
Tolong lah, dek! Abang butuh kali uang itu sekarang. Kalau gak minta sama mu, trus abang harus minta sama siapa lagi?" rengek bang Darma.
"Minta sama mantan kesayangan mu itu lah! Itu kan anak kalian berdua bukan anak ku." jawab ku ketus.
"Dia lagi gak ada uang kata nya." balas bang Darma.
"Emas nya kan ada, suruh jual aja lah buat ngobatin anak nya itu!" ujar ku.
"Mana mau dia jual emas nya, sayang kata nya." balas bang Darma lagi.
"Sayang? Untuk biaya anak sendiri kok perhitungan kali. Orang tua macam apa dia tuh?" cibir ku.
"Udah lah, gak usah ngomongin tentang dia lagi. Yang penting sekarang pinjami aku uang satu juta!" balas bang Darma masih tetap kekeuh dengan permintaan nya.
"Jangan harap sepeser pun aku mau ngasih uang ku untuk kalian." ujar ku lantang.
"Ck, pelit kali pun jadi orang. Di mintai tolong aja pun susah kali. Dasar istri gak berguna!" umpat bang Darma kesal.
Mendengar umpatan bang Darma, aku pun langsung menoleh dan menatap wajah nya dengan tatapan mata yang tajam.
"Yang gak berguna itu kau bukan aku. Udah lah pengangguran, banyak tingkah pulak tu. Sadar diri dikit kenapa sih jadi manusia?" sindir ku tak mau kalah.
Bang Darma tampak tersulut emosi setelah mendengar ocehan ku barusan. Dia langsung mengeratkan rahang nya, dan melihat ku dengan pandangan yang penuh dengan kebencian.
"Kenapa kau lihatin aku kayak gitu? Apa kau gak terima ya dengan kata-kata ku barusan?" tanya ku sambil tersenyum sinis pada nya.
"Kau itu sebenarnya punya hati nurani gak sih, dek?" tanya bang Darma geram.
"Ya punya lah, tapi tidak untuk kalian bertiga." jawab ku santai.
Aku berusaha bersikap secuek dan seacuh mungkin kepada suami gila ku itu. Aku sama sekali tidak ingin terlihat lemah di depan nya.
__ADS_1
Aku harus tetap terlihat tegar dan kuat di hadapan para manusia tidak tahu diri, seperti bang Darma dan kedua benalu kesayangan nya itu.
"Kau itu memang benar-benar perempuan keras kepala, gak pernah mau nurut apa kata suami. Apa kau mau jadi istri durhaka, hah?" tanya bang Darma semakin geram.
"Introspeksi diri sendiri dulu sebelum menilai seseorang! Aku bersikap seperti ini juga karena ulah mu." cibir ku.
"Udah, pergi sana! Temani kedua perempuan kesayangan mu itu. Sakit mata ku lama-lama nengok muka lecek mu itu." usir ku.
Aku kembali memiringkan badan menghadap dinding dan mulai memejamkan mata, tanpa menghiraukan bang Darma yang masih terlihat kesal di tempat duduk nya.
"Dek, bangun lah! Orang belum siap ngomong kok malah di tinggal tidur sih. Gak sopan banget jadi orang!" omel bang Darma sambil mengguncang pelan bahu ku.
"Gak ada yang perlu di omongin lagi. Karena sampe kapan pun, keputusan ku tetap sama." balas ku.
Aku gak akan memberikan uang sepeser pun untuk kalian, paham!" lanjut ku tegas tanpa menoleh sedikit pun pada nya.
"Tapi, dek..."
"Gak ada tapi-tapian lagi, dan gak ada tawar-menawar lagi!" potong ku.
Dengan perasaan kesal dan kecewa, akhir nya bang Darma pun langsung keluar dari kamar dan pergi meninggalkan ku, yang masih tetap setia dengan keputusan ku.
"Enak aja dia mau minjam uang ku satu juta. Di kira nya segampang itu apa, aku ngasih-ngasih uang gitu aja untuk mereka. Huuuuu, sorry-sorry bae lah." gumam ku.
Setelah kepergian bang Darma, aku pun kembali memejamkan mata dan tertidur lelap dengan mimpi indah ku.
Sesudah mengistirahatkan diri selama kurang lebih tiga jam, aku mulai membuka mata dan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Waduhhh, aku ketiduran sampe malam rupanya." gumam ku.
"Hantu satu itu pergi kemana tadi ya? Sampe sekarang kok belum balek-balek juga. Apa dia lagi semedi di rumah para benalu itu?" batin ku.
__ADS_1
Aku menggeliat kan badan yang terasa sangat pegal dan capek, akibat bergumul ria dengan pak kades tadi siang.
"Ah, masa bodo aja lah. Ngapain juga aku harus repot-repot mikirin dia, toh dia juga gak pernah mikirin aku selama ini." gumam ku lagi.
Setelah selesai berbicara pada diri sendiri, aku pun segera turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Lalu kemudian, aku lanjut melaksanakan shalat isya sendirian di dalam kamar.
Selesai melaksanakan kewajiban ku itu, aku pun duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponsel. Saat sedang asyik bermedia sosial, tiba-tiba terdengar suara bang Darma masuk ke dalam rumah bersama seseorang.
"Sama siapa dia tuh, kok suara nya kayak gak asing ya?" batin ku curiga.
Walaupun rasa penasaran menyelimuti hati dan pikiran ku, namun aku tetap saja berpura-pura fokus dengan ponsel yang ada di tangan ku.
Tak lama kemudian, bang Darma pun masuk ke dalam kamar. Tanpa basa-basi lagi, dia pun langsung menyuruh ku untuk keluar dari kamar, karena dia ingin memakai kamar pribadi kami itu untuk bersenang-senang bersama Dina.
"Keluar sana, dek! Aku mau pakai kamar ini untuk bercinta dengan Dina." titah bang Darma dengan wajah sinis nya.
Degh...
Dada ku langsung terasa nyeri mendengar ucapan bang Darma. Sampai hati dia melakukan perbuatan keji dan tidak berperasaan seperti itu pada ku.
"Ya Allah, kenapa semakin hari sikap nya semakin menjadi-jadi seperti ini dengan ku?" jerit ku dalam hati.
Dengan perasaan geram dan jengkel, aku pun segera beranjak dan mengambil tas ransel yang ada di dalam laci meja. Tanpa menjawab sepatah kata pun ucapan bang Darma, aku langsung berlalu pergi dari hadapan nya.
Sampai di ruang tamu, langkah ku langsung terhenti karena melihat sesosok benalu yang sedang duduk manis, sambil menyunggingkan senyum sumringah nya pada ku.
"Hai, apa kabar perempuan gila? Kau sudah mulai waras belum? Atau mungkin, kau malah semakin gila sekarang, hahahaha." cibir Dina sambil tertawa terbahak-bahak di tempat duduk nya.
"Aku rasa yang gila dan tidak tau diri itu kau sendiri lah. Buktinya kau masih saja mengemis-ngemis di rumah ini." sindir ku.
Setelah menjawab kata-kata Dina, aku pun kembali melangkah kan kaki keluar dari rumah, dan meninggalkan Dina yang tampak sangat bahagia dengan perbuatan nya tersebut.
__ADS_1
Sesampainya di teras, aku pun langsung menyalakan mesin motor matic ku dan melajukan nya secara perlahan menuju jalan raya.
"Malam ini aku nginap dimana ya?" batin ku sambil terus melajukan motor ku tanpa arah dan tujuan.