
Bang Darma tampak sangat murka, mendengar cibiran ku barusan. Raut wajah nya menggambarkan ketidak sukaan nya, atas semua ucapan ku.
"Kau itu jadi istri nurut dikit kenapa sih, sama suami! Membangkang terus kerjaan nya." ujar bang Darma.
"Buat apa aku harus nurut dengan mu? Sedangkan kau aja, gak pernah perduli sama aku. Yang kau perduli kan itu cuma anak mu, dan mantan mu yang mata duitan itu." jawab ku lantang.
"Saking perduli nya kau dengan mereka, sampai-sampai kau rela meminjam uang kesana kemari, hanya demi menuruti gaya hidup mereka berdua." lanjut ku.
Aku meluapkan segala kekesalan dan emosi ku kepada bang Darma. Sesak rasa nya dada ini, jika aku harus terus menahan nya lebih lama lagi.
Melihat kemarahan ku yang sudah memuncak, bang Darma pun akhirnya mengalah dan mulai melunak.
"Ya, mau bagaimana lagi, dek? Yuni itu kan anak abang. Kalau dia meminta sesuatu, abang gak tega untuk menolak nya." balas bang Darma.
"Kau gak tega sama anak mu, tapi kau tega sama aku. Dimana hati nurani mu? Dimana otak mu itu, BANG?" pekik ku kesal.
"Bukan gitu..."
Sebelum bang Darma meneruskan perkataannya, aku langsung memotong nya dengan cepat.
"DIAM! Aku gak mau lagi mendengar apa pun alasan mu. Aku muak dengan masalah yang tidak ada habis nya seperti ini." ujar ku.
"Yang selalu di ribut kan, asik masalah anak muuuu, aja. Bosan aku dengar nya." lanjut ku lagi.
"Maka nya kalau di bilangin itu harus nurut! Biar kita gak ribut terus."
Bang Darma membalas ucapan ku dengan santai, sambil menyalakan rokok nya. Aku membuang nafas kasar, melihat tingkah laku manusia yang ada di hadapan ku itu.
"Sukak mu lah situ! Aku gak perduli, dan gak akan pernah mau perduli lagi, dengan manusia luknut seperti kalian bertiga." balas ku ketus.
Selesai berucap, aku langsung beranjak dari tempat duduk, dan masuk ke dalam kios. Kemudian, aku bergegas merapikan barang dagangan ku.
Setelah semua beres, aku segera menutup dan mengunci kios rapat-rapat, lalu berjalan dengan langkah cepat menuju kamar.
Aku mengambil uang hasil jualan tadi, lalu menyimpan nya di dalam saku celana ku. Setelah itu, aku mengambil tas kecil. Kemudian, aku memasukkan ponsel dan dompet ke dalam nya.
Dengan langkah yang tergesa-gesa, aku keluar dari kamar dan mengambil kunci motor, yang berada di atas kulkas.
Saat hendak berjalan menuju pintu utama, bang Darma yang sedari tadi masih duduk di ruang tamu pun memanggil ku.
"Mau kemana, dek?" tanya bang Darma dengan mimik wajah serius.
Mendengar pertanyaan bang Darma, aku langsung menghentikan langkah dan menoleh kepada nya.
"Mau ke rumah Naya." jawab ku.
"Mau ngapain kesana?" tanya bang Darma lagi.
"Aku lapar, aku mau minta makan sama Naya." jawab ku asal.
"Jangan bertingkah yang aneh-aneh lah, dek! Ngapain pulak kau minta makan sama dia. Malu-maluin aku aja kerjaan mu itu." cibir bang Darma.
"Sukak ku lah, kenapa rupanya? Gak usah kau urusin aku, urusin aja anak dan mantan kesayangan mu itu!" balas ku.
Setelah selesai berucap, aku bergegas keluar dari rumah. Lalu menyalakan motor, dan melajukan nya menuju ke rumah Naya sepupuku.
Aku sama sekali tidak memperdulikan bang Darma, yang sedang terpaku di depan pintu, sambil terus memandangi kepergian ku.
