SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Godaan Yuni


__ADS_3

*Kembali ke kediaman Dina*


Setelah keluar dari rumah, Darma segera berjalan menuju pangkalan ojek yang berada tidak jauh dari rumah nya.


"Bro, tolong antar kan ke perumahan Kamboja ya!" pinta Darma kepada salah satu tukang ojek yang sedang mangkal di tempat tersebut.


"Oke, bang." balas di tukang ojek lalu menyerahkan helm ke tangan Darma.


Setelah memakai helm ke kepala nya, Darma pun segera naik ke atas motor dan berlalu pergi menuju rumah Dina.


Setibanya di depan rumah mantan istri nya itu, Darma pun segera turun dari motor dan melepaskan helm nya.


"Oke, makasih ya, bro!" ujar Darma sambil menyerahkan helm dan ongkos nya.


"Oke sama-sama, bang." balas si tukang ojek.


Lalu ia pun kembali melajukan kendaraan nya, dan berlalu pergi dari hadapan Darma. Dengan langkah ogah-ogahan, Darma pun berjalan ke arah pintu utama lalu mengetuk nya.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum," salam Darma.


Setelah beberapa kali ketukan, baru lah terdengar suara Yuni menyahuti dari dalam rumah.


"Wa'laikum salam, ya tunggu bentar!" pekik Yuni dengan suara cempreng nya.


Tak lama kemudian, pintu pun terbuka lebar dan nampak lah sosok Yuni yang sedang tersenyum manis, dengan keadaan hanya menggunakan handuk pendek di tubuh nya.


Mata Darma langsung mendelik dan terpana, melihat pemandangan indah nan menggiurkan di depan nya. Yuni semakin melebarkan senyuman nya, ketika melihat Darma yang sedang terpesona melihat tubuh nya.


"Yes, akhirnya rencana ku berhasil juga." batin Yuni girang.


Yuni memang sengaja hanya memakai handuk pendek untuk menyambut kedatangan Darma, agar lelaki pujaan nya itu tergoda oleh kemolekan tubuh nya.


"Bang, kok malah bengong sih? Sini masuk, kita ngobrol nya di dalam kamar aja!" seru Yuni.


Kemudian ia menarik tangan Darma ke dalam rumah, dan tak lupa untuk mengunci pintu kembali. Darma tidak menolak ataupun berkata apa-apa, ia hanya menurut dan mengekori langkah Yuni dari belakang.


Sesampainya di dalam kamar, Yuni pun langsung mengunci pintu dan melepaskan handuk yang melilit di tubuh ramping nya. Dan itu berhasil membuat Darma semakin melebarkan mata nya, ketika melihat tubuh polos gadis kecil nya tersebut.


Setelah itu, Yuni pun mendekati Darma, dan mengulurkan tangan nya ke arah belalai Darma. Ia memasukkan tangan nya ke dalam celana Darma, lalu mengelus-elus nya dengan lembut.


"Bang, Yuni pengen. Kita main yok!"


Bisik Yuni sambil menggigit bibir bawahnya, dan terus mengelus belalai Darma yang sudah mulai terbangun akibat ulah nya tersebut.


Karena sudah mulai terbakar gairah oleh perbuatan Yuni, Darma pun langsung mengangguk dan menyetujui ajakan nikmat tersebut.


"Oke, sayang. Abang akan siap melayani mu hari ini." balas Darma dengan senyum mengembang di bibir nya.


Mendengar jawaban Darma, Yuni pun langsung tersenyum penuh kemenangan. Ia segera menarik tangan Darma, lalu merebahkan tubuh nya di atas kasur dengan posisi telentang.


Kemudian Yuni menekuk sedikit lutut nya, lalu melebarkan kedua kaki nya. Hingga terpampang dengan jelas, perbukitan yang sangat rimbun oleh rerumputan liar yang tubuh di sekeliling nya.


Darma menelan saliva nya dengan kasar, sambil terus memfokuskan pandangannya ke arah pangkal paha Yuni.


"Ayo cepetan mulai, bang! Yuni udah gak sabar, pengen ngerasain itu." desak Yuni dengan suara serak.


Lalu ia menunjuk ke arah belalai Darma, yang masih tersembunyi di dalam celana panjang nya. Darma pun tampak semakin bersemangat mendengar rengekan manja Yuni.


"Oke, sayang ku." balas Darma dengan senyum menyeringai di wajah nya.


Tanpa ba-bi-bu lagi, Darma pun mulai membuka seluruh pakaian nya, dan mendekati tubuh Yuni yang tampak sudah siap untuk di gempur oleh Darma.

