai di bibir tipis nya.


Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Dina pun memutuskan untuk membuat teh manis hangat untuk mereka bertiga.


"Ya, udah lah kalo gitu. Lain kali aja kita bersenang-senang nya." ujar Dina lalu beranjak dari tempat duduk nya.


Darma hanya mengangguk mengiyakan ucapan Dina. Melihat mantan istri nya itu berdiri, Darma pun langsung mencengkram pergelangan tangan Dina, sembari bertanya...


"Mau kemana?" tanya Darma.


"Mau buat teh hangat. Kau pasti haus kan?" tanya Dina.


"Ooohhh, ya udah buat lah!" jawab Darma lalu melepas cengkraman tangan nya pada Dina.


Setelah tangan terlepas, Dina mulai melangkah kan kaki nya menuju dapur untuk membuat minuman.


Sedangkan Darma, dia menatap nanar kepergian Dina. Sebenarnya Darma sangat tergiur dengan Dina, tapi dia menahan nya karena takut ketahuan oleh Yuni.


Sampai di dapur, Dina segera membuat tiga gelas teh manis hangat. Kemudian, dia mencampur salah satu minuman itu dengan obat tidur. Setelah itu, dia juga mencampur minuman untuk Darma dengan obat perangsang.


"Hari ini kau akan jadi milik ku, Dar. Kita akan bersenang-senang sampai sepuasnya, hahaha." batin Dina girang.


Masih dengan menggunakan handuk pendek, Dina kembali menghampiri Darma sambil membawa minuman yang sudah di buat nya. Sampai di ruang tamu mata Dina langsung membulat saat, melihat Yuni yang sudah duduk di pangkuan Darma.


Yuni dan Darma saling berciuman dengan mesra, dan Yuni juga memakai pakaian yang sangat minim, hingga menampakkan lekuk tubuh nya dengan jelas.


Melihat adegan yang sangat menyakitkan hati nya, Dina pun langsung berdehem untuk menyadarkan mereka akan kehadiran nya.

__ADS_1


"Ehem,"


Dina meletakkan minuman yang di bawa nya di atas meja. Kemudian dia duduk di depan Darma dan Yuni, lalu membagikan minuman itu kepada mereka berdua.


Melihat kedatangan Dina, Darma dan Yuni pun langsung terkejut dan menghentikan ciuman panas mereka. Darma tampak salah tingkah karena merasa tidak enak hati dengan Dina.


Sedangkan Yuni, dia langsung turun dari pangkuan Darma, dan duduk di sebelah ayah angkat nya tersebut.


"Nanti aja di lanjutin lagi enak-enak nya. Sekarang kalian minum lah dulu, mumpung masih hangat." ujar Dina pura-pura baik.


"Iya makasih ya, mak." balas Yuni.


"Makasih, Din." balas Darma.


Yuni segera meminum teh buatan Dina hingga beberapa tegukan. Begitu juga dengan Darma, dia meneguk teh itu sampai habis setengah gelas. Lalu meletakkan nya kembali ke atas meja.


Dina tersenyum miring, ketika melihat Yuni dan Darma meminum teh buatan nya. Tak butuh waktu lama, obat tidur yang di berikan Dina kepada Yuni pun mulai bereaksi.


"Aduh, kok tiba-tiba kepala Yuni berat gini ya, hoamm?" gumam Yuni sembari memegangi kepala nya.


Yuni merasakan kantuk yang luar biasa, hingga membuat nya menguap sampai berkali-kali.


"Temani Yuni bobok yok, bang! Yuni ngantuk banget nih." ajak Yuni.


Yuni segera berdiri dari kursinya, lalu menarik tangan Darma untuk masuk ke dalam kamar pribadi nya. Bagai lembu yang di cucuk hidung nya, Darma hanya menurut dan mengikuti langkah Yuni.


Dina kembali tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Dia masih tampak anteng duduk di tempat nya, dengan menyilang kan satu kaki nya.


"Aku habisin aja lah sisa minuman ini, biar sama-sama ganas nanti main nya." gumam Dina.


