
"Nah, tu tau." balas ku dingin.
Aku segera beranjak dari tempat kursi dan menyampirkan tas ransel di pundak, lalu aku pun berpamitan dengan Naya.
"Aku pergi dulu ya, Nay. Oiya, hampir aja aku lupa, ini simpan kan uang ku ya. Takut nya nanti di rampok pulak sama suami ku." tutur ku.
Aku mengeluarkan uang sebesar sepuluh juta dari dalam tas, lalu memberikan nya ke tangan Naya.
"Wah, banyak betul uang mu, Yu. Dapat dari mana nih?"
Tanya Naya dengan wajah berbinar cerah melihat tumpukan uang biru di tangan nya.
"Dari hasil ngepet." jawab ku asal.
"Hah, yang bener?" balas Naya sedikit terkejut.
"Udah ah, jangan banyak tanya lagi, aku buru-buru nih. Nah, ini uang jajan mu." jawab ku.
Aku mengeluarkan uang sebesar dua ratus ribu dan menyerahkan nya kepada Naya. Wajah Naya semakin bersinar cerah saat melihat uang saku yang aku berikan untuk nya.
"Waaahh, makasih banyak ya, Yu. Kau memang sepupuku yang paling baik sedunia." puji Naya dengan senyum yang mengembang.
"Helehh, lebay. Oke lah, aku berangkat dulu ya, bye." balas ku.
"Oke, hati-hati di jalan ya, salam buat botak tuyul mu!" ujar Naya.
"Ya," balas ku.
Setelah berpamitan dengan sepupu gendeng ku itu, aku langsung bergegas naik ke atas motor, dan berlalu pergi meninggalkan Naya yang masih berdiri di depan pintu sambil terus menatap kepergian ku.
Sesampainya di depan gedung hotel, aku segera memarkir motor dan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi bang Agus.
Tut tut tut...
"Halo, bang. Aku udah di depan nih, kamar nya nomor berapa?" tanya ku.
"Kamar 201 lantai dua, say." jawab bang Agus.
"Oh oke, aku kesana sekarang." balas ku.
"Ok, say." balas bang Agus.
Setelah mengetahui nomor kamar yang di huni oleh bang Agus, aku pun segera bergegas masuk ke dalam dan berjalan menapaki anak tangga untuk naik ke lantai dua.
Sampai di depan pintu kamar, aku langsung mengetuk pintu tiga kali tanpa mengeluarkan suara.
Tak lama berselang, pintu pun terbuka lebar dan nampak lah wajah bang Agus yang sedang tersenyum sumringah melihat kedatangan ku.
__ADS_1
"Ayo masuk, say!" seru bang Agus.
"Ya," balas ku.
Aku melangkah masuk ke dalam kamar dan meletakkan tas ransel di atas nakas. Setelah mengunci pintu, bang Agus pun langsung mendekap erat tubuh ku dari belakang sambil berkata...
"Abang rindu banget dengan mu, say."
Bisik bang Agus sembari melingkar kan kedua tangan nya di pinggang ku, dan dia juga menciumi tengkuk leher ku.
"Sama, bang. Aku juga gitu." balas ku.
Tanpa berkata apapun lagi, bang Agus langsung mengangkat tubuh ku dan merebahkan nya di atas ranjang secara perlahan.
Bang Agus mulai mempereteli pakaian ku satu persatu, hingga polos tak bersisa sehelai benang pun yang melekat di tubuh ku.
Setelah itu, dia pun beralih membuka semua pakaian nya, dan mulai mencumbui seluruh tubuh ku dari atas sampai bawah tanpa terlewatkan sedikit pun.
"Kita main sekarang ya, say." bisik bang Agus dengan nafas yang memburu.
"Iya, bang. Lakukan lah sesuka hati mu!" jawab ku.
Sesudah mendengar ucapan ku, bang Agus pun mulai memasukkan benda keras nya, dan langsung melakukan gerakan-gerakan nakal nya pada ku.
Setelah memacu selama kurang lebih satu setengah jam, bang Agus pun menyudahi kegiatan nya.
"Ah, nikmat nya, say. Makasih ya, sayang. Abang puas banget hari ini." ujar bang Agus sambil mengecup kening ku.
