
Sejak cekcok dengan bang darma, aku berusaha bersikap sedingin mungkin pada nya. Yang biasa nya aku cerewet, dan banyak bicara. Sekarang jadi pendiam, dan bersuara seperlu nya saja.
"Kalau kau dingin, aku juga bisa lebih dingin, bang." batin ku.
Hari-hari berjalan seperti biasa, bang darma pergi bekerja, aku sibuk mengurus rumah dan berjualan. Sedang asyik menyusun barang dagangan di dalam kios, tiba-tiba Yuni datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu.
"Assalamualaikum, buk."
Yuni mengucapkan salam, sambil melangkah masuk ke dalam kios, dan menyalami tangan ku.
"Wa'laikum salam," balas ku.
"Ini anak, mau ngapain lagi kesini?" batin ku mulai curiga dengan kedatangan nya.
"Ada apa, Yun?" tanya ku langsung, tanpa basa-basi.
"Buk, boleh pinjam motor nya gak? Satu hari aja, buk. Besok Yuni pulang kan lagi motor nya!"
Yuni berucap dengan santai, sambil duduk di kursi plastik yang sudah tersedia, di lama kios ku itu.
Motor di rumah kami, memang ada dua. Satu untuk bang Darma pergi bekerja, dan satu lagi, untuk keperluan ku di rumah. Seperti pergi belanja barang dagangan, dan lain-lain.
"Gak bisa, Yun! Motor itu untuk kendaraan ibuk di rumah. Untuk pergi belanja, untuk ngantar-ngantar barang." tolak ku dengan tegas.
"Satu hari aja kok, buk. Besok kan udah Yuni balek kan lagi, ke sini!" balas Yuni masih kekeuh.
"Mau satu hari kek, mau satu menit kek. Tetap aja gak bisa, Yun!" balas ku mulai kesal.
Mendengar jawaban ku, Yuni pun mulai emosi dan mulai membantah ucapan ku, dengan kata-kata yang cukup kasar menurut ku.
"Kok gitu sih, buk? Itu kan motor bapak ku. Masa anak nya mau minjam motor bapak nya aja, gak boleh? Pelit banget sih, jadi orang." balas Yuni mulai melawan ucapan ku.
"Apa kau bilang, Yun? Motor bapak mu?" tanya ku mulai sewot.
"Motor itu punya ku, bukan motor bapak mu, paham! Beli nya juga pakai uang pribadi ku. Motor punya bapak mu itu cuma satu, yang lagi di pakai nya untuk bekerja." lanjut ku.
"Kalau kau mau pinjam, ya pinjam lah motor bapak mu itu! Jangan pinjam motor ku."
__ADS_1
Aku berucap panjang lebar pada anak tiri ku itu. Karena saking kesal nya, mendengar ucapan nya tadi. Aku paling tidak suka di kasari oleh orang lain, termasuk anak bang Darma yang satu ini.
"Enak aja, dia bilangin aku pelit." batin ku.
Setelah mendengar ocehan ku, Yuni terdiam sejenak. Setelah beberapa saat hening, dia pun kembali bertanya pada ku.
"Emang nya jam berapa bapak pulang kerja nya, buk?" tanya Yuni.
Yuni mulai mengeluarkan ponsel, dari dalam saku celana nya, dan mengotak-atik ponsel tersebut. Aku memperhatikan gerak-gerik Yuni, sambil menjawab pertanyaan nya.
"Jam lima, emang kenapa?" selidik ku.
"Yuni mau nungguin bapak pulang kerja. Mau minjam motor punya bapak ku!" ucap Yuni penuh penekanan, dengan kata bapak ku.
Aku tersenyum miring, mendengar ucapan nya yang cukup menyinggung itu. Sejak cekcok dengan ibu nya Yuni, aku menjadi tidak sreg lagi dengan anak tiri ku itu. Bawaan nya mau emosi saja, kalau sudah melihat wajah sok polos nya itu.
"Anak bau kencur ini, mau coba bermain-main dengan ku. Oke, aku ladeni permainan mu, Yun!" sungut ku dalam hati.
"Percuma aja kau nungguin bapak mu, Yun. Aku yakin, bapak mu itu gak bakalan mau, meminjam kan motor nya dengan mu." ucap ku santai.
"Ibuk kok ngomong nya gitu, sih? Dia itu kan bapak ku, ya gak mungkin lah bapak ku gak mau minjamin motor nya, untuk di pakai anak nya sendiri!" Yuni tetap ngotot dengan keputusan nya.
"Ibuk jangan sembarangan ngomong, ya!Mamak ku itu orang baik, bukan kayak ibuk, bekas cewek malam."
Balas Yuni ketus, dia tidak terima dengan ucapan ku yang mengata-ngatai ibu nya. Setelah mendengar celotehan anak tiriku itu, aku pun tidak mau kalah. Aku langsung menjawab semua cibiran nya dengan santai dan tenang.
