
Walaupun sudah di tolak mentah-mentah ajakan nya, bang Darma sama sekali tidak menyerah. Dia terus saja merayu dan merengek seperti anak kecil, agar aku mau melayani hasrat nya.
"Ayo lah, dek! Sekaliiii aja, abang pengen banget nih." rengek bang Darma dengan suara manja dan serak.
"Kalo ku bilang malas, ya malas. Ngeyel kali sih jadi orang." gerutu ku kesal.
"Ck, tega kali sih. Masa gak ada rasa kasihan dikit pun sama abang, jahat!" omel bang Darma.
"Suka-suka kau lah situ. Mau bilangin aku jahat kek, sadis kek, kejam kek, bodo amat!" cibir ku.
Bang Darma kembali menjalarkan jari-jari nakal nya, ke bagian-bagian yang bisa membuat ku panas dingin bila di sentuh oleh nya. Dia juga kembali menempelkan bibir nya di leher ku, hingga membuat ku merinding tidak karuan akibat ulah nya tersebut.
"Ayo lah sayang, pliiiiss!" rengek bang Darma lagi dengan nafas yang mulai memburu.
"Minta sama kebo aja sana!" balas ku asal.
"Iiiisss, jahat banget sih! Masa di suruh minta sama kebo? Emang abang laki-laki apaan?" gerutu bang Darma.
"Maksud aku bukan kebo hewan, tapi kebo kesayangan mu yang dua ekor itu." balas ku.
"Ooohhh, mereka toh. Kirain kebo beneran, hehehe." ujar bang Darma cengar-cengir.
"Udah, gak usah cengengesan segala. Pergi sana, minta sama mereka aja! Aku lagi malas yang begituan, lama-lama bisa remuk semua badan ku kau buat." usir ku ketus.
"Engak ah, abang mau nya sama dirimu, bukan sama mereka. Ayo lah, sebentaaaar aja!" rengek bang Darma lagi.
Aku membuang nafas kasar, lalu menoleh ke belakang dan melihat wajah memelas bang Darma, yang tampak sudah tidak sanggup lagi untuk menahan gairah nya sendiri.
Karena merasa muak dan bosan mendengar rengekan bang Darma, akhirnya aku pun pasrah dan membiarkan nya untuk melampiaskan hasrat nya pada ku.
"Ya udah lah, tapi jangan lama-lama ya! Aku lagi gak selera soal nya."
Oceh ku lalu merubah posisi baring ku, yang tadi nya miring menjadi telentang. Mendengar jawaban ku, bang Darma pun langsung tersenyum penuh kemenangan. Dia terlihat sangat senang, karena sudah mendapatkan persetujuan dari ku.
__ADS_1
"Oke, makasih ya, sayang. Gak lama-lama kok, paling satu jam aja." balas bang Darma dengan senyum yang mengembang di wajah nya.
Aku hanya memutar bola mata malas, tanpa berminat untuk menjawab ucapan nya tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, bang Darma pun langsung melancarkan aksinya, dengan semangat yang menggebu-gebu.
Dia mulai mencumbui ku dari atas sampai bawah tanpa ada yang terlewat kan sedikit pun. Dia memberikan kenikmatan yang sangat memuaskan, dan bisa membuat siapa pun ketagihan setelah merasakan nya.
Sebenarnya aku juga menikmati pelayanan nya, tapi karena kondisi badan yang kurang fit, aku pun hanya bisa pasrah menerima tanpa membalas nya.
Selesai dengan cumbuan nya, bang Darma pun mulai melakukan tugas utama nya. Dia mengarahkan tongkat kayu nya ke arah milik ku.
Setelah di rasa tepat sasaran, bang Darma pun langsung menghentak kan nya dengan cukup kuat. Hingga membuat ku sedikit tersentak, karena terkejut dengan perbuatan nya tersebut.
Setelah tongkat nya masuk sempurna, bang Darma pun mulai melakukan gerakan-gerakan liar nya dengan kecepatan tinggi, dan keringat yang mulai bercucuran. Dia tampak sangat menikmati permainan nya sendiri di atas tubuh ku.
Sedangkan aku, hanya menanggapi seperti biasa nya. Aku memejamkan mata sambil mengeluarkan desah*n-desah*n manja yang semakin menambah gairah bang Darma.
"Gimana, sayang? Nikmat kan pelayanan abang?" tanya bang Darma sambil terus memacu gerakan nya.
