SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Pinjam Uang Lima Juta


__ADS_3

"Ngapain kau kesini?" tanya ku.


"Hmmm, aku...aku..."


"Aku aku apa? Kalo ngomong itu yang jelas, jangan bikin aku tambah emosi!" bentak ku.


"A-aku ma-mau minta maaf, buk." jawab Yuni terbata-bata.


Ya, ternyata yang datang itu adalah anak tiriku Yuni. Si biang kerok dalam rumah tangga ku.


"Oh, jadi sekarang kau mau berlagak akting dan pura-pura baik di depan ku ya?" cibir ku.


"Gak, buk. Aku gak pura-pura kok aku serius, buk." jawab Yuni.


Yuni menundukkan kepala nya dan masih tetap berdiri di depan pintu. Dia tidak berani menatap wajah ku dan dia juga tidak berani masuk ke dalam rumah bapak nya ini, tanpa aku izin kan terlebih dahulu.


"Pingsan pulak nanti anak orang ini kalo lama-lama berdiri di situ. Malah tambah merepotkan aku jadi nya." batin ku.


Setelah berpikir sejenak, aku pun menyuruh Yuni untuk masuk dan duduk di sofa yang ada di hadapan ku.


"Masuk lah, dan duduk lah disitu! Nanti pingsan pulak kau lama-lama berdiri gitu." titah ku.


"Ngamuk-ngamuk lagi nanti babon mu itu. Gara-gara anak kesayangan nya pingsan disini." sindir ku sambil menunjuk ke arah depan ku.


Yuni pun mulai melangkah kan kaki nya untuk masuk ke dalam. Dia langsung duduk di tempat yang aku tunjuk tadi. Tanpa basa-basi lagi, aku pun mulai bertanya tentang maksud kedatangan nya.


"Apa sebenarnya tujuan utama mu datang kesini?" tanya ku mulai curiga.


"Aku mau minta maaf, atas semua kesalahanku selama ini sama ibuk." jawab Yuni.


Dia masih menundukkan kepala nya sambil memegangi ponsel di atas pangkuan nya. Setelah mendengar penuturan Yuni, aku pun hanya tersenyum miring lalu menatap sinis pada nya.


"Gak mungkin cuma mau minta maaf doang. Pasti ada maksud lain nih bocah." batin ku.


"Kau melakukan ini karena perintah dari mamak mu, atau dari hati mu sendiri?" selidik ku sambil menautkan kedua alis.


"Atas kemauan ku sendiri, buk. Bukan perintah dari mamak." jawab Yuni.


"Oh, gitu. Ya udah, ibuk akan maaf kan semua kesalahan mu. Tapi ingat, jangan di ulangi lagi perbuatan buruk mu itu!" ucap ku tegas.


"Iya, buk. Aku janji, aku gak akan ngulangin kesalahan itu lagi." balas Yuni.

__ADS_1


Setelah mendapatkan maaf dari ku, Yuni pun mulai mengangkat kepala nya. Dia langsung tersenyum melihat ke arah ku. Aku pun membalas senyuman palsu nya itu dengan senyuman yang di paksa kan.


"Hahaha! Kau pikir aku sebodoh itu bocah tengik. Aku gak akan pernah tertipu lagi oleh wajah sok polos mu itu." batin ku geram.


"Makasih ya, buk. Udah mau maafin semua kesalahanku!" ucap Yuni dengan senyum yang terus mengembang di bibir nya.


"Ya," balas ku.


Suasana pun menjadi hening sesaat, aku dan Yuni sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Aku ambil ponsel, ah. Siapa tau nanti si Yuni ngomong yang aneh-aneh. Aku rekam aja suara nya itu, biar bisa aku tunjukin pada bang Darma." batin ku.


Aku langsung beranjak dari tempat duduk dan melangkah masuk ke dalam kamar, untuk mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Setelah mendapatkan nya, aku segera melangkah keluar dan duduk di tempat semula.


Setelah itu, aku pun mulai mengotak-atik ponsel untuk merekam suara percakapan ku dan Yuni. Kemudian aku meletakkan ponsel itu di samping tempat duduk ku.


"Ada yang mau di sampaikan lagi?" tanya ku memulai perbincangan.


"Hhmm, kalau aku mau minta tolong. Boleh gak, buk?" tanya Yuni ragu.


"Mau minta tolong apa an?" tanya ku penasaran.


"Aku mau pinjam uang lima juta, buk! Untuk uang muka motor baru. Nanti kalau aku udah kerja, aku balikin lagi uang nya. Bisa gak, buk?" tanya Yuni penuh harap.


