Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Bodyguar


__ADS_3

"Maaf, aku sudah buat kamu sedih," Lirihnya Laras.


Jari Ibra mengusap kasar air matanya yang jatuh. "Aku gak ada niatan sama sekali untuk menceraikannya. Tapi itu adalah salah satu jalan terbaik."


Laras pun ikut terharu. genggaman tangannya semakin erat. "Mungkin ini semua gara-gara kehadiran ku ya? sehingga rumah tangga kalian jadi begini." Akunya Laras sambil menunduk dalam.


Ibra mengangkat dagu Laras dengan ibu jarinya. "Tidak, itu bukan salah mu. Tapi mungkin takdir kami berdua, Dian tidak bercermin dari cerita Yulia dan dan Mery. Jadi sama sekali bukan salah mu sayang," ucap Ibra sambil menggeleng.


"Tapi, semua terjadi setelah adanya aku. Sebelumnya kalian adem ayem aja, kan?" keluh Laras dengan nada sedih.


"Tidak, semua tercium atau ketahuan memang setelah adanya kamu. Tapi bukan gara-gara kamu semuanya begitu," ujar Ibra lagi.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Sayang ... ayo sarapan, sudah siang loh. Emangnya gak ngantor? Abang," suara bu Rahma dari balik pintu.


"Iya, iya Mah." Balas Ibra dari dalam.


Laras berdiri dan hendak melangkah, Namun tangannya Ibra tangkap sehingga tubuh Laras berbalik dan menatap ke arah Ibra.


Ibra berdiri di depan Laras. Netra matanya menatap sangat lekat. "Aku mohon, apapun yang terjadi tetaplah jadi istri ku yang baik, jangan pernah berubah." Harap Ibra, lantas memeluk Laras dengan erat.


Laras diam tidak menjawab, hanya membalas pelukan dari sang suami. Mengusap punggung Ibra sangat lembut. Kemudian mereka berdua keluar dan berjalan berbarengan, menuju meja makan.


"Papa dan Mama, hari ini mau ke Bogor. Ke tempat paman, kemungkinan mau mau nginep, Bang." Kata pak Marwan setelah Ibra duduk di hadapannya.


"Oh, iya Pah. Mau bawa mobil sendiri atau--"


"Malas ah, biar pak Barko aja yang nyetir. Papa capek kalau agak jauh," sahut sang ayah.


"Ya, baguslah." Ibra mengangguk.


"Sayang, hati-hati ya di rumah. Tapi ... sekarang tenang sih, sebab Ibra selalu siaga di sini.


"Iya, Mah." Balas Laras dengan senyumnya dan sedikit mengangguk.


"Lusa, aku mau ke Samarinda. Tapi paling 3 hari aja, ngecek lapangan sama Zayn juga," ungkap Ibra di sela makannya.


"Oya, Oh ... kami sudah kembali, ya Mah?" Melirik sang istri.


"Iya dong Pah, paling lama juga kita dua hari di sana," tambah bu Rahma.


Ibra melirik ke arah sang istri. "Oya sayang, nanti siang ... akan ada yang jemput dari mension. Sebab akan ada pertemuan, semua keperluan mu nanti di siapkan bu Rika di mension."


Laras mengangguk pelan. "Tapi kenapa baru bilang?"


"Emangnya kenapa?" Ibra malah balik tanya.


"Nggak sih hi hi hi." Laras menggeleng.


"Maaf, Tuan. Boleh ya? Susi ikut. Aku kangen ingin metik sayuran langsung, dan buah-buahan juga." Menatap sang majikan.


"Kan, ini juga sayuran dan buah dari sana di kirim," sahut Ibra.


"Tapi, kan bukan Susi yang petik Tuan. Susi itu kangen dengan suasananya+metiknya. Kalau di kirimin mah, orang yang metik, boleh ya Susi ikut?" rajuk Susi pada sang majikannya itu.


"Oke-oke." Gumam Ibra singkat.


"Mau nambah lagi gak nasi goreng nya?" tanya Laras pada Ibra.


"Nggak, cukup sayang." Ibra meminum segelas air putih. Lalu berdiri. "Aku pergi dulu," pamit Ibra pada kedua orang tua nya.


Laras mengikuti langkahnya Ibra yang berjalan lebih depan. Setelah di teras, Ibra membalikkan badan. "Sayang, aku pergi dulu ya? baik-baik di rumah.


"Iya, hati-hati di jalan." Laras meraih tangan Ibra dan seperti biasa di ciumnya.


