
"Mudah-mudahan aja Dina beneran pulang ke rumah nya." batin Darma.
Setelah melihat kepergian Dina, Darma kembali melanjutkan langkah nya untuk mencari makanan yang di pesan oleh Yuni.
Selesai membeli makanan, Darma kembali berjalan menuju hotel sambil celingukan kesana kemari, untuk melihat situasi di sekitaran hotel tempat nya menginap.
"Hufff, syukur lah gak ada Dina lagi." gumam Darma lega sembari menghela nafas panjang.
Darma kembali masuk ke dalam hotel dengan langkah cepat. Dia tampak sangat ketakutan sambil terus memperhatikan sekeliling nya.
Dina yang sedari tadi masih mengintai pergerakan Darma pun, langsung bergerak cepat untuk membuntuti Darma dari jarak yang sedikit jauh.
Setelah melihat Darma menapaki anak tangga untuk menuju ke lantai dua, Dina pun langsung bergegas masuk ke dalam hotel.
Saat melewati meja resepsionis, Dina tersenyum dan menundukkan kepala nya sembari berucap...
"Permisi, ya mbak." sapa Dina dengan senyum yang mengembang di bibir nya.
"Iya, bu." balas si resepsionis dengan ramah.
Setelah itu, Dina pun melanjutkan langkah nya kembali. Dia menapaki anak tangga dengan langkah sedikit tergesa-gesa.
Sampai di lantai dua, Dina melihat Darma sedang mengambil kunci dari dalam saku celana nya, untuk membuka salah satu kamar yang berada di pojok lorong.
Saat pintu sudah terbuka, Dina langsung berlari kencang untuk menghampiri Darma sambil berteriak...
"Tunggu, DAR!" pekik Dina.
Dengan wajah pucat pasi seperti mayat hidup, Darma pun menoleh ke arah suara yang memanggil nya.
"Hah, Dina?" gumam Darma terlonjak kaget dengan mata terbelalak lebar, saat melihat kehadiran Dina di depan nya.
Jantung Darma pun kembali berdegup kencang. Dia menelan ludah nya dengan kasar. Darma mematung di depan pintu kamar, dengan keringat yang mulai bermunculan sebesar biji jagung di kening nya.
Sampai di depan pintu, Dina langsung mendorong tubuh Darma, lalu nyelonong masuk ke dalam kamar hotel tersebut.
"Minggir, aku mau masuk!" ujar Dina ketus.
Dengan hati yang berdebar-debar, Dina pun memasuki kamar itu. Dan apa yang di lihat nya, sungguh sangat menyakitkan buat nya.
Dina melihat Yuni yang sedang tertidur pulas di atas ranjang, dalam keadaan polos di bawah selimut.
Darma semakin panik dan gelisah, saat melihat ekspresi wajah Dina yang tampak sangat terkejut dan emosi, ketika melihat keberadaan Yuni.
Darma segera mengunci pintu kembali, lalu melangkah dengan perlahan untuk mendekati Dina. Dia berdiri di belakang Dina, dan ikut melihat ke arah pandangan mata Dina.
Dengan air mata yang sudah mengalir di kedua pipi nya, Dina yang sedari tadi terpaku memandangi Yuni pun, kembali membuka suara nya kepada Darma.
"Apa yang sudah kalian lakukan disini? Kenapa kalian sampai hati melakukan ini pada ku? Apa kesalahan yang sudah aku perbuat pada kalian, hingga kalian begitu tega nya mengkhianati kepercayaan ku?" tanya Dina lirih.
Dina bertanya tanpa menoleh sedikit pun kepada Darma. Dia masih saja fokus menatap Yuni yang tampak sangat lelap dengan mimpi indah nya.
"Maaf kan kami, Din. Kami melakukan ini, karena kami sama-sama saling mencintai. Dan kami juga tidak bisa terpisahkan lagi." jawab Darma sembari menundukkan kepala nya.
