
Seseorang menggedor pintu kamar Laras. Laras menoleh heran, siapa yang menggedor pintu. Gak mungkin Susi atau bu Rika berbuat seperti itu.
Langkah Laras menuju pintu, dan blak! pintu terbuka. Nampak Mery berdiri dan menyilang kan tangan di dada.
"Ada apa Kak?" tegur Laras, dengan tatapan penasaran.
"Mana suami ku? dia bukan suami mu seorang, kenapa kau tahan sendiri? bagi-bagi dong!" ketus Mery. Sambil nyelonong masuk, menubruk bahu sebelah Laras.
Laras bengong. "Dia sedang mandi. Lagian aku gak tahu, kalau dia belum menemui kamu," sahut Laras.
"Hem ... punya pelet apa sih? sehingga dia nempel sama kamu!" menatap Laras dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tak luput dari pandangannya.
"Astagfirullah ... pelet apa itu musyrik Kak." Laras menggeleng.
"Atau ... kamu pake susuk ya, di area sensitif mu ya? ngaku! kok bisa dia nempel terus sama kamu." Lanjut Mery masih berdiri sambil melipat tangan. Jalan mondar-mandir.
"Mana ada? itu tuduhan mu yang tidak benar! lagian nempel gimana sih? jelas-jelas dia itu dari luar Negeri sama Dian. Kenapa aku yang di salahkan sih?" elak Laras. Ia memilih duduk di sofa.
"Hem, kalau kamu tidak memakai pelet, gak mungkin dia lebih mementingkan dirimu walau alasan anak. Seharusnya ke aku dulu dong, secara aku ini istri tua," ucap Mery dengan angkuhnya.
Laras menggeleng. "Terserah kamu sa--" Laras menggantung ucapannya.
"Ada apa? ribut-ribut," suara Ibra muncul dari balik pintu.
Mery menoleh. "Sayang, kok kamu gak ngasih kabar sama aku kalau sudah pulang?" langsung gelendotan di tangan Ibra yang langsung Ibra tepis.
"Gimana liburan di balinya, menyenangkan bukan?" tanya Ibra sambil memakai pakaiannya.
"Lumayan, menyenangkan." Jawab Mery tanpa ekspresi.
"Aku ke dapur dulu untuk menyiapkan sarapan," pamit Laras sembari melangkahkan kakinya melintasi pintu.
Ibra hanya menatap kepergian Laras. Kemudian kembali melihat ke arah Mery. "Baguslah." Ibra meneruskan berpakaiannya.
Sementara Mery duduk di sofa dengan posisi menggoda. Namun bukannya tergoda, yang ada malah menjijikan bagi Ibra sekarang ini.
"Sayang, malam ini ... tidur di kamar ku kan? kangen!" dengan nada manja. Mery mendekat dan menjinjit mencium pipi Ibra, Ibra hanya menatap biasa aja.
"Lihat nanti saja," sahut Ibra.
"Kok, lihat nanti sih? harus dong. Kita sudah lama tidak--"
"Aku lapar. Mau makan dulu." Ibra memotong perkataan Mery sambil berjalan keluar kamar. Mery mengejar langkah Ibra yang lebar itu.
"Sayang, tunggu aku. Kamu kenapa sih?" ujar Mary sambil meraih tangan Ibra.
"Apa sih? sudah aku bilang, aku lapar," Ibra menepis tangan Mery.
"Iya, tahu. Tapi tunggu napa?" jalan mereka menjadi sejajar. Kemudian keluar dari pintu lift tepat di lantai dapur. Langsung terlihat Laras yang sedang menyiapkan nasi goreng ayam suwir yang wangi nya sudah menyeruak dan sampai ke hidung Ibra.
Langkah Ibra semakin lebar menuju meja makan dan jauh meninggalkan Mery. Tertinggal di belakang.
"Singa betina datang lagi, siap-siap aja bikin ulah." gerutu Susi dan temannya.
Laras menoleh sambil senyum. Lalu melihat ke arah Ibra yang tarik kursi, duduk menunggu sarapannya. Diikuti oleh Mery dari belakang.
