Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Asisten tak ada akhlak


__ADS_3

Rupanya feeling Ibra kuat, ingin membuka pintu, dan di sana sudah ada Zayn berdiri sambil nyengir.


"Kau?" Ibra menunjuk Ke arah Zayn.


"Iya, saya!" menunjuk dirinya sendiri.


"Buat apa kau datang ke sini jauh-jauh?" menatap tajam.


"Em ... tidak di suruh masuk dulu nih?" Zayn celingukan ke dalam.


Ibra mengedarkan pandangan ke dalam, lalu menyuruh Zayn masuk. "Oke, masuk?"


Zayn pun masuk ke kamar Ibra, nampak Laras sedang merapikan paper bag. "Pagi, Nona?" mengangguk hormat.


"Pagi juga." Laras mengernyitkan keningnya. Ia pikir kok tumben Zayn datang ke tempat itu.


"Kau mau jemput kami, apa tidak ke pagian?" suara Ibra dari belakang Zayn.


Zayn duduk terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Ibra. "Nggak ah, biasa aja, sudah siang malah." Sembari memandangi Laras dari kaki sampai ujung rambut.


Laras yang duduk di tepi tempat tidur merasa canggung mendapati tatapan Zayn seperti itu.


Ibra yang melihat Laras seperti itu melangkahkan kakinya, berdiri depan Laras sehingga menghalangi pandangan Zayn.


Zayn menyeringai. "Bos, saya sedang melihat jendela yang begitu indah bos, kenapa berdiri di sana?" ucap Zayn.


"Alaah ... alasan saja kau ini." Ketus Ibra kembali.


"Abang, lapar?" Lirih Laras menggoyang tangan Ibra.


"Iya, sayang. Kita pergi sekarang. cek lagi apa ada yang ketinggalan?" ujar Ibra sambil celingukan barang kali ada yang ketinggalan.


"Sepertinya gak ada lagi, ponsel udah aku saku in, tas dan dompet aku masukan paper bag, ponsel Abang juga ini aku pegang." Laras memberikan ponsel milik Ibra.


Karena sudah di rasa, tidak ada lagi yang ketinggalan, Ibra menggandeng tangan Laras. "Zay, kita pergi sekarang?" menoleh Zayn.


"Aku baru datang bos, belum juga di suguhi minum, atau makan gitu? main ajak pergi saja. Gimana ini?" gerutu Zayn.


"Kami belum sarapan, mau ikut sarapan gak?" ucap Ibra yang berdiri dekat pintu.


"Wah ... kebetulan sekali, aku juga belum sarapan." timpal Zayn.


"Makanya jangan ngedumel, kaya mulut perempuan saja, di sini hotel, bukan rumah. Kalau di rumah gak di suguhi pun ambil sendiri." Sambung Ibra.


"Abang, kamu juga ngomel kaya perempuan ih," bisik Laras terkekeh.


"Dengar tuh ... kata istri mu, sekarang kau bawel, tidak se cool dulu. Eh Nona ... dulu suami mu itu cool, sekarang mulutnya kaya emak-emak." ungkap Zayn. Membuat Laras membulatkan matanya pada Ibra.


"Kamu, banyak membawa perubahan pada Ibra, Nona." tambah Zayn.


Laras melihat Zayn dan Ibra bergantian, ia memberikan senyum simpulnya merasa lucu.


Ibra menatap lekat ke arah sang istri dan mencium tangannya yang sedang ia gandeng.


"Ehem, pergi ah ... takut ganggu," ucap Zayn sambil nenteng semua paper bag keluar dari kamar.


Di ikuti oleh Ibra yang terus menggandeng Laras. Setelah mengurus pembayaran sewa kamar, mereka meninggalkan Hotel tersebut.


Mobil sudah terparkir di depan, dan yang nyetir adalah Zayn. Ibra membukakan pintu buat Laras kemudian Ibra masuk. Duduk di sebelah Laras, usai keduanya memakai sabuk pengaman. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


Mobil berhenti di depan sebuah restoran, lalu mereka turun dan memasuki restoran tersebut. Laras turun dari mobil dengan kaki nyeker tak beralaskan kaki.


"Abang?" panggil Laras sambil menggoyang tangan Ibra yang sedang berjalan.


"Hem?" hentikan langkahnya dan menoleh sang istri yang dua langkah berada di belakang Ibra.