Darma merasa sangat bersalah, karena sudah melukai hati mantan istri nya tersebut. Dia juga bingung, bagaimana cara mengatakan kepada Dina kalau dia dan Yuni ingin meminta izin untuk menikah.
__ADS_1
Sedangkan Dina, dia masih saja dengan mode patung nya, sambil terus menetes kan air mata kepiluan nya.
Karena rasa sayang nya begitu besar kepada Yuni, akhirnya Dina pun memutuskan untuk mengalah, demi kebahagiaan anak bungsu nya tersebut.
Dina menghapus air mata nya dengan kasar, lalu membalikkan badan nya untuk menghadap kepada Darma.
"Apakah kau benar-benar mencintai Yuni?" tanya Dina dengan mata yang masih mengeluarkan air mata.
Mendengar pertanyaan Dina, Darma langsung mendongakkan kepala nya dan menatap wajah sayu Dina dengan kening mengkerut.
"Iya, emang nya kenapa?" tanya Darma balik.
Bukan nya menjawab, Dina malah kembali bertanya tentang isi hati Darma pada nya.
"Apakah kau tidak mencintai ku lagi?" tanya Dina lagi.
"Maaf kan aku, Din." jawab Darma sembari menundukkan kepala nya kembali.
Hanya itu lah kata-kata yang bisa Darma ucapkan. Dia tidak sanggup berkata apapun lagi kepada mantan istri nya itu. Dia tidak ingin menambah luka di hati Dina lagi.
Mendengar jawaban Darma, Dina langsung mendongak ke atas dan memejamkan mata nya. Hati nya benar-benar sangat hancur dan terluka, akibat perbuatan orang-orang yang sangat di sayangi nya.
Setelah merenung sejenak, akhirnya Dina kembali membuka mata nya dan menatap wajah Darma yang sedang tertunduk lesu di depan nya.
"Jadi, apa rencana kalian selanjutnya? Apakah kalian akan begini terus untuk selama nya?" tanya Dina lirih.
"Ya enggak lah, Din. Aku akan menikahi Yuni secepatnya, itu pun kalau kau mengizinkan nya." jawab Darma.
Dina kembali memejamkan mata nya, ketika kata-kata menikah itu keluar dari bibir Darma. Hati nya semakin remuk dan perih, mendengar jawaban yang begitu menyakitkan dari lelaki yang sangat di cintai nya.
"Apakah kau benar-benar ingin menikahi Yuni?" tanya Dina.
"Ya," jawab Darma.
"Apa kau tidak memikirkan bagaimana tanggapan orang-orang, jika kau menikahi Yuni? Kau kan tau sendiri, kalau orang-orang di sekitar mu itu menganggap Yuni adalah anak kandung mu." tanya Dina.
"Kalau masalah itu, kau gak perlu khawatir. Aku dan Yuni akan mengontrak rumah di tempat lain." jawab Darma.
"Oh, trus aku gimana? Apa kalian tega meninggalkan ku sendirian di rumah?" tanya Dina.
"Loh, emang nya kau mau ikut tinggal bersama kami?" tanya Darma sedikit bingung dengan pertanyaan Dina.
"Iya," jawab Dina.
Darma menatap wajah Dina dengan kening mengkerut. Dia sama sekali tidak habis pikir dengan jalan pikiran Dina, yang ingin ikut tinggal dengan mereka nanti nya.
"Oke, sekarang dengar baik-baik ya! Aku akan mengizinkan kalian untuk menikah, tapi ada syarat nya." ujar Dina.
"Oke, aku akan turuti apa pun syarat nya. Yang penting aku bisa memiliki Yuni." balas Darma mantap.
"Kau serius, mau menuruti apa pun syarat nya?" tanya Dina.
"Ya, katakan apa syarat nya!" jawab Darma.
"Syarat nya gampang dan mudah kok. Kau harus melayaniku juga, kalau sewaktu-waktu aku menginginkan nya. Tapi ingat, ini rahasia kita berdua aja. Yuni jangan sampai tau kalau kau juga melayaniku."
