Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Cinta sama dia


__ADS_3

Laras menunduk, sambil memanjatkan doa dalam hati. Air bening tak kuasa menetes, membasahi pipi. Kalau saja kecelakaan itu tak terjadi, tentunya mereka pasti masih berkumpul.


Bu Rahma, jongkok di dekat Laras dan memeluk bahunya sang mantu. Mengusapnya seakan memberi kekuatan.


Ketiganya menghadiahkan Alfatihah dan surat lainnya ayat al-quran. Sebagai doa untuk ahli kubur, dengan sangat khusyu.


Laras duduk dekat batu nisan sang bunda. "Ibu, kalau saja Ibu masih ada di dunia ini. Pasti Ibu akan selalu menjaga ku, mendampingi ku dikala lahiran nanti. Bentar lagi Ibu sama Bapa akan punya cucu," gumam Laras di sela isak tangisnya.


"Maafkan aku yang jarang datang ke sini, tetapi setiap waktu aku tak lupa untuk mendoakan kalian berdua. Aku merindukan kalian, hik hik hik. Aku belum sempat membuat kalian bahagia ataupun bangga. Dengan apa yang aku buat. Ibu, Bapa. Semoga kalian tenang di sisinya, Aamiin ya Allah."


Bu Rahma sedari tadi senantiasa mengelus punggung sang mantu yang menangis pilu. Dan memeluk batu nisan orang tua nya. Isak tangisnya menghiasi heningnya tempat tersebut.


"Bapa, Ibu. Aku belum sempat membawa suami ku ke sini untuk menemui kalian. Maafkan kami, Bu, Pa. Aku janji akan secepatnya membawa dia menemui kalian ke sini, aku sayang dan aku merindukan Ibu sama Bapa. Hik hik hik," suara tangisnya Laras makin menggema.


"Sayang-sayang, sudah jangan menangis lagi. Pamali sayang. kasian." Suara bu Rahma sambil merangkul bahu sang mantu. Ia menoleh sang suami yang berdiri tidak jauh dari situ.


Kemudian pak Marwan berjongkok dan mengajak Laras berdiri. "Laras, sudah jangan nangis. Ikhlaskan doakan saja, jangan diratapi sayang."


Laras mengusap pipinya yang basah. Dan membuang ingusnya dangan tisu, air mata yang terasa panas terus mengalir di pipi.


"Pulang ya?" ajak bu Rahma dan sang suami.


"Ma, Pa. biarkan aku di sini sebentar lagi, aku belum ingin pulang," suara lirihnya Laras, melirik sang mertua.


Bu Rahma dan suami saling bertukar pandangan, lalu bu Rahma mengangguk. "Baiklah, jangan lama-lama sayang. Panas. Mama dan Papa duduk di sana ya?" menunjuk kursi panjang dan di situ ada Irfan yang matanya tak lepas sedikitpun dari arah majikannya.


Laras balas dengan anggukan. Netra matanya terus mengusap batu nisan sang bunda. Tangan pak Marwan mengusap pundak sang mantu, lalu keduanya berjalan menuju kursi panjang di bawah pohon besar. Kemudian duduk di situ.


Laras terus menatapi pusara kedua orang tuanya. Namun sekarang air matanya dah kering sehingga tak lagi menetes, hanya suaranya yang masih serak.


"Bu, aku sayang sama suami ku. Tetapi ... mungkin saja aku yang salah, hadir diantara suami ku dan istrinya. Sekarang mereka bercerai, gara-gara adanya aku. Apa aku egois? aku gak mau ninggalin suamiku, memisahkannya dengan anak ini. Aku gak sanggup. Aku juga cinta sama dia. Aku sayang sama dia, walau bibir ini terkunci untuk mengatakannya. Tapi aku gak bisa pungkiri itu," air mata yang tadi kering, kini menetes kembali. Mengalir membasahi pipi.


Tiba-tiba Laras merasakan ada yang berdiri dan memayungi dirinya. Laras mendongak, alangkah terkesiap nya Laras melihat orang itu. "Jodi?"


Jodi berjongkok dengan memegangi payung, untuk melindungi Laras dari teriknya matahari. "Jangan terlalu larut dalam kesedihan."


"Kamu, kenapa di sini?" tanya Laras heran. Dengan tatapan mata yang berkabut.


"Em, aku ... aku sedang kebetulan lewat saja." Akunya Jodi. "Cuaca terik sekali. Panas tidak baik untuk kesehatan mu, pulanglah."


Laras terdiam. Netra matanya menatap batu nisan kedua orang tua nya, kata Jodi benar. Hari begitu terik memang sudah terasa membakar kulitnya. Ia berdiri dan Jodi pun tetap memayungi Laras. Berjalan mendekati mertuanya.