"Lihat kaki aku, gak pake sendal!" menunjuk kakinya.


"Iya, nanti habis makan, kita belanja sayang." Sahut ibra sambil melihat kaki Laras.


Zayn yang sudah dekat dengan pintu resto, berdiri menunggu, menoleh bosnya yang masih berdiri tidak jauh dari parkiran.


Kemudian Ibra menarik Laras agar segera masuk. "Ayo masuk, katanya lapar, lagian panas nih."


Ketiganya kini sudah duduk dan memesan makanan. Kebetulan di restoran seafood itu ada seafood bakso. "Sayang, ada bakso seafood nih, mau gak?"


"Nggak mau ah, pengen bakso kuah yang di gerobak gitu," sahut Laras menggeleng pelan.


"Ya ... sudah kalau gak mau pesan yang lain saja." ujar Ibra.


Zayn memilih sarapannya, sesekali melihat bos dan istrinya. Yang rundingan sarapan, sampai susah untuk menentukan mau makan apa? akhirnya mereka memesan seafood untuk keduanya. Sebelum pesanan datang, di suguhkan dengan kentang goreng dan segelas minuman.


Laras pun tidak melewatkan hidangan itu dan memakannya. Sembari menunggu makanan datang.


"Oya, Nona muda belum juga membeli sendal?" tanya Zayn yang baru ingat kalau Laras nyeker.


"Belum nih," sahut Laras sambil menunduk melihat kakinya.


"Kasian-kasian, kasian ... si bos kebangetan. Istri gak punya sendal, bukannya di beliin. Malah di biarin, ini cuaca panas nginjak lantai panas bos," celetuk Zayn. Laras mengangguk dan sama-sama menoleh ke arah Ibra.


Netra mata Ibra melotot pada Zayn yang barusan ngomong seolah menyudutkan dirinya. "Belum ada waktu Zayn ..." penuh penekanan dengan menyebut nama Zayn sambil mengeratkan gigi.


"Sayang, kan sekarang mau beli, setelah makan. Kita belanja. Mana ada waktu semalam aku membelinya." Ibra melirik istrinya yang sedang menikmati kentang goreng.


Laras menghentikan makan, seketika menatap lekat ke arah suaminya. Ibra yang mengeratkan giginya kembali, sewot mendengar perkataan Zayn barusan. Rasanya ingin sekali melayangkan piring ke arah asistennya itu.


"Nggak, akan tetap sama." Ketus Ibra sambil membuang wajah. Tampak jelas kemarahan di wajahnya.


Sementara Zayn berwajah tanpa dosa. Sembari menyedot minumnya, netra matanya melihat suasana sekitar.


Laras terdiam. Melihat Ibra tambah marah, Laras memberikan minuman yang ia sedot. Ibra mengalihkan pandangan pada minuman itu, lalu ia sedot sampai habis. Laras tersenyum melihatnya.


Akhirnya pesanan pun datang dan mereka langsung makan dengan lahapnya. Sesekali Ibra dan Laras saling menyuapi, mereka sangat terlihat bahagia.


"Aduh ... aku berasa nyamuk aja di sini ya?" gumam Zayn di sela makannya.


"Makanya punya pasangan." timpal Ibra.


"Nona, cariin dong, wanita secantik dirimu, bila perlu ... dirimu juga gak pa-pa biar nanti bekas bos ju--"


Jedukh!


Suara tendangan kaki Ibra ke betis Zayn yang langsung dibarengi dengan pekikan Zayn. "Sakit ... kau tega banget," Zayn meringis kesakitan.


Laras terkesiap melihat Ibra dan Zayn bergantian. "Abang ...."


"Bukan saya yang tega, tapi kamu yang kurang ajar. Merayu istri orang," gerutu Ibra sambil meminum segelas air putih.


"Sakit, Nona. Suami mu jadi garang begini," ucap Zayn memegangi betis nya yang terasa sakit.

__ADS_1


"Aduh, maaf ya?" Laras melihat kasian pada Zayn.


"Makanya. Jaga tuh mulut, asal ngomong aja, Sukurin! dasar asisten gak ada akhlak."


"Ah, bos tega ... saya tuntut di kantor nanti." Timpal Zayn mengusap-ngusap betisnya yang terasa sakit pas kena tulang.