Begitupun Ibra, memegang kepala dan mengecup kening Laras sangat mesra, lalu mengusap perut sang istri. "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumus salam ..." Laras melambaikan tangan pada Ibra. Ibra mengitari mobilnya sambil membuka kunci mobil dengan remot nya. Memasang sabuk pengaman, lalu menyalakan mesin dan mundur ke jalan.


Laras baru masuk ke dalam rumah, setelah mobil Ibra telah jauh dari pandangan. Ia membawa langkahnya ke dalam.


"Mah, Pah. Laras ke dalam kamar dulu ya?" pamit Laras setelah dekat dengan kedua mertua nya itu.


"Iya, sayang." bu Rahma dan pak Marwan mengangguk.


Laras segera masuk kamar. "Ih ... kayanya enak, seger kalau berendam di kolam renang." Gumamnya Laras ketika menghadap ke kolam renang.


Kemudian. Laras seperti biasa menunaikan duha nya dan berzikir sebentar, lalu keluar kamar yang langsung ke teras agar lebih dekat ke kolam renang. Laras duduk dan perlahan turun berendam di sana. "Wih ... seger."


Laras berendam di pinggir saja, takut tenggelam gak bisa berenang. Airnya yang bening mengkilat terkena paparan sinar matahari.


"Oh, Nyonya berenang?" sapa Susi yang bari datang, sebab mendengar suara kecebuk-kecebuk di kolam.


"Bukan renang Sus. Cuma berendam aja, aku lupa cara berenang Susi," ucap Laras sambil menunjukkan senyumnya.


"Susi temenin ya?" cebuurrr. Susi langsung nyebur ke dalam air. Hingga airnya muncrat.


Jelas bu Rahma dan pak Marwan kaget dan berhamburan ke arah kolam. Melihat Laras di pinggir kolam, langsung dihampirinya. "Sayang kamu kenapa? jatuh bukan," tanya bu Rahma yang berlari mendekati Laras. Napasnya ngos-ngosan. Khawatir Laras terjatuh.

__ADS_1


Laras, tersenyum dan menggeleng. "Nggak, Mah. Aku sengaja berendam."


"Oh ... sengaja?" timpal pak Marwan.


"Kami kaget, mendengar suara air yang muncrat, pas lihat kamu di sini, takut Mama. Takut kamu ke napa-napa," ujar bu Rahma dengan nada penuh ke khawatiran.


"Nggak, Mah. Susi tuh, yang lompat. Bikin orang kaget ya?" sambil menunjuk Susi yang sedang berenang.


Pak Marwan dan bu Rahma menggeleng, lalu masuk lagi sebab sedang menunggu pak Barko jemput.


Setelah puas berendam. Laras naik dan duduk di kursi panjang, ditemani dengan segelas jus buah. Susi pun sama.


"Nya, betah di mana kira-kira, di sini atau di mension?" melirik sang majikan.


Laras menoleh sebentar, lalu kembali mengalihkan lagi pandangannya ke air kolam. "Aku, betah di sini."


"Tapi, sekarang sudah tidak ada Dian, Nya." Tambah Susi menatap lekat.


"Ada dan tiada pun, aku betah di sini. Kecuali ya ... nginep saja kali, boleh." Sambung Laras tanpa menoleh lagi.


"Oh ..." Susi mengangguk mengerti.


Kemudian Laras bersih-bersih di kamar mandi dan sekalian bersiap ke mension.


"Sayang ... Mama dan Papa berangkat dulu ya? hati-hati di rumah." Suara bu Rahma dari balik pintu.


"Oh, iya Mah. Hati-hati, maaf. Aku lagi berpakaian Mah nanggung, jadi gak bisa keluar." Balas Laras yang kebetulan baru selesai mandi dan berpakaian


"Oh, iya gak pa-pa. Pergi dulu ya!" pamit bu Rahma.


"Iya, Mah."


Laras melanjutkan berpakaiannya. Eeh ... ponselnya berdering. "Ih, ada apa sih telepon, vc segala lagi. Gak tau apa aku lagi repot? eh, mana dia tahu, aku lagi repot."


Laras segera menerima sambungan telepon, yang dari siapa lagi? kalau bukan dari Malik Ibrahim.


"Ada apa?" tanya Laras.


"Sedang apa sayang? kok gak kelihatan sih orang nya." Ibra malah balik nanya.


"Sebentar, masih pakai baju." Suara Laras agak jauh.


"Oh, habis mandi ya? lihat dong." tanya Ibra lagi dengan sedikit nakal.


"Idih. Enak aja," lalu Laras menampakkan dirinya, karena sudah selesai berpakaiannya.


"Ada apa?" ulang Laras sambil duduk di sofa.


"Nggak, kangen aja," sahutnya Ibra.


