Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Empat puluh hari


__ADS_3

Selepas sarapan, mereka langsung bersiap ke mension Laras. Sebagai keluarga wajarlah kalau mereka lebih duluan datang.


Pak Mulyadi sudah berada di dalam mobil bersama Caca. Jodi yang pikirannya masih kacau, lebih memilih memakai supir. Ketimbang nyetir sendiri. Ia merasa malas banget, saat ini ia benar-benar merasakan semangatnya down banget.


"Kenapa Nak? tidak semangat banget begitu, apa kurang sehat," tanya sang ayah pada Jodi yang sudah duduk di samping supir.


Caca pun menatap ke arah Jodi yang memang terlihat jelas down nya. Tak bersemangat seperti biasanya.


"Ah, nggak kok, Yah ... aku baik-baik saja. Jangan khawatir," sahut Jodi. "Tapi hati aku yang tidak baik-baik saja." Dalam hati.


"Ayah kira kamu tidak sedang fit. Syukurlah kalau kamu baik-baik saja." Tambah pak Mulyadi


"Jalan Pak?" titah Jodi pada supirnya. Dan langsung di valas dengan anggukan.


"Gimana acara semalam?" tanya pak Mulyadi. setelah beberapa saat suasana hening.


"Baik, baik aja kok Yah ... bahkan aku menemukan sesuatu yang sangat penting," jawab Jodi.


Pak Mulyadi mengerutkan keningnya. "Maksud kamu, menemukan apa?"


Mata Caca menatap cemas pada Jodi yang mungkin tidak sadar dengan ucapannya atau gimana?


Seketika Jodi tersadar dengan ucapannya. barusan. "Oh, itu Yah ... itu, aku bertemu kawan lama. Yang kini jadi kolega penting, itu maksud aku Yah." Jodi sedikit menghadap ke belakang. Kemudian mengalihkan pandangan ke depan. Matanya membulat, hampir saja. Pikirnya.


Jodi ingin memilih waktu yang tepat, untung mengungkap semuanya. Apalagi Ia harus menunggu sebentar lagi tentang siapa dan apa maksud mbok Darmi. Tulus kah atau ada maksud tertentu terhadap sang ayah. Jodi butuh bukti itu.


"Ayah ingin pulang dulu ke Semarang," suara pak Mulyadi mengagetkan lamunan Jodi.


"Ha? buat apa Yah? sebentar lagi aku menikah, berabe kalau ayah mau pulang dulu. Sudah di sini aja sedang terapi juga, kan?"


Mulyadi terdiam sesat. Kemudian ia bicara lagi dengan melepas napas panjangnya. "Ada sedikit urusan di sana. Dan ayah bisa pulang dengan mbok Darmi. Barang 2 3 hari saja," kekeh nya pak Mulyadi.


Jodi senyum tipis. Dah mulai menimbulkan kecurigaan nih. "Ayah ... urusan apa sih? semua keperluan adek sudah aku urus. Kalau ada sesuatu masalah di sana, kan tinggal telepon minta bantuan sama orang di sana. Aku gak ijinkan Ayah pulang untuk saat-saat ini. Apalagi Ayah sedang masa terapi," ujar Jodi panjang lebar.


"Atau, bila perlu aku aja yang mewakili Ayah ke sana. Urusannya apa? katakan saja. Aku yang akan urus," sambung Jodi, dia pun kekeh.


Pak Mulyadi terdiam, hatinya kecewa. Mana bisa di wakilkan? ini urusannya dengan Darmi. Soal jual beli tanah itu, gak mungkin lah Jodi yang urus kan.


"Hem, pasti yang mau diurus itu masalah empang itu. Coba kalau berani ngomong aja." Dalam pikiran Jodi. Sesekali melirik ke arah sang ayah.


Hening!

__ADS_1


Pak Mulyadi tidak bicara lagi, ia duduk bersandar ke belakang jok. Dengan pandangan lepas menembus jendela.


****


Di mension, mulai ramai dengan kedatangan keluarga jauh dari Ibra. Yang gak pernah datang pun pada akhirnya datang untuk bertemu dengan baby boy nya Malik Ibrahim. Baby boy pun sudah berada di dalam gendongan bu Rahma.


Laras masih di kamar sedang mendandani big baby boy. Yang tampak manja dan segalanya ingin di layani sang istri.


Terakhir mengenakan sepatu. Ibra duduk di sofa, sementara Laras berjongkok di depannya. "Kamu tampak cantik sayang, mengenakan pakaian ini." Ibra menatap lekat sang istri.


"Makasih, tapi maaf ya ... emang setiap hari aku gak cantik?" tanya Laras membalas tatapan Ibra.


"Cantik sayang, apalagi kalau ...."


"Kalau apa?" Laras memotong perkataan Ibra.


"Nggak! selalu cantik kok," kedua tangannya memegang kedua pipi Laras dan di belainya. Kedua netra mata mereka saling memandang. "Terima kasih. Sampai saat ini masih menjadi teman hidup ku, sudah memberikan hadiah yang tak ternilai bagiku."


