
"Kalian diam di sini, jangan pernah macam-macam apalagi kabur kalua tidak mau nyawa kalian melayang percuma." Hardik salah seorang penjahat sambil mengikat tangan pak Marwan ke belakang.
"Emangnya kalian malaikat pencabut nyawa apa?" gumam Susi.
"Iya." Sambil memperlihatkan senjatanya.
"Kalian ini siapa dan maksudnya apa mengurung kami di sini? lepaskan kami." Pak Marwan tampak marah namun tak berdaya. Apalagi dengan keadaan tangannya di ikat ke belakang gini.
"Tuan, gimana kalau anak saya haus? gak ada air." Laras memelas.
"Nanti saya kasih air minum."
"Makasih Tuan? tapi kenapa kami di bawa ke sini! apa tidak sebaiknya lepaskan kami. Kami berjanji tidak akan pernah melapor pada siapapun. Asalkan kami biarkan pulang."Laras memohon.
"Kamu pikir ini tempat bernegosiasi apa ha? kalian jangan banyak tanya diam saja di sini. Mengerti?" bentak orang tadi. Kemudian ke empat orang itu pergi, yang di ikat itu cuma pak Marwan sendiri sementara yang lain tidak. Bu Rahma sudah mendekat pada suaminya dan ingin melepaskan talinya.
Namun mereka kembali, yang tiga menyatukan tubuh Bu Rahma dengan Susi juga pak Marwan menjadi satu. Ketika tali tangan pak Marwan di lepas dia sempat berontak dan meninju salah satu diantara mereka.
"Lepaskan kami ke parat," buggh tinju pak Marwan bersarang di hidung salah satunya. Dan melihat kawannya kena bogem mentah dari pak Marwan yang lain tak tinggal diam.
Duggh!
Tendangan kaki yang bersepatu mendarat di perut pak Marwan, tak ayal beliau terjatuh dan kesakitan. Ketiga wanita di sana menjerit melihat pak Marwan terjatuh ke belakang memegangi perutnya.
Kawan yang satu lagi menendang punggungnya. pak Marwan. Bu Rahma terutama menjerit-jerit dan memeluk sang suami.
"Lapas suami saya, jangan siksa dia saya mohon ...."
Susi dan Laras semakin pucat wajahnya, merasa takut. Baru kali ini berada dalam situasi seperti sekarang.
"Saya mohon. Jangan apa-apakan orang tua saya. Kasihan mereka, bagai mana kalau orang tua mu di perlakukan seperti itu?" pekik Laras.
"Diam!" bentak seseorang yang memegangi tangan Laras.
"Lepaskan tangan ku!" Laras menghempaskan tangan orang itu.
Susi, Bu Rahma dan pak Marwan diikat menjadi satu. Bu Rahma menangis dengan kondisi suaminya yang meringis kesakitan.
Setelah itu. Laras di bawa oleh orang-orang itu meninggalkan mereka bertiga, pekikan Bu Rahma dan Susi tak mereka hiraukan. Laras terus di seret ke satu ruangan yang terpisah dari mereka.
__ADS_1
"Sekarang anda diam di sini bersama anak mu. Untuk yang terakhir kalinya. Oke?"
"Apa maksudnya? kau bicara seperti itu, coba katakan. Buat apa kalian mengurung kami dan apa yang kalian mau dari kami." Suara Laras lantang dan berusaha sedikit tenang.
"Nanti juga anda akan tahu maksudnya ini semua. Sebab kami cuma suruhan."
"Suruhan siapa? bilang. Munculah di hadapan ku." Timpal Laras.
"Banyak ngomong nih orang," orang itu keluar dan mengunci pintu dari luar.
"Lepas, aku ingin pulang?" Pekik Laras sambil memukul daun pintu. Baby boy yang berada dalam gendongannya sedang tertidur pun terganggu dan bangun.
Sesekali Laras menghela napas dan berjalan ke arah tempat tidur untuk menidurkan baby boy. "Maafkan Mammy sayang, tidurmu terganggu." Dengan pelan Laras membacakan sholawat agar baby Satria tertidur kembali.
"Ya Allah ... berikan pertolonganmu. Di mana suami ku sekarang!" gumamnya Laras, lagi-lagi menghela napas panjang dan terus berdoa.
****
Ibra, Irfan dan Zayn berhasil menangkap jambret itu sampai mereka bekuk dan di serahkan pada pihak yang berwajib. Namun ketika kembali ke bandara, alangkah terkejutnya mereka ketika tak mendapat Laras, Susi. Pak Marwan dan Bu Rahma. Saat di tanyakan, semua yang ada dia sana menggeleng tidak tahu.
Ibra bolak balik menelepon Laras dan ke no orang tua nya tidak satupun bisa dihubungi. Semua sedang di alihkan.
Irfan terus mencari info di sekitar sana. Hingga akhirnya pihak loket mengatakan kalau orang-orang yang tengah mereka cari itu sudah pergi bersama empat pria berjas hitam, meninggalkan bandara dengan mobil Suzuki APV.
Ibra dan kedua bawahannya saling bertukar pandangan sementara waktu.