"Biarin, daripada istri aku yang selalu pura-pura gak kangen, gak sayang. Padahal iya." Sindir Ibra sembari memperlihatkan senyumnya.


Laras, memanyunkan bibirnya ke depan dikit. "Bodo ah."


"Aku juga heran kenapa? kok dia gengsi amat untuk mengutarakan isi hatinya. Panggil sayang aja sulitnya bukan main."


"Mau curhat ya, Pak?" netra mata Laras menatap ke arah Ibra.


"Oh, iya. Curhat dikit gak apa, kan?" sambung Ibra.


"Nggak tahu. Udah dulu ya? gak penting juga," ungkap Laras malas.


Ibra nyengir sambil menggeleng. "Nanti, ada Irfan yang akan menjemput mu. Berikan saja kunci mobilnya."


"Siapa Irfan? aku baru mendengar nama itu," selidik Laras penasaran.


"Sayang ... kamu pikir bawahan ku Zayn doang? nggak lah. Banyak, sebab dia gak bawa mobil jadi berikan saja kunci mobil mu sayang, jangan lupa. kalau sendiri sih. Gak pa-pa pake motor juga, tapi ini mau sama Susi juga."


"Em ... enak kali ya kalau naik motor?" ucap Laras membayangkan naik motor berdua.


"Iya, nanti kalau motornya, aku yang bawa, oke? enak aja mau berdua sama Irfan. Gak ada." balas Ibra.


"Iih, siapa juga yang ingin di bonceng sama dia? kenal juga nggak, namanya aja baru dengar sekarang." Timpal Laras lagi.


"Ya udah, tunggu aja orang nya bentar lagi juga datang. I love you sayang?" kata penutup dari Ibra.


Laras menyimpan ponsel langsung ke tas kecilnya. Melanjutkan berhias diri yang tertunda.


Sekitar pukul 11. Susi membukakan gorden depan, mengintip seseorang yang baru datang mengenakan motor dan masuk ke halaman rumah. "Siapa? gak kenal deh. tinggi besar gitu orangnya." Gumam Susi.


"Assalamu'alaikum," ucap Irfan setelah turun dari motor.


Susi gak segera menjawab, ia malah berlari ke kamar Laras. "Nya ... Nyonya muda, di luar ada tamu," sambil memukul-mukul daun pintu dengan telapak tangannya.


"Iya, tunggu sebentar?" sahut Laras dari dalam. Tidak lama kemudian Laras muncul dan berjalan menuju ke depan, berbarengan dengan Susi.


"Loh, kok belum di buka pintunya," ucap Laras menatap ke arah Susi.


"Hehehe. Takut Nya." Susi mesem.


Klik.


Langkah Laras membawanya keluar. "Mas, Irfan ya?" sapa Laras pada Irfan yang duduk di kursi teras.

__ADS_1


Irfan berdiri dan memandangi ke arah Laras. Seakan tak berkedip, terkagum-kagum melihat kecantikan Laras yang saat ini mengenakan kerudung dengan warna senada dengan pakaian yang dia kenakan. "Iya, saya Irfan. Suruhan tuan Ibra. Anda Nona Laras?" akhirnya mejawab juga.


"Iya, saya Laras." menangkupkan kedua tangan di dada.


"Bisa berangkat sekarang?" tanya Irfan sambil mengangguk hormat.


"Bisa-bisa." Laras memberikan kunci mobil dari tasnya.


"Sus. Sudah dikunci semuanya?" menoleh ke arah Susi yang sedang memandangi Irfan dengan heran.


"I-iya, tinggal satu lagi pintu depan," sahutnya Susi. Setelah itu Susi mengunci pintu.


"Nya, siapa sih tuh orang? tinggi banget," tanya Susi sambil melangkah mau memasuki mobil BMW Laras.


"Oh, Mas Irfan. Pekerja tuan," balas Laras, ia masuk duluan dan Susi mengikuti.


Setelah memakai sabuk pengaman. Barulah Irfan menyalakan mesin mobil, lalu melaju dengan kecepatan sedang.


"Lama juga kita gak ke mension ya Nya? kangen suasana di sana, Susi." Gumam Susi, pandangannya jauh ke depan melalui jendela.


"Hem."


"Maaf Nyonya, apa ada yang mau di beli sesuatu?" tanya Irfan pada Laras. Dengan mata tetap fokus ke depan.


"Em ... nggak ah, gampang kalau aku mau sesuatu pasti bilang." Laras menggeleng.


Namun setelah beberapa meter, Laras melihat yang jualan bakso yang di dorong. Sedang mangkal di tempat. "Mas-mas, bisa berhenti dulu gak?" menepuk belakang kursi supir.