Perlahan Laras menggerakkan bibirnya. "Abang juga sudah menjadikan ku istri yang sangat bahagia. Abang lebih memilih aku dan anak kita--"


"Itu bukan pilihan sayang, tapi sebuah kewajiban."


"Iya, aku tahu itu. Aku dibuat bahagia bersama mu. Kamu juga sudah memberikan baby boy yang ganteng dan lucu." Laras tersenyum bahagia.


"Lahan? emang kau pikir tanaman?" ucap Laras kembali tersenyum.


"Itu, perumpamaan sayang ... kan tadi sudah aku katakan kalau itu cuma istilah. Aku sangat bahagia melewati sisa hidup bersama kamu," jari Ibra menjepit hidung Laras.


"Em ... gak akan tergoda sama wanita lain?" tanya Laras sambil berdiri dan kemudian duduk di samping Ibra.


"Kok nanya nya gitu? nggak lah. Kalau ada kamu ngapain tergoda sama yang lain."


"Tapi ... aku ragu deh, buktinya dulu bisa tergoda sama istrinya yang lain." Menatap lekat sang suami.


"Sayang, itu dulu lain cerita. Aku juga jatuh cinta sama kamu setelah menikah, setelah aku dapatkan semuanya." Kenang Ibra. Kemudian Ibra menyeringai. "Tapi ... kira-kira, istriku yang satu ini. Bakalan menyuruh ku kawin lagi gak ya?"


Laras memukulkan bantal sofa ke bahu Ibra. "Ah ... gak bakalan. Enak aja, gimanapun, seperti apapun. Gak bakalan menyuruh mu nikah lagi. Kecuali--"


"Kecuali apa sayang?" mata Ibra menatap penasaran.


"Kecuali, aku tidak jadi istri mu lagi, silakan kamu nikah lagi juga. Tapi ... baby boy akan bersama ku selalu." Ancam Laras.

__ADS_1


"Ha ha ha ... gak akan pernah aku lepaskan kamu dengan anak kita. Gak akan pernah!" Ibra tertawa dan menggeleng. Tangannya menggenggam erat tangan Laras, meremas jemarinya.


"Udah, ah jangan bicara itu lagi, takut!" Laras memeluk tubuh sang suami dan menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya.


"Aku juga takut, takut kehilangan dirimu. Juga putra kita." Ibra membalas pelukan sang istri. Berkali-kali mendaratkan kecupan di pucuk kepalanya Laras.


"Keluar yu? kangen-kangenannya nanti dilanjut lagi, setelah acara empat puluh hari baby boy selesai." Ajak Ibra sambil mengusap lembut punggung sang istri.


Laras melepas pelukannya dan mengangguk pelan. Merapikan kerah kemeja Ibra, kemudian pakaian yang ia kenakan saat ini. Merapikan kerudung dan berdiri di depan cermin sebentar.


"Yu, keluar semoga acaranya lancar," Kata Laras berjalan menjauhi kaca rias.


Ibra memasang dulu ham tangannya. Setelah itu menggandeng tangan Laras berjalan menuju lobby.


Para tamu sudah banyak yang datang. Kolega dan rekan kerja Ibra sudah mulai berdatangan sebagian. Jodi, pak Mulyadi juga Caca sudah terlihat diantara mereka. Pak ustad juga dah nampak.


Ibu-ibu komplek pun sudah datang bersama pak Rt Miftah bersama istri. Ibu-ibu pembaca novel yang tak bisa di sebutkan namanya satu-satu pun sudah hadir di sana.


Jodi mendekat pada Ibra dan Laras. "Jangan bilang kalau semalam kami dari sini ya?" suaranya pelan. Dengan mata melirik kanan dan kiri.


Laras menatap sang suami. Kemudian mengangguk pelan. Walau tak mengerti dengan maksud Jodi.


"Paman, apa kabar?" sambut Laras pada sang paman.


"Baik La, wah ... ramai sekali ini, undangannya banyak benget," ujar pak Mulyadi.


"Iya, Paman. Agak banyak undangannya," balas Ibra.


"Wah ... mension nya luar biasa. sungguh super mewah." Tambahnya.


"Paman tuh, bu panti datang. Bukannya Paman ingin bertemu dengan beliau?" Laras menunjuk seseorang yang datang bersama anak-anak panti.


"Mana?" tanya pak Mulyadi sebab ia tak melihat orang yang Laras tunjukkan.


Kemudian kursi roda pak Mulyadi di dorong ke tempat yang agak sepi. Agar dapat Laras kenalkan dengan bu panti.


Zayn mendekat pada Ibra dan berbisik. "Bos tampak seseorang datang. Musuh kita Bos!"


Ibra mengernyitkan keningnya. Siapa musuh? perasaan Ibra tidak punya musuh ....


****

__ADS_1


Apa kabar semuanya reader ku yang baik hati. Terima kasih ya, masih setia, jangan lupa fav juga Bukan Suami Harapan 🙏


__ADS_2