SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Mimpi


__ADS_3

Setelah mendengar penuturan ku, lelaki itu pun langsung menyerang ku dengan ganas. Dia melakukan permainan nya dengan durasi waktu yang cukup lama.


Lelaki itu juga melakukan gerakan cepat, dengan berbagai gaya dan posisi. Sehingga membuat ku semakin melayang-layang, dengan pelayanan nya tersebut. Setelah merasa puas, lelaki itu pun menyudahi permainan nya.


"Bagaimana, sayang? Apakah kau merasa puas, dengan apa yang sudah aku berikan tadi?" bisik lelaki itu.


"Iya, aku sangat puas. Kau sungguh luar biasa, aku sampai kagum dengan keperkasaan mu itu." jawab ku jujur.


"Hahahaha, kau memang pandai menggoda ku, sayang." gelak lelaki itu dengan suara menggelegar.


"Aku sangat menyukai keharuman tubuh mu ini, sayang. Kapan-kapan, aku akan datang kembali untuk melayani mu lagi." lanjut nya sambil tersenyum manis pada ku.


"Silahkan, datang lah sesuka hati mu! Aku akan selalu siap untuk menerima nya." jawab ku.


"Baik lah, sayang. Kalau begitu aku pergi dulu, ya!" pamit lelaki itu.


"Emang nya kau mau pergi kemana?" tanya ku penasaran.


"Aku akan kembali ke tempat asal ku." jawab nya.


Aku langsung termenung sejenak. Aku sedang mencerna kata-kata asal ku, yang di ucapkan lelaki itu tadi. Aku memejamkan mata sesaat, setelah itu aku pun kembali membuka mata sambil berkata...


"Emang nya asal mu dari ma..."


Aku menghentikan ucapan ku, karena tidak menemukan keberadaan lelaki itu. Aku celingukan kesana kesini, untuk mencari sosok lelaki yang sedang bersamaku tadi.


"Loh, dia pergi kemana? Kok tiba-tiba ngilang sih, aku kan belum siap ngomong!" gerutu ku heran.


Sedang sibuk mencari keberadaan lelaki tampan itu, tiba-tiba aku tersentak kaget, karena mendapatkan guncangan kuat di bahu ku.


"Dek, bangun, dek! Molor aja kerjaan mu." sungut bang Darma.


Aku langsung membuka mata, dan melihat raut wajah bang Darma yang sedang cemberut.


"Lololoh, kok aku ada disini? Apa kejadian tadi itu hanya mimpi, ya? Tapi kok kayak nyata." gumam ku pelan.


"Mulut mu itu kenapa komat-kamit gitu, hah? Kayak mbah dukun aja." omel bang Darma.


"Siapa yang lagi komat-kamit, sih? Asal njeplak aja muncung mu itu kalo ngomong." sungut ku kesal.


"Lah, itu tadi apa kalau bukan komat-kamit?" tanya bang Darma lagi.


"Mana ada sih, ngarang aja! Salah lihat abang tuh." bantah ku.


Aku bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi untuk membuang air kecil. Saat hendak membersihkan area pribadi ku, mata ku langsung terbelalak lebar.


Aku sangat terkejut, melihat cairan kental yang mengalir di atas lantai, tepat di bawah tempat ku berjongkok.


"Loh, ini cairan apa? Kejadian tadi kan cuma mimpi aja. Kenapa cairan ini bisa ada di sini, banyak pulak tu?" batin ku bingung.


Dengan pikiran yang sedang acak adut, memikirkan peristiwa yang aku alami saat tidur tadi, aku pun langsung bergegas kembali ke dalam kamar.


Saat membuka pintu, aku melihat bang Darma yang sedang berbaring di atas ranjang dalam keadaan polos, tanpa sehelai benang pun yang melekat di badan nya.


"Hantu satu ini mau ngapain lagi, sih? Untuk apa dia membuka semua pakaian nya?" batin ku.


Aku duduk di tepi ranjang sambil menyalakan rokok. Setelah itu, aku menoleh kepada bang Darma yang masih tampak anteng, dengan posisi telentang di samping ku.

__ADS_1


"Gak kerja, bang?" tanya ku basa-basi.


"Gak, dek. Abang udah di pecat." jawab bang Darma.


"Whaaaattt, di pecat?" pekik ku dengan suara melengking.


"Ssstttt, jangan kencang-kencang ngomong nya! Malu kalau sampe di dengar tetangga sebelah." gerutu bang Darma pelan.


"Emang nya kau ada berbuat apa, maka nya sampe di pecat kayak gitu?" selidik ku.


"Gak ada berbuat apa-apa kok. Alasan nya cuma karena sering absen aja." jawab bang Darma.


"Oh, gitu ceritanya. Trus, udah nyari kerjaan lain belum?" tanya ku.


"Udah, tapi belum dapat." jawab bang Darma.


Aku terus saja memandangi wajah bang Darma yang tampak lesu dan muram. Dia menatap langit-langit kamar, dengan meletakkan lengan di atas kening nya sendiri.


Pandangan mata nya tampak kosong dan menerawang. Mungkin dia sedang bingung, memikirkan gelar baru nya sebagai seorang pengangguran.


"Kau semalam nginap di mana, dek?" tanya bang Darma tanpa menoleh pada ku.


"Di rumah Naya." jawab ku sambil menghisap rokok.


"Bohong, kau pasti nginap di hotel lagi kan, dengan para selingkuhan mu itu?"


Bang Darma membentak ku dengan suara keras. Mata elang nya menyorot tajam pada ku, wajah sangar nya seakan-akan ingin memangsa ku hidup-hidup.


