Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Terlaksana juga


__ADS_3

Dengan kesal. Ibra berniat membuka pintu. "Tunggu sayang," cup, mengecup pipi Dian yang bengong.


Blak!


Pintu terbuka, tampak bu Rika berdiri. Mematung depan pintu. "Ada apa Bu Rika?"


Mata bu Rika tembus ke dalam, di mana Dian sedang duduk menggoda di atas tempat tidur Ibra. Lalu netra matanya bergerak melihat kondisi Ibra yang hanya mengenakan handuk. "Maafkan saya Tuan, bila sudah mengganggu kegiatan Tuan." Bu Rika menunduk dan menyembunyikan senyumnya, pasti mereka terganggu dengan ke datangannya.


"Iya. Ada apa emang?" tanya Ibra menatap tajam, merasa kecewa, kenapa bu Rika harus datang di waktu yang tidak tepat?


"I-itu. Tuan. Nyonya muda, tidak mau makan, sudah di bujuk, Di bawakan ke kamar juga tetep tidak mau makan," ucap bu Rika sambil tetap menunduk.


"Berasa di ingetin, saya juga belum makan malam," gumam Ibra. "Es krim nya sudah diberikan belum?"


"Sudah diberikan Tuan, tapi ... entah di makan, entah tidak," sahut bu Rika lagi.


"Ya, sudah. Sebentar lagi saya ke sana." Ibra langsung menutup pintu. Berjalan mendekati tempat tidur meraih pakaiannya.


"Sayang, ada apa?" tanya Dian sambil memposisikan dirinya agar lebih menggoda.


Ibra sejenak menatap istrinya itu, kemudian bergegas mengenakan pakaiannya. "Laras tidak mau makan, dan saya baru ingat. Kalau saya juga belum makan, tunggu di kamar mu dan saya akan menyusul ke sana oke?" sebentar naik ke atas tempat tidur, mendaratkan ciuman di bibir seksi sang istri.


Dian langsung merasa gondok, kesal dan marah. Kecewa yang amat sangat, matanya memandangi langkah Ibra yang tergesa-gesa keluar kamar. Setelah hilang dari pandangan. Dian melempar bantal-bantal dan guling dengan sangat kesal. "Sial-sial, sial ... baru kali ini aku di nomor duakan. Dulu biarpun istri yang lain bikin ulah juga, gak pernah Ibra membiarkan aku dalam keadaan begini? ah ...."


Dian menjambak rambutnya sendiri saking kesalnya. Mau marah sama siapa juga? gak ada orang di sana, berdiri merapikan lingerie nya. Kemudian meninggalkan kamar Ibra yang berantakan. Dengan keadaan bantal yang berserakan.


****


Laras yang merasa mager banget untuk ngapa-ngapain, yang dia lakukan cuma tiduran. Makan pun tidak napsu, padahal seharian ini ia tidak makan hanya susu bumil saja yang ia minum, itu pun di paksakan. Baunya bikin mual.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Ketukan pintu dari luar, membuat Laras menoleh ke arah pintu. "Masuk."


Reet ... suara pintu di buka dengan pelan. "Permisi! Nyonya muda. Di tunggu makan malam sama nyonya besar," suara bu Rika sembari mendekat pada Laras yang masih baringan.


"Nggak ah, Bu Rika. Aku gak lapar," sahut Laras dengan malasnya.


"Tapi, Nyonya muda belum makan hari ini. Nanti sakit, sudah di tunggu oleh nyonya besar." Tambah bu Rika kembali.

__ADS_1


"Tapi ... aku gak lapar, dan aku mager banget untuk turun, bilang saja sama nyonya besar. Aku gak mau makan dan aku sudah minum susu kok." Laras masih betah tiduran.


"Baiklah, kalau begitu, saya permisi dulu." Bu Rika mengundur diri.


Laras mengangguk pelan. "Uuh ... entah kenapa mager banget, oya es krim? sudah beli belum ya. Apa Tuan belum pulang." Melirik putaran jam yang sudah menunjukan pukul 20.15 wib.


