
Mery sangat terkesiap mendengar namanya di sebut-sebut oleh asisten itu. "Ta-tapi. Saya tidak melakukan apa-apa, itu tidak disengaja," elak Mery suaranya agak gugup.
Langkah Ibra mendekati dimana Mery berdiri dan nampak tegang. "Apa yang kamu lakukan terhadap Laras haa ... apa kau sengaja melukai dia?" hardik Ibra! sambil menggoyangkan bahu Mery, yang kini menunduk ketakutan. Kalau sudah berhadapan dengan Ibra yang mulai memperlihatkan kegarangannya.
"Sa-sakit," rintihan Mery! sebab tangan Ibra terlalu kuat mencengkram bahunya.
Ibra melonggarkan pegangannya. "Jawab? apa yang kau lakukan terhadap Laras!" ulang Ibra dengan tatapan tajam.
"Su-sudah aku bilang! aku gak sengaja. I-itu cuma kecelakaan! lagi pula aku sudah meminta maaf." sahut Mery kekeh. Dia menunduk! tak berani menatap Ibra.
Ibra masih menajamkan tatapannya pada Mery! yang menciut ketakutan dan rasa dongkol karena Ibra terlalu mengkhawatirkan Laras.
Melihat itu. Dian segera menghampiri Ibra dan Mery. "Sudah sayang! mungkin benar. Mery tidak sengaja melakukannya itu, yang pentingkan ... Laras juga gak apa-apa, em maksud aku, tidak terlalu parah. Nanti obati dia, datangkan dokter spesialis oke?" mengusap lembut punggung Ibra.
Ibra menatap Dian, terus melihat Laras yang kebetulan sedang melihat kearah dirinya. "Ya ... sudah! minta maaf sana," pinta Ibra pada Mary.
"Tadi aku sudah minta maaf berkali-kali. Apa itu tidak cukup? lagian dia aja yang manja, sok diperhatikan. Jadinya ngelunjak," ketus Mery dengan lantang.
Membuat Ibra melotot, semakin geram dengan tingkah istrinya yang satu ini. Dia mulai berani membantah dirinya. Dengan menunjuk wajah Mery. "Oh! jadi itu yang kau rasakan? berarti memang kau ada niat untuk mencelakainya! bagus. Kalau sampai dia ke napa-napa! kamu yang harus bertanggung jawab, ngerti?"
Ibra menghampiri Laras kembali. Diikuti oleh Dian dan duduk dekat Laras. "Lain kali hati-hati ya? lagian, kan ada asisten. Suruh saja mereka! tidak perlu repot-repot," ucap Dian memandangi Laras yang masih meringis.
Laras hanya mengangguk pelan. Sambil merasakan lukanya yang semakin perih. Panas, sakit. Menjadi satu.
"Saya yang suruh dia buatkan kopi buat saya! jadi ini salah saya," gumam Ibra sambil menggendong Laras! mau di bawanya ke kamar. Laras mengalungkan tangan ke pundak Ibra, meski merasa risih dengan Dian namun gimana lagi? kakinya baru menapak ke lantai saja gak kuat.
Dian hanya menghela napas dalam-dalam! melihat Ibra yang sebegitu mencemaskan keadaan Laras.
Mery masih mematung! dengan perasaan yang campur aduk. Cemas, kesal, marah dan Malu! merasa telah dipermalukan oleh Ibra di hadapan para asisten. Mery menyapukan pandangan dan satu persatu asisten pergi, termasuk bu Rika yang pergi entah ke mana. "Sialan! aku pastikan, kau akan menyesali itu Ibra!" sembari melengos entah kemana.
Di kamar Laras.
Ibra membaringkan tubuh Laras di atas tempat tidurnya. Perlahan manarik selimut. Ia gunakan untuk menutupi tubuh Laras sampai dada.
Laras meringis ketika selimut menyapu lukanya. "Aw ..." rintihan Laras.
"Oh maaf?" gumam Ibra.
__ADS_1
Mata Laras terus saja memandangi wajah pria yang terlihat begitu cemas, panik melihatnya terluka. "Apa anda mengkhawatirkan saya?" memberanikan diri bertanya.
Ibra duduk di tepi tempat tidur, menaikan alisnya. "Haa? siapa bilang saya mencemaskan mu! saya mencemaskan calon anak yang ada di rahim kamu," elak Ibra. Sambil membuang mukanya ke samping, menyembunyikan perasaannya memang benar sangat khawatir.
Deg ....
Laras terkesiap, kok Ibra bicara seperti itu? dia sendiri saja belum yakin! apa benar ia hamil. Tapi kenapa Ibra seolah mengetahui kalau dirinya sedang hamil?
Melihat tanda-tanda yang Ibra lihat dan ia dengar dari asistennya! bu Rika dan juga Susi. Membuat Ibra yakin, kalau saat ini Laras sedang ngidam. Ibra kembali memandangi Laras yang sedang bengong. "Nanti akan ada dokter untuk memeriksakan luka mu. Ingat! kau harus istirahat, jangan banyak bergerak," ucapnya.
Di pintu! Dian berdiri mengawasi Ibra dan Laras, dan mendengarkan perbincangannya. Ada rasa bahagia dan haru dalam hatinya! meskipun belum pasti, kalau Laras sedang hamil. Namun setidaknya ada cahaya harapan untuk keluarganya.
"Nanti sore! datangkan, dokter kandungan ke sini. Periksakan! apa Laras sedang mengandung? jaga dia, jangan sampai banyak gerak apalagi kecapean!" ujar Dian sambil melangkah pergi.