"Kita mandi yok, say! Badan abang gerah banget nih." ajak bang Agus
"Ayo!" balas ku.
Bang Agus segera mencabut benda keras nya dan beranjak dari atas tubuh ku. Setelah itu, bang Agus bergegas melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri nya.
Aku pun mengikuti langkah nya dari belakang dengan handuk yang melilit di tubuh ku. Selesai membersihkan diri masing-masing, aku dan bang Agus duduk di tepi ranjang dengan keadaan rambut yang masih basah.
"Mau makan gak, say?" tanya bang Agus.
"Gak, bang. Aku belum lapar, nanti aja beli makanan nya." jawab ku.
"Oh, ya udah kalau gitu." balas bang Agus.
Bang Agus mulai memperhatikan gelagat ku yang terlihat beda dari biasanya. Dia mengernyitkan dahi nya sambil terus menatap wajah ku dari samping.
"Kamu kenapa, say? Kenapa muka nya di tekuk gitu, ada masalah dengan suami mu lagi ya?" tanya bang Agus.
"Iya, bang Darma mau nikah lagi sama Dina." jawab ku.
__ADS_1
"Hah, nikah lagi?" pekik bang Agus dengan mata terbelalak.
"Iya, botaaak." jawab ku.
"Serius lah, say?" tanya bang Agus lagi.
Bang Agus seakan-akan tidak percaya dengan ucapan ku barusan. Dia tampak sangat syok mendengar kata-kata ku.
Melihat ekspresi wajah bang Agus yang terkejut, aku pun langsung memutar bola mata malas dan memalingkan wajah ku ke samping.
Sebenarnya aku malas membahas masalah itu lagi. Hati ku langsung terasa sakit, jika mengingat keinginan suamiku itu.
"Ck, kalo abang gak percaya, tanya aja langsung sama orang nya sana!" oceh ku kesal.
"Tanya sama siapa?" tanya bang Agus lagi.
"Aaaaggghh, kau itu kok nyinyir kali sih dari tadi, bikin tambah sakit kepala ku aja." bentak ku geram.
Bang Agus langsung terlonjak kaget karena mendengar suara ku yang cukup menggelegar.
"Aduh, sampe kaget abang, say." ujar bang Agus sembari mengelus-elus dada nya.
"Maka nya jangan nyinyir kali jadi orang, bikin naik tensi ku naik aja kerjaan nya." omel ku ketus.
"Ya kan abang cuma nanya aja loh, say. Masa gitu aja marah sih." balas bang Agus.
"Siapa yang gak marah coba, kalau lawan bicara nya oon kali kayak gini." gerutu ku semakin kesal.
"Iya iya, abang salah. Abang minta maaf ya, say. Habis nya abang gak nyangka kalau suami mu bakalan nikah lagi sama mantan nya itu." balas bang Agus.
Aku mengabaikan ucapan bang Agus dan melangkah ke depan meja rias untuk mengambil rokok.
Setelah itu, aku mendudukkan diri di atas kursi yang berada di sudut kamar lalu menyalakan rokok. Bang Agus terus saja memperhatikan gerak-gerik ku tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Suasana menjadi hening seketika, tidak ada percakapan apa pun lagi di antara kami berdua. Aku dan bang Agus sibuk dengan pikiran dan lamunan masing-masing.
Beberapa saat kemudian, bang Agus mulai bangkit dari tempat duduk nya dan berjalan mendekati ku. Dia berjongkok di depanku dan menatap wajah ku yang masih termenung sambil terus menghisap rokok.
"Udah, gak usah di pikirin lagi masalah suami mu itu, say! Dari pada pusing mikirin dia, mendingan kita main lagi yok!" usul bang Agus.
"Malas lah, aku mau tidur aja." tolak ku.
"Ayo dong, say! Abang pengen main lagi nih." rengek bang Agus.
"Malas, botaaak. Badan sama otak ku lagi capek nih, jangan di ganggu dulu!" tolak ku lagi.
"Ayo lah, sayang ku! Bentaaar aja, pliiiiss!" bujuk bang Agus.
__ADS_1
"Malas," jawab ku cuek.
"Dirimu diem aja di bawah, biar abang aja yang ngerjain." tambah bang Agus masih tetap kekeuh dengan keinginan nya.