Irfan yang melihat Jodi di area tersebut. Tadinya mau menghadang sebelum mendekati Laras, namun Ia yakin kalau Jodi tidak bahaya untuk Laras. Hingga akhirnya ia membiarkan Jodi mendekati Laras. Ia segera menyiapkan mobil dan membukanya untuk Laras. Bu Rahma menggandeng tangan Laras yang tampak lemah.


Setelah mereka duduk di mobil dengan nyaman Irfan bersiap melajukan mobilnya.


"Nak, Jodi makasih ya? mari Kami duluan pulang." Bu Rahma mengangguk pada Jodi yang barusan mengantar Laras.


"Sama-sama Tante. Titip Laras ya," balas Jodi mengangguk pula pada bu Rahma dan pak Marwan.


"Yu," Pak Marwan melambaikan tangan.


Laras diberi minum oleh bu Rahma agar lebih tenang. "Minum dulu sayang."


"Makasih Ma," ucap Laras dengan Lirihnya.


"Jangan bersedih. Kamu masih ada Mama dan Papa yang akan menyayangi mu. Juga suami mu yang akan selalu mencintai mu Laras." Ungkap bu Rahma sambil mengusap kepala Laras.


"Iya, benar kata Mama. masih ada kami yang akan menjaga kamu. Ada suami yang akan mencintai dirimu, jadi jangan bersedih. Jangan khawatir." Timpal pak Marwan.


Selang beberapa waktu, akhirnya mobil sampai juga dan memasuki halaman rumah Laras. Mata Laras tampak sembab, kepala pusing, lemas. Ia langsung masuk ke dalam kamar. Dan berbaring di atas tempat tidur.


Laras memeluk guling. Pandangan jauh entah kemana, pikiran pun melayang terbang. Ponsel berbunyi. Rupanya Ibra telepon.


Ibra: "Hai ... kenapa tuh ... kok sembab gitu matanya. Nangis kenapa lagi sayang hem?"


Laras mengusap air mata yang meluncur membasahi pipi. Lalu menggeleng pelan. "Nggak."


"Jangan sedih terus sayang, aku jadi gak tenang di sini sayang." Lembut Ibra menatap lekat ke arah sang istri.


"Aku hanya sedih saja. Kangen sama orang tua ku," ungkap Laras sambil mengusap ingusnya.


Ibra: "Aku jadi bingung sayang, gak tenang. Kalau kamu gini terus. Mana istri aku yang kuat dan hebat. Tangguh, gak pernah bersedih."

__ADS_1


Laras mengulas senyumnya tipis. "Aku baik-baik aja kok. Jangan khawatirkan aku oke? aku cuma butuh istirahat aja."


Ibra: "Baiklah istirahat yang cukup, dan jangan lupa makan ya? jangan sampai sakit lagi, besok aku pulang. Tunggu aku ya."


"Iya, aku baik-baik saja kok. Abang tenang saja di sana," ucap Laras. Kemudian Ibra mengakhiri vc nya.


Laras turun menapakkan kakinya ke lantai dan berjalan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Badan terasa lesu, mata pun berasa sipit. Ia berendam diri di bahthub beberapa waktu, agar badan berubah segar.


Selesai berendam. Laras mengganti pakaian dan salat. Kemudian keluar menghampiri meja makan.


"Nyonya, makan dulu. Nyonya dan tuan besar juga Mas Irfan sudah makan tadi," ucap Susi sambil menyiapkan makan buat Laras.


"Oh, oke. Kamu sudah makan?" melirik ke arah Susi.


"Saya sudah juga, tinggal Anda saja yang belum makan," tambah Susi ia menuangkan minum buat sang majikan.


Laras mengangguk, lalu melahap makan siangnya. Jadi ingat sang suami biasanya dia sangat suka dengan menu yang ada sekarang. Udang jamur dan gulai daging.


"Kenapa Nya?" tanya Susi. Ketika melihat Laras melamun.


"Ah, nggak. Cuma ingat tuan, dia suka benget dengan menu yang ada sekarang," sahutnya.


"Wah ... Nyonya kangen tuan ya? ayo ngaku ... telepon dong tuannya." Goda Susi.


"Ih, kamu apaan sih? tadi udah telepon kok, suruh aku makan," gumam Laras sambil menundukkan kepalanya.


"Nyonya muda, seneng dong ya sekarang? secara tuan tidak membagi waktu lagi sama yang lain, hi hi hi ..." tawa Susi menggoda majikannya.


Laras mendongak. Menatap datar ke arah Susi. "Aku merasa bersalah. Sebab gara-gara aku tuan menceraikan Dian, wanita yang lebih dulu mendampinginya."


"Aduh ... salah ngomong aku. nggak Nya, percaya deh. Itu bukan salah Nyonya muda, tuan juga gak bakalan deh cerai Nyonya Dian. Kalau dia gak buat kesalahan." Susi meyakinkan Laras.