__ADS_1


Setelah naik ke atas kasur, Darma pun mulai melancarkan serangan nya. Ia mencumbui tubuh Yuni dari ujung rambut sampai ujung kaki tanpa ada yang terlewat kan sedikit pun. Ia mencium bibir dan leher Yuni, lalu meninggalkan beberapa tanda merah di sana.


Setelah itu, ia pun menurunkan ciuman nya di bagian benda kenyal Yuni. Saat bibir Darma menempel di ujung benda kenyal itu, suara desah*n nikmat pun mulai terdengar dari bibir Yuni.


"Aakh, nikmat sekali, bang. Terus bang, aakh." racau Yuni dengan mata terpejam menikmati perbuatan Darma.


Darma yang sedang asyik menikmati dua benda kenyal itu pun tampak semakin bersemangat, ketika mendengar suara-suara desah*n yang keluar dari bibir Yuni.


Setelah selesai dengan cumbuan nya, Darma pun mulai mengarahkan belalai nya ke depan milik Yuni.


Setelah di rasa posisi nya sudah tepat, Darma pun langsung menghentak kan nya dengan kuat, hingga membuat Yuni sedikit tersentak akibat ulah nya tersebut.


Hingga pada akhirnya, permainan panas nan nikmat pun terjadi di antara mereka berdua. Darma memacu gerakan cepat nya, sambil menempelkan bibir nya di benda kenyal Yuni.


Dan itu membuat Yuni semakin tidak terkendali, menerima kenikmatan yang sungguh luar biasa dari lelaki pujaan hati nya. Suara-suara desah*n mereka pun terdengar saling bersahutan, dan menggema di setiap sudut kamar tersebut.


Setelah saling memberi dan menerima selama hampir dua jam, Darma pun semakin mempercepat laju gerakan nya. Hingga akhirnya, mereka berdua pun mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan.


"Bang, Yuni sampai, baaang!" pekik Yuni sambil mengeratkan pelukan nya dan melingkarkan kedua kaki nya di pinggang Darma.


Begitu juga dengan Darma, ia memekik kuat sambil terus menghentak-hentakkan belalai nya. Darma menyemprot kan cairan nya ke dalam milik Yuni sampai habis tak bersisa.


Dan saat ia mencabut belalai nya, tampak lah cairan hangat itu mengalir dari bibir gua Yuni, hingga jatuh membasahi seprai kasur nya.


"Fiuh, akhir nya selesai juga." gumam Darma sambil menghapus keringat di kening nya.


Setelah itu, Darma pun menjatuhkan tubuh basah nya di sebelah Yuni. Masih dengan nafas yang ngos-ngosan, Yuni pun mengambil tisu lalu membersihkan bibir gua nya, sampai tidak ada lagi yang mengalir dari dalam nya.


Setelah selesai, Yuni mencampakkan tisu bekas itu ke dalam tong sampah yang berada di samping meja rias nya.


"Mamak mu kemana, Yun? Dari tadi kok gak ada nampak?" tanya Darma membuka percakapan kembali.


"Entah lah, Yuni juga gak tau. Kemaren siang dia pergi, trus sampe sekarang belum balek-balek juga." jawab Yuni.


"Apa jangan-jangan, dia masih di hotel ya? Tapi sama siapa?" Darma menduga-duga dalam hati, tentang keberadaan Dina saat ini.


Saat sedang asyik memikirkan Dina, tiba-tiba orang yang di pikirkan pun muncul, dan mengetuk-ngetuk pintu kamar Yuni.


Tok tok tok...


"Yun, buka pintu nya! Mamak bawa makanan nih, kau udah makan belom?" pekik Dina sambil terus mengetuk-ngetuk pintu kamar anak nya.


Mendengar suara ibu nya, Yuni dan Darma pun saling pandang-pandangan. Lalu dengan gerakan cepat, mereka berdua pun memakai pakaian masing-masing. Selesai berpakaian, Yuni pun menyahuti pekikan ibu nya.


"Ya, tunggu bentar, maaakk!" teriak Yuni lalu membukakan pintu untuk ibu nya.


Setelah pintu terbuka, Dina pun langsung membelalakkan mata nya, ketika melihat Darma yang sedang duduk santai di tepi kasur sambil menghisap rokok nya.


"Loh, kau disini, Dar? Kapan kau datang?" tanya Dina penasaran.


"Baru aja nyampe, kau sendiri dari mana?" tanya Darma balik.


"Ohhh, aku nginap di rumah teman ku. Kami habis party-party semalaman suntuk." bohong Dina.


Dina sengaja berbohong kepada Darma tentang keberadaan nya. Ia tidak ingin Darma dan Yuni tahu, kalau sebenarnya ia bersama pacar nya memadu kasih semalaman di hotel.


