Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Laras istriku


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara. Hanyalah suara gerungan suara, mobil yang halus. Menghiasi hening nya malam, membelah jalanan yang lumayan sepi.


Susi menggelinjang ke belakang. Melihat motor yang seakan mengejar mobil Laras. "Nyonya, sepertinya pemuda tadi ngikutin kita."


Laras hanya melihat dari kaca spion, ia terus menyetir dengan fokus ke depan. Susi menatap cemas pada Laras.


"Tenang aja Sus ... jangan panik gitu, siapa tau cuma satu arah. Bukannya ngikutin kita," Laras berkata lirih dan tenang.


"Tapi, Nyonya ... mereka menyiap kita," Susi makin panik dan cemas.


"Tenang, jangan panik, nanti aku gak fokus nyetir." Laras terus berusaha tenang. Matanya tetap ke depan yang sebentar lagi masuk jalan komplek, dan di sana ada scurity yang jaga.


Mobil masuk komplek, dan motor mereka di hadang oleh scurity. Laras terus melajukan mobil hingga akhirnya memasuki pekarangan yang Susi buka terlebih dahulu.


Blugh!


Pintu mobil Laras tutup dan langkahnya memasuki rumah, melintasi pintu, Susi menenteng roti bakar dan buah-buahan yang langsung ia simpan di lemari pendingin.


"Nyonya, roti bakarnya di meja," ucap Susi menunjuk ke atas meja.


"Ia, aku mau simpan tas dulu." Laras mengayunkan langkah menuju kamar pribadinya. Laras menyimpan tas di atas laci, membuka jaket dan menggantungnya. Mata Laras menatap jas Ibra yang tergantung dekat lemari. Helaan napasnya sampai terdengar di telinga.


Kemudian, Laras kembali ke dapur untuk makan roti bakar. Ia menarik kursinya dan membuka roti yang tadi dia beli. "Ayo, Sus makan rotinya."


Susi sedang mencuci buah mangga yang ingin dia kupas sekarang. "Oya, duluan saja."


Laras, dengan tidak membuang waktu, melahap roti bakar rasa keju itu. "Untung, aku tadi gak beli kambing, Sus!"


"Maksud Nyonya gulai kambing, sate kambing gitu?" tanya Susi sambil mengupas Buah mangga.


"Hem ... gak baik ke perut, kalau keseringan makan. Bisa-bisa panas perut ku nanti, apalagi sedang hamil gini, takut bahaya." Laras menggeleng pelan.


"Gitu ya? untung dong ya Nyonya gak beli tadi, malah di lewat aja." sambung Susi.


"Iya." Laras mengangguk. Lalu mengambil potongan buah yang di kupas oleh Susi.


"Sudah ah. Aku capek, ngantuk. Mau bobo dulu." Laras berdiri merapikan kursi, lalu masuk kamar nya.


Susi yang menatap langkah Laras ke kamarnya.


Malam semakin larut, Laras meringkuk di bawah selimut tebal. Di hiasi suara gemercik air hujan, ia berusaha pejamkan mata. Membuang semua pikiran dari isi dalam kepalanya.


****

__ADS_1


"Sayang, kamu transfer uang bukan? sebesar 40 juta." tanya Dian menghampiri Ibra yang berada di kamarnya tengah sibuk dengan laptopnya.


Ibra menoleh Dian yang baru saja masuk ke kamar pribadinya. "Nggak ah, buat apa aku kirim sebanyak itu?" menggeleng pelan.


"Terus dari siapa dong? orang tua ku ... gak mungkin gak bilang-bilang dulu." Dian heran tak habis pikir dengan uang yang masuk ke rekeningnya.


Ibra hanya menoleh sebentar lalu, kembali menatap layar laptop nya.


Dian yang duduk dekat Ibra, mengalungkan tangan di lehernya. "Sayang, sudah jam berapa nih. Bobo yuk?"


"Duluan aja, aku belum ngantuk." Ibra menjauhkan tangan Dian dari lehernya.