"Jangan asal nuduh, kalau gak ada bukti nya. Kalau kau gak percaya, tanya aja sama Naya sana!" balas ku.


"Ya ya ya, sukak hati kau lah situ!" jawab ku ketus.


Setelah selesai berdebat dengan bang Darma, aku langsung mematikan api rokok di dalam asbak. Saat hendak beranjak dari tepi ranjang, tiba-tiba bang Darma menarik kuat tangan ku, hingga membuat ku jatuh telungkup di atas tubuh nya.


"Auww, sakit tangan ku, bang!" jerit ku kuat.


Bukan nya melepaskan tangan ku, bang Darma malah semakin mempererat cengkraman tangan nya, di pergelangan tangan kanan ku itu.


Karena saking geram nya dengan perbuatan bang Darma, aku pun menjitak kening nya dengan sekuat tenaga. Dan itu berhasil membuat bang Darma melepaskan cengkraman tangan nya pada ku.


"Adoooh, benjol lah jidat ku ini kau buat, dek." pekik bang Darma.


Dia memegangi kening nya sambil meringis kesakitan, akibat ulah ku barusan.


"Kapok, maka nya jangan bertingkah yang aneh-aneh dengan ku! Kena imbas nya sekarang kan." ledek ku.


"Ck, jahat kali pun jadi orang. Sakit tau gak?" omel bang Darma lagi.


"Sukurin," balas ku santai.


"Awas kau, ya! Abang akan memberikan hukuman yang bertubi-tubi dengan mu hari ini." ancam bang Darma sambil mendekap erat tubuh ku.


"Coba aja kalau bisa!" tantang ku.


"Oke, abang akan buktikan ucapan abang tadi." jawab bang Darma.


Setelah mendengar tantangan ku, bang Darma pun langsung melancarkan aksinya. Dia menerkam ku, seperti layak nya hewan buas yang sedang kelaparan.

__ADS_1


Dan pada akhirnya, kegiatan panas pun terjadi di atas ranjang. Dengan badan yang penuh dengan keringat, bang Darma tak henti-hentinya memacu gerakan nya.


Beberapa saat kemudian, bang Darma pun terkulai lemas di atas tubuh ku, dengan nafas yang tidak beraturan.


"Haduh, capek nya, dek!"


Bang Darma mengangkat tubuh nya, lalu berbaring telentang di samping ku.


"Kau lapar gak, dek?" tanya bang Darma.


"Emang nya kenapa nanya-nanya, aku lapar atau gak?" tanya ku balik.


"Perut abang udah lapar soalnya. Minta duit mu lah, biar abang keluar cari makanan!" pinta bang Darma.


Bang Darma bangkit dari ranjang, dan memakai pakaian nya kembali. Setelah selesai berpakaian, dia menadah kan telapak tangan nya pada ku.


"Ambil uang nya di dalam tas kecil ku!"


Aku berucap sambil duduk bersandar di bahu ranjang. Sambil menyalakan rokok, aku melihat bang Darma yang sedang celingak-celinguk mencari keberadaan tas kecil ku itu.


"Dimana tas nya, dek?" tanya bang Darma.


"Itu, di dalam lemari!" jawab ku sambil menunjuk ke arah lemari pakaian.


"Oalah, pantesan aja di cariin dari tadi gak ketemu-ketemu. Ternyata, di simpan di dalam sini to." bang Darma menggerutu sambil membuka lemari pakaian.


"Ya iya lah, disini kan banyak tuyul kepala hitam. Kalau naruh uang sembarangan, bisa-bisa lenyap semua uang ku ini." balas ku.


"Hahahaha, bisa aja kau, dek." gelak bang Darma.


Setelah mendapatkan nya, bang Darma pun langsung menyerahkan tas itu ke tangan ku. Lalu kemudian dia duduk di sebelah ku, sambil tersenyum-senyum sendiri memandangi wajah ku.


"Dasar, orang aneh." batin ku.


Aku sama sekali tidak menghiraukan pandangan nya itu. Aku tetap menunduk dan mengeluarkan selembar uang merah, dari dalam tas kecil ku.


"Nah, ini uang nya! Cukup kan segini?" tanya ku sambil menyodorkan uang itu pada bang Darma.


"Cukup dong, ada sisa nya malah. Adek mau makan apa?" tanya bang Darma.


"Nasi Padang pake rendang." jawab ku.


"Oke, tunggu sebentar, ya! Abang carikan makanan nya dulu." ujar bang Darma.


"Iya, cepat ya, bang! Perut ku udah teriak-teriak terus nih dari tadi, minta di isi kata nya." canda ku.


"Oke, dek." balas bang Darma sambil melangkah keluar dari kamar.


Setelah kepergian bang Darma, aku melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, aku langsung memakai pakaian, dan duduk manis di atas sofa panjang yang berada di ruang tamu.


"Hufff, lama-lama kasian juga lihat bang Darma. Udah lah di pecat dari kerjaan nya, trus gak ada megang uang pulak." gumam ku.


"Semua ini akibat perbuatan anak kesayangan mu itu, bang. Hidup mu jadi hancur berantakan, hanya karena selalu menuruti gaya hidup kedua benalu itu." lanjut ku lagi.


Aku membuang nafas kasar, mengingat semua perbuatan anak dan mantan istri suami ku itu.


"Kapan kah mereka akan berhenti, mengganggu ketenangan rumah tangga kita, bang?" batin ku.

__ADS_1


__ADS_2