Dina mengambil gelas milik Darma, lalu meneguk nya hingga tandas tak bersisa. Setelah itu, Dina menyandarkan punggung nya di bahu kursi. Dia mendongak menatap langit-langit ruang tamu, dengan wajah yang berbinar cerah.


Lima menit kemudian, Dina mulai gelisah tidak karuan di tempat duduk nya. Gairah nya mulai naik, dan ingin segera menyalurkan nya kepada Darma.


"Aduuuh, Yuni udah tidur belum ya? Aku udah gak tahan lagi nih." gumam Dina dengan nafas yang mulai memburu.


"Tengok dulu ah, siapa tau dia udah tidur." lanjut Dina.

__ADS_1


Dina segera beranjak dari kursi, lalu melangkah dengan cepat ke arah kamar Yuni. Setelah membuka pintu, mata Dina kembali membulat sempurna.


Dia tampak sedikit terkejut melihat kelakuan Darma, yang sedang asyik mencumbui tubuh Yuni yang sudah tertidur pulas di atas kasur.


Dengan gerakan cepat Dina melangkah masuk ke dalam, lalu menarik tangan Darma untuk keluar dari kamar tersebut. Darma yang sudah di pengaruhi obat pemberian Dina pun hanya menurut, dan mengekori langkah mantan istri nya itu ke dalam kamar nya.


Setelah mengunci pintu, Dina langsung membuka handuk nya lalu melemparkan nya ke sembarang arah.


"Lanjutin dengan ku aja, Dar!" bisik Dina.


"Oke," balas Darma.


Tanpa berkata apapun lagi, Darma langsung menyerang Dina secara brutal dan kasar. Dia memanjakan Dina dengan kecepatan tinggi, hingga membuat Dina semakin tidak terkendali, dan mengeluarkan suara-suara indah nya dengan cukup kuat.


Darma menghentak-hentak tubuh Dina dengan kuat, sambil terus mencium bibir nya. Dengan gairah yang bergejolak, Darma pun melampiaskan hasrat nya dengan durasi waktu yang cukup lama.


Setelah bertempur selama hampir dua setengah jam, Darma pun menyelesaikan permainan nya. Dia menjatuhkan diri di samping Dina, dengan tubuh yang basah oleh keringat nya sendiri.


"Huh, capek nyaaa." gumam Darma masih dengan nafas yang naik turun tidak karuan.


Begitu juga dengan Dina, dia juga kelelahan akibat ulah nya sendiri. Dina merentangkan tangan nya untuk mengambil kotak tisu yang ada di samping ranjang nya.


Setelah mendapatkan nya, dia menarik tisu itu beberapa lembar, lalu membersihkan area pribadi nya sendiri. Pandangan Dina kosong menatap langit-langit kamar nya, dia merenung tentang masalah anak nya dengan Darma.


"Kehidupan seperti apa yang sedang aku jalani saat ini? Apakah mungkin satu atap ada dua cinta?" batin Dina bingung.


Saat sedang asyik dengan lamunan nya, tiba-tiba Dina di kejutkan dengan suara Darma yang melontarkan pertanyaan pada nya.


"Obat apa yang kau campur kan ke minuman kami tadi, Din?" tanya


Bukan nya menjawab, Dina malah menajamkan tatapan mata nya, lalu membalikkan pertanyaan itu kepada Darma. Dina berpura-pura tidak mengerti, dengan kata-kata yang di ucapkan Darma pada nya.


"Obat? Obat apa maksud mu?" tanya Dina dengan kening mengkerut.


"Gak usah pura-pura bego lah, Din. Aku tau, kau pasti sudah mencampur minuman ku dengan obat perangsang." tuduh Darma.


"Sedangkan minuman Yuni, kau campur dengan obat tidur, ya kan? Ngaku aja, deh!" tutur Darma dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Karena sudah ketahuan, akhirnya Dina pun pasrah dan mengakui perbuatannya.


"Kalau iya emang nya kenapa, hah?" tanya Dina ketus.


__ADS_2