__ADS_1
"Gimana, sanggup gak?" tanya Dina dengan nada pelan.
"Gila kau, ya? Mana mungkin aku melayani kalian berdua." tolak Darma.
Darma memandangi Dina dengan tatapan sinis nya. Dia tidak menyangka jika Dina akan mengatakan hal seperti itu pada nya.
"Kenapa gak mungkin?" tanya Dina.
"Ya, gak mungkin lah, Din. Masa kau tega menghancurkan rumah tangga anak mu sendiri sih, aneh-aneh aja." gerutu Darma.
"Siapa yang menghancurkan rumah tangga kalian? Aku kan hanya ingin merasakan sedikit kebahagiaan dari kalian." balas Dina santai.
"Ya, artinya sama aja lah." cibir Darma kesal.
Darma melipat kedua tangan nya di atas perut, sambil sesekali melirik ke arah Yuni yang masih tampak anteng dengan tidur lelap nya.
"Emang nya gak ada syarat lain, ya?" tanya Darma.
"Gak ada, syarat nya itu aja." jawab Dina tegas.
"Kalau kau setuju, maka aku akan mengizinkan kalian menikah saat ini juga. Tapi jika kau menolak nya, maka sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengizinkan kalian, ingat itu!" oceh Dina panjang lebar.
Dina memberi ancaman dan peringatan keras pada Darma. Dia juga ingin mengambil keuntungan dari pernikahan mereka.
Mendengar ucapan tegas Dina, Darma pun terdiam sejenak. Dia bingung harus menjawab apa, tentang persyaratan yang di ajukan oleh Dina.
Sebenarnya Darma sudah malas berhubungan dengan Dina. Tapi biar bagaimanapun juga, Dina tetap lah ibu kandung Yuni.
Dan mau tidak mau, Darma harus tetap menuruti apa pun keinginan Dina, calon mertua nya itu, termasuk melayani hasrat nya.
Setelah beberapa saat berperang dengan isi kepala sendiri, akhirnya Darma pun hanya bisa pasrah. Dia terpaksa menyetujui persyaratan Dina, agar bisa memiliki gadis kecil nya tersebut.
"Oke lah, aku setuju dengan syarat gila mu itu." ujar Darma lemah.
"Hah, kau serius, Dar?" tanya Dina tidak percaya.
"Ya, aku serius." jawab Darma.
Wajah Dina langsung berbinar-binar, saat mendengar jawaban Darma. Dia sangat bahagia karena bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.
Ya, walau pun dia harus tega mengkhianati anak nya sendiri. Tapi itu tidak jadi masalah buat nya. Yang terpenting bagi nya adalah, dia masih bisa merasakan pelayanan dari Darma.
"Yes, akhirnya Darma mau juga menuruti keinginan ku." batin Dina girang dengan senyum sumringah di bibir nya.
Setelah selesai membuat kesepakatan dengan Darma, Dina pun pamit pulang sembari berkata...
"Oke, deal ya! Awas aja kalau kau mengingkari perjanjian kita, aku tidak akan pernah memaafkan kalian berdua, ingat itu!" ujar Dina penuh penekanan.
"Sssttt, jangan berisik! Nanti Yuni bangun." bisik Darma sembari menempel kan jari telunjuk nya di bibir Dina.
"Iya iya, aku gak akan ingkar janji kok, tenang aja ya!" ujar Darma berusaha meyakinkan Dina.
"Oke, aku pegang janji mu itu. Ya udah, aku pulang dulu, bye." pamit Dina.
Dina mulai melangkah keluar dari kamar hotel dengan senyum yang mengembang, dan hati yang berbunga-bunga tentu nya.
__ADS_1
"Huh, akhirnya pergi juga perempuan gak waras satu itu." batin Darma sedikit lega, atas kepergian Dina dari kamar nya tersebut.