"Iya kah?" gumam Laras.


"Iya, Nya. Percaya deh sama Susi, sama suaminya. Tuan sangat sayang sama Nyonya, juga calon baby nya." Tambah Susi lagi.


"Tapi--"


Laras melanjutkan, makan siangnya. Sambil berpikir ada benarnya omongan Susi barusan. Kalau ia sama sekali tidak merebut Ibra dari Dian.


****


Malam sudah merangkak naik dan waktu sudah menunjukkan pukul 23.00.wib Laras masih terjaga, belum bisa pejam barang sebentar pun. Matanya sulit untuk di pejamkan, wajah Ibra terus membayang di pelupuk mata. Rindu wangi tubuhnya, rindu pelukan hangatnya dan rindu sentuhan mesranya.


Kebetulan dari siang dia tidak ada telepon lagi. Walau sekedar untuk ucapan met bobo, Laras sudah memegang ponselnya ingin sekali mendengar suaranya. Namun niat itu ia urungkan dengan alasan takut ganggu, Mungkin Ibra sedang sibuk. Lagian sehari lagi juga dia akan pulang.


Malam semakin larut. Melirik jam sudah menunjukkan pukul 02.00 namun ini mata masih juga belum dihinggapi rasa kantuk. Laras bergegas turun berjalan menuju kamar mandi. Ingin buang air kecil sekalian mengambil air wudu. Untuk salat malam.


Setelah bersimpuh beberapa menit rasa kantuk pun datang. Mata tak sanggup lagi untuk ia buka. Sampai Laras tertidur di atas sajadah dan mengenakan mukena, Laras tertidur di atas sajadah sampai subuh menjelang.


Dari jauh terdengar sayup-sayup suara adzan subuh yang berkumandang indah. Laras memicingkan matanya, ke sekitar. "MasyaAllah ... aku tertidur di lantai." Gumam Laras mengamati dirinya yang masih mengenakan mukena.


"Kok aku tertidur di sini sih?" dengan suara seraknya. Kemudian bangun meninggalkan mukenanya dan hendak mengambil air wudu lagi. Sebab sudah waktunya salat subuh.


Seusai salat, Laras membuka-buka gorden, ia pun berdiri di teras depan kamar. Merentangkan tangan, kepala mendongak ke langit. Menghirup udara yang segar di pagi hari ini.


Suhu pagi yang dingin ini, menyelinap ke sela-sela pori-pori. Dan Menembus tulang. "Huuh ... dinginnya." Pandangan belum terlihat jauh, sebab masih berhiaskan gelap. Sang surya masih berselimut awan, masih enggan menampakkan sinarnya.


Laras memetik setangkai bunga roos. Ia cium berkali-kali, bibirnya tak berhenti tersenyum. Netra matanya terus menatap sang bunga roos yang di tangan.


Siangnya sekitar pukul 10.00 wib. Laras dan bu Rahma berbelanja kembali di sebuah Mall. Kali ini cuma bertiga dengan Irfan. Pak Marwan sedang ada keperluan keluar. Sementara Susi di rumah saja kebetulan dia lagi kurang fit.


"Wah ... besan, sedang belanja ya?" sapa seseorang dari belakang.


Bu Rahma dan Laras menoleh seketika itu juga. "Eh ... bu Ludia. apa kabar, sedang belanja juga?"


"Iya, sedang cuci mata lah, shoping. Malas di rumah terus, lagian ... Dian juga sibuk bekerja. Jadi jarang di rumah." Jawab bu Ludia, sang bunda dari Dian.


"Eh ... si cantik nan anggun. Kehamilannya makin ketara buncit saja nih, jadi ikut gemas," sapa bu Ludia mengalihkan pandangan pada Laras yang tersenyum ke arahnya.


Laras balas dengan anggukan dan senyuman manisnya. Tangannya meraih tangan bu Ludia, lantas di ciumnya penuh hormat.


"Aduh ... si cantik, tambah cantik saja." Tangan bu Ludia mengusap perut Laras yang buncit itu. "Ini cucu oma cowok atau cewe sih?" Melirik bu Rahma dan Laras bergantian.

__ADS_1


"InsyaAllah. Cowok, bu Ludia. mohon doanya saja, semoga semua lancar," ujar bu Rahma. Merasa bahagia melihat bu Ludia begitu welcome pada Laras.


"Oh, tentu. Saya doakan Laras, agar melahirkannya lancar. Tidak ada suatu apapun. Anaknya sehat juga ibunya. Oya, besan ... bolehkan jika nanti saya sering menjenguk cucu besan nanti kalau sudah lahiran?"


"Bolehlah, masa nggak. Oya, anda mau tinggal di Indo saja kah?" selidik bu Rahma.