Setelah mendapat intruksi dari sang majikan, Irfan pun segera memarkirkan mobil. Laras turun bersama Susi. Di ikuti oleh Irfan menjaga dengan jarak dekat, jangan sampai ada yang mengganggu.


"Bakso, Bang Tiga," ucap Laras pada si abang, lalu duduk berhadapan dengan Susi.


"Mas Irfan mau, kan?" melirik pada Irfan yang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk.


"Tidak, Nyonya. Makasih." Irfan mengangguk hormat.


"Nggak pa-pa Mas, aku sudah pesankan kok," ucap Laras menatap ke arah Irfan.


"Makasih, Nyonya. Tapi saya masih kenyang." Lagi-lagi tolak Irfan dengan halus.


"Em ... baiklah," Larah menoleh si abang. "Bang, dua aja."


"Baik, tunggu sebentar ya Mbak?" si abang mengangguk.


Laras mengangguk, dengan memperlihatkan senyumannya.


Di sebelah sana ada beberapa orang pemuda sedang nongkrong. Melihat wanita cantik seperti Laras pada terpesona dan saling suit bak memanggil burung cuit.


"Hi ... cantik? boleh kenalan dong," ucap salah satu pemuda.


"Woy ... lihat, bidarinya sedang bunting. Tapi cantiknya gak ketulungan, coba kelihatan semuanya. Alamak ... bikin merinding." teriak temannya.


Laras menunduk, dan mengaduk minum yang ada di hadapannya.


Irfan seolah tak ingin membiarkan bertambah lagi, kicauan mereka tentang majikan barunya itu. Langsung menghampiri dan mencengkram kerah baju kedua pemuda itu masing-masing, dangan kedua tangannya. "Jangan macam-macam atau kurang ajar pada majikan saya! kalau tak ingin terjadi sesuatu pada kalian semua." Mata Irfa melotot dengan sangat sempurna pada para pemuda yang ada di sana.


Membuat nyali para pemuda itu menciut. Apalagi yang kerah bajunya masih Irfan cengkram, sangat ketakutan. "Am-ampun, Bang. Ampun ..." menyatukan kedua tangan mereka.


"Jangankan pada majikan saya, sama orang lain pun. Kalian tidak boleh kurang ajar sama wanita, sebab wanita itu sama dengan ibumu, ngerti?" sergah Irfan sambil melepaskan tangannya.


Laras bengong melihat yang Irfan lakukan. Lain dengan Susi, dia malah bertepuk tangan merasa senang seolah mendapatkan tontonan yang amat menarik.


"Ini kali ya? yang namanya bodyguar, ih. Ngeri juga," batin Laras dan sedikit bergidik, akhirnya menyuapkan sesuap bakso ke mulutnya.


"Makanlah Nyonya dengan tenang, mereka sudah saya urus," ucap Irfan pada Laras.


Laras mendongak dan mengangguk. "Terima kasih, Mas Irfan?"


"Sama-sama, Nyonya! anda makan saja dengan tenang." Balas Irfan.


Setelah selesai makan bakso. Kemudian mereka kembali ke mobil. "Wah ... Mas, hebat tadi," ucap Susi.


"Ah, biasa aja. Sus," balas Irfan dangan nada seperti kenal lama dengan Susi.


Ketiganya sudah berada di dalam mobil. Irfan segera melajukannya membelah jalanan, berpacu dengan kuda-kuda besi lainnya.


Tak selang lama, mobil sudah memasuki pekarangan yang luas di wilayah mension. Irfan keluar duluan dan membukakan pintu buat Laras dengan sedikit membungkuk hormat.


"Makasih, Mas Irfan," ucap Laras sambil menunjukkan senyum ramahnya.


"Sama-sama Nyonya."


Laras bergegas masuk ke dalam, yang langsung di sambut oleh bu Rika. Dengan sangat ramah dan bahagia. Apalagi Susi sangat heboh bila bertemu bu Rika dan kawan-kawan.


"Loh, kok. Yang lain mana? Desi dan Sita," selidik Susi sambil celingukan mencari kedua kawannya.


"Desi dan Sita dibawa Nyonya Dian ke bungalaw, pindah dari sini." Kata bu Rika.


"Hah, pindah? kok mereka gak kabari aku Bu." Mengerutkan keningnya.


"Saya mana tahu Sus, yang jelas begitu. Dua asisten dan satu tukang kebun di boyongnya Dian untuk dijadikan supir? tambah bu Rika.


Laras mengangguk-anggukkan kepalanya. Lantas ia langsung masuk ke salon, kebetulan pakaiannya sudah bu Rika siapkan ....

__ADS_1


****


Sudah membaca belum? mana like dan komentarnya nih, terus dukung aku ya🙏


__ADS_2