"Sepertinya kita kita sudah diperdaya. Mereka mengalihkan perhatian kita, dasar brengseknya mereka." Kata Ibra dengan rahang yang mengeras, ia marah dan khawatir, takut keluarganya dalam bahaya.
Zayn menggaruk kepalanya, belum bisa berpikir jernih. "Tapi siapa mereka?"
Irfan meminjam mobil yang entah punya siapa yang jelas dengan atas nama Ini bra, ia dengan mudahnya mendapatkan mobil tersebut. Namun sebelumnya meminta membuka cctv di sana sebagai bukti atau meyakinkan apa benar keluarga Jabra tengah berasa dalam bahaya.
Setelah memastikan dengan hasil cctv. Ketiganya bergerak cepat memasuki mobil yang sudah tersedia. Irfan dengan cepat mengemudikan. mobil tersebut. Dalam otak mereka sudah ada bayangan kalau mereka sedang dalam bahaya. Dan saat ini tujuannya adalah sinyal GPS dari ponsel Laras yang jadi harapan satu-satunya.
****
Suatu malam, Jodi memergoki mbok Darmi keluar dari jendela kamar ayahnya. "Mbok ngapain keluar dari sana?" Suara Jodi membuat mbok Darmi kaget bukan main. Kalau saja jantung ini buatan manusia pastinya sudah copot. Saking kagetnya.
"I-itu ... sa-saya ..." mbok Darmi kikuk, bingung tak tahu harus menjawab apa?"
__ADS_1
"Mbok ngapain keluar dari sana?" ulang Jodi dengan tatapan seakan ingin menghujam jantung mbok Darmi. "Kenapa gak lewat pintu saja?"
"Saya habis itu, itu memijit kaki Tuan." dalih mbok Darmi menunduk malu.
"Saya sudah curiga dari lama, kalau kalian itu ada apa-apa dari saya. Ada hubungan apa kalian berdua itu ha?" rentetan dari Jodi seraya terus menatap ke arah mbok Darmi.
Mbok Darmi semakin menciut berhadapan dengan Jodi. Beda dengan menghadapi pak Mulyadi yang selalu agresif, kini iya begitu kaku, tegang dan sulit untuk berkata-kata. Yang bisa ia lakukan hanya diam membisu berharap Mulyadi keluar dan ikut pm interogasi dari Jodi.
Benar saja, Mulyadi mendengar di luar kamarnya ribut-ribut. Membuat ia meraih tongkatnya berjalan ke arah pintu kaca besar yang ada di sana. "Ada apa nih?" matanya mengarah pada Jodi dan mbok Darmi.
Hati Mulyadi mulai gelisah. Sepertinya Jodi curiga pada Mbok Darmi. "Sepertinya Darmi ketahuan keluar dari sini. Jodi pasti mulai curiga," batinnya Mulyadi.
"Ayah." Lantas Jodi meminta mbok Darmi dan sang ayah mengobrol di ruang tengah untuk perbincangkan kecurigaan nya selama ini.
Setelah mereka duduk di ruang tengah. "Sebenarnya kalian itu ada hubungan apa? dan apa yang kalian sembunyikan dari saya?"
"Kami ... gak ada hubungan apa-apa Nak." akunya Mulyadi sambil menatap mbok Darmi.
"Jangan bohong Yah. Aku dah curiga dari lama kalau kalian ada main di belakang saya," tatapan Jodi kian tajam.
Keringat dingin keluar dari telapak tangan mbok Darmi. Ia takut ketahuan sekarang, sebab ada hajat dia yang belum terlaksana dari Mulyadi. Jarinya saling bertaut.
"Apa yang kamu curigai dari kami?" tanya pak Mulyadi berusaha tenang. Ia tak ingin jujur dulu pada Jodi.
"Apa perlu aku utarakan pada Ayah, kelakuan Ayah sama mbok Darmi.
Deg!
Dada Mulyadi dan Darmi berdegup semakin kencang. Mulyadi menatap putranya sangat intens. "Apa maksud mu Jodi?"
"Kalian ini sudah menikah siri, kan? kalian sering melakukan. hubungan suami istri diam-diam, dan kamu mbok. Kamu itu punya alasan tertentu di balik kau mau menjadi istri siri ayah saya. Kau mau merampas harta ayah saya yang tinggal seberapa itu, kau akan meninggalkan ayah saya setelah kau ambil semua harta ayah saya!" tuduh Jodi sambil berdiri dan melipat tangan di depan dada. Matanya menatap tajam pada kedua orang yang ada di hadapannya itu.
Darmi terkesiap, tak menyangka kalau topeng nya terbuka oleh Jodi. "Ti-tidak, Nak Jodi." Darmi menggeleng.
"Kamu tahu dari mana semua itu Jodi?" tanya pak Mulyadi hatinya mengakui kalau yang di tuduhkan Jodi itu benar. Ia sering melakukan hubungan itu dengan. Darmi. Tapi itu halal, sebab mereka sudah menikah siri. Namun soal mbak Darmi ingin hartanya, ia kurang mengerti.
"Ayah gak perlu tahu aku tahu dari mana, yang jelas wanita ini hanya ingin harta ayah saja. Percayalah padaku ....
****
__ADS_1
Hi ... makasih masih setia, jangan lupa dukung karya ku BUKAN SUAMI HARAPAN,🙏