Tidak lama, bu Rika sudah muncul kembali di pintu membawa nampan berisi masakan yang biasanya Laras suka. Namun sekarang mencium baunya saja agak males. "Nyonya muda, ini saya bawakan makan malam, masakan yang Nyonya suka." Bu Rika menyimpan di atas meja.


Laras bangun dan duduk bersandar ke bahu tempat tidur. "Bu Rika ... aku gak mau makan, jadi buat apa anda bawakan? kalau aku lapar. Aku akan turun sendiri untuk makan di dapur!" lirih Laras.


"Tapi, ini perintah nyonya besar," sahut bu Rahma.


"Iya sayang. Mama yang nyuruh, kamu harus makan, bukannya kamu harus menjaga kesehatan? gimana caranya kalau tidak mau makan!" bu Rahma menghampiri.


"Tapi. Mah ... Laras gak mau makan." laras menggeleng.


"Coba kamu lihat yang Mama bawa nih? Mama bawa es krim seperti yang kamu pinta, dan paling penting ... yang membelinya Ibra," bu Rahma menunjukkan apa yang dia tenteng.


Wajah Laras sumringah matanya berbinar-binar melihat itu dan mengambilnya dari tangan ibu mertua. "Beneran ini tuan yang beli?" menatap bu Rahma dan bu Rika bergantian.


"Iya, sayang ... Ibra yang belikan, dimakan ya? kasian baby nya, tapi sebelum makan es krim, makan nasi atau sayur dulu ya." Rahma mengelus perut Laras yang di balut selimut.


"Tuan nya mana?" tanya Laras kembali.


Wajah Laras yang tadi sempat sumringah, seketika berubah murung dan matanya sayu. Hatinya mencelos mendengar Ibra sedang bersama Dian.


"Ayo makan dulu sayang, biar Mama yang suapi ya," bu Rahma mengambilkan sayur dan menyuapi Laras, namun Laras kekeh gak mau. Dan menggeleng mengunci mulutnya dengan telapak tangan.


Bu Rahma menghela napas dalam-dalam. "Ya sudah, kalau tidak mau. Tapi jangan lupa nanti makan ya? biarpun sedikit."


"Iya. Ma ... nanti aku makan kalau mau. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja kok." Laras senyum samar.


"Ya, Sudah. Bu Rika, kita pergi saja. Biar Nyonya muda sendiri." Bu Rahma mengajak bu Rika keluar dari kamar tersebut.


Laras menatap kepergian mereka, kemudian bu Rika menutup pintu. Akhirnya tinggallah Laras seorang diri di kamar, matanya bergerak melihat sebuah cup ukuran besar, perlahan ia buka. Ia menelan saliva yang terkumpul di tenggorokan. Ingin sekali mencicipinya.


Perlahan menyendok kan es krim ke mulutnya, namun kemudian Laras termangu. Bayangan Ibra menari-nari diingatan nya. Ia menyimpan kembali sendok itu di atas tutup cup nya, ia hanya menatapi makan malam dan es krim itu bergantian.


Tanpa sedikitpun ingin menyentuhnya. Laras benar-benar mager. "Enak kali ya? kalau di suapi tuan," gumamnya sambil menarik selimut dan memeluk lutut, membenamkan wajahnya di sana.


Ibra yang baru sampai depan pintu kamar Laras sedikit ragu untuk membukanya. "Sudah tidur belum ya?"


Blak!

__ADS_1


Pintu terbuka secara agak kasar. Nampak Laras duduk di atas tempat tidur, menunduk dalam dan memeluk lututnya. Ibra berdiri dan menutup pintu.


Laras terkesiap mendengar suara pintu, dan segera mengangkat wajahnya. Melihat siapa yang datang? rupanya Ibra berdiri dan berjalan menghampiri dirinya. "Tuan?" panggil Laras.