Mendengar pertanyaan bang Darma, aku yang tadi nya sedang menikmati hasil kerja nya pun langsung membuka mata, lalu berkata...
Aku kembali memejamkan mata, dan menggenggam erat seprai ranjang. Bang Darma hanya tersenyum menanggapi jawaban ku, dan terus melanjutkan permainan nya dengan nafas yang semakin ngos-ngosan.
Setengah jam kemudian, bang Darma pun semakin mempercepat gerakan nya, dan akhirnya dia pun memuncak lalu menyemburkan benih nya di dalam milik ku.
"Aaakkkhhh," pekik bang Darma dengan kepala mendongak ke atas, dan tubuh yang menegang.
Dengan keadaan badan yang bermandikan keringat, bang Darma pun mulai mengeluarkan tongkat nya, dan menjatuhkan diri di sebelah ku.
"Huh, nikmat banget, sayang. Rasa nya abang gak ada bosan-bosan nya untuk melahap tubuh mu ini." tutur bang Darma.
Dia tampak sangat senang dan puas dengan kegiatan nya tadi. Itu terlihat dari senyum yang tidak pernah luntur dari bibir nya.
"Kita istirahat bentar ya, dek. Nanti kita lanjutkan lagi ronde kedua." ujar bang Darma sambil menoleh pada ku, dan mengerlingkan sebelah mata nya.
__ADS_1
"Ogah, aku mau tidur. Besok aja kalau mau lanjutin lagi." balas ku cuek lalu beranjak dari ranjang, dan melangkah masuk ke kamar mandi.
Bang Darma tidak membalas ucapan ku, dia hanya tersenyum miring dan memandangi kepergian ku dengan tatapan aneh nya.
Selesai membersihkan hasil perbuatan bang Darma, aku pun kembali ke kamar dan merangkak ke atas ranjang. Aku memeluk guling dan menyelimuti tubuh polos ku dengan selimut tebal.
Setelah itu aku pun mulai memejamkan mata, tanpa memperdulikan bang Darma, yang sedari tadi sedang terbengong memperhatikan gerak-gerik ku.
Tak butuh waktu lama, aku pun langsung tertidur pulas dan mulai hanyut dalam mimpi yang indah.
"Nanti malam aku kerjain lagi, ah. Sayang banget, kalau tubuh seindah ini di anggurin gitu aja." batin bang Darma sambil memandangi tubuh ku yang sedang berbalut selimut.
"Aku akan terus berusaha memuaskan hasrat mu, sayang. Agar kau tidak berselingkuh lagi di belakang ku." lanjut bang Darma.
Setelah beberapa saat terdiam, bang Darma pun duduk di tepi ranjang lalu menyalakan rokok nya. Sambil menghisap rokok, bang Darma mengambil ponsel nya yang terletak di atas meja, lalu mulai mengotak-atik nya.
Ting... Satu pesan dari Dina pun masuk, ke dalam ponsel yang sedang di genggam bang Darma.
"Ck, dia ini mau nya apa sih sebenar nya? Kok gak ada capek-capek nya gangguin aku dari tadi." gerutu bang Darma dengan wajah kesal nya.
Dengan gerakan ogah-ogahan, bang Darma pun mulai membuka pesan dari Dina, mantan istri nya tersebut.
"Dar, cepat kesini! Yuni demam tinggi nih!" bunyi pesan singkat dari Dina.
Melihat isi pesan Dina, bang Darma pun langsung memajukan bibir nya. Dia terlihat mencemooh kata-kata yang di kirimkan oleh mantan istri nya tersebut.
"Halah, modus! Bilang aja lagi pengen di layani sama aku. Pake bawa-bawa nama Yuni segala, basi tau gak." gerutu bang Darma tidak percaya.
Walaupun sedikit kesal, bang Darma tetap membalas pesan dari Dina. Sambil menghisap rokok nya kembali, bang Darma pun mulai menggerakkan jari-jari nya dengan lincah, di atas keyboard ponsel nya.
"Aku lagi sibuk, gak bisa kesana sekarang."
Balas bang Darma, lalu dia pun menonaktifkan ponsel nya, dan meletakkan nya kembali ke atas meja tanpa menunggu balasan dari Dina.
__ADS_1
"Dina...Dina... Kau pikir aku segampang itu ya. Yang bisa kau bodoh-bodohi, yang bisa kau peralat sesuka hati mu. Hahahaha, sorry-sorry bae lah, Din. Aku gak akan pernah percaya lagi, dengan mulut berbisa mu itu." gelak bang Darma.