Tak butuh waktu lama, aku pun sudah tiba di tempat tujuan. Setelah memarkirkan motor di teras rumah Naya, aku mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum, Naya buka pinta nya, Nay! Naya, cepat buka pintu nya!" pekik ku kuat.
"Bocah gendeng ini kemana, sih? Lama banget buka pintu nya."
Aku menggerutu kesal, lalu mengintip dari jendela kaca yang berada di samping pintu.
__ADS_1
"NAYA, buka pintu nya!"
Aku kembali memekik, sambil terus menggedor-gedor pintu rumah Naya.
"Iya, sebentar! Berisik kali sih, manusia purba satu ini." omel Naya.
Setelah pintu terbuka lebar, Naya langsung membulat kan mata nya pada ku. Wajah nya tampak sangat kesal, karena kebisingan yang sudah aku lakukan tadi.
"Hai, sepupuku yang cantik dan imut-imut kayak marmut."
Aku menyapa Naya sambil melambaikan tangan, dan menyunggingkan senyum pada nya.
"Gak usah sok manis gitu deh! Ganggu istirahat ku aja." oceh Naya dengan wajah cemberut dan bibir mengerucut.
"Uluh uluh, ngambek niyeee!"
Aku meledek Naya, lalu mencubit gemas kedua pipi nya.
"Adoooh, sakit gombreng!"
Naya menjerit kuat, sambil mengelus pipi nya yang memerah akibat perbuatan ku.
"Helehh, lemah banget sih jadi cewek. Masa gitu aja sakit, cemen lu! Kayak aku dong, strong, kuat, bandel, plus tahan banting. Hahahaha." cibir ku.
"Dasar, gila!" gerutu Naya lagi.
"Baru tau ya, kalau aku gila, hahaha." gelak ku lagi.
Aku masuk ke dalam rumah Naya dan duduk di kursi ruang tamu. Sedangkan Naya, dia mengikuti langkah ku dan duduk di sebelah ku.
Naya menggeleng-gelengkan kepala nya karena melihat kelakuan ku, yang semakin lama semakin aneh menurut nya.
"Nay, aku mau nyetor uang nih!" ujar ku.
Aku mengeluarkan uang dari dalam saku celana. Kemudian, menyerahkan uang satu juta itu ke tangan Naya.
"Jangan seuzon dulu, itu uang hasil jualan ku hari ini. Tadi ada yang belanja baju, tas, sama sandal, sebesar satu juta tiga ratus lima puluh ribu." jelas ku panjang lebar.
"Oh, lumayan lah tu." balas Naya girang.
"Iya, makanya aku setor sama mu satu juta. Selebihnya, untuk pegangan ku. Kau jaga baik-baik semua uang dan perhiasan ku ya, Nay! Nih, upah nya." ujar ku.
Aku memberikan uang sebesar dua ratus ribu ke tangan Naya, sebagai ucapan terima kasih ku pada nya.
"Wah, baik banget manusia purba satu ini. Makasih banyak ya, Yu!"
Naya menerima uang pemberian ku, dengan wajah yang berbinar cerah. Secerah sinar matahari yang sedang memancarkan cahaya nya di luar sana.
"Tapi ingat ya, Nay! Kalau suami ku nanya tentang uang dan perhiasan ku, jangan katakan apa pun pada nya. Bilang aja kau gak tau apa-apa, tentang semua itu." ujar ku.
Aku memperingatkan Naya, agar dia tidak keceplosan ngomong pada bang Darma.
"Oke siap, bos! Kau gak usah khawatir, uang dan perhiasan mu bakalan aman di tangan ku." balas Naya meyakinkan ku.
"Iya, aku percaya dengan mu, Nay." ujar ku lagi.
"Bentar ya, Yu! Aku mau nyimpan uang ini dulu ke dalam." pamit Naya.
"Ya," jawab ku.
Naya pun langsung bangkit dari tempat duduk nya, dan berjalan masuk ke dalam kamar nya. Tak lama kemudian, Naya kembali duduk di sebelah ku.
"Yu, aku boleh nanya gak?" ujar Naya.
"Boleh, mau nanya apa an?" tanya ku.
"Emang nya rumah tangga mu masih gitu-gitu aja ya, sampe sekarang?" tanya Naya ragu.
