SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Membalas Tanpa Menyentuh


__ADS_3

Setelah mengistirahatkan diri dan otak selama dua jam, aku mulai membuka mata dan melangkah masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Kemudian aku kembali duduk di pinggiran ranjang, sembari mengotak-atik ponsel kembali.


"Kasih tau Dina gak ya, tentang masalah anak nya tadi?" batin ku bingung.


Aku menggenggam erat ponsel itu sambil berpikir. Apakah aku harus memberitahu Dina atau tidak, tentang kelakuan anak nya dengan bang Darma.


Setelah beberapa saat berpikir dan menimbang-nimbang, akhirnya aku pun memutuskan untuk memberitahu Dina. Agar dia bisa memberi pelajaran kepada anak nya sendiri.


"Ah, kasih tau aja lah biar kapok." lanjut ku.


Aku mulai mengetik kata-kata yang pas, untuk si perusak rumah rumah tangga ku itu.


"Heh, lalat ijo! Kau nasehati anak kesayangan mu itu, biar gak kegatalan terus sama suami ku."


Selesai mengetik aku pun langsung mengirimkan nya ke nomor Dina, mantan istri bang Darma tersebut. Tak lama kemudian, balasan pesan dari Dina pun masuk ke ponsel ku.


"Wah, cepat juga dia ngerespon nya." gumam ku.


Aku tersenyum miring sembari menggelengkan kepala, saat membaca balasan pesan dari mantan istri bang Darma tersebut.


"Eh, perempuan gila. Kau jangan asal nuduh ya, gak mungkin anak ku segila itu." balas Dina.


"Kalau kau gak percaya, kau telpon aja anak mu sekarang! Pasti dia lagi di rumah kami sekarang." balas ku.


"Trus, satu lagi yang harus kau ingat ya! Kau harus awasi gerak-gerik mereka berdua, setelah mereka pulang ke rumah mu. Kau buktikan aja sendiri kata-kata ku ini benar atau tidak, paham!"


Lanjut ku sambil menutup percakapan, dan menonaktifkan ponsel ku kembali. Setelah itu aku meletakkan ponsel di atas meja, kemudian mengambil rokok lalu menyalakan nya.


"Hahaha, rasa kan lah pembalasan ku bocah tengik! Aku gak perlu repot-repot mengotori tangan ku untuk menghajar mu." gumam ku.


"Biar lah ibu mu sendiri yang akan melakukan, apa yang seharusnya aku lakukan pada mu." lanjut ku lagi.


Aku tertawa sendiri membayangkan bagaimana reaksi Dina, ketika dia memergoki anak nya sendiri yang sedang bergumul ria di atas ranjang, bersama laki-laki yang akan menikahi nya dalam waktu dekat ini.


Mendengar suara tawa ku yang cukup kuat, bang Agus pun langsung terjaga dari tidur lelap nya. Dia menguap dan menggeliat kan badan nya sembari bertanya...


"Kenapa ketawa-ketawa gitu, say? Bikin merinding abang aja." ujar bang Agus.


Bang Agus mulai mendekati ku dan membaringkan diri nya di samping ku. Kemudian dia meletakkan kepala nya di atas pangkuan ku.


Sambil mengelus-elus kepala botak nya, aku pun mulai menceritakan tentang apa yang sudah aku lakukan barusan.

__ADS_1


"Aku baru aja mengirimkan kata-kata mutiara yang indah untuk benalu itu, bang." tutur ku.


"Kata-kata mutiara?" tanya bang Agus heran dengan kening mengkerut.


"Iya, " jawab ku santai sambil sesekali menghisap rokok.


"Maksud nya kata-kata yang bagaimana sih?" tanya bang Agus semakin bingung.


Bang Agus menatap wajah ku dengan serius. Dia tampak sangat penasaran dengan jawaban yang keluar dari bibir ku.


"Aku menyuruh Dina untuk menasehati anak nya, dan aku juga menyuruh nya untuk mengawasi gerak-gerik mereka berdua." jawab ku.


"Ooohhh, gitu. Bagus juga ide mu itu, say. Jadi kau gak perlu capek-capek lagi untuk membalas perbuatan mereka, ya kan!" ujar bang Agus.


"Yups, betul sekali, hahaha." gelak ku.


"Kira-kira sekarang mereka bertiga lagi ngapain ya, bang?" tanya ku dengan pandangan kosong menatap lurus ke depan.


"Lagi perang dunia mungkin." balas bang Agus asal.


"Ya, mungkin juga sih." balas ku.


Aku dan bang Agus terdiam sejenak, kami berdua sibuk dengan pikiran dan lamunan masing-masing. Setelah beberapa saat hening, bang Agus pun kembali membuka percakapan.