Kemudian mereka melanjutkan sarapannya. Setelah itu Ibra beranjak dan menggeser kursinya. Laras mengikuti Ibra berdiri, Ibra mengeluarkan dompet dan memberikan kartu ATM pada Zayn. "Bayar nih."


"Baiklah, Bos ... saya laksanakan." Sahut Zayn sembari mengelap bibirnya dengan tisu.


Tiba-tiba Laras merasa mual. "Sebentar, aku ke toilet dulu." Tanpa menunggu jawaban langsung saja Laras bergegas pergi.


Ibra melongo, sementara Zayn pergi ke kasir. Untuk membayar makannya.


Laras segera masuk toilet, "Ohek ohek ohek," memuntahkan semua isi dari perutnya. Lalu mencuci bibir dan berkumur. "Aduh, nggak bawa minyak angin."


Di rasa sudah keluar semua isi perutnya, Laras keluar toilet, pas buka pintu. Ibra sudah berdiri di sana.


"Kamu kenapa? muntah lagi," tanya Ibra dan menggiring Laras menjauhi toilet tersebut.


Laras mengangguk pelan, tangannya mengelap bibir dengan tisu. "Zayn mana?" tanya Laras ketika melihat tempat semula sudah kosong.


"Sudah ke mobil," Ibra menggandeng tangan Laras, berjalan menuju parkiran. Laras terus mengikuti langkah Ibra meskipun kakinya terasa panas dan lelah.


Kini mereka sudah berada di dalam mobil, Dan Zayn bersiap memutar kemudi. "Sekarang, ke mana dulu bos?" menatap lewat kaca spion.


"Ke Mall aja dulu, belanja sendal dan keperluan lain," sahut Ibra setelah berpikir sejenak, lalu melirik istrinya yang sedang menarik napas rasa eneg di perutnya masih terasa.


"Oke ...."


Mobil melaju dengan cepat, hingga beberapa waktu kemudian sudah sampai di depan Mall. Zayn menepikan mobilnya di parkiran. "Aku tunggu di sini saja apa--"


"Ikut, ikut saja sekalian mungkin mau belanja apa buat orang rumah," ungkap Ibra sembari keluar dari mobil.


"Tapi ... kau yang bayar ya? ya-iya dong masa nggak?" Zayn menaik turunkan alisnya. Ketika sudah di luar.


"Iya, maunya gratis mulu, lagian ATM aku masih kamu pegang. Kembalikan?" Ibra meminta ATM nya kembali.


"Iya lah, kamu bosnya bukan saya, nih saya kembalikan! awas kalau nanti nyuruh bayar lagi," ucap Zayn dengan nada mengancam.


"Mau saya suruh juga dengan uang saya, buka uang mu. Suka-suka saya lah," timpal Ibra, memasukan kartu ke sakunya.


Laras menggeser tubuhnya untuk mengikuti Ibra keluar. Namun pas menginjakkan kakinya ke jalan. "Aw, panas!" beriringan dengan langsung mengangkat kakinya.


Ibra panik, begitu pun Zayn kaget melihat Laras yang kembali duduk, bukannya turun. "Kenapa sayang?" tanya Ibra mencondongkan tubuhnya.


"Panas, gak kuat." Laras menunjuk kakinya yang tak beralaskan.


"Tuh, kan bos kata ku juga apa, kau sih ... gak dengarkan aku," celutuk Zayn.


"Aku, gak turun ya?, aku di sini nungguin," rajuk Laras merasa gak kuat jalan dengan kaki yang telanjang ini.


"Iya, bos. Biar aku yang nemenin di sini, bos saja yang belanja," lagi-lagi Zayn menggoda yang selalu bikin hati Ibra kepanasan.


Tanpa pikir panjang Ibra menggendong tubuh Laras, keluar dari mobil, kakinya menendang pintu mobil agar tertutup. Membawa Laras ke Mall tersebut.


Zayn nyengir dan menggeleng, mengikuti langkah bos nya dari belakang. Dengan santai berjalan di belakang.


Hari ini rencana akan mengecek rumah baru untuk Laras, barangkali aja dia suka. Makanya sekarang mau belanja keperluan Laras, sebab kalau suka dengan rumah itu akan langsung Ibra tempatkan laras di sana ....

__ADS_1


****


Ayok mana yang nunggu novel ini up? jempol nya mana nih?


__ADS_2