Laras menyajikan nasi goreng pesanan Ibra di depannya. Kemudian menuang air putih ke gelas, buat Ibra dan dirinya.
__ADS_1
Mery duduk, melihat nasi goreng yang di hadapan Laras dan Ibra membuat ia menelan saliva nya. "Kayanya enak nih, mau dong?"
Laras celingukan seraya berkata. "Maaf Kak, gak ada lagi, cuman bikin untuk berdua saja."
"Ya, bikinkan dong ... bagi-bagi, jangan buat sendiri saja." Ketus Mery.
Ibra yang sedang makan, menoleh. "Bikin sendiri, dia sudah capek membuatkan buat suami. Sementara kamu apa?" tegas Ibra. Di sela makannya.
Mery cemberut. "Susi bikinkan nasi goreng seperti milik dia," menunjuk nasi yang di depan Laras.
Susi dan temannya saling pandang, kemudian tersenyum. "Baik, Nya?
Laras makan begitu lahap walau gak habis dan sisanya Ibra yang habiskan. Bahkan masih pengen nambah lagi kalau saja masih ada, sayangnya buatan Laras tidak ada lagi. Ibra mengakhiri makannya dengan segelas air putih dan Laras lanjut minum susu bumil.
Akhirnya nasi goreng pesanan Mery sudah siap dan langsung Susi bawakan ke depan Mery yang sibuk dengan ponselnya.
"Ini, Nya. Nasi goreng nya?" Susi mundur dan membawakan segelas air putih di simpan dekat piringnya, Susi mengulum senyumnya seolah merencanakan sesuatu.
Mery langsung melahap, meski masih panas mengepul. Namun sedang enak-enaknya makan, tiba-tiba lidahnya serasa terbakar, panas. "Minum," mengambil air putih yang sudah sedia di depannya itu.
Namun segelas air yang iya teguk bukanlah air putih biasa, melainkan air garam yang terasa asin pake banget, bikin getir di lidah. Namun terlanjur diminum, membuat mata Mery melotot dengan sangat sempurna pada Susi. Ia terbatuk-batuk dan memukul meja. "Susi ... apa-apaan kamu, minum mana minum?" jerit Mery.
Membuat Ibra dan Laras terkejut. memandangi Mery yang matanya merah di tambah lagi melotot.
Susi segera mengambilkan air putih untuk minum. "Ini, Nya."
Mery segera meminumnya lek lek lek ... "Lagi?" Mery merasa kekurangan sebab ia ingin menghilangkan rasa panas dan asin di lidahnya.
Sementara itu, Susi dan temannya menyembunyikan senyumnya. Atas yang di alami majikannya , Mery.
"Mery?" bentak Ibra. Melihat Mery menyiram wajah Susi dengan air.
Susi kaget, tidak menyangka air yang ia berikan justru akan di siramkan ke mukanya.
"Dasar pembantu kurang ajar. beraninya bermain-main dengan ku," menunjuk ke arah Susi dan bertolak pinggang.
Susi mengusap wajah dengan telapak tangannya. Walau diperlakukan seperti ini namun ia merasa sangat puas, telah membuat Mery begitu.
Asisten yang satunya malah ketakutan berdiri di pojokan. Ia khawatir kena damprat juga oleh Mery.
"Sayang, dia sudah kurang ajar padaku, marahin dia dong." Ujar Mery menoleh Ibra dan menunjuk ke arah Susi.
Ibra sebenarnya kurang faham dengan apa yang terjadi. "Sebenarnya kenapa nih Sus?" tanya Ibra pada Susi yang mengelap wajah dan dadanya.
Brak!
Piring yang masih berisi nasi goreng itu. Mery lempar tepat samping Susi, semua terkesiap gimana kalau piring itu kena ke wajah Susi dan piring itu pun langsung hancur di lantai. Berbarengan dengan isinya yang berserakan.
"Astagfirullah ..." gumam Laras.
"Awas, satu kali lagi kau berbuat ulah, piring seperti itu bukan lagi akan jatuh ke lantai, tapi ke wajah mu biar hancur sekalian," ucap Mery semakin arogan.
"Mery, kendalikan emosi mu," jelas Ibra. Berdiri dan mengajak Mery untuk duduk.