"Sepertinya seperti itu, besan. Selama Dian masih sendiri belum ada yang bertanggung jawab, saya akan di Indo saja. Biar tenang," ungkap bu Ludia. Sambil berjalan mengikuti langkah Laras dan bu Rahma. Memilih barang yang akan Laras beli.


"Oh, baguslah. Biar Dian ada temannya ya?" timpal bu Rahma.


"Makanya dari itu, besan. Takut macam-macam," sambung bu Ludia.


Laras terus melihat-lihat barang yang belum ia beli. Kemudian Laras mengambil tempat mandi baby yang lucu.


"Eh, warnanya jangan seperti itu kalau anaknya cowok. Mendingan yang ini saja," ucap bu Ludia.


Laras dan bu Rahma saling bertukar tatapan. Bu Rahma tersenyum dan mengangguk setuju dengan saran bu Ludia.


Laras mengalah kalau soal warna. Biar mereka yang pilihkan, Laras. memilih handuk. Namun lagi-lagi Bu Rahma dan bu Ludia tidak setuju dengan warna.


"Aduh, yang omanya itu siapa sih? repot amat." Gumam Laras sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Kenapa sayang?" tanya bu Rahma.


"Nggak, Ma. Pusing saja." jawab Laras sambil sedikit menggeleng.


Lama, bu Ludia menemani Laras dan sang mertuanya belanja. Akhirnya ia merasa puas dan berpamitan. Memeluk bu Rahma dan Laras bergantian.


"Nanti kalau lahiran, kasih tahu ya? dan jangan asing kan saya dan Dian bila ke sana," pinta bu Ludia sangat berharap kalau pintu rumah Laras selalu terbuka untuknya.


Laras tersenyum dengan ramahnya. "Tentu, Tante. tidak ada yang larang kok."


"Makasih sayang," ungkap bu Ludia sambil memeluk tubuh Laras. Kemudian memeluk erat bu Rahma.


Bu Ludia berlalu meninggalkan tempat tersebut. Tinggallah Laras dan bu Rahma.


"Huuh ... leganya." Gumamnya bu Rahma setelah bu Ludia hilang dari situ.


Laras tersenyum sambil melihat sang mertua. Irfan datang mengambil belanjaan Laras, dibawanya ke mobil. Keduanya mengikuti Irfan dari belakang.


Di parkiran Laras menemukan seorang anak yang di pinggir jalan tengah minta-minta. "Dek ini buat jajan."


"Makasih kak, makasih banyak." mengangguk hormat," ucap anak itu.


Laras berdiri dan menatap anak itu yang bergegas pergi setalah mendapat sejumlah uang dari Laras.


"Hati-hati Nyonya muda. Jangan mudah percaya sama orang asing." Suara Irfan dari belakang.


Laras menoleh ke arah Irfan. "Mas, Dia cuma anak yang di suruh minta-minta. Jangan terlalu berpikir macam-macam, Mas pamali."


"Bu-bukan begitu Nyonya. Cuma saran, bahwa tidak semua baik." Timpal Irfan sambil membuka pintu mobil. Laras masuk dan duduk di dekat mama mertua.


"Benar yang di katakan Irfan Sayang. Kita harus hati-hati sama orang asing, takut ah." Sambung bu Rahma ...


"Iya, Ma ..." Akhirnya Laras mengangguk, mengiyakan omongan bu Rahma.


Setelah ketiganya memasang sabuk pengaman. Barulah mobil melaju dengan cepat. Irfan membawa mobil begitu cepat sehingga tidak butuh waktu lama di jalan, kini mobil itu berada di halaman rumah Laras. Disambut Susi dengan senyum ramah.


"Susi, kamu banyak istirahat saja. Jangan terlalu capek." Laras menoleh ke arah Susi.


"Iya bener Susi. Kalau sakit istirahat saja," tambah bu Rahma.


"Siap Nyonya. Namun Susi baik-baik saja kok," akunya Susi sambil menunjukkan senyum cerianya.


Susi mengeluarkan belanjaan, bersamaan dengan Irfan. Langsung membawanya ke dalam.


Laras pun langsung masuk ke dalam kamarnya. Dengan hati gundah dan khawatir, dari kemarin Ibra tidak ada kabar. Membuat hati Laras gusar, cemas.


Sore-sore ada sebuah mobil masuk ke dalam halaman. Namun sungguh membuat Laras terkesiap bercampur bahagia. Ibra pulang, namun anehnya bukan cuma dengan Zayn saja. melainkan bersama seorang wanita ....


****


Hai ... readerku semua masih kah setia dengan SKM, ayo mana suaranya. like & dukungan lainnya. Agar aku tambah semangat lagi, sebab tanpa kalian siapakah aku?

__ADS_1


__ADS_2