Ibra menatap meja yang tersedia buat makan malam, satu cup es krim yang nampak masih utuh, belum tersentuh. Adapun bekas ngambil, gak jadi di makan dan jelas ada di situ. Kemudian matanya bergerak melirik Laras. "Kenapa belum makan?" kau harus jaga kesehatan, tahu, kan."


"A-aku--"


"Cepat makan! jangan egois. Jangan memikirkan diri sendiri, tapi harus memikirkan anak yang ada dalam kandungan mu," gerutu Ibra sambil mengambil piring di isikan nasi dan sup, rendang dan langsung menyuapi Laras.


"Aa ... buka mulutnya." Ibra mendekatkan sendok ke mulut Laras yang bengong melihatnya.


Laras membuka mulutnya sambil menatap wajah Ibra yang kusut. Kruk! kruk! suara dari perut Ibra, mata Laras bergerak melihat ke sumber suara, begitupun Ibra sendiri menyadari ia pun lapar belum makan. Kemudian mata mereka akhirnya bertemu, dan Laras mesem-mesem.


"Tuan, belum makan?" tanya Laras sambil mengulum senyumnya.


Ibra mengangguk. "Iya, aku lupa kalau belum makan malam."


"Kenapa kok bisa lupa? sibuk dengan kak Dian ya!" ucap Laras sambil mengambil alih sendok di tangan Ibra. Kemudian Laras bengong. "Kenapa aku bicara begitu?" batinnya.


Laras menyuapi Ibra. "Aa ... makan, ma-maksud aku ... kenapa bisa lupa makan, nanti anda sakit. Kalau sakit gimana?"


Ibra menikmati suapan dari Laras, akhirnya makan malam Laras habis oleh Ibra. Sebab Laras sendiri cukup tiga sendok saja, dengan alasan kenyang.


Selesai makan, tidak lupa penutupannya makan es krim berdua. Saling menyuapi, yang tadi siang tidak berasa apa-apa, tapi pas Ibra yang belikan. Bahkan makan pun dari tangannya, terasa begitu nikmat di lidah Laras. Akhirnya terlaksana juga makan es krim dari Ibra.


Ibra turun dari tempat tidur membereskan bekas makannya. Setelah itu kembali duduk di sebelah Laras yang menunduk memainkan ponselnya, tangan Ibra meraih tangan Laras. "Ngantuk belum?"


Laras menggeleng. "Belum, silakan Tuan eh Abang kembali pada kak Dian, dia pasti sedang menunggu," sahut Laras dengan mata sayu.


"Dia pasti ngerti kok, kalau anak ini lagi pengen di manja sama Papa nya," cup mencium tangan Laras, kemudian telapak tangannya mengelus perut Laras yang masih rata.


Laras jadi tegang. "Aduh ... jangan perlakukan aku seperti ini, aku jadi kikuk gini," batin Laras.


Ibra semakin mengelus perut Laras. "Yang sehat ya sayang ... di sana. Kehadiran mu sangat kami rindukan, apapun yang kau inginkan akan Papa penuhi," gumam Ibra dengan pandangan tertuju ke perut Laras. Membuat Laras merasa haru mendengarnya.


Kemudian mata Ibra bergerak menatap wajah Laras. Menyelipkan anak rambut Laras ke belakang telinga, lantas Laras menunduk, dengan jari Ibra mengangkat dagu Laras, agar mendongak menatap matanya, lagi-lagi pandangan mata keduanya bertemu penuh isyarat.


Sesaat Netra mata Ibra bergerak melihat bibir Laras yang merah jambu, membuat ia tidak tahan ingin menyentuhnya. Wajah Ibra semakin mendekat ....


,,,,


Untuk para reader ku yang selalu setia menunggu up nya novel ini, aku sangat-sangat ucapkan makasih banyak pada kalian semua. Semoga kalian tidak bosan dan terus menjadi pembaca setia, terus dukung aku ya🙏 agar tambah semangat untuk up nya. Seperti hari ini, aku kurang semangat, karena kemarin pembaca ku turun drastis😭

__ADS_1


__ADS_2