Susi menunduk dalam, seraya berkata. "Ma-maaf, Nya?"
"Saya tidak terima dengan ulah mu yang gak sopan dan sangat kurang ajar. Sayang, pecat dia, pecat saja. Buat apa mempekerjakan orang macam dia? masih banyak orang yang mau bekerja sama kita." ujar Mery dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Sudah ..." kata Ibra merangkul bahu Mery.
Namun semakin lama perutnya semakin mules. Pret ... prot. Mery merasakan sakit perut yang sangat, sehingga gak kuat dan terus buang angin. Ia berlari sambil memegangi perut, dan tangan yang satu memegangi pantatnya.
Hening!
Semua yang melihat Mery ingin tertawa, namun takut dosa. Begitupun Laras. Kemudian Ibra menatap ke arah Susi yang akhirnya menunduk, tak berani melihat Ibra. "Duduk?"
Susi pun duduk dan tetap menunduk. Asisten yang lain membersihkan lantai yang kotor dengan pecahan piring dan isinya yang muncrat.
"Apa yang kamu lakukan terhadap Mery, bukankah dia masih majikan mu juga?" mata Ibra menatap tajam.
"Ma-maaf Tuan. Memang itu salah saya," sahut Susi tetap menunduk dalam.
"Apa yang kau masukan ke dalam nasinya?" tanya Ibra lagi.
"Ta-tadi, sa-saya masukan cabe dan obat perangsang sakit perut dan air garam." Aku Susi kembali.
Ibra mengulum lidahnya sendiri. "Kenapa kau berbuat itu, atas dasar apa?" sambung Ibra.
"Sa-saya ... iseng saja, eh ... saya ingin memberi pelajaran sama Nyonya. Habis suka menyuruh seenak hati dan perangai nya itu yang bikin kami semua kesal," jelas Susi, Susi pasrah bila hari ini hari terakhir dirinya bekerja. Alias di pecat.
Laras hanya diam dan menghela napas panjang. Memandangi Susi yang bersikap berani.
Ibra mengalihkan pandangan pada dua asisten lainnya, yang mengangguk tanpa Ibra interogasi pun. "Oke. lanjutkan lah pekerjaan kalian."
Susi mendongak dan menatap ke arah majikannya. "Tu-Tuan tidak memecat saya?" sangat antusias.
Laras pun menatap ke arah Ibra, ia kira Susi akan diberhentikan kerjanya. Tapi ... ternyata tidak.
"Tidak, dengan syarat jangan berbuat yang macam-macam lagi sama siapa pun." Tegas Ibra.
Susi segera berdiri dan berlutut di dekat Ibra, sangat berterima kasih. Kalau dia masih diizinkan bekerja.
"Sudah, lanjutkan pekerjaan mu saja. Oya bu Rika mana?" tanya Ibra.
"Bu, Rika ada keperluan keluarga Tuan," sahut Susi.
"Oh. Ya ... sudah." ucap Ibra. "Oya Sus, bikinkan saya kopi. Biar nyonya ini istirahat." Melirik Laras dengan senyum mesranya.
"Baik, tuan." timpal Susi.
Laras merapikan bekas makannya. Namun tangan Laras, Ibra pegang. "Biar asisten yang kerjakan, kamu sudah membuatkan nasi goreng tadi, jadi sekarang duduk manis saja." cegah Ibra dengan tatapan sangat lekat.
Netra mata mereka bertemu, yang akhirnya saling pandang. Tangan Ibra meremas jemari Laras yang lentik dan kulitnya halus itu.
Kring!
Kring!
Kring!
Ponsel Ibra berdering. "Ck ... mengganggu saja. Siapa sih?" Ibra merogoh sakunya, mengambil ponsel yang terus berdering ....
****
Hi ... aku up lagi nih, apa kabar semuanya? semoga kabar baik ya, bila ada yang sakit? semoga lekas sembuh. Jika ada yang sedang perjalanan? semoga lancar dan selamat dan bila ada yang sedang mengalami kesulitan? Semoga diberi kelapangan atau kelancaran Aamiin🤲🤲
__ADS_1