"Sudah malam sayang, yu?" berbisik di telinga, sehingga napas Dian menyapu kulit permukaan Leher Ibra.


"Tau ... sudah malam. Tapi aku belum ngantuk dan masih ada kerjaan yang harus selesai secepatnya.


"Hem ... tapi ngomong-ngomong, dari siapa ya?" Dian kembali kepikiran tentang uang itu.


"Mungkin, kamu pernah hutangi orang barangkali? makanya sekarang mereka membayarnya secara diam-diam." Ibra memberi satu pencerahan.


"Nggak ah, lagian aku gak pernah hutangi seseorang, tidak pernah kok," sambung Dian sambil mengernyitkan keningnya heran.


"Sama Laras, apa kau pernah memberikan uang? sebagai apa dan untuk apa?" tutur Ibra dengan matanya fokus ke layar laptop.


"Laras istri aku, aku yang seharusnya bertanggung jawab. Mencukupi nya, jadi ... gak usah repot-repot ngasih dia, biar aku aja." Ibra melirik sesaat kemudian mengalihkan kembali pandangannya.


Dian mendelik pada Ibra. "Dia itu sedang hamil anak kita sayang, wajar dong kalau aku perhatian sama dia?" elak Dian.


"Kalau segitu ... bukan wajar jatuhnya, tapi berlebihan. Nanti dikiranya kamu mau beli anak nya. Biarkan mereka tetap bersama, kita ikut menjaga aja. Bukan seutuhnya, mengambil. Apalagi memisahkan keduanya," ujar Ibra sembari menutup laptopnya.


Dian bengong dengan ucapan Ibra yang seolah, secara tidak langsung memojokkan dirinya. "Maksud kamu apa, ha?"


"Aku gak bermaksud apa-apa sayang, aku cuma bilang, kalau anak itu lahir, biar ibu dan anak itu bersama. Kita cukup turut merawatnya saja, menyayangi dan mengasihi. Bukan mengambilnya," ujar Ibra kembali.


"Sayang, aku ingin ... setelah anak itu lahir, kamu ceraikan dia. Anak, kita yang rawat, biar kita hanya berdua. bertiga, tidak ada orang ketiga lagi," ucap Dian sambil merangkul pundak suaminya.


Ibra menatap tidak suka, ia tidak setuju dengan yang Dian katakan. "Segampang itu? tidak, aku tidak setuju. Aku tidak akan pernah menceraikannya." Jelas Ibra.


Mendengar ucapan Ibra barusan membuat dada Dian terasa sesak, sakit dari goresan luka yang ada. Luka akibat ulahnya sendiri yang menyuruh suami menikah lagi, dengan satu tujuan, ya itu anak. Semua ini hanya gara-gara ia sendiri tak bisa memiliki anak.


Rencananya, Dian akan mengambil anak dari Laras bila anak itu sudah lahir, jika perlu. Ia kirim Laras ke luar Negeri, dan anak tertanda hitam di atas putih menjadi milik Dian dan Ibra. Orang tua Dian tidak tahu kalau putri semata wayangnya tidak bisa hamil, dan sebab itu juga alasan Dian bilang pada orang tua Ibra. Kalau Laras lulusan luar Negeri dan kemungkinan besar akan tinggal di situ, biar gampang nanti memisahkan dengan anaknya.


Dian menggeleng. "Tidak, setelah kamu dapatkan anak. Aku tak mau berbagi suami lagi, cukup sekarang saja," keluh Dian memelas. Menatap sayu wajah sang suami.

__ADS_1


"Aku, minta maaf. Bukannya aku tidak mengerti perasaan mu, bukan juga menyalahkan dirimu. Aku ... tidak akan menceraikan Laras, apalagi memisahkan dengan anaknya, kecuali! dia sendiri yang menyerahkan padamu. Tapi ... sampai kapan pun dia akan tetap jadi istri ku, sampai kapanpun," ujar Ibra dengan jelas.