__ADS_1
"Gitu-gitu maksud nya gimana?" tanya ku lagi.
"Maksud ku, masih berantakan seperti yang kau ceritakan haritu, ya." jelas Naya.
"Iya, Nay. Sekarang malah semakin menjadi-jadi, dari yang kemaren." jawab ku lirih.
"Menjadi-jadi gimana maksudnya?" tanya Naya penasaran.
Aku menghela nafas panjang. Kemudian, aku mulai menceritakan kejadian demi kejadian yang terjadi, di dalam rumah tangga ku saat ini kepada Naya.
"Suami ku semakin hari semakin tunduk dan patuh, kepada anak dan mantan nya, Nay. Aku bingung dengan perubahan sikap suami ku itu." jelas ku.
"Kok bisa gitu, Yu? Apa jangan-jangan..."
Naya menjeda kata-kata nya. Dia tampak ragu untuk meneruskan ucapan nya.
"Jangan-jangan apa sih, Nay? Kalau ngomong itu yang jelas, jangan setengah-setengah gitu!" gerutu ku kesal.
"Hehehehe, sabar dikit napa! Emosian terus bawaan nya, lagi dapet lu ya?" ledek Naya.
"Gimana aku gak emosi, coba? Kalau cara ngomong mu bikin orang kepo kayak gitu." lanjut ku.
"Iya iya, aku minta maaf. Aku khilaf, hihihi."
Naya cekikikan sendiri, karena melihat ekspresi wajah ku, yang sudah tidak enak di pandang mata.
"Gak usah cekikikan terus, Nay! Udah mirip kayak mak kunti aja kau itu. Ayo, cepetan ngomong!" omel ku.
Setelah puas cekikikan sendiri, Naya pun melanjutkan kata-katanya kembali.
"Apa jangan-jangan suami mu itu di guna-gunai, oleh anak dan mantan nya, Yu?"
Aku tersentak kaget, mendengar perkataan Naya barusan. Mata ku langsung membulat, menatap wajah Naya yang tampak sangat serius dengan ucapan nya.
"Pemikiran mu kok bisa sama dengan ku ya, Nay? Aku juga berpikiran seperti itu, selama beberapa hari ini." balas ku.
"Bahkan aku sampe ada niat, untuk membawa bang Darma pergi menemui ustadz. Biar dia di rukiyah di sana." lanjut ku lagi.
"Naaah, ide bagus tuh, Yu. Apa salah nya di coba? Mana tau sikap suami mu bisa berubah, seperti dulu lagi." ujar Naya.
"Iya juga sih, Nay. Tapi aku gak yakin, kalau suami ku bakalan mau di ajak kesana." balas ku.
"Oh, iya juga ya. Kok aku gak kepikiran sampe kesitu tadi." tambah Naya lagi.
"Kira-kira, ada cara lain gak, Nay?" tanya ku.
"Hmmmm, entah lah. Nanti aku coba cari informasi dulu ke orang-orang. Siapa tau ada yang bisa ngasih jalan keluar." jawab Naya.
"Oke, makasih ya, Nay. Udah mau membantu ku." ujar ku.
"Iya, Yu. Pokok nya, kau gak usah khawatir! Aku akan berusaha semampu ku, untuk membantu menyelesaikan masalah rumah tangga mu ini." balas Naya.
"Oke, Nay." ujar ku sambil tersenyum kecut pada Naya.
"Jelek kali senyum mu itu, bikin merinding aku aja lihat nya." ledek Naya.
"Dasar, bocah gendeng!" gerutu ku sambil menepuk kuat bahu Naya.
"Adoooh! Kebiasaan kali tangan mu, nyiksa aku kayak gini. Sakit tau gak." pekik Naya sambil meringis kesakitan.
"Hahaha, kapok! Siapa suruh ledekin aku terus dari tadi." balas ku.
Aku tertawa ngakak melihat Naya yang sedang meringis, akibat tepukan tangan ku.
"Awas kau, ya! Tunggu pembalasan ku nanti!" ancam Naya.
"Gak takut, week." balas ku sambil menjulurkan lidah kepada Naya.
__ADS_1