Bu Rika, menggerakkan kepalanya melihat kepergian Dian sambil bergumam. "Baik Nyonya."
Ibra mengangkat tangan melihat jam yang sudah menunjukan pukul 07.10 menit. "Ya, sudah! saya sudah terlambat, mau pergi dulu, jangan lupa kata-kata ku tadi. Jangan lupa juga sarapan yang penuh nutrisi biar baby saya tidak kelaparan." Ibra berdiri dan meninggalkan Laras.
Laras hanya menatap kepergian Ibra. "Dia hanya mengkhawatirkan baby nya! tanpa perduli sama sekali padaku!" menunduk sedih. Mengelus perutnya yang masih rata.
"BuRik! datangkan dokter kulit agar mengobati lukanya," ucap Ibra ketika berada depan bu Rika.
Ibra menatap tajam. "Iya, pagi datangkan dokter kulit! dan sore nya datangkan dokter kandungan, gitu saja kok repot. BuRik," tegas Ibra sembari melanjutkan langkah kakinya.
"I-iya. Tuan," bu Rika mengangguk. Mengayunkan kakinya, mau masuk menghampiri Laras.
Ibra hentikan langkahnya membalikkan dadan. "BuRik ... bawakan dia sarapan. Beri sarapan yang bervitamin, kalau gak mau! paksa."
Bu Rika menoleh ke belakang! yang akhirnya memandangi punggung Ibra sampai hilang dari pandangan. "Tuan itu sebenarnya sudah mulai jatuh cinta sama nyonya muda! saya pastikan itu," gumamnya.
Kemudian yang tadinya mau masuk. Jadinya cuma menutup pintu, lalu pergi untuk mengambilkan sarapan terlebih dahulu.
Ibra menghampiri meja makan! di sana ada Dian dan Yulia sedang sarapan. Dian menatap Ibra yang tergesa-gesa. "Sarapan dulu sayang?"
Ibra hanya menoleh, dan meminum air putih yang sudah tersedia di meja. Melirik Yulia. "Nanti! waktu makan siang kita bertemu di restoran yang di jalan xx. Tunggu saya di sana," ujar Ibra! tanpa menunggu jawaban. Ibra pun berlalu.
Dian segera meminum minumannya. Lantas mengikuti langkah Ibra yang tergesa-gesa.
__ADS_1
Yulia mengernyitkan keningnya. "Ada apa, sampai mengajak ketemuan di luar segala! tumben?" batin Yulia sambil mengukir senyumnya. "Pasti dia akan menyetujui keinginanku untuk hamil, ah ... senangnya aku!"
****
"Sayang! tunggu aku?" panggil Dian mengsejajar kan langkahnya dengan Ibra.
Ibra menoleh. "Ada apa?"
"Ada apa? mengajak Yulia ketemuan di luar segala!" tanya Dian penasaran.
Ibra menatap Dian sejenak. "Nanti juga kau akan tahu, sekarang aku sudah terlambat." Ibra mendaratkan kecupannya di kening Dian, kemudian segera memasuki mobil yang sudah ada Zayn menunggu di sana.
Dian termangu menatap kepergian suaminya. Kemudian menaikan kedua bahunya, lalu masuk mobil pribadinya yang di kemudikan pak Barko.
"Jalan Pak?" ucap Dian sambil mengenakan sabuk pengamannya.
"Baik, Bu!" sahut pak Barko.
"Aku tidak tahu! harus bahagia ataupun sedih? dengan kehamilan Laras itu. Kalau sudah jelas! aku harus memberi tahukan mertuaku, kalau mereka akan segera mempunyai cucu. Pasti mereka akan sangat bahagia mendengarnya," batin Dian, terbesit senyum tipis di sudut bibirnya.
Mobil melaju cepat memasuki jalanan yang ramai! kuda-kuda besi saling lalu lalang, terkadang berdempetan seperti pasangan kekasih yang sedang jatuh cinta. Nempel terus.
Dian memandangi jalanan itu dari tembusnya kaca mobil. Terkadang ia menghela napas panjang, terkadang juga bibirnya melukis senyuman.
Pak Barko sesekali meengarahka n matanya lewat kaca spion yang ada di atas kepalanya. Memperhatikan wanita yang berpenampilan modis tersebut.
****
Di kediaman Ibra.
Laras sedang sarapan, di tungguin oleh bu Rika. Tiba-tiba perutnya mual! ingin sekali memuntahkan isi perutnya namun bingung, ia tidak bisa jalan ke toilet. Jangankan jalan ataupun berlari! untuk menapakkan di lantai saja belum berani. Dia hanya menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Oo ...oo
Bu Rika panik, dia juga bingung harus gimana atau berbuat apa. Dia mengambil handuk kecil dari kamar mandi, diamparkan nya di lantai sisi tempat tidur dan menyuruh Laras muntah di sana.
Tidak buang waktu lagi. Laras memuntahkan isi perutnya, ohek, ohek, ohek, sampai semua yang dia makan pagi ini habis tak tersisa.
Bu Rika memberikan minum, dan langsung bu Rika mengambil handuk berisi muntah Laras ke kamar mandi. Dari balik pintu ada yang datang ....
__ADS_1
,,,,
Aku ingin tahu seberapa banyak sih yang suka dengan novel ini? jadi setiap yang baca silakan like dan komen ya 🙏 ini untuk penyemangat aku buat nulis. Kalau suka? bilang suka! kalau tidak suka? apa alasannya!