Dian terus menggeleng. Matanya berlinangan, tidak menyangka dengan jawaban suaminya itu. "Aku mencarikan mu istri lagi hanya buat mempunyai anak, bukan untuk menambak enak? kamu sangat mencintai ku, kan jawab?" desak Dian dengan tangis yang akan segera pecah.


Ibra menarik bahu Dian, di bawanya ke dalam pelukan. "Aku sangat mencintai dirimu." Ucap Ibra. "Namun ... aku juga menyayangi Laras." Batin Ibra.


Tangis Dian pun pecah dalam pelukan Ibra. "Kalau kamu mencintai ku, kenapa kamu tidak mau menceraikannya? jangan bilang kamu juga mencintai wanita itu."


Ibra terdiam, tangannya mengusap punggung Dian dan mengecup pucuk kepala Dian dengan rasa sisa-sisa kasih sayang.


"Jangan menangis. Selama ini aku sudah berusaha mengikuti keinginan mu, menikahi Mery dan Yulia, hingga mereka bukannya memberikan aku anak! malah selingkuh, kamu ceroboh. Asal-asalan mencari wanita untuk aku nikahi. Sekarang sudah terbukti, Laras lah wanita yang lebih baik dari mereka. Aku juga punya keputusan, kalau aku tidak akan meninggalkannya."


Netra mata Dian menatap tajam kedua mata Ibra. "Kau, tidak mengerti perasaan ku. Kau tidak paham, yang aku rasakan ini. Kamu hanya memikirkan ego mu saja, karena kamu sudah mulai menyukainya. Kamu jahat, Malik Ibrahim." Dian berdiri dan berlari keluar dari kamar Ibra.


Brugh!


Suara pintu di banting Dian. Dian menuju kamarnya dengan hati hancur, ternyata suaminya betah menduakan dirinya. Ini memang salahnya sendiri yang memberi peluang pada sang suami membagi hati dan posisi sebagai suami.


Dian berjalan cepat, ingin segera sampai di kamarnya. Sesampainya di kamar, mengunci pintu dan menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur. Tangisnya kembali pecah, ia menangis tersedu.


Ibra yang ditinggalkan Dian. Merenung, memikirkan perkataan dirinya yang melukai hati Dian.


Sekalipun ia sangat mencintai Dian. Namun hatinya tetap berat jika harus melepaskan Laras, ditambah lagi hatinya sudah mencintai Laras. "Huuh ..." Ibra menarik napas panjang.


Tangannya menarik laci dan mengambil sebuah foto ukuran kecil, foto pernikahannya dengan Laras. "Aku, tidak akan pernah melepaskan mu!"


Waktu berjalan begitu cepat, sehingga tidak terasa pagi pun datang menggantikan malam. Ibra sudah bersiap berangkat kerja. Yang biasanya di layani oleh Laras, sekarang paling keperluannya di siapkan oleh bu Rika.


Kini Ibra sudah berada di meja makan. Untuk sarapan, Dian muncul dengan penampilan yang rapi, siap berangkat ke kantor. Dan mata bengkak habis menangis semalam.


Ibra menatap kedatangan Dian yang lesu, dan tampak tak bersemangat. "Pagi, sayang?"


Dian menoleh dan menarik Kursi yang mau ia duduki. "Pagi juga." Jawabnya dingin.


Ibra menatap sang istri yang bersikap dingin, ia tidak ingin memikirkan hal yang macam-macam. Ia langsung saja menyantap makanan yang sudah bu Rika sediakan, tak ada yang buka suara, yang ada hanyalah suara dentingan piring dan sendok.


Meja makan nampak sepi dan canggung, boro-boro ada canda dan tawa. Ibra mengakhiri sarapannya, dengan segelas air putih. "Baiklah, aku berangkat dulu," cuph. Ibra mencium kening sang istri yang masih makan. namun nampak malas itu.


"Ya, udah hati-hati. Aku juga mau berangkat." Dian berdiri dan meneguk minumnya ....


****


Terima kasih reader ku yang tetap setia menunggu novel ini up.

__ADS_1


Yang tidak pernah komen, mana nih suaranya? ayo mana like n komennya.


__ADS_2