Mendengar jawaban Dina, Darma tidak langsung percaya. Ia memandangi tubuh Dina dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik.


"Beneran?" tanya Darma tidak yakin.


"Ya...Ya beneran lah. Buat apa aku bohong, gak ada guna nya juga." jawab Dina sedikit gugup.


Melihat reaksi Darma dan ibu nya yang saling pandang-pandangan, Yuni pun sedikit cemburu. Karena tidak ingin memperkeruh keadaan, ia pun berinisiatif untuk mengalihkan perhatian mereka, agar tidak lagi saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


"Mamak bawa makanan apa?" tanya Yuni.


Dina yang sedang terpaku memandang Darma pun langsung tersadar dari lamunannya, lalu mengalihkan perhatian nya kepada Yuni.


"Eh ini, mamak ada bawa sate ayam. Kau mau gak?" tanya Dina dengan nada sedikit panik.


"Waaahh, kebetulan banget nih. Yuni belum makan apa-apa dari tadi."


Jawab Yuni dengan wajah berbinar cerah, lalu menyambar bungkusan sate itu dari tangan Dina. Setelah itu, Yuni pun duduk bersila di sebelah Darma, dan memakan sate nya tanpa menawari apapun kepada lelaki itu.


Sedang kan Darma, ia hanya diam sambil terus memandangi Yuni yang sedang asyik melahap makanan pemberian ibu nya.


"Kau mau gak, Dar?" tawar Dina.


"Ya mau lah, kalau di kasih." jawab Darma dingin.


"Oh, kirain gak mau. Nah, makan lah!" ujar Dina.


Kemudian ia menyerahkan bungkusan sate itu ke tangan Darma dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.


"Loh, mau kemana lagi?" tanya Darma penasaran.


"Mau istirahat di kamar." jawab Dina lalu masuk ke dalam kamar pribadi nya, dan merebahkan tubuh lelah nya di atas ranjang.


Setelah kepergian Dina, Darma pun mulai membuka makanan nya dan menyantap nya dengan santai, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun kepada Yuni.


Selesai makan, Darma membuang bungkus nya ke dalam tong sampah lalu melangkah keluar dari kamar. Melihat pergerakan Darma, Yuni pun kembali membuka suara nya.


"Mau kemana?" tanya Yuni dengan tatapan penuh curiga.


"Ambil minum ke dapur." jawab Darma lalu menghentikan langkah nya, dan menoleh ke arah sumber suara.


"Oh, ambil kan untuk Yuni juga ya, bang!" pinta Yuni.


"Ya," jawab Darma lalu melanjutkan langkah nya menuju dapur.


Tak lama kemudian, Darma pun kembali ke dalam kamar, dengan membawa segelas air putih di tangan nya.


"Nah, ini minum nya." ujar Darma sambil meletakkan gelas itu ke depan Yuni.


"Oke, makasih ya, bang." balas Yuni sembari tersenyum.


"Ya," balas Darma.


Setelah itu, Darma pun kembali mendudukkan diri di lantai dan menyalakan rokok nya. Dengan pandangan kosong menatap lurus ke depan, Darma pun kembali mengingat ucapan Dina tadi.


"Apa bener dia nginap di rumah teman nya? Kok aku gak percaya ya?" batin Darma meragukan pengakuan Dina.


Sedang sibuk bergelut dengan isi kepala nya, tiba-tiba Darma tersentak kaget karena mendapatkan tepukan kuat di lengan nya.


"Bang, kok bengong terus sih dari tadi? Emang lagi mikirin apa sih? Mikirin mamak ya?" selidik Yuni sembari menautkan kedua alisnya.


Ia semakin curiga dengan gelagat Darma, yang tampak semakin aneh sejak kedatangan ibu nya tadi. Mendengar pertanyaan Yuni, Darma pun langsung gelagapan dan panik. Ia tidak menyangka, jika sedari tadi Yuni terus memperhatikan gerak-gerik nya.


"Eng-enggak lah, ngapain juga abang mikirin dia, kayak kurang kerjaan aja." bantah Darma gugup.


"Yakin?" selidik Yuni lagi.


"Ya... Yakin lah, kenapa pulak gak yakin. Gak usah berpikiran yang aneh-aneh lah. Kalau abang bilang enggak, ya enggak, paham!" balas Darma ketus.


Ia berusaha meyakinkan Yuni, agar gadis kecil nya itu tidak terus-menerus mencurigai nya. Karena tidak ingin memperpanjang masalah, Yuni pun akhirnya pasrah dan berpura-pura percaya dengan perkataan Darma.


"Oh, syukur lah kalo gitu." balas Yuni sembari tersenyum kecut.

__ADS_1


__ADS_2