"Aku kerjain sekalian, ah. Biar makin kepanasan dia ku buat, hihihi" batin ku terkikik geli dengan ide gila ku itu.


Setelah mendapatkan cara untuk mengerjai Yuni, aku pun langsung menjawab permintaan nya tersebut.


"Oh gitu, oke lah. Tunggu bentar ya, biar ibuk ambil kan uang nya dulu di kamar!" balas ku.


Aku kembali masuk ke dalam kamar, dan mengambil seikat uang yang ada di dalam lemari pakaian.


Saat hendak melangkah keluar, sayup-sayup ku dengar suara Yuni yang sedang menelpon ibu nya dengan suara yang sangat pelan. Aku pun langsung menempel kan telinga ku di balik pintu kamar.


"Halo, mak. Rencana kita berhasil, mak. Perempuan bodoh itu percaya kalau Yuni bener-bener minta maaf dengan nya." bisik Yuni pelan.


"Ternyata dia tidak sepintar yang kita duga, mak. Buktinya dengan begitu gampangnya dia percaya dengan rayuan maut ku, hihihi."


Yuni berbisik-bisik di ponsel nya, sambil cekikikan sendiri di tempat duduk nya dengan ponsel yang menempel di telinga nya.


"Perempuan bodoh itu lagi ngambil uang di kamar nya, mak. Mamak tenang aja, dia gak bakalan dengar omongan kita kok!"

__ADS_1


"Udah dulu ya, mak. Nanti Yuni hubungi lagi kalau uang nya udah Yuni dapatkan." pamit Yuni kepada babon nya.


Setelah panggilan berakhir, Yuni pun kembali memasang wajah memelas seperti pertama datang tadi. Dia berpura-pura sibuk memperhatikan setiap sudut rumah kami.


"Lihat aja, Yun! Apa yang akan di lakukan wanita bodoh ini dengan mu nanti, hahaha!" batin ku girang.


"Kau memang benar-benar licik, bocah tengik. Sekarang, terima lah ide gila ku ini!" lanjut ku.


Di rasa sudah tidak ada lagi suara Yuni berbicara dengan ibu nya, aku pun mulai membuka pintu kamar dan kembali duduk di tempat ku tadi.


Melihat aku yang sudah duduk di hadapan nya, Yuni pun langsung membelalakkan mata nya karena melihat seikat uang, yang berjumlah lima juta yang ada di tangan ku itu.


"Itu uang nya yang mau di pinjam kan dengan ku ya, buk?" tanya Yuni dengan semangat empat lima.


Aku berpura-pura tersenyum manis mendengar ucapan nya barusan. Dan aku juga mengipas-ngipaskan uang itu ke arah wajah ku.


Sedangkan Yuni, dia menelan ludah nya secara kasar akibat melihat aksi nyeleneh ku itu.


"Sini uang nya, buk! Biar aku bisa cepat pulang sekarang." pinta Yuni.


Yuni menadahkan tangan nya di depan ku dengan raut wajah yang berbinar cerah. Secerah sinar matahari di siang bolong.


Aku menoleh pada Yuni sambil terus mengipas-ngipaskan uang itu ke arah wajah dan juga leher ku.


"Tadi nya sih, uang ini memang mau aku pinjam kan dengan mu, Yun." jawab ku.


"Tapi...


Aku sengaja menjeda ucapan ku, agar si Yuni semakin penasaran dengan semua tingkah aneh ku itu. Karena tidak sabar menunggu lanjutan kata-kata ku itu, akhirnya Yuni pun kembali bertanya pada ku.


"Tapi apa nya lagi sih, buk? Cepetan dong ngomong nya, lama amat sih dari tadi!" desak Yuni kesal.


Aku langsung menatap wajah Yuni dengan tatapan tajam. Aku pun emosi karena mendengar ucapan nya yang cukup kasar menurut ku.


Setelah melihat tatapan mata ku yang tajam seperti mata elang, Yuni pun langsung menunduk kan kepala nya kembali sambil memilin-milin ujung baju kemeja nya.


Melihat reaksi Yuni seperti itu, aku pun kembali melanjutkan ucapan ku yang sengaja aku gantung tadi.


"Tapi, setelah aku pikir-pikir. Lebih baik aku belikan ke emas aja uang ini, dari pada di pinjam kan kepada manusia yang gak tau diri seperti dirimu itu." ucap ku dengan santai.


Yuni yang tadi nya menunduk pun langsung terlonjak kaget. Dia berdiri di hadapan ku sambil memekik dengan suara yang cukup keras.

__ADS_1


"APA? Berani sekali kau mempermainkan ku, wanita bodoh!" bentak Yuni pada ku.


__ADS_2