"Enggak, aku cuma kasih peringatan aja tadi sama dia. Biar dia lebih berhati-hati dan waspada terhadap anak nya sendiri." jawab ku sambil menghisap rokok kembali.


"Loh, kenapa gak di kirim sekalian? Kan biar dia makin percaya dengan kelakuan anak nya." tanya bang Agus lagi.


"Gak perlu, bang. Pasti dia akan lebih waspada sekarang, setelah mendengar kata-kata ku tadi." jawab ku.


"Kalau aku kirimkan video itu, bakalan gak seru jadi nya. Biar lah Dina melihat dan membuktikan dengan mata kepala nya sendiri, seperti yang aku alami tadi sewaktu di rumah." lanjut ku.


"Ya, gitu pun bagus juga sih. Jadi dia juga bisa merasakan sakit nya di khianati oleh orang terdekat nya sendiri." ujar bang Agus.


"Ya itu lah maksud ku tadi, bang. Maka nya aku gak mau ngirim kan video itu." lanjut ku.


"Ya ya ya, pintar juga ternyata wanita ku ini." balas bang Agus sembari manggut-manggut.


"Dari pada mikirin mereka terus, mendingan kita cari makan yok, say! Perut abang udah mulai lapar nih." tutur bang Agus sambil memegangi perut nya.


"Abang cari sendiri aja ya, aku nunggu disini aja!" balas ku.


"Oh, ya udah kalo gitu." balas bang Agus.

__ADS_1


Bang Agus segera bangkit dari pangkuan ku, dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri nya. Setelah selesai, dia langsung memakai pakaian nya sambil bertanya...


"Mau makan apa, say?" tanya bang Agus.


"Hmmmm, nasi Padang aja lah. Lauk nya rendang dan perkedel, trus kuah nya minta banyakin." jawab ku.


"Oh, oke." balas bang Agus.


Bang Agus bergegas melangkah keluar dari kamar, lalu mengunci pintu nya dari luar.


Setelah bang Agus pergi, aku kembali merebahkan diri di atas ranjang. Aku menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang.


Aku mengingat kembali kejadian yang sangat menyakitkan itu, dengan mata yang mulai berembun.


"Aku sama sekali gak menyangka, kalau perbuatan mu sampai serendah itu, bang." gumam ku.


Air mata yang tadi nya hanya menggenang di pelupuk mata ku, kini berhasil lolos dan kembali mengaliri kedua pipi ku.


"Kenapa harus dia yang kau nikmati? Kenapa harus dia tempat untuk pelampiasan hasrat mu?" jerit ku dalam hati.


Aku kembali menangisi perbuatan hina suami ku. Aku sangat kecewa atas kelakuan bej*t yang sudah di lakukan nya di depan mata ku.


Kalau saja dia melakukan nya dengan wanita lain, mungkin hati ku tak kan sesakit ini.


"Sebegitu rakus nya kah dirimu, sampai-sampai kau tidak lagi memperdulikan masa depan anak mu sendiri, bang." gumam ku lirih.


Setelah beberapa saat merenung nasib diri, aku beranjak dari ranjang dan mengambil ponsel ku yang tergeletak di atas meja rias.


Dengan hati yang sedikit was-was, aku pun segera mengaktifkan ponsel kembali. Setelah ponsel itu aktif, mata ku langsung membulat saat melihat begitu banyak pesan masuk dari bang Darma, Dina, dan juga Yuni.


Mereka bertiga menyerang ku dengan kata-kata yang cukup kasar dan pedas menurut ku.


"Woy, perempuan gila! Pasti kau kan yang ngadu-ngadu sama mamak ku, tentang perbuatan kami tadi? Dasar, perempuan licik!" pesan dari Yuni.


"Kau itu udah gila ya, dek! Untuk apa kau mengadu yang tidak-tidak dengan Dina? Bikin ulah aja pun kerjaan mu." pesan dari bang Darma.


"Gara-gara kelakuan mu itu, Dina jadi ngamuk-ngamuk sama kami berdua. Puas kau sekarang kan, udah menghancurkan hubungan kami bertiga?" sambungan pesan dari suami gila ku itu.


Aku hanya tersenyum kecut, ketika membaca pesan dari bang Darma. Setelah itu aku pun lanjut membaca pesan dari Dina.


"Ternyata benar apa kata mu tadi. Mereka berdua telah melakukan hal gila di belakang ku. Sebenarnya kau tau dari mana perbuatan mereka seperti itu? Apakah kau juga pernah memergoki mereka berdua?" pesan dari Dina.


Aku sedikit lega membaca semua pesan dari mereka bertiga. Akhirnya perbuatan hina bang Darma dan Yuni pun ketahuan juga oleh Dina.

__ADS_1


"Alhamdulillah, akhirnya terbongkar juga semua nya." ucap syukur ku dalam hati sembari tersenyum sumringah.


__ADS_2