"Wow! Anak bau kencur udah berani melawan sekarang, ya? Udah merasa paling hebat kau sekarang, Yun? Ck ck ck, memang bener kata orang-orang ya, buah jatuh tak jauh dari pohon nya!" sindir ku sembari tersenyum miring.
"Asal kau tau ya, Yun! Walau pun aku dulu nya nakal, tapi aku masih punya harga diri. Bukan kayak mamak mu itu. Udah cerai, tapi masih mengganggu mantan suaminya, yang udah bahagia sama istri baru nya." jawab ku tak mau kalah.
"Dan, apa tadi kau bilang? Kau ngatain aku, bekas cewek malam? Hello, ngaca dulu, Yun! Sebelum ngata-ngatain orang." lanjut ku.
"Emang nya kau gak sadar, ya? Kalau mamak mu itu, bekas cewek malam juga? Bahkan, mungkin bisa lebih parah dari aku." sindir ku.
"Maksud ibuk apa, ngata-ngatain aku sama mamak ku, hah? Mamak ku bukan orang kayak gitu, ibuk gak usah mengada-ada. Ibuk itu bukan siapa-siapa bagi ku!" balas Yuni.
"Jadi gak usah sok ngatur-ngatur hidup ku! Gak usah sok menguasai harta bapak ku, ingat itu!"
__ADS_1
Yuni menjawab dengan lantang, sambil berdiri di depan ku dengan melipat kedua tangan nya di perut.
"Ow ow ow, siapa yang ngata-ngatain kalian?" tanya ku dengan kening yang mengkerut.
"Heh, Yuni! Asal kau tau ya, yang aku bilang itu semua nya fakta, bukan mitos. Lagian, harta bapak mu itu yang mana? Perasaan, bapak mu itu gak ada harta apa-apa tuh." jawab ku sinis.
Yuni langsung terdiam, mendengar ocehan ku. Dia tidak bisa menjawab kata-kata ku barusan. Dia pun mendudukkan dirinya kembali di atas kursi, sambil memainkan ponsel nya.
"Hahahaha, Ayu di lawan! Kau pikir aku ini perempuan lemah? Yang bisa di bodoh-bodohin, yang bisa di injak-injak gitu aja, hah? Kau salah besar jika meremehkan ku, Yun!" ucap ku.
"Aku tidak selemah dan sebodoh, seperti yang kau kira."
Lanjut ku dengan lantang, aku berdiri dan bersidekap tepat di depan Yuni.
"Terserah, ibuk aja lah! Aku udah males, meladeni omongan ibuk lagi. Gak ada guna nya juga buat ku." jawab Yuni,
Dia terus saja memainkan ponsel nya, tanpa melihat pada ku. Melihat tingkah Yuni seperti itu, aku pun kembali mencibir nya.
"Naah, tu tau! Jadi gak usah sok melawan, sama orang yang lebih berpengalaman seperti aku. Kau itu gak ada apa-apanya, di banding kan dengan ku!" balas ku.
"Dari kecil, aku udah puas makan asam garam kehidupan ini. Jadi, kau jangan pernah lagi meremehkan kemampuan ku, PAHAM!" aku menyombongkan diri pada Yuni.
Aku memang harus bersikap tegas dan keras seperti itu, kepada dua parasit (Yuni dan ibu nya) tersebut.
Karena dari dulu prinsip hidup ku itu, jika orang berbuat baik pada ku, maka aku juga akan berbuat baik pada mereka. Tapi, jika orang berbuat jahat pada ku. Maka, aku juga bisa lebih jahat kepada mereka.
Hidup di perantauan itu, harus keras dan juga harus tahan banting. Agar tidak mudah di injak dan di tindas, oleh siapa pun. Setelah selesai otot-ototan dengan ku, akhirnya Yuni pun pamit pulang.
"Aku balek aja lah, buk!" pamit nya.
Yuni berdiri dari tempat duduk nya, dan berlalu pergi begitu saja dari hadapan ku. Aku sama sekali tidak menjawab ucapan pamit nya.
Aku hanya memandangi kepergian Yuni, dengan senyuman yang mengandung banyak arti dan misteri.
"Tunggu aja tanggal main nya, Yun! Kau pasti akan tau nanti, gimana sikap asli ibu tiri mu ini, hahaha." aku terkekeh sendiri di dalam kios.
"Bila kebaikan ku, selama ini tidak pernah kau hargai. Maka, jangan salah aku. Jika mulai saat ini, aku akan melakukan hal-hal gila pada mu, dan juga ibu mu itu, Yun!"
__ADS_1
Gumam ku pelan sambil mengepalkan tangan, saking geregetan nya dengan kedua parasit tersebut.
*Akibat setetes nira, rusak susu Sebelanga*